NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Xiao Chen

Jalan Pedang Xiao Chen

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.

Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.

Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Lembah seribu roh

​"Kalian dilarang keras meninggalkan lembah selama satu bulan penuh. Jika kalian kehilangan semua token, kalian akan langsung dianggap gagal dan didiskualifikasi..."

​Suara Tetua Pengawas mendadak berubah menjadi sangat berat dan dingin, menusuk langsung ke dalam sanubari seluruh peserta.

​"...Dan jika ada di antara kalian yang mati di dalam sana... itu hanya berarti nasib kalian memang buruk."

​Matahari perlahan terbit di ufuk timur, namun udara pagi itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Dua puluh kandidat terbaik murid luar kini telah berkumpul di area gerbang besar.

Mendengar penegasan ulang dari sang Tetua, atmosfer di tempat itu seketika berubah mencekam.

Mereka semua sadar, ini bukan lagi sekadar turnamen biasa, ini adalah medan pertempuran hidup dan mati.

​Saat para instruktur membagikan token identitas, kantong penyimpanan sederhana, serta peta kasar lembah, Xiao Chen mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

Ia memperhatikan tim-tim lain yang tampak mengenakan baju zirah ringan berkualitas tinggi serta memegang senjata spiritual yang berkilau.

​"Sepertinya latar belakang keluarga mereka cukup kaya," batin Xiao Chen pelan.

​Ia kemudian menoleh ke arah rekan-rekannya. Bao Hu tampak meremas tangannya yang gemetar, mencoba bersikap berani meskipun wajahnya pucat. Di sebelahnya, Qian'er juga menggigit bibir bawahnya karena gugup.

​Sementara Gu Tian? Murid aneh itu justru sedang memejamkan mata, tertidur lelap dalam posisi berdiri tegak. Ia bahkan sama sekali tidak mendengarkan instruksi penting dari Tetua sejak tadi.

​"Anak ini... bagaimana bisa dia tidur sambil berdiri di situasi menegangkan seperti ini?" Xiao Chen hanya bisa menggelengkan kepala.

​Sebelum gerbang lembah resmi dibuka, Instruktur Han Gu tiba-tiba berjalan mendekati Xiao Chen. Dengan gerakan yang sangat samar, ia berbisik langsung ke telinga Xiao Chen.

​"Jangan pernah memercayai siapa pun sepenuhnya di dalam sana, Xiao Chen."

​Xiao Chen menelan ludah. Ia bisa merasakan ada makna tersembunyi yang teramat kelam di balik peringatan tersebut.

​Sebelum melangkah mundur, pandangan Han Gu sempat melirik ke arah Gu Tian yang masih menutup mata. Sebagai seorang praktisi tingkat tinggi, Han Gu tahu betul bahwa ketenangan Gu Tian bukanlah kepura-puraan. "Menarik... siapa sebenarnya guru yang melatih anak ini sebelum dia masuk ke sekte?" batinnya penuh selidik.

​"Gerbang dibuka! Masuk!"

​Atas perintah lantang sang Tetua, seluruh kandidat segera bergerak secepat kilat. Setiap tim langsung berpencar ke arah yang berbeda demi menghindari bentrokan awal.

​Saat Xiao Chen dan timnya melintasi batas gerbang dan menginjakkan kaki di Lembah Seribu Roh, indra mereka langsung disambut oleh pemandangan yang mengintimidasi.

Kabut tipis menyelimuti daratan, dikelilingi oleh pohon-pohon raksasa berumur ratusan tahun dan reruntuhan bangunan kuno yang telah hancur.

Aura spiritual di tempat ini terasa sangat liar dan tidak stabil, seolah-olah lembah ini pernah menjadi saksi bisu dari pembantaian besar di masa lalu.

​Di bawah bayang-bayang pohon raksasa, mereka berempat berjalan dengan sangat hati-hati. Qian'er bergerak ke arah semak-semak, jemari kecilnya dengan tangkas memasang beberapa benang tipis yang telah dilumuri cairan beracun.

