Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberhasilan dan Kebangkitan
Dua tahun kemudian, riuh rendah suara kebahagiaan memenuhi Universitas. Ribuan toga hitam berayun seiring dengan langkah-langkah tegap para wisudawan. Di antara kerumunan yang bersukacita itu, Adrian, Dinda, dan Bagas berdiri dengan samir berpita kuning-hijau yang melingkar di leher mereka.
Toga yang mereka kenakan hari itu bukan sekadar simbol kelulusan akademis, melainkan sebuah kemenangan atas kehidupan yang hampir merenggut nyawa mereka di Jarian dua tahun lalu. Mereka berhasil menyelesaikan kuliah tepat waktu, membuktikan bahwa kegelapan masa lalu tidak mampu menghentikan masa depan mereka.
Sambil memegang map ijazah erat-erat, Bagas merangkul pundak Adrian dan Dinda dengan bertenaga. Wajahnya yang dulu pucat dan ringkih di dalam kamar rumah kolonial, kini memancarkan rona segar penuh vitalitas.
"Kita benar-benar sampai di titik ini, ya? Jujur, waktu gue terbaring lemas di Jarian dulu, gue sempat mikir apa gue masih punya kesempatan buat pakai toga ini. Tapi lihat sekarang. S.T., Bro! Kita lulus bareng." suara Bagas terdengar agak serak, menahan haru.
"Kan aku udah bilang waktu kita di mobil dulu, Gas. Kita pulang ke Jakarta buat mulai lembaran baru. Dan lembaran itu, salah satunya ya hari ini. Perjuangan kita di kampus selesai." Adrian tertawa kecil, menepuk lengan Bagas yang melingkar di bahunya.
"Aku masih ingat gimana Adrian begadang bukan cuma buat skripsinya sendiri, tapi juga buat neror aku sama Bagas biar enggak mager bimbingan," timpal Dinda dengan senyum manisnya. Wisuda hari ini membuatnya tampak begitu anggun, bebas dari bayang-bayang trauma.
"Ya habisnya, kalau enggak diteror, kalian berdua mana mau gerak. Kita masuk sama-sama, berjuang menghadapi maut sama-sama, ya lulusnya harus bareng-bareng." sahut Adrian jenaka.
Mereka kemudian melangkah menuju area taman universitas yang agak teduh untuk mencari tempat berfoto. Di bawah rindangnya pohon peneduh kampus, ketiganya mendadak terdiam sesaat ketika melihat sekeranjang bunga yang dibawa oleh salah satu keluarga wisudawan lain. Pikiran mereka mendadak terlempar kembali ke area pekuburan Jarian, tempat mereka menaburkan bunga terakhir di atas gundukan tanah Maman.
"Mengingat hari ini aku tiba-tiba ingat Maman. Dia korban Jarian yang menjadi pengingat buat kita tentang arti ketulusan. Tanpa kejadian Jarian, kita mungkin enggak akan pernah sedekat dan sekompak ini untuk saling menjaga." Dinda menghela napas pelan, tatapannya melembut.
"Benar, Din. Maman bukan orang terdekat kita, tapi nasib tragisnya di Jarian adalah alasan kenapa kita bertiga bisa berdiri di sini hari ini dengan selamat. Kita berutang hidup pada pelajaran yang ditinggalkannya." Bagas mengangguk setuju, ekspresinya berubah khidmat.
Adrian menatap kedua sahabatnya dengan pandangan mantap. Keberanian yang dia pelajari dari Aki Sukra serta penyesalan atas keterlambatan mereka menyelamatkan Maman telah menempanya menjadi pria yang jauh lebih dewasa.
"Kita sudah cukup melewati hal buruk .Dan cara terbaik kita untuk menghormati kenangan pahit itu adalah dengan hidup dengan benar, jujur, dan menjaga persahabatan kita bertiga sampai tua. Kita enggak menyia-nyiakan kesempatan kedua yang kita miliki." ucap Adrian lembut namun tegas
Mendengar kata-kata Adrian, senyum Dinda dan Bagas kembali merekah. Rasa sesak masa lalu itu kini telah sepenuhnya menjelma menjadi rasa syukur yang mendalam.
"Nah, sekarang, mumpung fotografer sewaan kita belum datang, gimana kalau kita foto bertiga dulu pake ponsel?" ajak Adrian memecah keheningan.
