NovelToon NovelToon
Menikah Karena Patah Hati

Menikah Karena Patah Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.

Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.

Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Mobil hitam milik Zayyan melaju mulus membelah jalanan sore yang mulai ramai. Dari luar, suasana terlihat biasa saja. Tetapi di dalam mobil, suasananya justru dipenuhi ketegangan yang hanya dirasakan oleh Alin.

Gadis itu duduk tegak di kursi penumpang sambil meremas ujung tasnya pelan sejak tadi. Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya benar-benar tidak tenang. Semakin dekat menuju rumah keluarga Zayyan, jantungnya justru semakin tidak karuan.

Sementara di sampingnya, Zayyan terlihat santai menyetir dengan satu tangan. Bahkan sesekali pria itu masih sempat bersenandung kecil mengikuti lagu yang diputar pelan di mobil.

Sangat bertolak belakang dengan Alin yang hampir mati tegang.

"Kamu yakin, Zay?" tanya Alin akhirnya pelan.

Zayyan melirik sekilas.

"Hm?"

"Aku takut mereka tidak akan menerimaku."

Kalimat itu keluar lirih, hampir seperti bisikan.

Namun Zayyan tetap menangkap kecemasan di balik nada suaranya.

Alin menunduk pelan sambil memainkan jemarinya sendiri. Mungkin kalau kondisinya seperti dulu, Alin tidak akan setegang ini. Dulu kehidupannya hampir sama seperti Zayyan, sama-sama berasal dari keluarga berada. Tidak seperti sekarang, kondisinya jauh berbeda, seperti bumi dan langit.

Zayyan menghela napas pelan. Tangannya bergerak melepas kemudi sebelah lalu menggenggam tangan Alin yang dingin.

"Hei."

Alin menoleh perlahan.

"Kamu jangan berpikir aneh-aneh"

"Tapi kita berbeda Zay. Kamu sangat kaya raya, tidak sepertiku yang orang miskin"

Zayyan menggeleng cepat. "Mau miskin atau tidak, itu sama saja. Sama-sama makan nasi"

Alin tersenyum tipis. "Tapi keluargamu belum tentu berpikir sama."

Mobil berhenti tepat di lampu merah. Kesempatan itu dipakai Zayyan untuk benar-benar menoleh menatap gadis di sampingnya. Tatapannya serius.

"Denger ya. Mommy sama daddy ku bukan orang yang menilai seseorang dari uang." ucapnya tegas.

Alin terdiam.

"Mereka mungkin heboh, mungkin kaget, mungkin banyak bertanya..." Zayyan terkekeh kecil mengingat sifat mommy nya. "...tapi mereka bukan tipe orang yang suka merendahkan orang lain."

Alin masih terlihat ragu. Jujur saja, trauma hidup membuatnya sulit percaya diri sekarang. Setelah dirinya jatuh miskin, ia terlalu sering dipandang rendah oleh orang lain. Tatapan meremehkan, bisikan sinis, bahkan perlakuan berbeda sudah terlalu sering ia rasakan.

Karena itu ia takut. Takut keluarga Zayyan juga akan memandangnya seperti itu.

Zayyan yang menyadari kegelisahan Alin akhirnya menggenggam tangannya lebih erat."Kamu tahu kenapa aku langsung ngajak kamu ke rumah?" tanyanya.

Alin menggeleng kecil.

"Karena mommy ingin mengenalmu"

Jantung Alin berdegup pelan.

"Aku nggak mau hubungan kita kayak main-main. Aku mau mereka kenal sama perempuan yang bakal jadi istriku."

Pipi Alin langsung memanas mendengar kalimat itu. Ia buru-buru memalingkan wajah ke arah jendela.

Zayyan tersenyum kecil melihat reaksinya. Lucu sekali wanitanya, Wanita itu cerewet, tapi kadang bisa malu juga.

Mobil kembali melaju. Semakin lama, rumah-rumah di sekitar mereka berubah menjadi kawasan elit dengan bangunan besar dan mewah. Dan setiap kali melihat itu, rasa minder Alin kembali muncul sedikit demi sedikit.

Sampai akhirnya mobil Zayyan masuk ke gerbang rumah megah milik keluarganya.

Mata Alin langsung membesar. Rumah itu benar-benar besar. Bukan besar biasa, tetapi besar yang bahkan terlihat seperti rumah di drama-drama orang kaya.

Halaman luas, taman yang tertata rapi, air mancur di tengah, dan bangunan megah bernuansa elegan yang berdiri kokoh di depannya.

Alin langsung menelan ludah gugup."Aku pulang aja boleh nggak?" bisiknya pelan.

Zayyan langsung tertawa kecil.

"Nggak boleh."

