Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.
Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.
Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.
Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.
Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?
Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Meski sudah sepuluh menit meninggalkan rumah sakit, debar jantung Andara masih tidak karuan bahkan nafasnya agak tersengal seperti habis lari marathon.
Untungnya Lily tidur pulas dalam pelukannya jadi bayi mungil itu tidak akan melihat Andara mengusap kedua sudut matanya bergantian.
Kejadian Baskara dan perempuan itu memicu kenangan pahit yang membuat hati Andara seperti tercabik-cabik hingga rasa sakit dan pedih itu muncul lagi, padahal Baskara bukan Irfan dan mereka tidak punya hubungan apa-apa.
“Hamil ? Anakku ? Jangan mengada-ada ! Kamu membuatku semakin jijik saja.”
“Tapi aku memang hamil anak mas Irfan.”
“Memangnya kapan aku pernah menyentuhmu lagi setelah malam pertama dan ternyata kamu sudah tidak perawan !” hardik Irfan dengan mata menyalang.
Mata Andara membelalak selebar-lebarnya. Saking kagetnya, Andara tidak langsung membantah. Sungguh ia tidak menyangka kalau Irfan berdusta sekejam itu.
“Apa maksudmu Irfan ?” tanya Suyani, ibu kandungnya.
“Perempuan yang ibu bilang alim dan santun ini ternyata sudah tidak perawan,” sinis Irfan.
“Bohong ! Kenapa mas Irfan tega menyebar fitnah seperti itu ?” tukas Andara dengan mata mulai berkaca-kaca, namun ia berusaha keras untuk tidak membiarkan air matanya keluar.
“Diam kamu !” hardik Suyani. “Jadi berita itu benar kalau ternyata kamu perempuan nakal di sekolah ?”
“Demi Tuhan Bu, saya tidak pernah tidur dengan laki-laki manapun. Mas Irfan lah yang merenggut keperawanan saya.”
“Apa buktinya ?” tantang Irfan.
Andara terdiam, bukan takut tapi malu menjelaskan apa yang terjadi malam itu.
“Ibu baru ingat, tidak ada seprai yang berdarah saat kalian baru menikah,” ujar Suyani dengan tatapan tajam.
“Seprainya terpaksa saya buang karena sobek.”
“Sobek ?” Suyani mengangkat sebelah alisnya dan kelihatan tidak percaya saat Andara mengangguk.
“Aaahhh…. Kamu hanya mencari-cari alasan ! Seprai itu kamu buang supaya tidak ada yang bertanya kenapa tidak ada noda keperawananmu !”
Irfan kembali menaikkan nada bicaranya dan tidak memberi kesempatan Andara untuk membela diri.
“Mas Irfan !” Perasaan Andara campur aduk saat menatap suaminya yang semakin sinis dan mencemoohnya.
“Sekarang kamu berani bilang kalau kamu hamil anakku ! Pembohong ! Pendusta ! Perempuan murahan !”
“Aku tidak bohong Mas ! Aku memang….”
Plak ! Plak !
Tiba-tiba Suyani sudah menampar wajah Andara bahkan menarik rambutnya hingga beranjak dari kursi lalu mendorong tubuh Andara hingga terjembab di lantai.
Tidak cukup sampai di situ, Suyani memukuli Andara secara membabi buta bahkan menendang perut Andara yang berusaha melindunginya.
Masih terbayang dalam ingatan Andara bagaimana Irfan tersenyum puas dan Rahmat, ayah mertuanya, hanya duduk sambil merokok, tidak berusaha menenangkan istrinya apalagi menyuruhnya berhenti memukuli Andara.
Untung saja paman Karso dan pak RT datang karena dipanggil tetangga. Dengan tubuh penuh luka lebam, Andara dibawa ke puskesmas. Tidak peduli dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya, yang Andara khawatirkan hanyalah janin di dalam rahimnya.
Setelah kejadian itu Andara dianggap seperti sampah, tidak ada seorang pun yang berani membelanya bahkan Andara jadi gunjingan orang-orang sekampung.
Andara terap bertahan demi bayi yang dikandungnya tapi ia malah dipaksa menandatangani surat cerai sekaligus akta jual beli rumah peninggalan orangtuanya.
Andara menolak, tidak bersedia menyerahkan rumah orangtuanya tapi surat hutang yang diperihatkan keluarga Irfan membuatnya tidak berkutik.
Paman Karso bukan hanya meminjam uang untuk biaya pernikahan Andara tapi untuk melunasi hutang-hutangnya pada renternir karena terlibat judi sambung ayam.