"Setuju! Sini, biar aku yang pegang kameranya, tangan aku paling panjang," ujar Bagas antusias, langsung mengeluarkan ponselnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
Adrian mengambil posisi di tengah, sementara Dinda dan Bagas mengapitnya erat. Mereka bertiga mendekatkan kepala, melempar senyum paling lepas dan paling bahagia yang pernah mereka miliki.
Klik!
Satu kilatan cahaya mengabadikan momen itu. Di dalam layar ponsel, terpancar wajah tiga sarjana baru yang siap menaklukkan dunia luar. Mereka tahu, tantangan setelah ini akan jauh lebih besar, namun dengan ikatan persahabatan yang telah ditempa oleh api maut di Jarian, tidak ada lagi kegelapan yang mampu membuat mereka gentar.
Sementara itu, dari kejauhan gemerlapnya Jakarta, Desa Jarian kembali dilingkupi kesunyiannya. Langit sore yang memerah perlahan meredup, digantikan oleh malam yang dingin dan berkabut, kabut yang sama yang dahulu disangka telah takluk sepenuhnya.
Di halaman rumah kolonial Belanda yang kini kosong, dedaunan kering berputar tertiup angin yang mendadak berembus kencang. Suasana mencekam yang sempat menguap, perlahan-lahan merembes keluar dari celah-celah fondasi batu tua yang retak. Jarian tidak pernah benar-benar sembuh, dia hanya sedang tertidur, mengumpulkan kembali serpihan kekuatannya yang sempat hilang.
Di ujung desa, Aki Sukra berdiri di beranda rumahnya. Tatapannya tertuju lurus ke arah hutan larangan. Tangan tuanya yang memegang tongkat kayu tampak bergetar, bukan karena usia, melainkan karena getaran magis yang kembali merayap di udara.
Kang Kosim yang kebetulan lewat membawa obor, menghentikan langkahnya saat melihat sang tetua desa termenung.
"Aki? Ada apa? Kenapa malam-malam begini masih di luar? Udara malam ini rasanya, beda dari kemarin," tanya Kang Kosim sambil merapatkan jaketnya, merasa kuduknya tiba-tiba meremang.
Aki Sukra tidak langsung menjawab. Beliau mengambil napas dalam-dalam, menghirup aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi bunga kamboja yang menyengat dari arah pemakaman Desa.
"Kosim, apakah kamu berpikir sebuah akar yang tertanam ratusan tahun bisa dicabut hanya dalam satu malam?" suara Aki Sukra terdengar berat dan bergetar.
"Maksud Aki? Bukankah Nak Adrian dan kawan-kawannya sudah memutus perjanjian ghaib itu? Kutukan itu sudah hilang, kan, Ki?" Kang Kosim mengerutkan dahi, mulai merasa cemas.
"Perjanjian itu memang putus, Kosim. Anak-anak itu telah menebusnya dengan ketulusan. Tetapi kegelapan di tanah Jarian ini tidak lahir dari satu perjanjian saja. Dia lahir dari dendam dan darah masa lalu. Sesuatu yang telah lama tinggal di sini, tidak akan pergi begitu saja hanya karena pintunya ditutup." Aki Sukra membalikkan badan, menatap Kang Kosim dengan mata tuanya yang menyimpan kekhawatiran mendalam.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Ki? Bagas sudah selamat, Maman sudah dimakamkan secara layak. Apalagi yang tersisa?" Kang Kosim menoleh ke arah kegelapan jalan desa dengan cemas.
"Tanah ini telah mengingat rasa takut, Kosim. Dan malam ini, sisa-sisa kekuatan yang tertinggal di pohon beringin tua itu sedang mencari inang yang baru. Jarian tidak sepenuhnya menghilang," bisik Aki Sukra.
Tepat saat kata-kata itu terucap, jauh di dalam hutan larangan, sebuah dahan pohon beringin tua patah dengan suara berdentum keras tanpa ada angin yang mengenainya. Di atas gundukan tanah makam Maman perlahan berubah warna menjadi hitam pekat dan membusuk dalam hitungan detik.
Sesuatu yang tak kasat mata kembali berbisik di antara desau angin malam, menunggu giliran untuk kembali bangkit dan menagih mangsa berikutnya. Jarian masih ada, dan dia tetap mengawasi dari balik bayang-bayang.