"Aku serius."

"Aku juga serius."

Mobil berhenti di depan rumah. Namun Alin malah semakin panik saat melihat beberapa pelayan mulai berdiri menyambut kedatangan mereka.

"Astaga..." gumam Alin pelan sambil memegangi dadanya sendiri. "Aku benar-benar nggak siap."

Zayyan mematikan mesin mobil lalu menoleh padanya. "Kamu cantik hari ini."

Alin langsung berkedip bingung.

"Hah?"

"Jadi jangan takut."

Pipi Alin kembali memerah.

Zayyan memang kadang suka menggodanya tiba-tiba seperti itu.

Pria itu turun lebih dulu lalu berjalan memutar membuka pintu untuk Alin. Anehnya, tindakan sederhana itu justru membuat Alin semakin gugup.

"Yang begini nih bikin aku makin takut," gumamnya pelan.

Zayyan menahan tawa. Ia lalu mengulurkan tangannya.

"Ayo."

Alin menatap tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya menyambutnya pelan. Tangannya dingin sekali, membuat Zayyan sadar gadis ini benar-benar gugup.

Saat mereka berjalan masuk ke dalam rumah, Alin langsung merasa semakin kecil. Interior rumah itu terlalu mewah untuknya. Bahkan lantainya saja terlihat mengkilap seperti di hotel bintang lima.

Belum lagi lukisan-lukisan mahal dan dekorasi elegan di setiap sudut rumah.

Alin spontan mendekat sedikit ke arah Zayyan, tanpa sadar pria itu melirik sekilas lalu tersenyum tipis. Tak lama terdengar suara heboh dari ruang keluarga.

"Mana?! Mana calon menantu mommy?!"

Mata Alin langsung membesar panik.

"Ya Tuhan..." bisiknya pelan.

Dan detik berikutnya, Kiandra muncul dengan langkah cepat dari ruang tengah.

Wanita cantik itu terlihat sangat antusias sampai membuat Alin makin tegang. Sementara di belakangnya, Adam berjalan santai sambil tetap terlihat penasaran.

Begitu mata Kiandra jatuh pada Alin, langkahnya langsung berhenti.

Alin refleks menunduk gugup.

"Se-selamat sore..." sapanya pelan.

Kiandra tidak langsung menjawab. Wanita itu justru memperhatikan Alin dari atas sampai bawah cukup lama. Sampai akhirnya, "Astaga..." gumam Kiandra pelan.

Alin langsung makin panik. Jangan-jangan... Tidak suka?

Tetapi detik berikutnya Kiandra malah menepuk lengan Adam keras."Ternyata dia beneran mau menikah"

Adam meringis sambil mengusap lengannya. "Kenapa Daddy lagi yang kena?!"

Kiandra tidak peduli. Wanita itu langsung mendekati Alin dengan mata berbinar penuh rasa suka. "Ya ampun cantik banget..." ucapnya spontan.

Alin langsung bengong. Kiandra bahkan langsung menggenggam kedua tangan Alin hangat.

"Kamu Alin kan?"

"I-iya tante..."

"Masih manggil tante? Sedih banget" Kiandra langsung pura-pura cemberut.

Zayyan yang melihat itu langsung menghela napas lega kecil. Dia sudah bilang mommy-nya pasti menyukai Alin."Dia masih malu mom" ucap Zayyan.

Kiandra langsung menoleh cepat ke arah putranya dengan ekspresi tidak percaya."Malu lah, tiba-tiba di lamar sama kamu" serunya.

Alin langsung menunduk malu, sementara Zayyan malah terlihat santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Iya."

Adam yang baru duduk di sofa spontan tertawa keras. "Memang otaknya nggak normal dari lahir."

"Dad."

Kiandra masih terlihat syok. Ia kembali menatap Alin lalu Zayyan bergantian seolah mencoba memahami jalan pikiran anaknya.

"Tunggu dulu ya...Mommy mau meluruskan ini" katanya sambil mengangkat tangan dramatis.

Ia menunjuk Alin.

"Kamu."

Lalu menunjuk Zayyan.

"Dan kamu."

"Kalian belum pacaran?"

Alin menggeleng kecil penuh rasa canggung.

Belum sempat ia menjawab, Zayyan sudah lebih dulu santai menjawab, "Belum."

Kiandra langsung memegangi dahinya sendiri.

"Ya Tuhan, ini benar-benar putraku" gumamnya.

Adam malah terlihat menikmati kekacauan itu sambil menyeruput kopinya santai."Daddy kan udah bilang, dia langsung lompat ke bab pernikahan."

Kiandra menatap tajam putranya."Kamu ngajak orang nikah pakai modal ajak jalan doang?"

