Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Durian di Antara Penguasa
Duduk bersandar pada dinding apartemennya, Darren menatap langit-langit sembari membiarkan pikirannya berputar sejauh yang dia inginkan. Di dalam Rekening Sistem, angka Rp535 juta terpampang dengan jelas, namun dirinya masih membutuhkan Rp465 juta lagi demi memenuhi target satu miliar yang ditetapkan Seo yeon. Sementara waktu yang tersisa hanya tinggal dua puluh lima hari.
“Mencari selisih hampir setengah miliar dalam waktu sesingkat ini bukan perkara mudah,” pikir Darren sembari memijat pelipisnya yang mulai pening. Dia membedah batasan level yang mengikat kekuatannya. Pada level pertama, dia hanya mampu menarik lima persen dari utang keberuntungan target. Kalkulasi di kepalanya menunjukkan angka yang mencengangkan tentang dirinya membutuhkan seseorang dengan utang keuntungan minimal Rp9,3 miliar.
Target sebesar itu tidak jatuh dari langit setiap hari. Herman memang punya belasan miliar, tapi pria itu sudah kering. Oleh karena itu perutnya malah mengeluarkan suara keroncongan yang teramat nyaring. Darren menyadari bahwa dirinya sudah menghabiskan waktu berjam-jam tanpa asupan makanan apa pun. Akhirnya, Darren bangkit berdiri dan memutuskan untuk mencari makan di luar.
Pintu lift terbuka di lantai dasar, namun pemandangan yang menyambut Darren sangat jauh dari kata biasa. Halaman apartemen kini sesak oleh kerumunan manusia. Puluhan kamera bersiaga, sementara para pembawa berita memegang mikrofon dengan logo stasiun televisi nasional.
“Harap tenang semuanya! Bapak Alvino akan segera turun!” kata seorang wanita dengan blazer merah.
Nama Alvino Chandra seketika memicu memori dalam benak Darren. “Alvino?” gumam Darren sembari menyelinap di antara kerumunan.
“Lihat saja gaya bicaranya nanti, pasti sangat berkelas,” ucap seorang pria di sebelah Darren kepada rekannya. “Tahun ini saja omsetnya tembus dua triliun. Dulu dia bukan siapa-siapa, sekarang mobilnya saja ganti tiap bulan.”
“Kabarnya dia lagi dekat sama janda muda dari Bekasi, ya?” timpal rekannya. “Katanya cantik banget, tapi suaminya yang dulu cuma sampah yang sudah dibuang.”
Seketika itu juga Darren mematung di tempatnya berdiri. Jantungnya berdegup kencang. “Janda muda dari Bekasi? Suami sampah?” Jari-jari Darren mengepal kuat di dalam saku jaketnya. Dia tahu persis siapa yang mereka bicarakan.
Pintu lift lain berdenting. Alvino Chandra melangkah keluar dengan penuh percaya diri, mengenakan jas gelap yang tampak sangat mahal. Wajah itu identik dengan pria yang dilihat Darren di rumah orang tua Rina. Alvino menyambut kamera dengan senyuman ramah yang sangat terkendali.
Adapun Darren segera mengaktifkan sistem. Barisan data transparan muncul di hadapannya.
Target terdeteksi. Nama Alvino Chandra. Utang Keberuntungan Rp47.800.000.000. Utang Umur 18 tahun 7 bulan 14 hari.
“Buset! Empat puluh tujuh miliar? Angka yang luar biasa untuk seorang pencuri kebahagiaan, sudah kuduga dia bukan orang baik-baik.” batin Darren dengan amarah yang mulai membakar. Jika Darren mengambil lima persen saja, dia akan mengantongi Rp2,39 miliar. Niat gelap mulai merayap di benaknya untuk meruntuhkan kesombongan pria itu.
Tanpa pertimbangan lebih lama, Darren menerobos maju karena harus melakukan kontak fisik. Saat jarak sudah cukup dekat, Darren secara sengaja mendorong seorang wanita di depannya.
