“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Tinta Rahasia dan Sinar Ultraviolet
Di dalam laci meja kerjanya yang terbengkalai, Alika mengais tumpukan pernak-pernik sisa acara kehumasan tahun lalu. Jari-jarinya yang mulai bisa bergerak luwes—berkat pil kortikosteroid selundupan yang memaksanya 'sehat'—akhirnya menemukan apa yang ia cari.
Sebuah pena dengan lampu UV kecil di ujung tutupnya. Pena itu adalah suvenir dari peluncuran lini kosmetik bertema Secret Agent beberapa bulan lalu. Tintanya sama sekali tidak kasat mata di atas kertas biasa, dan hanya akan berpendar di bawah paparan sinar ultraviolet.
Alika mematahkan tutup pena yang berisi lampu UV tersebut dan menyembunyikannya di dalam pot tanaman hias di kamarnya. Ia hanya butuh penanya. Jika Rasti memeriksa pena itu nanti, wanita itu hanya akan melihat pena macet yang tintanya sudah habis.
Alika duduk di meja rias, membuka majalah The Executive yang menampilkan wajah arogan Narendra di halaman profil utama. Dengan cepat, sebelum Rasti kembali dari dapur untuk membawa keranjang hampers, Alika menuliskan pesannya tepat di atas foto dada bidang suaminya.
> "Kempinski Charity Gala. Sabtu, 19.30. Powder Room VIP lantai 2. Bawa alat tes darah lengkap (ANA/Anti-dsDNA). Waktuku hampir habis."
Tulisan itu mengering dalam hitungan detik, menghilang tanpa jejak di atas kertas majalah yang mengilap.
Terdengar suara langkah sepatu Rasti memasuki kamar. Alika buru-buru menutup majalah tersebut dan meletakkannya di atas meja.
"Keranjangnya sudah siap, Nyonya," ucap Rasti, matanya langsung tertuju pada majalah di atas meja. Asisten itu mengambil majalah tersebut, membolak-baliknya dengan gerakan penuh curiga. Rasti bahkan membuka halaman profil Narendra, mengusap kertasnya untuk memastikan tidak ada tempelan atau kertas selipan di sana.
Jantung Alika berdetak liar, namun ia memaksakan sebuah tawa kecil yang elegan. "Pastikan majalah itu diletakkan di tumpukan paling atas, Rasti. Mas Narendra pasti ingin dr. Hendrawan dan para direktur Medika Utama melihat siapa yang mensponsori rumah sakit mereka."
Rasti tidak menemukan apa-apa selain kertas kosong majalah yang mengilap. Ia mengangguk puas. "Baik, Nyonya. Kurir Artha Group sudah menunggu di bawah."
Dua jam kemudian, di Rumah Sakit Medika Utama.
Dokter Raditya menatap tumpukan rekam medis di mejanya dengan tatapan kosong. Kantung matanya menghitam. Sudah berhari-hari ia kurang tidur memikirkan nasib Alika. Ia tahu obat yang ia kirimkan dalam tabung krim wajah itu hanya cukup untuk lima hari. Setelah itu, jika Alika tidak segera melakukan tes ANA untuk mendapatkan resep imunosupresan dosis tepat, ginjal wanita itu bisa gagal berfungsi.
Pintu ruangannya diketuk. Seorang perawat masuk membawa sebuah parsel besar berhias pita emas.
"Dokter Raditya, ada bingkisan dari Artha Group untuk tim dokter. Pengirimnya tertulis Nyonya Alika Pradipta," ucap perawat itu.
Nama itu membuat Raditya tersentak dari kursinya. Ia segera mengambil alih bingkisan itu, membawanya ke meja periksa, dan merobek plastiknya dengan kasar setelah perawat itu keluar. Isinya hanyalah buah-buahan impor mahal, sekotak cokelat Swiss, dan... sebuah majalah bisnis.
Raditya menatap majalah The Executive itu. Wajah Narendra Pradipta terpampang di sampulnya dengan senyum merendahkan. Raditya nyaris melempar majalah itu ke tempat sampah, muak melihat wajah pria yang menyekap pasiennya.
Namun, gerakannya terhenti.
Raditya mengenal Alika. Wanita itu terlalu cerdas untuk sekadar mengirimkan majalah berisi wajah suaminya tanpa alasan. Ini bukan gaya Alika. Ini adalah sebuah pesan.
Raditya membawa majalah itu di bawah lampu operasi ruang periksanya yang terang benderang. Ia membuka halaman demi halaman dengan saksama. Saat ia tiba di halaman profil Narendra, pantulan cahaya lampu menampakkan sesuatu yang ganjil. Ada guratan-guratan halus, seperti bekas tekanan pena di atas kertas glossy tersebut. Seseorang telah menulis sesuatu di sini tanpa tinta.
Otak medis Raditya berputar cepat. Tinta transparan? Jika ini tinta yang bereaksi terhadap panas, ia bisa menggunakan korek api. Tapi jika ini bereaksi terhadap cahaya...
Mata Raditya melebar. Ia segera berlari ke lemari penyimpanan alat medisnya dan mengeluarkan Wood's Lamp—lampu ultraviolet genggam yang biasa digunakan dokter kulit untuk mendeteksi lesi ruam Lupus atau infeksi jamur pada kulit pasien.
Dengan napas tertahan, Raditya mematikan lampu utama ruang periksanya hingga ruangan itu menjadi gelap gulita. Ia menyalakan Wood's Lamp dan menyorotkan cahaya ungu kebiruan itu tepat ke atas halaman majalah.
Seketika, tulisan tangan Alika yang berantakan dan terburu-buru menyala terang dalam kegelapan.
> "Kempinski Charity Gala. Sabtu, 19.30. Powder Room VIP lantai 2. Bawa alat tes darah lengkap (ANA/Anti-dsDNA). Waktuku hampir habis."
Raditya membaca pesan itu berulang kali. Tangannya bergetar hebat. Rasa lega, marah, dan kepanikan bercampur menjadi satu di dadanya. Alika berhasil membodohi pengawalan ketat Narendra, dan wanita itu memberikan lokasi sekaligus waktu yang sangat spesifik.
Hari ini adalah hari Kamis. Gala itu dua hari lagi.
Namun Raditya juga menyadari seberapa besar risiko yang akan mereka ambil. Kempinski Charity Gala adalah acara terbesar Artha Group tahun ini. Narendra pasti akan membawa puluhan pengawal, dan mata pria itu tidak akan lepas dari istrinya barang sedetik pun. Mengambil darah pasien secara diam-diam di dalam toilet hotel dengan pengawasan seketat itu adalah misi bunuh diri. Jika Narendra memergoki mereka, riwayat Raditya di dunia medis akan tamat, dan Alika... Raditya tidak berani membayangkan apa yang akan dilakukan pria monster itu pada Alika.
Raditya mematikan lampu UV tersebut dan menyalakan kembali lampu ruangan. Ia berjalan menuju meja kerjanya, membuka laci paling bawah, dan mengeluarkan tas peralatan medis (medical kit) portabelnya. Ia mulai memasukkan tabung sampel darah, tourniquet, alkohol swab, dan jarum suntik steril ke dalamnya.
"Bertahanlah dua hari lagi, Alika," gumam Raditya dengan rahang mengeras. "Aku akan mengeluarkanmu dari sangkar itu."
Permainan kucing-kucingan ini akan segera mencapai puncaknya di bawah gemerlap lampu chandelier Kempinski.