Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGUBAH TAKDIR
Saat Kaisar memanggil Pangeran Pertama ke aula utama istana, suasana di dalam ruangan itu terasa sangat berat. Para pelayan bahkan tidak berani mengangkat kepala terlalu tinggi. Hanya suara langkah perlahan Kaisar yang terdengar menggema di antara pilar-pilar emas.
Pangeran Pertama berdiri di tengah aula dengan ekspresi tenang, meski dalam hatinya ia merasa bingung. Sudah lama Kaisar tidak memanggilnya secara pribadi seperti ini.
Kaisar duduk di singgasananya sambil menatap putra sulungnya tanpa berkedip.
“Aku ingin kau menerima titah pernikahan dengan Gu Yanran.”
Ucapan itu langsung membuat Pangeran Pertama tertegun.
Matanya sedikit membesar.
“Bukankah Adik Ketiga sudah menggantikanku?” tanyanya hati-hati.
Tatapan Kaisar langsung berubah tajam.
“Kau tidak mengerti.”
Nada suaranya rendah, tetapi penuh tekanan.
Pangeran Pertama terdiam.
Ia mulai menyadari bahwa pembicaraan ini bukan sekadar masalah pernikahan biasa.
Kaisar perlahan bangkit dari singgasananya lalu berjalan menuju jendela besar di aula. Tangannya berada di belakang punggung, sementara matanya memandang langit ibu kota yang mulai diselimuti cahaya sore.
Aura ambisinya terasa sangat berat.
“Kali ini tidak ada penolakan.”
“Mengenai Pangeran Ketiga… biar aku yang mengurusnya.”
Nada dingin itu membuat suasana semakin menekan.
Pangeran Pertama perlahan menurunkan pandangannya.
Kini ia mengerti.
Ayahnya sama sekali belum menyerah.
Kaisar masih ingin mengikat keluarga Gu ke dalam kekuasaan kerajaan. Dan pernikahan hanyalah alat untuk mencapai tujuan itu.
“Ini demi masa depanmu,” ucap Kaisar sambil menoleh sedikit.
Namun di balik kata-kata itu…
Tersembunyi rencana yang jauh lebih besar.
Dan jauh lebih berbahaya.
Tanpa mereka sadari, seorang mata-mata milik Mo Chen ternyata berada tidak jauh dari aula tersebut. Pria berpakaian pelayan itu mendengar sebagian besar percakapan mereka.
Begitu pertemuan selesai, ia segera meninggalkan istana secara diam-diam.
Langkahnya cepat menembus lorong-lorong belakang sebelum akhirnya menuju kediaman Pangeran Ketiga.
Tak lama kemudian, ia sudah berlutut di depan Mo Chen.
“Hormat kepada Pangeran Ketiga.”
Mo Chen yang sedang membaca dokumen perlahan mengangkat pandangannya.
“Ada apa?”
“Lapor, Yang Mulia. Tadi hamba mendengar Kaisar ingin Pangeran Pertama menerima titah pernikahan dengan Nona Gu Yanran.”
Tangan Mo Chen yang memegang gulungan dokumen langsung berhenti.
Tatapannya berubah serius.
“Lanjutkan.”
“Pangeran Pertama setuju… asalkan Yang Mulia juga menyetujui pembatalan pernikahan dengan Nona Gu.”
Mo Chen mengerutkan keningnya.
“Dan Kaisar berkata… beliau sendiri yang akan berbicara dengan Anda.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Mata Mo Chen perlahan menyipit.
Setelah beberapa saat, ia akhirnya berkata pelan, “Kau boleh pergi.”
“Baik, Yang Mulia.”
Mata-mata itu segera mundur meninggalkan ruangan.
Begitu pintu tertutup, Mo Chen menghela napas panjang.
“Ternyata sulit juga mengubah alur cerita asli…”
Ia bergumam pelan sambil memijat pelipisnya.
Dalam novel yang pernah ia tulis, Gu Yanran memang seharusnya menikah dengan Pangeran Pertama. Pernikahan itu menjadi awal dari kehancuran keluarga Gu
Namun semuanya berubah sejak dirinya masuk ke dunia novel ini.