​" Xiao, untuk jaga-jaga, aku akan memasang beberapa jebakan beracun di perimeter ini," ucap Qian'er sambil menyeka keringat di keningnya.

​"Ya, tapi pastikan kau tidak sembarangan meletakkannya. Aku tidak ingin kita sendiri yang terperangkap nanti," jawab Xiao Chen mengingatkan. Ia lalu menoleh ke belakang. "Bao Hu, jika indramu mendengar atau merasakan sesuatu yang mencurigakan, segera beritahu aku."

​Bao Hu mengangguk mantap sambil menggenggam kapak kayunya. "Baik, Xiao. Serahkan padaku."

​Sementara mereka bertiga sibuk mengamankan area, Gu Tian justru dengan santainya berjalan ke arah akar pohon besar dan langsung berbaring di sana, menjadikan kedua tangannya sebagai bantal.

​Melihat kelakuan malas tersebut, Bao Hu tidak dapat menahan rasa jengkelnya lagi. Ia melangkah mendekati Gu Tian dengan wajah gusar. "Hei! Bisakah kau membantu sedikit? Aku benar-benar tidak bisa memercayaimu. Jangan-jangan kau sengaja bersikap begini karena punya niat jahat untuk membunuh kami dari belakang saat kami lengah?!"

​Gu Tian perlahan membuka sebelah matanya, menatap Bao Hu dengan pandangan datar yang sangat dingin.

​“Kalau aku memang berniat membunuh kalian... aku tidak perlu menunggu sampai malam tiba.”

​Suuuut—

​Kata-kata yang diucapkan dengan nada malas itu seketika membuat suhu di sekitar mereka terasa drop. Suasana langsung membeku seketika.

Aura tak kasat mata yang keluar dari tubuh Gu Tian membuat Bao Hu otomatis mundur satu langkah karena insting bertahannya menjerit.

​"Sudah, jangan bertengkar," Xiao Chen segera menengahi, memecah ketegangan sebelum situasi semakin memburuk. "Kita semua berada di kapal yang sama sekarang, kita adalah satu tim. Ayo bergerak, kita harus segera mencari token pertama kita."

​Tidak jauh dari posisi mereka, setelah berjalan sekitar lima ratus meter, mereka menemukan sebuah reruntuhan kuil kecil yang sudah tertutup lumut.

​"Sepertinya di dalam sana ada sesuatu yang berkilau. Xiao, ayo masuk!" Ajak Bao Hu yang melihat secercah cahaya dari balik pilar kuil.

​"Ya, tetap waspada," jawab Xiao Chen.

​Mereka berempat melangkah masuk ke dalam bangunan kuno yang lembap itu. Saat mereka mencapai ruang utama, mata Qian'er tiba-tiba membelalak lebar. Ia menunjuk ke arah puncak sebuah pilar batu yang retak. "Lihat itu! Ada sebuah token!"

​Karena terlalu bersemangat melihat target pertama mereka, Qian'er langsung berlari ke depan tanpa berpikir panjang untuk mengambil token tersebut.

​"Qian'er, jangan ceroboh! Hati-hati!" Teriak Xiao Chen memperingatkan.

​KRAK!

​Baru saja kaki Qian'er melangkah setengah jalan, lantai batu di bawahnya bergetar hebat. Dari balik bayangan pilar, sebuah bayangan hitam melesat keluar dengan kecepatan yang mengerikan, mengayunkan sebilah pedang batu besar lurus ke arah leher Qian'er. Itu adalah Boneka Roh—penjaga kuno kuil tersebut!

​Mata Xiao Chen dan Bao Hu membelalak sempurna. Makhluk itu bergerak terlalu cepat; dengan jarak mereka saat ini, mustahil bagi mereka berdua untuk menjangkau Qian'er tepat waktu.

​"Qian'er!!!"

​DENTIIIINGGG!!!

