"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jabatan Baru Untuk Andreas
*
*
*
Laptop berwarna silver itu menyala di hadapan Isana. Jemarinya bergerak pelan menelusuri satu per satu email Andreas yang masih tersimpan di sana.
Awalnya tidak ada yang menarik. Hanya email pekerjaan, undangan rapat, laporan proyek, dan berbagai hal yang membuat matanya mulai lelah.
Hingga sebuah subjek email membuat gerakannya terhenti.
"Penawaran Honda HR-V Prestige." gumamnya.
Kening Isana berkerut. Ia membuka email itu dan mulai membaca percakapan yang tersusun berurutan. Dari sana ia mengetahui bahwa Andreas sedang melakukan negosiasi untuk membeli sebuah mobil baru.
Dadanya langsung terasa tidak nyaman.
"Mobil lagi?"
Bukankah kendaraan mereka sudah lebih dari cukup?
Isana menggulir layar ke bawah, membaca ulang setiap pesan. Berharap menemukan sesuatu yang lain. Namun tidak ada apa-apa selain percakapan antara calon pembeli dan seorang sales.
Meski begitu, perasaannya tetap tidak tenang. Andreas sama sekali tidak pernah menyinggung soal mobil tersebut.
Pandangan Isana kemudian jatuh pada nomor telepon yang tertera di bagian bawah email. Nomor sales yang sejak kemarin bernegosiasi dengan Andreas.
Isana meraih ponselnya lalu menyimpan nomor itu ke dalam daftar kontak dengan nama Sales HRV.
Isana ingin melanjutkan penjelajahan namun terhenti ketika mendengar tangis Ghazi.
"Bu ... Sepertinya Ghazi haus."
Bik Marni mendekat, Ghazi tengah merengek digendongannya.
Isana menoleh, kemudian bangkit meraih Ghazi. Melihat wajah kemerahan dan tangis yang keluar dari mulutnya, Isana tersenyum.
"Haus sayang?"
Bayi mungil itu terus menangis, mulutnya terbuka mencari-cari sesuatu.
"Bik, tolong nanti siapkan perlengkapan Ghazi ya. Kita ke rumah Mama sebentar lagi." Ucap Isana, sembari berjalan menuju sofa.
"Loh, Buk ... Apa nggak nunggu Bapak dulu? Tadi kata Bapak, perginya disuruh nunggu beliau dulu."
"Nggak perlu." Isana menoleh, "Ada sesuatu yang harus aku ketahui lebih dulu."
Bik Marni mengernyit, ingin bertanya apa yang dimaksud Isana, tapi ia urungkan. Ia memilih diam, karna paham posisinya sebagai ART tidak etis jika banyak bertanya tentang urusan majikan.
Ia pun berlalu, menyiapkan perlengkapan Ghazi.
***
Sementara itu,
Andreas menepikan mobilnya didepan rumah orang tuanya. Ia turun dengan sedikit tergesa. Beberapa kali ia menoleh kebelakang, untuk kemudian melebarkan langkah melewati beberapa staff vendor yang tengah mendirikan tenda dan dekorasi acara syukuran dan Aqiqah Ghazi.
"Loh, An ... Bukannya sudah berangkat kekantor?"
Suara Beni, menegurnya dari arah teras.
"Ada yang ketinggalan Pa, kemaren aku taruh dikamar aku."
Andreas menjawab tanpa menghentikan langkah. Sepatu pantofel nya bedecit dilantai marmer. Tidak peduli dengan tatapan Beni yang masih menyisakan pertanyaan.
Justru ia semakin mempercepat langkah menuju kamar lamanya.
Gagang pintu berwarna hitam, terasa dingin permukaannya. Ia putar gagang itu, hingga daunnya bergeser. Membuka celah yang kemudian bisa ia lewati masuk lebih dalam.
Laci putih di sebelah ranjang, tempat pertama kali tatapannya jatuh. Ia membuka laci itu, tangannya mengulur. Namun sepersekian detik tangan itu menggantung di udara. Hanya tatapannya saja yang semakin menajam.
Di dalam laci tersebut, sebuah benda pipih pemberian Risa tergeletak dengan kondisi padam. Andreas menyentuhnya, baru kemudian benar-benar ia raih. Menaruhnya kedalam saku.
Andreas tidak banyak berfikir, ia lanjutkan langkah keluar kamar. Menutup pintunya dengan perlahan.
"An, kok malah masih disini? Hari ini serah jabatan kamu kan?"
Suara Dewi mengejutkan Andreas, ia menoleh ke samping. "Ngambil barang, ada yang ketinggalan Ma."
"Barang apa?"
"Nggak, cuma ya ... cuma benda kecil. Tapi takut kalau nanti dibutuhin."
"Benda apa sih?"
"Eng ... Itu, ehm ... Flashdisk. Iya, flashdisk."
Dewi hanya mengangguk, menepuk lengan Andreas pelan. "Ya sudah, jangan lupa pulang cepet nanti. Ini acara anak kamu loh."
Secepatnya Andreas mengangguk, tubuhnya sudah bergeser bahkan sebelum ia menjawab ucapan Dewi.
"Iya Ma, aku pergi dulu."
