NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Memaksa: Di Balik Wajah Yang Kupilih

Cinta Yang Tidak Memaksa: Di Balik Wajah Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.

Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terasa Nyaman

“Mbak, kita masuk dulu ke dalam toko. Mbak istirahat di dalam saja dulu. Di sini takut ada orang aneh yang datang tiba-tiba, Mbak,” ucap Dhea pelan.

Arelia perlahan melepaskan pelukannya lalu menatap Dhea beberapa detik. Entah kenapa, ucapan sederhana itu terdengar sangat hangat baginya.

“Iya,” jawab Arelia lirih.

Dhea langsung berdiri lalu membuka pintu toko menggunakan kuncinya.

Setelah itu, ia mempersilakan Arelia masuk terlebih dahulu. Toko bunga kecil itu kembali dipenuhi aroma bunga yang menenangkan.

Arelia memperhatikan sekitar toko sambil berjalan perlahan. Tempat itu sederhana. Bahkan jauh dari kata mewah.

Namun anehnya, ia selalu merasa nyaman berada di sana.

“Duduk dulu, Mbak,” ucap Dhea sambil menarik kursi kecil untuk Arelia.

Arelia menurut tanpa banyak bicara. Sedangkan Dhea mulai sibuk mencari dompet kecil miliknya yang tadi tertinggal.

“Mbak mau minum?” tanya Dhea tiba-tiba.

Arelia menatap gadis itu beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng pelan.

“Aku cuma mau diam di sini sebentar.”

Dhea langsung tersenyum kecil.

“Iya.”

Dan lagi-lagi, senyum sederhana milik Dhea membuat hati Arelia terasa hangat tanpa alasan yang jelas.

“Kamu sedang cari apa?” tanya Arelia yang sedari tadi memperhatikan Dhea.

“Itu, Mbak. Dompet kecilnya Dhea. Kayaknya ketinggalan di toko. Soalnya tadi di dalam tas tidak ada,” jelas Dhea sambil terus mencari di sekitar meja kecil dekat kasir.

Arelia memperhatikan gadis itu beberapa saat.

Cara Dhea berbicara yang lembut dan polos selalu membuatnya merasa tenang.

“Memangnya penting sekali?” tanya Arelia pelan.

Dhea langsung mengangguk cepat.

“Penting, Mbak. Di dalamnya ada uang buat beli obat ibu besok.”

Deg.

Mendengar itu, tatapan Arelia langsung berubah. Dhea masih tetap mencari tanpa mengeluh sedikit pun. Padahal hidup gadis itu sendiri sudah sangat sulit. Namun ia tetap memikirkan ibunya terlebih dahulu.

“Ah, ketemu!” seru Dhea tiba-tiba sambil mengambil dompet kecil yang terselip di bawah meja.

Wajahnya langsung terlihat lega.

“Syukurlah.”

Melihat ekspresi bahagia sederhana itu, Arelia tanpa sadar tersenyum kecil. Hal-hal kecil yang dilakukan Dhea, selalu berhasil membuat hatinya terasa hangat.

“Jadi besok kamu tidak buka toko?” tanya Arelia membuat Dhea menoleh.

“Kenapa tidak?” tanya balik Dhea bingung.

“Katanya kamu ingin membelikan obat ibumu. Aku pikir kamu akan tutup toko.”

“Tidak, Mbak. Besok Dhea tetap buka. Soalnya ada kakak yang akan mengambil obat ibu besok.”

“Kakakmu?” tanya Arelia.

Dhea mengangguk kecil.

“Yang waktu itu hampir mengambil uangmu lalu aku pukul?” tanya Arelia lagi.

“E-eh, iya, Mbak,” jawab Dhea sedikit gugup. “Tapi sekarang dia sudah sadar, Mbak. Katanya dia mau ikut kakak pertama Dhea kerja merantau.”

Arelia langsung terdiam beberapa detik.

Ia masih ingat jelas bagaimana keadaan Rafa waktu itu.

Berantakan. Dan terlihat kehilangan arah.

“Orang bisa berubah secepat itu?” gumam Arelia pelan.

Dhea langsung tersenyum kecil.

“Kalau orangnya memang mau berubah, pasti bisa, Mbak.”

Jawaban sederhana itu membuat Arelia kembali menatap Dhea. Tatapannya perlahan melembut. Karena lagi-lagi, gadis itu selalu melihat orang lain dengan cara yang baik.

Seketika, Arelia ingin menanyakan sesuatu kepada Dhea.

Ada satu hal yang sejak tadi terus membuatnya penasaran. Tentang bagaimana sebenarnya pandangan Dhea terhadap dirinya.

“Dhea,” panggil Arelia pelan.

“Iya, Mbak?” jawab Dhea dengan senyum kecilnya.

Arelia terlihat ragu beberapa detik sebelum akhirnya kembali berbicara.

“Dhea… misalnya kamu punya kenalan yang awalnya kamu lihat sebagai seorang wanita. Tapi saat sedang bersamamu, dia berubah kembali menjadi dirinya yang sebenarnya.”

Dhea langsung menatap Arelia bingung.

“Berubah bagaimana, Mbak?”

“Maksudku…” Arelia menundukkan pandangannya sebentar. “Ternyata dia sebenarnya laki-laki.”

Deg.

Suasana mendadak terasa sedikit hening. Arelia tanpa sadar mengepalkan tangannya pelan karena gugup menunggu jawaban Dhea. Sedangkan Dhea tampak berpikir beberapa saat.

