NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Di kantin, pikiran Syifa masih tertinggal di ruang kuliah. Saking tidak fokusnya, ia menuangkan sesendok penuh sambal ke mangkuk baksonya.

​"Syif, kamu yakin bisa habisin tuh bakso? Sambelnya woi!" Jihan menahan tangan Syifa, menatap mangkuk yang kini merah membara.

​"Astaghfirullah!" Syifa tersadar, wajahnya semakin lesu. Adiba dan Jihan hanya bisa menggelengkan kepala melihat sahabat mereka yang seperti kehilangan nyawa.

​Tanpa mereka sadari, di sudut lain kantin, Hasbi tengah memperhatikannya. Hasbi, sang idola kampus yang agamis, merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Syifa hari ini. Ada kesedihan yang ingin ia tanyakan, namun ia sadar akan batasannya.

"Kesambet apa lu?" tanya Yusuf melihat Hasbi yang tengah memperhatikan ke salah satu sudut.

"Ya? Tidak ada" jawab Hasbi mengalihkan pandangan.

"Oh, jangan bilang lu naksir temennya Jihan?" celetuk Yusuf lagi.

"Serius, Bi? Yang mana?" imbuh Miftah, temannya yang lain.

"Adiba ya, Bi?"

"Astaghfirullah sudah jangan membicarakan orang" ujarnya.

"Daripada diem-diem lihat yang bukan mahram?" sindir Yusuf.

"Santai aja kali, Suf. Namanya juga usaha, ya kan Bi?" bela Adit pada Hasbi.

"Iya, ngegas mulu si Ucup"

"Menurut gue sih bukan Adiba, tapi sebelahnya kan? Asyifa. Ya, Syifa namanya" ujar Adit.

"Bagaimana kamu bisa tahu namanya?" tanya Hasbi salah tingkah.

"Jelas gue tahu, kan gue satu ruangan sama mereka"

"Oh iya juga"

​"Mau dibantu ta’aruf dengannya, Bi?" bisik Miftah, menggoda Hasbi.

​Hasbi hanya tersenyum tipis, menundukkan pandangannya. "Nanti saja. Belum saatnya." Ia tidak tahu, bahwa saat ia mulai mengumpulkan keberanian, "takdir" Syifa sudah lebih dulu dikunci oleh pria yang sedang duduk di ruang dosen saat ini.

...----------------...

Syifa yang sedang fokus mengikuti mata kuliah kedua, merasakan perutnya melilit hebat, mungkin karena makan kuah bakso yang sudah terkena sambal di kantin tadi. Semakin di tahan semakin dia merasakan sakit, dia pun meminta izin pada dosen untuk pergi ke toilet.

Syifa berjalan sedikit sempoyongan, keringat dingin mengucur membasahi dahinya. Untuk berjalan ke toilet yang jaraknya lumayan jauh dari ruang kuliah, rasanya sudah tidak sanggup lagi.

Tidak sengaja Syifa berpapasan dengan Fadhlan yang baru saja keluar dari ruangannya. Fadhlan memperhatikan Syifa yang berjalan sambil memegangi perutnya. Melihat keadaan sekeliling yang tidak terlalu ramai, dia menghampiri calon istrinya.

​"Kamu sakit?" tanya Fadhlan datar, namun matanya menatap tajam ke arah tangan Syifa yang meremas perut.

​"Tidak," jawab Syifa cuek, berusaha tetap tegak meski rasa perih dan nyeri menyelimutinya.

​"Wajahmu pucat. Butuh bantuan?" Fadhlan melangkah satu tindak lebih dekat, ada nada khawatir yang terselip di balik suara baritonnya.

​"Tidak usah, Pak. Saya bisa sendiri." Syifa melambaikan tangan, mencoba berjalan lagi namun hampir saja ia limbung jika Fadhlan tidak segera menahan lengannya.

​"Jangan keras kepala. Masuk ke ruangan saya," titah Fadhlan mutlak. Syifa ingin memprotes, namun rasa sakit yang menghunjam membuatnya terpaksa mengiyakan bantuan Fadhlan, tentunya dia tidak mampu berjalan lebih jauh lagi.

"Apa perlu ke rumah sakit?"

"Tidak! Hanya sakit perut biasa"

"Ya sudah, kamu bisa istirahat dulu di sini, toilet juga ada di sebelah sana" ucap Fadhlan sembari menyerahkan kunci cadangan ruangannya.;Syifa menerimanya dengan tangan gemetar.

"Saya ada urusan sebentar. Apa kamu yakin bisa sendiri?"

'eh, yang bener aja di ruangan dosen? Sendirian? kenapa tadi aku mau sih di ajak ke ruangan dia?' merutuki diri sendiri. Syifa mengangguk lemah.

"Telfon saya atau temanmu kalau ada apa-apa" ujarnya khawatir dan memberikan kartu namanya.

Syifa hanya sanggup mengangguk. Saat ia kembali dari toilet, ruangan itu sudah kosong. Namun, di atas meja kopi dekat sofa, sudah tersedia segelas air hangat dan beberapa jenis obat, dari obat sakit lambung hingga pereda nyeri. Di sampingnya, terselip secarik kertas dengan tulisan tangan yang tegas.

​“Jangan lupa minum obatnya. Kalau sudah merasa lebih baik, titipkan kunci ruangan itu pada satpam. Semoga lekas sembuh."

​Syifa menatap tulisan itu, perlahan sebuah senyuman terukir di bibirnya yang pucat. "Ternyata dia masih punya belas kasih di balik penampilan kulkas dua puluh pintunya," gumamnya lirih. Ada sedikit kehangatan yang menyelinap di hatinya, membuat rasa sakit di perutnya perlahan berkurang.

"Ish, apaan sih. Inget baru calon suami Syif. Eh? Obatnya banyak sekali? Dia jualan obat atau bingung mau kasih obat yang mana? Ya Allah, orang seperti apa sih dia sebenarnya" pungkasnya berbicara lirih pada dirinya sendiri.

Untuk beberapa saat Syifa istirahat di ruangan calon suaminya. Setelah merasa sudah lebih baik, Syifa memutuskan kembali ke ruang kuliahnya.

...****************...

1
Ulfa 168
bagus cerita nya kak ditunggu kelanjutannya
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!