“Aduh! Apa-apaan sih kamu!” wanita itu menoleh galak.
Lantas Darren berpura-pura kehilangan keseimbangan dan terjatuh tepat di lintasan kaki Alvino Chandra. Dia tersungkur di atas lantai.
“Hei! Singkirkan gelandangan ini dari jalan!” bentak salah satu pengawal.
“Duh, mengganggu pemandangan saja, dari mana sih orang ini?” cibir seorang wartawan di barisan depan. “Lihat pakaiannya, lusuh sekali, kok bisa masuk ke sini?”
Darren tetap diam di lantai. Sepatu mahal itu berhenti tepat di hadapannya dan satu tangan terjulur ke bawah. Darren pun menerimanya, merasakan genggaman kuat Alvino yang menarik dirinya berdiri.
Alvino memberikan senyum ramah ke arah lensa kamera. “Tidak apa-apa, semuanya tenang saja. Mungkin saudara kita ini terlalu antusias.”
Namun, Alvino mendekatkan wajahnya ke telinga Darren. “Kebetulan sekali, aku tahu siapa kamu. Terima kasih atas kerja samanya ya. Rina benar-benar memuaskan di ranjang, aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu karena sudah membiarkanku merasakannya,” bisiknya dengan penuh kemenangan.
Tentu saja Darren dibuat mendidih, apalagi setelah Alvino melanjutkan bahwa Cello adalah anak yang menggemaskan dan dia akan memastikan masa depan anak itu terjamin layaknya anak kandung sendiri.
“Bajingan ini benar-benar memancingku,” batin Darren sembari menatap tajam mata Alvino.
Alvino pun melepas genggamannya dan menepuk bahu Darren dengan keras. “Jaga kesehatanmu, Kawan. Jangan sampai sakit-sakitan karena itu tidak baik untuk keluargamu.”
“Dasar kurang kerjaan, mau pansos ya?” celetuk seorang ibu-ibu yang berdiri tak jauh dari mereka. “Tahu diri dikit dong kalau mau dekat-dekat orang sukses.”
Saat Alvino hendak berbalik, Darren berbisik. “Setiap keberuntungan yang Anda nikmati hari ini dibangun di atas penderitaan orang lain. Bersiaplah untuk kehilangan segalanya.”
Wajah Alvino sempat kaku, namun dia segera kembali tersenyum ramah.
Begitu mobil Alvino meluncur pergi, beberapa orang masih bertahan di dekat Darren sembari melontarkan cibiran.
“Orang stres,” gumam seorang pria. “Punya nyali apa dia sampai berani membisikkan sesuatu ke telinga Pak Alvino?”
“Mungkin mau minta utang,” timpal yang lain sembari tertawa mengejek. “Zaman sekarang, orang miskin makin aneh-aneh saja gayanya.”
Seorang wanita petugas keamanan berjalan mendekat. “Mas, kalau tidak ada kepentingan di sini, silakan keluar. Jangan bikin keributan lagi atau saya panggil polisi.”
Darren sendiri tidak menanggapi. Matanya terkunci pada jejak mobil hitam itu. “Tertawalah sepuasmu sekarang, karena sebentar lagi kau akan menangis darah.”
Setelah makan di luar dan kembali ke apartemen, Darren segera mengaktifkan sistem. Dia menekan tombol konfirmasi untuk menarik lima persen keberuntungan Alvino. Namun, layarnya justru berkedip merah secara mendadak.
Tagihan gagal. Alasan target sedang dalam periode perlindungan keberuntungan alami. Sisa waktu perlindungan 6 jam 23 menit.
Darren membaca barisan teks itu dengan perasaan kecewa yang teramat sangat. Ternyata sumbangan panti asuhan Alvino sore tadi menjadi perisai yang sangat efektif. Darren jatuh terduduk di atas lantai sembari menatap jam di dinding.
“Aku baru ingat ada hal semacam ini,” gumam Darren dengan tangan mengepal kuat. “Sialan! Tunggu saja nanti.”