Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Dia berjalan keluar ruko dan masuk ke dalam mobil SUV hitamnya yang diparkir di depan.
Tujuan Arga sekarang adalah kembali ke Pelabuhan Marina Ancol untuk menyewa kapal Kapten Johan.
Perjalanan menuju pesisir utara Jakarta siang ini cukup lancar tanpa hambatan kemacetan yang berarti.
Satu jam kemudian, Arga sudah tiba di dermaga beton pelabuhan dan melihat Kapten Johan sedang membersihkan dek kapalnya.
"Siang Pak Johan, kapal bapak kosong gak buat jadwal pelayaran siang ini?" panggil Arga dari atas dermaga.
Johan menoleh dan langsung tersenyum sangat lebar melihat kedatangan pelanggan paling royalnya tersebut.
"Siang Mas Arga, kebetulan banget kapal saya lagi nganggur seharian ini," jawab Johan meletakkan kain pelnya.
"Mau sewa buat mancing ke tengah laut lagi kayak kemarin malam Mas?"
"Iya Pak Johan, tapi kali ini kita berangkat siang bolong biar pemandangannya lebih terang," balas Arga melompat turun ke atas dek kapal.
"Tarifnya sama kayak kemarin kan? Sepuluh juta di depan dan lima juta bonus kalau bapak nurut aturan saya."
"Sama Mas Arga, aturannya juga saya masih ingat betul buat ngurung diri di kabin kemudi," kata Johan tertawa gembira menyambut rezeki nomplok.
Arga langsung mentransfer uang lima belas juta rupiah ke rekening Johan saat itu juga.
Mesin kapal itu langsung dinyalakan dan menderu membelah ombak pelabuhan yang tenang.
Kapal melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan daratan kota Jakarta yang dipenuhi gedung pencakar langit.
Sinar matahari siang memantul di permukaan air laut menciptakan kilauan cahaya yang sangat indah.
Arga duduk di geladak belakang sambil membuka layar peta sistem Peta Titik Pancing Emas miliknya.
Layar itu menampilkan beberapa titik kuning di sekitar perairan dangkal, namun Arga mengabaikannya.
Dia terus menggeser pandangan petanya jauh ke arah laut lepas yang kedalamannya tidak terukur.
Sebuah titik berwarna ungu terang tiba-tiba berkedip pelan di ujung batas peta sistem tersebut.
"Titik ungu ini lokasinya ada di atas sebuah palung laut dalam," gumam Arga membaca koordinat lokasi tersebut.
"Pak Johan, arahkan kapalnya ke titik koordinat ini sekarang, jalurnya lumayan jauh ke utara," teriak Arga ke arah kabin kemudi.
"Siap Mas Arga, koordinat sudah saya kunci di radar navigasi kapal," balas Johan memutar kemudi kapalnya.
Pelayaran menuju titik ungu tersebut memakan waktu hampir tiga jam penuh.
Warna air laut di sekitar kapal perlahan berubah dari biru muda cerah menjadi biru gelap pekat.
Suhu udara juga terasa lebih dingin menandakan kedalaman laut yang ada di bawah lambung kapal mereka.
"Kita sudah sampai persis di atas titik koordinatnya Mas Arga," lapor Johan mematikan mesin utama kapal.
"Gue bakal mulai mancing sekarang Pak Johan, bapak masuk ke kabin dan kunci pintunya kayak biasa," perintah Arga berdiri dari tempat duduknya.
Johan mengangguk patuh dan segera masuk ke dalam ruangan kemudi lalu mengunci pintunya dari dalam.
Arga mengeluarkan joran karbon elitnya dari dalam ruang inventaris gaib.
Dia juga memanggil Umpan Mutiara Pemanggil Mitos yang baru dia beli dari Toko Sistem.
Mutiara seukuran kelereng itu memancarkan cahaya pelangi yang sangat indah saat terkena sinar matahari.
Arga memasang mutiara itu ke ujung mata kailnya dengan sangat hati-hati agar tidak tergores.
"Semoga joran karbon ini gak langsung patah ditarik monster bawah laut," doa Arga mengambil kuda-kuda kokoh.
Arga mengayunkan jorannya ke depan dan melepaskan kail bercahaya pelangi itu ke udara.
Swosh.
Umpan mutiara itu jatuh memecah permukaan air laut dan tenggelam dengan kecepatan yang sangat tidak wajar.
Plup.
Gulungan benang pancing Arga berputar sangat kencang menyalurkan ratusan meter benang ke dasar laut gelap.
Arga memegang gagang jorannya erat-erat dan menajamkan seluruh indra tubuhnya menunggu reaksi dari kedalaman palung.
Ketenangan laut siang itu hanya bertahan selama lima menit sebelum bahaya besar akhirnya datang menyapa.
Air laut di sekitar lambung kapal tiba-tiba bergejolak hebat tanpa ada peringatan badai sama sekali.
Ujung joran karbon Arga langsung melengkung tajam ke bawah dengan tenaga tarikan yang sangat brutal.
Krak.
Terdengar suara serat karbon yang mulai retak di bagian tengah batang joran elit tersebut.
Arga mengertakkan giginya dan berusaha menarik tuas penggulung benang dengan seluruh sisa kekuatan fisiknya.
Namun makhluk di bawah sana terlalu besar dan terus menarik benang Arga menuju dasar palung.
"Tarikan ini terlalu kuat, joran gue bakal patah kalau gue paksa tahan terus," teriak Arga merasakan tangannya kebas.
Benar saja, suara patahan keras langsung terdengar memekakkan telinga.
Prak.
Batang joran karbon seharga puluhan juta itu patah menjadi dua bagian dan ujung atasnya meluncur masuk ke dalam air.
Arga terhuyung ke depan dan hampir saja tercebur ke laut karena kehilangan keseimbangan.
"Sialan, ikan gila apa yang ada di bawah sana," umpat Arga menatap sisa gagang joran di tangannya.
"Host baru saja kehilangan jejak target ikan mitos akibat kegagalan peralatan fisik," lapor sistem memunculkan peringatan kuning.
"Target ikan mitos saat ini sedang bersembunyi di balik terumbu karang palung pada kedalaman dua ratus meter."
Arga mendengus kesal karena mutiara seharga seribu poinnya ikut terbawa lari ke dasar laut.
Dia tidak akan membiarkan investasinya hilang begitu saja tanpa perlawanan yang berarti.
'Sistem, keluarin Trisula Penakluk Ombak sekarang juga,' perintah Arga di dalam hatinya dengan penuh amarah.
Cahaya hijau kebiruan meledak di genggaman tangan Arga membentuk sebuah tombak bermata tiga yang sangat tajam.
Arga langsung melepaskan sepatunya dan berdiri di pinggir pembatas kapal motor tersebut.
"Gue bakal jemput sendiri ikan sialan itu ke sarangnya," tekad Arga memegang erat trisula lautnya.
Tanpa ragu sedikit pun Arga melompat terjun bebas menembus permukaan air laut yang sangat gelap dan dingin itu.
Byur.