Tidak tahan menghadapi perlakuan tetangga bahkan orang-orang dari kampung sebelah, Andara memilih pergi ke Jakarta dengan berbekal uang pemberian ayahnya yang berhasil Andara sembunyikan sejak orangtuanya meninggal.
Lamunan panjang yang menguras air mata itu terhenti karena Lily menangis. Buru-buru Andara mengambil tisu untuk membersihkan wajahnya yang basah dengan air mata.
Seperti ada ikatan batin, Lily menangis sambil menatap wajah Andara sampai membuatnya terharu.
“Maafkan mama sayang. Maafkan mama.”
Sambil menciumi Lily, air mata Andara kembali mengalir, yang terbayang adalah wajah Fajar.
*****
Waktu menunjukkan hampir jam sebelas malam saat Baskara keluar dari dalam lift di lantai 9. Sesekali handphonenya masih bergetar namun sengaja Baskara tidak menjawab panggilan Savira karena tidak ingin menganggu pasien lain.
Dengan sangat pelan dan hati-hati ia membuka pintu kamar dan bibirnya menyunggingkan senyum penuh rasa bersalah saat mendapati Savira berdiri sambil bertolak pinggang.
“Maaf, aku ketiduran.” Baskara menangkup kedua tangannya dan memasang wajah memelas.
“Kalau memang nggak mau temani aku di sini tinggal bilang, jangan kasih harapan ! Kebiasaan !”
“Iya maaf.” Baskara memeluk Savira dan menciumi pucuk kepalanya.
“Yakin ketiduran bukannya menemui perempuan tadi ?”
“Perempuan yang mana lagi ?” Baskara pura-pura lupa.
Bukan cuma melepaskan pelukan, Savira mendorong tubuh Baskara hingga mereka berjarak.
“Perempuan yang tadi menyapamu di lobi. Aku lihat kamu sempat kaget waktu melihat wajahnya.”
Baskara mengerutkan dahi, seperti berusaha mengingat-ingat setelah itu ia baru mengangguk-angguk.
“Oohhh yang bawa anak tadi ? Aku benar-benar nggak kenal, mungkin temannya mantan istriku.”
“Yakin ? Wajahnya kelihatan masih anak-anak begitu. Atau jangan-jangan….”
“Tidak usah berpikir macam-macam. Lebih baik fokus pada kesehatan papa dan pikirkan saran dokter tadi.” Baskara merangkul bahu Savira dan mengajaknya duduk di sofa.
Dengan manja, Savira merebahkan kepalanya di bahu Baskara.
“Sepertinya ada satu cara yang bisa membuat jantung papa lebih baik dari sekedar pasang ring.”
“Bypass maksudmu ?” Kepala Savira menggeleng.
“Papa dan mama ingin aku segera menikah.”
Baskara terkekeh membuat Savira mengangkat kepalanya dan menatap pria itu dengan wajah cemberut.
“Kok malah ketawa ? Kamu anggap permintaan papa dan mama….” Baskara meletakkan jari telunjuknya di bibir Savira.
Ada rasa kecewa di hati Savira karena Baskara tidak membungkamnya dengan ciuman seperti yang lalu.
“Tidak mungkin memaksa mamaku untuk memberikan restu karena istriku baru saja meninggal.”
“Lalu mau tunggu sampai kapan ? 3 tahun lagi setelah istrimu 1000 hari ?”
“Tidak akan selama itu sayang,” Baskara mengusap pipi Savira. “Selain mama, aku harus mengurus perwalian untuk anak-anak. Kamu tidak mau menikah langsung punya 2 anak kan ?”
Savira menghela nafas dan membuang muka. Masalah Daisy dan Lily memang Savira sendiri yang minta supaya keduanya diserahkan pada orangtua Fanny.
“Bersabarlah sebentar lagi. Selain restu orangtua, aku tidak mau pernikahan kita terganggu oleh masalah anak-anak itu.”
Wajah Savira mulai melunak dan kembali menatap Baskara.
“Aku khawatir terlalu sering menunda akhirnya malah batal lagipula umur kita terus bertambah. Aku ingin segera punya anak denganmu sebelum umurku 35.”
Baskara tertawa lalu merengkuh Savira ke dalam pelukannya.
“Mau umur berapapun, di mataku kamu tetap yang paling cantik dan bisa membuatku bahagia.”
Savira menarik satu sudut bibirnya tanpa terlihat Baskara.