Ia sudah mencoba mengubah banyak hal.
Tetapi sekarang…
Alur asli seakan memaksa kembali ke jalannya.
Mo Chen segera bangkit dari kursinya.
“Aku harus menemuinya.”
Tanpa membuang waktu, ia langsung meninggalkan kediamannya menuju rumah Jenderal Gu.
Beberapa saat kemudian, kereta Pangeran Ketiga tiba di depan kediaman keluarga Gu.
Para penjaga segera memberi hormat.
“Apa Nona Gu Yanran ada di dalam?” tanya Mo Chen sambil turun dari kereta.
“Nona sedang berlatih pedang bersama Jenderal. Silakan masuk, Yang Mulia.”
Kali ini Mo Chen tidak dihadang seperti sebelumnya. Para penjaga membiarkannya masuk karena Gu Zhengyuan sedang berada di tempat latihan bersama putrinya.
Seorang pengawal mengantar Mo Chen menuju halaman belakang.
Dari kejauhan, suara benturan pedang terdengar keras.
Clang!
Clang!
Begitu sampai, Mo Chen langsung melihat pertarungan antara Gu Zhengyuan dan Gu Yanran.
Tatapannya sedikit berubah.
Menakjubkan…
Gu Yanran bergerak sangat cepat.
Pedangnya berkilat seperti kilatan cahaya di bawah matahari. Setiap serangannya tajam dan penuh tekanan.
Sementara Gu Zhengyuan tertawa puas sambil menahan serangan putrinya.
“Lebih cepat!”
“Jangan ragu!”
Mo Chen diam memandangi mereka.
Dalam novel yang ia tulis dulu, Gu Yanran memang digambarkan sangat kuat.
Namun ia tidak pernah benar-benar menjelaskan batas kekuatannya.
Karakter Gu Yanran hanyalah alat plot.
Seseorang yang nantinya dikorbankan demi perkembangan cerita.
Tetapi sekarang…
Melihat wanita itu berdiri hidup di hadapannya, semuanya terasa berbeda.
Ia bukan lagi sekadar karakter.
Ia manusia nyata.
Dan entah sejak kapan…
Mo Chen mulai benar-benar ingin melindunginya.
Setelah cukup lama menonton, Gu Zhengyuan akhirnya menyadari keberadaan Mo Chen.
Tatapan sang Jenderal langsung berubah dingin.
“Kenapa kau datang lagi?”
Mo Chen tersenyum santai.
“Aku ingin menemui calon istriku.”
Mata Gu Zhengyuan langsung menyipit tajam.
Aura dingin langsung memenuhi halaman latihan.
Sementara itu, Gu Yanran hanya menghela napas kecil melihat mereka berdua kembali saling menatap seperti musuh bebuyutan.
Percikan ketegangan terasa jelas di udara.
“Sudah-sudah,” ucap Yanran sambil menyarungkan pedangnya.
Ia lalu menoleh ke arah Mo Chen.
“Kau ada perlu apa kemari?”
Mo Chen tersenyum tipis.
“Bisa kita bicara di tempat lain?”
Gu Zhengyuan langsung memotong sebelum Yanran sempat menjawab.
“Cukup. Kau pulang saja.”
“Yanran mau istirahat.”
Nada suaranya sangat dingin.
Namun Yanran justru melangkah maju.
“Aku akan menemuinya sebentar.”
Mata Gu Zhengyuan langsung melebar tidak percaya.
Sementara itu, Mo Chen diam-diam memberikan senyum tipis ke arah sang Jenderal.
Senyuman penuh kemenangan kecil yang terlihat sangat menyebalkan di mata Gu Zhengyuan.
“Bocah licik…” gumam sang Jenderal dalam hati.
Tak lama kemudian, Mo Chen dan Gu Yanran berjalan menuju halaman samping yang lebih sepi.
Begitu mereka berhenti, Yanran langsung menatapnya serius.
“Ada apa sebenarnya?”
Ekspresi santai Mo Chen perlahan menghilang.
“Sepertinya tidak mudah mengubah alur cerita ini.”
Yanran mengernyit.
“Maksudmu?”