“Kalau menurut Dhea…” ucap gadis itu pelan. “Selama orang itu baik, Dhea tidak masalah dia mau seperti apa.”

Mata Arelia langsung sedikit membesar.

“Tidak takut?” tanyanya pelan.

Dhea menggeleng kecil.

“Kenapa harus takut?”

“Tapi banyak orang mungkin merasa aneh.”

Dhea terdiam sebentar sebelum akhirnya tersenyum kecil lagi.

“Kalau orang itu berubah karena punya alasan dan sedang berusaha bertahan hidup, menurut Dhea dia pasti sudah capek sekali.”

Deg.

Kalimat itu langsung membuat dada Arelia terasa sesak.

Karena tanpa sadar. Dhea seperti memahami rasa sakitnya, meski belum mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

“Jadi kamu tidak masalah kalau orang itu kembali ke wujud aslinya?” tanya Arelia lagi, seolah ingin memastikan jawaban Dhea.

“Buat apa dipermasalahkan sih, Mbak?” jawab Dhea polos.“Setiap orang pasti punya masalahnya sendiri. Pasti ada alasannya dia mengubah dirinya menjadi seorang wanita. Entah diselingkuhi, disakiti, atau apa pun itu.”

Arelia langsung terdiam.

Tatapannya perlahan melemah. Karena semua ucapan Dhea terasa seperti menenangkan sesuatu di dalam dirinya yang selama ini selalu dipenuhi ketakutan.

“Kalau menurut orang lain itu aneh?” tanya Arelia pelan.

Dhea menggeleng kecil.

“Manusia itu berbeda-beda, Mbak. Jadi menurut Dhea tidak semuanya harus sama.”

Jawaban itu membuat dada Arelia terasa hangat sekaligus sesak dalam waktu bersamaan.

Hangat karena akhirnya ada seseorang yang tidak langsung menghakiminya. Dan sesak, karena ia mulai takut kehilangan gadis sebaik Dhea.

“Aneh ya…” gumam Arelia lirih.

“Hah?” Dhea bingung.

“Aku baru kenal kamu sebentar,” ucap Arelia sambil menatap Dhea pelan. “Tapi kata-katamu selalu bikin aku tenang.”

Seketika wajah Dhea langsung memerah malu.

“M-mbak jangan ngomong begitu…”

“Aku serius, Dhea,” ucap Arelia pelan sambil terus menatap gadis itu.

Deg.

Jantung Dhea langsung berdetak sedikit lebih cepat.

Entah kenapa, tatapan Arelia malam itu terasa berbeda dari biasanya.

Lebih lembut. Dan lebih dalam. Dhea langsung mengalihkan pandangannya karena gugup.

“Dhea cuma ngomong biasa, Mbak.”

“Tidak,” jawab Arelia cepat. “Kamu selalu bicara seolah benar-benar memahami perasaan orang lain.”

Ucapan itu membuat Dhea perlahan kembali menatap Arelia.

“Aku bahkan nggak tahu kenapa bisa nyaman sama kamu,” lanjut Arelia lirih.

Seketika suasana di dalam toko bunga itu berubah terasa canggung.

Dhea hanya bisa menggenggam ujung bajunya pelan karena bingung harus menjawab apa. Sedangkan Arelia sendiri terlihat baru sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan.

“A-ah, maaf,” ucapnya pelan sambil mengalihkan pandangan. “Aku malah bicara aneh.”

Namun Dhea justru menggeleng kecil.

“Tidak aneh kok, Mbak.”

Jawaban lembut itu membuat Arelia kembali terdiam. Dan lagi-lagi, hatinya terasa tenang hanya karena berada di dekat Dhea.

“Baiklah, terima kasih atas semuanya, Dhea. Terima kasih juga karena kamu sudah memperbolehkanku beristirahat di sini,” ucap Arelia pelan.

Dhea langsung menggeleng cepat.

“Mbak apaan sih,” ucapnya polos. “Kalau Mbak memang capek, bilang saja. Jangan dipendam terus. Nanti Mbak bisa gila.”

Seketika Arelia terdiam sebelum akhirnya tertawa kecil.

Sudah lama sekali dirinya tidak mendengar ucapan sejujur dan sepolos itu.

“Aku sudah hampir gila dari dulu,” gumam Arelia pelan.

“Hah?” Dhea langsung menoleh bingung.

Namun Arelia hanya tersenyum tipis sambil menggeleng kecil.

“Tidak apa-apa.”

Dhea mengembuskan napas pelan lalu kembali membereskan barang-barangnya.

“Pokoknya mulai sekarang kalau Mbak ada masalah, cerita saja. Jangan dipendam sendiri.”

Arelia menatap Dhea beberapa detik. Tatapannya perlahan berubah lembut.

“Kenapa kamu baik sekali sama aku?” tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Dhea berhenti bergerak sejenak.

“Karena Mbak juga baik sama Dhea,” jawabnya sederhana sambil tersenyum kecil.

Deg.

Jawaban sederhana itu justru membuat hati Arelia terasa semakin hangat. Karena selama ini, tidak pernah ada seseorang yang memperlakukannya setulus Dhea.

1
Dinda Putri
lanjut semangat thooorrr love sekebon deh
Dinda Putri
lanjut thoor 💪💪💪
Dinda Putri
nexs
Dinda Putri
up lagi thoorr jangan lama
Dinda Putri
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!