​Suara benturan logam yang teramat nyaring menggema di dalam kuil. Tepat satu inci sebelum bilah pedang batu itu menebas leher Qian'er, sesosok tubuh sudah berdiri di depannya.

Gu Tian berhasil menahan serangan fatal tersebut hanya dengan menggunakan pedang tua lusuhnya yang bahkan belum dicabut dari sarungnya.

​Gu Tian melirik ke belakang dengan tatapan tajam.

​“Dasar gadis bodoh! Kau pikir kau punya sembilan nyawa untuk dibuang-buang di tempat seperti ini?”

​Dengan satu sentakan kuat, Gu Tian mendorong mundur boneka roh tersebut, lalu mencengkeram lengan Qian'er dan melemparnya ke belakang ke arah Xiao Chen.

​Xiao Chen dan Bao Hu tertegun di tempat. Kecepatan gerakan Gu Tian barusan benar-benar berada di luar nalar murid luar sekte.

​"T-terima kasih..." Qian'er terduduk di lantai dengan jantung yang berdegup kencang karena syok, wajahnya memucat. Ia menatap Xiao Chen dan Bao Hu dengan rasa bersalah. "...Maafkan aku, teman-teman. Aku terlalu ceroboh."

​"Tidak apa-apa, yang penting kau selamat. Sekarang, bersiaplah!" Seru Xiao Chen sambil mencabut pedangnya saat melihat Boneka Roh itu kembali mengaum dan menerjang maju.

​Xiao Chen langsung mengambil alih komando pertarungan dengan taktis.

​"Bao Hu, tahan pergerakannya dari depan! Qian'er, gunakan jarum beracunmu untuk melumpuhkan sendi-sendi mekanisnya! Aku akan mencari celah untuk menghancurkan inti energinya!"

​"Dimengerti!" Sahut mereka serempak.

​Bao Hu meraung, maju paling depan dan menghantamkan tubuhnya untuk menahan tebasan pedang batu sang boneka. BOOM! Benturan itu membuat Bao Hu tergeser, namun ia berhasil mengunci pergerakan makhluk itu.

Di saat yang sama, Qian'er melepaskan puluhan jarum spiritual yang menancap tepat di celah persendian lengan boneka, membuat gerakannya melambat akibat korosi racun.

​Melihat celah terbuka, Xiao Chen melompat tinggi. Qi di tubuhnya bergolak, mengalir lurus ke bilah pedangnya.

​TEKNIK PEDANG TANPA BENTUK!

​CRASH!

​Tebasan pedang Xiao Chen menghantam tepat pada kristal merah di dada Boneka Roh tersebut. Kristal itu retak, lalu hancur berkeping-keping. Tubuh besar boneka itu seketika kehilangan daya dan ambruk menjadi tumpukan batu tak bernyawa.

​Sementara mereka bertiga terengah-engah setelah mengerahkan seluruh tenaga, Gu Tian... hanya berdiri di sudut ruangan sambil menguap, menonton seluruh jalannya pertarungan tanpa berniat membantu lagi.

​Xiao Chen berjalan mendekati pilar dan mengambil token tersebut. "Bagus, kita sudah memiliki satu token tambahan selain token pemberian Tetua." Namun, saat ia melirik ke arah Gu Tian, garis wajah Xiao Chen menegang.

1
Maul
👍👍
Maul
latihan keras 😢
Maul
/Panic//Panic/
Maul
/Scare//Scare/
Maul
kenapa nih🤔
Maul
Benar-benar membingungkan Patriark itu🤭
Maul
/Smile/
Maul
Sepertinya Patriark baik🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
Agen One
Bab 37 sabar guys/Sleep/
Agen One
Kakek roh/Whimper/
Agen One
jadi juga murid dalam/Frown/
Agen One
🤕🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees boos 🌽🔥
Maul
keputusan apa ituh
Maul
takut itu wajar Qianer
Maul
/Frown/
Agen One
selamat Idul Adha ya semuanya/Smile//Pray/
Agen One
Bab 35 sabar ya/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!