“Kaisar berniat menikahkanmu dengan Pangeran Pertama.”
Yanran langsung terdiam.
“Bukankah kau sudah menggantikannya?”
“Hari ini mereka membahasnya lagi,” jawab Mo Chen pelan.
“Dan Pangeran Pertama sudah setuju.”
“Asal aku juga setuju membatalkan pernikahan ini.”
Mata Yanran perlahan menyipit.
Ia mulai memahami situasinya.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
Mo Chen menatapnya beberapa detik sebelum tersenyum kecil.
“Itulah alasan aku datang ke sini.”
“Aku sudah punya rencana.”
Beberapa saat kemudian…
Yanran menatap tidak percaya pada keramaian di depan mereka.
“Jadi ini rencanamu?”
Mo Chen tampak santai.
“Tunggu dulu.”
“Kita harus membangun hubungan kita di depan publik.”
Yanran menatapnya datar.
“Kedengarannya bodoh.”
“Justru sangat penting,” jawab Mo Chen cepat.
“Kita harus memperlihatkan kepada rakyat bahwa kita pasangan yang saling mencintai.”
“Kalau hubungan kita terlihat kuat, Kaisar tidak bisa bertindak sembarangan.”
Yanran terdiam.
Ia sebenarnya tidak terlalu menyukai perhatian orang banyak.
Namun setelah memikirkan situasinya…
Rencana itu memang masuk akal.
Akhirnya mereka berjalan memasuki pasar bersama.
Mo Chen dengan santainya menggenggam tangan Yanran.
Wanita itu refleks ingin menarik tangannya.
Namun Mo Chen berbisik pelan.
“Jangan dilepas.”
“Semua orang sedang melihat.”
Yanran langsung menyadari banyak tatapan mulai mengarah kepada mereka.
Pangeran Ketiga yang terkenal dingin kini berjalan bersama putri keluarga Gu sambil bergandengan tangan.
Pemandangan itu langsung menarik perhatian seluruh pasar.
“Bukankah itu Pangeran Ketiga?”
“Dan Nona Gu!”
“Mereka terlihat sangat cocok…”
Bisikan-bisikan mulai terdengar di mana-mana.
Mo Chen tampak sangat santai.
Ia bahkan sesekali membeli makanan kecil lalu memberikannya pada Yanran.
Sementara Yanran mulai merasa sedikit tidak nyaman dengan semua perhatian itu.
Namun di sisi lain…
Entah kenapa suasana itu terasa anehnya damai.
Sebelumnya, sebelum keluar dari kediaman Gu, Mo Chen sebenarnya harus menghadapi Gu Zhengyuan lebih dulu.
Awalnya sang Jenderal menolak keras.
“Kau ingin membawa putriku jalan-jalan?”
“Tidak semudah itu.”
Namun akhirnya Mo Chen dan Yanran menjelaskan semuanya tentang rencana Kaisar.
Mengenai kemungkinan pertukaran pernikahan.
Mengenai ambisi istana.
Setelah mendengar semuanya, Gu Zhengyuan akhirnya terdiam lama.
Sebagai seorang ayah, ia memahami satu hal.
Putrinya sedang berada di tengah pusaran politik istana yang berbahaya.
Dan jika salah langkah…
Yanran bisa menjadi korban.
Pada akhirnya, ia menghela napas berat.
“Jaga dia baik-baik.”
Hanya itu yang ia katakan.
Meski wajahnya tetap dingin.
Kembali ke pasar…
Mo Chen dan Yanran kini berjalan di tengah keramaian malam yang mulai dipenuhi lentera.
Lampu-lampu merah bergantung di sepanjang jalan.
Suara para pedagang memenuhi udara.
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke dunia novel ini…
Mo Chen merasa sedikit tenang.
Namun di balik ketenangan itu, pikirannya tetap bekerja.
Kaisar tidak akan menyerah semudah itu.
Cepat atau lambat…
Pria itu pasti akan bergerak lagi.
Dan saat hari itu tiba…
Mo Chen harus sudah siap.
Karena kali ini, ia tidak akan membiarkan Gu Yanran bernasib sama seperti cerita aslinya.