"Aku serius sama dia."

"Tapi caramu menyeramkan!"

Alin yang sedari tadi diam malah tidak bisa menahan senyum kecil melihat bagaimana keluarga itu berinteraksi. Hangat sekali. Sangat berbeda dari bayangannya tadi. Tidak ada tatapan merendahkan, tidak ada kesan dingin. Yang ada justru kekacauan kecil yang terasa... nyaman.

Kiandra yang menyadari Alin tersenyum langsung ikut melembut. Wanita itu mengusap pelan punggung tangan Alin.

"Kamu pasti kaget ya lihat keluarga kami begini."

Alin buru-buru menggeleng.

"Nggak tante."

"Masih tante lagi," keluh Kiandra dramatis.

Alin langsung panik.

"Eh maaf, saya—"

Kiandra tertawa kecil lalu mengusap bahu gadis itu lembut."Nggak usah tegang begitu sayang, mommy cuma bercanda."

Kata mommy itu sukses membuat Alin membeku sesaat. Sudah lama sekali tidak ada orang yang berbicara selembut itu padanya, kecuali neneknya. Bahkan entah kenapa... ucapan sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.

Adam yang memperhatikan perubahan ekspresi Alin, langsung menangkap sesuatu. Tatapan mata gadis itu terlihat rapuh sekali.

Karena itu pria tersebut sengaja mencairkan suasana. "Alin," panggilnya santai.

Alin langsung menoleh cepat.

"Iya om?"

"Nah ini lebih parah. Masak Zayyan panggil daddy, kamu malah panggil om" Adam langsung menunjuk dirinya sendiri protes.

Alin langsung salah tingkah luar biasa. Pipinya memerah total. Kiandra tertawa gemas melihatnya.

"Lucu banget..." bisiknya pelan pada Adam.

Sementara Zayyan hanya menyandarkan tubuh santai sambil memperhatikan Alin yang sedang gugup. Sudut bibirnya terus terangkat kecil sejak tadi.

"Kamu jangan ikut senyum-senyum sendiri begitu," tegur Adam tiba-tiba. "Dari tadi Daddy pengen lempar sandal."

Zayyan malah makin santai.

"Aku lagi bahagia."

"Ck. Jijik."

Kiandra langsung menyikut lengan suaminya.

"Udah biarin."

Lalu wanita itu kembali fokus pada Alin.

"Jadi...kamu menerima lamaran anak mommy karena apa?" tanyanya lembut.

Pertanyaan itu membuat Alin sedikit terdiam. Jujur saja, ia sendiri masih bingung bagaimana semua ini bisa terjadi begitu cepat. Awalnya ia bahkan tidak pernah membayangkan akan sedekat ini dengan Zayyan. Pria itu terlalu berbeda dari dunianya sekarang. Namun entah kenapa, setiap bersama Zayyan, ia merasa aman.

Alin menunduk kecil sebelum akhirnya menjawab jujur."Karena... dia membuat saya merasa tidak sendirian."

Hening. Seketika suasana yang tadinya penuh candaan perlahan berubah sedikit lebih tenang.

Zayyan yang mendengar jawaban itu sampai menoleh pelan ke arah Alin.Tatapan matanya melembut.

Sementara Kiandra terlihat memperhatikan Alin dengan lebih dalam sekarang. Wanita itu bisa merasakan kalau kalimat tadi bukan sekadar jawaban asal. Ada luka di baliknya. Dan tanpa sadar, rasa sayang Kiandra pada gadis itu langsung bertambah.

Kiandra menggenggam tangan Alin lembut.

"Mulai sekarang kamu nggak sendiri lagi."

Mata Alin langsung berkedip pelan. Akhirnya, rasa takut di hatinya mulai menghilang sedikit demi sedikit.

1
Mita Paramita
baru juga bahagia nih pengantin baru udah diganggu aja sama pelakor🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Dew666
👄👄👄
Mita Paramita
so sweet zayyan & Alin 😘😘😘
lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Dew666
💃💃💃
Mita Paramita
so banget pasutri ini 😘
Diah Anggraini
Lanjut ya Ka
Mita Paramita
alin malu malu kucing 🤣🤣🤣
lanjut Thor 🔥🔥🔥
merry yuliana
🤣🤣🤣🤣🤣
Diah Anggraini
lanjut ya Ka
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Dew666
🪭🪭🪭
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
merry yuliana
ayo kak crqzy up
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
merry yuliana
eits bang zay kemajuan ayo bang pepet terus....crazy up banyak2 ya kak🙏💪
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
merry yuliana
crazy up ya kak👍💪🙏
Dew666
👑👑👑👑
merry yuliana
crazy up.kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!