Ucapnya, tak mau lagi membuang waktu. Keluar dari rumah, menuju mobil.
Segera melesat, meninggalkan area perumahan.
Sepanjang perjalanan, jalanan kota mulai dipadati kendaraan yang berangkat bekerja. Tidak ingin terlambat, ia itu terus menekan pedal.
Tak lama kemudian, gedung perkantoran tempatnya bekerja mulai terlihat menjulang di kejauhan. Andreas memarkir mobilnya di area parkir khusus jajaran manajemen. Begitu pintu mobil terbuka, seorang petugas keamanan langsung menghampiri dan memberi salam.
"Selamat pagi, Pak Andreas. Selamat atas jabatan barunya."
Andreas tersenyum tipis.
"Terima kasih."
Ia melangkah memasuki lobby utama. Belum juga sampai ke lift, beberapa karyawan yang berpapasan sudah lebih dulu menyapanya.
"Selamat ya, Pak."
"Congrats, Pak Director."
"Wah, akhirnya resmi juga."
Andreas hanya membalas dengan anggukan dan senyum sopan.
Pintu lift terbuka.
Begitu ia tiba di lantai eksekutif, suasana tampak lebih ramai dari biasanya. Beberapa staf bahkan sudah berkumpul di depan ruang rapat utama.
"Pak Andreas!"
Salah satu staf HR menghampirinya dengan wajah sumringah.
"Direksi sudah datang. Kita tinggal menunggu Bapak saja untuk acara serah jabatan."
Andreas mengangguk. Ia merapikan jas navy yang membungkus tubuhnya, lalu mengembuskan napas perlahan.
Hari yang selama ini ia tunggu akhirnya tiba.
Andreas mendorong pintu ruang rapat dan langsung disambut tepuk tangan yang memenuhi ruangan.
Beberapa direksi, manajer senior, hingga kepala divisi telah berdiri dari kursi masing-masing. Senyum dan ucapan selamat mengalir silih berganti saat ia berjalan menuju kursi yang telah disiapkan di bagian depan.
Acara berlangsung tidak terlalu lama.
Sambutan demi sambutan diberikan. Prestasi Andreas selama bertahun-tahun disebutkan satu per satu. Target-target besar yang berhasil dicapai.
Proyek-proyek yang sukses ia pimpin. Hingga akhirnya tiba pada momen penyerahan surat keputusan jabatan.
"Mulai hari ini, Saudara Andreas Wiratama resmi menjabat sebagai Project Director."
Tepuk tangan kembali menggema.
Andreas berdiri menerima map berwarna hitam yang diserahkan oleh salah satu direksi. Kamera-kamera perusahaan mengabadikan momen tersebut dari berbagai sudut.
"Selamat, An." ucap Pak Setyo sambil menjabat tangan.
"Terima kasih, Pak." Andreas tersenyum.
Senyum yang selama bertahun-tahun ia bayangkan akan terasa sangat membahagiakan.
Pak Setyo menepuk pelan pundak Andreas, "Semoga kamu bisa mengemban amanah ini dengan baik, An."
"Aamiin, saya akan menjaga amanah ini Pak." Ada rasa nyeri dihatinya, ketika menjawab ucapan Pak Setyo. Yang ia tahu, bahwa sebenarnya dirinya telah menyembunyikan sesuatu yang dilarang oleh atasannya itu.
"Oh ... Ya Pak," Andreas teringat sesuatu, "Saya ingin mengundang Bapak dan seluruh jajaran direksi untuk bisa hadir di acara syukuran dan aqiqah putra pertama saya."
"Nanti malam ya ... " Pak Setyo bergumam. Sambil mengangguk pelan. "Insyaallah, nanti akan saya usakan untuk hadir."
Andreas tersenyum, menutupi rasa getir didadanya.
"Sekali lagi, selamat ya An." Suara tegas dan berwibawa Pak Setyo terdengar jelas. "Selamat juga, akhirnya kamu bisa menjadi suami dan Ayah yang baik untuk keluargamu."
Andreas menunduk, menatap lantai. Tak kuasa menatap wajah Pak Setyo secara langsung.
Acara berakhir, beberapa menit kemudian. Satu per satu peserta rapat mulai meninggalkan ruangan. Beberapa rekan kerja masih menghampirinya untuk mengucapkan selamat sebelum akhirnya kembali ke divisi masing-masing.
Setelah suasana mulai sepi, ia melangkah menuju ruangan barunya yang berada di ujung koridor. Pintu kayu berwarna gelap itu kini memuat namanya.
"ANDREAS WIRATAMA PROJECT DIRECTOR"
Andreas berdiri beberapa detik di depan pintu tersebut.
Sebelum akhirnya, tangannya mendorong pintu.
Ruangan luas itu menyambutnya dengan aroma furnitur baru dan pemandangan kota yang terbentang melalui jendela kaca setinggi langit-langit. Meja kerja besar berdiri di tengah ruangan.
Beberapa buket bunga ucapan selamat telah tertata rapi di salah satu sudut.
Andreas meletakkan tas kerjanya di atas meja. Belum sempat ia duduk, suara dering ponsel terdengar.
Ponsel pemberian Risa ...
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