NovelToon NovelToon
Rahim Bayaran Mafia Kaya

Rahim Bayaran Mafia Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.

Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.

Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.

Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Hari hari yang tenang dan penuh perhatian dari Arka ternyata tidak berlangsung lama. Kabar buruk kembali datang menghampiri kehidupan Aluna yang sedang berusaha tegar menjaga kandungannya.

Suatu pagi yang hening, telepon dari rumah sakit terdengar memecah keheningan. Suara dokter di seberang sana terdengar sangat cemas dan serius.

Kondisi jantung dan organ dalam ibunya Aluna tiba tiba mengalami penurunan fungsi yang drastis dan tidak stabil.

Dokter menjelaskan bahwa tindakan operasi sebelumnya ternyata belum sepenuhnya berhasil membersihkan masalahnya.

Kini diperlukan tindakan medis yang jauh lebih besar dan rumit yang sayangnya tidak bisa dilakukan di rumah sakit manapun di Indonesia karena keterbatasan alat dan spesialis.

Satu satunya harapan agar ibunya bisa bertahan hidup adalah segera memindahkannya ke Singapura atau Eropa untuk mendapatkan penanganan khusus dan operasi ulang secepat mungkin sebelum terlambat.

"Ya Tuhan... Ibu..." isak Aluna lemas setelah menutup telepon.

Kaki Aluna langsung lemas dan ia jatuh terduduk di lantai kamar mandi. Wajahnya pucat pasi dan keringat dingin langsung membasahi seluruh tubuhnya.

Pikiran dan rasa takut yang luar biasa langsung menyerang mental gadis itu. Ia sangat menyayangi ibunya dan tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan satu satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini.

Akibat stres dan cemas yang berlebihan itu, kondisi fisik Aluna pun langsung ikut drop. Ia mulai merasakan nyeri hebat di perut bagian bawah dan pusing yang berputar putar.

Bahkan bayi di dalam kandungannya pun ikut menjadi rewel dan menendang nendang dengan tidak tenang seolah ikut merasakan ketakutan ibunya.

Arka yang baru pulang dan mendapati Aluna terbaring lemah dengan wajah yang sangat menyedihkan itu langsung kaget dan panik.

"Aluna! Kau kenapa? Kenapa pucat sekali?" tanya Arka cepat sambil memeriksa suhu tubuh gadis itu.

Aluna menceritakan semuanya dengan suara terputus putus dan penuh isak tangis. Ia menceritakan kondisi ibunya yang kritis dan keharusan untuk operasi di luar negeri itu.

"Tolong Tuan... tolong selamatkan Ibu Aluna... Aluna tidak punya siapa siapa lagi selain Ibu. Kalau Ibu pergi, bagaimana Aluna bisa hidup tenang di sini?" rengek Aluna memegang lengan Arka erat erat.

Arka terdiam mendengarnya. Ia menghela napas panjang menatap wajah gadis itu dengan perasaan yang campur aduk.

Di satu sisi ia prihatin namun di sisi lain ia sangat khawatir jika stres ini akan membahayakan janinnya.

"Tenang dulu. Tarik napas panjang. Masalah biaya dan perjalanan biar aku yang urus. Jangan menangis berlebihan nanti anakku ikut stres di dalam sana," ucap Arka berusaha tenang, meski di dalam hati ia juga sedang berpikir keras.

Namun, masalah ini tidak bisa ditutup rapat begitu saja. Kabar tentang kondisi keluarga Aluna dan rencana operasi luar negeri yang pastinya menelan biaya yang sangat fantastis itu akhirnya sampai juga ke telinga Nyonya Soraya.

Seketika suasana rumah besar itu kembali memanas dan meledak ledak. Wanita itu benar benar tidak terima dan merasa sangat kesal.

"APA KATAMU?!" teriak Nyonya Soraya di ruang tengah saat berkumpul sore itu.

"Jadi wanita ini mau membebani kita lagi dengan masalah keluarganya yang tidak selesai selesai itu?!" ucap Nyonya Soraya.

"Sayang, tolong jangan bicara keras keras. Lagipula Arka kan sudah berjanji akan menanggung biaya pengobatan ibu Aluna," ujar Tuan Mahendra mencoba menenangkan

"Janji apa yang kamu bicarakan, Pa?!" Nyonya Soraya memotong dengan nada tinggi dan emosi yang meluap luap.

"Dari awal Ibu sudah bilang kan kalau wanita ini membawa banyak masalah dan sial! Lihat sekarang buktinya," pungkasnya kesal.

"Dia itu bukan rahim yang sehat dan tenang! Dia itu sumber masalah! Keluarganya miskin sakit sakitan dan selalu menyusahkan!" serang wanita itu sambil menunjuk wajah Aluna yang sudah terlihat sangat kecil dan takut.

"Baru saja tenang sedikit sekarang sudah ada masalah lagi mau operasi ke luar negeri segala! Itu kan butuh uang miliaran rupiah, Pa! Uang sebesar itu bukan untuk main main. Mau dibuang sembarangan buat menyelamatkan wanita tua yang mungkin nasibnya memang mau mati saja! Mending buat investasi, lebih menguntungkan," geram Nyonya Soraya dengan raut marah.

Kata kata kejam itu meluncur begitu saja tanpa rasa belas kasihan sedikitpun. Aluna menangis tersedu sedan memeluk perutnya erat erat, merasa sangat bersalah dan tidak berguna.

"Maaf... maafkan Aluna... Aluna tidak bermaksud merepotkan semua orang..." isak Aluna lemah. "Aluna pergi saja ya... Aluna akan cari cara sendiri supaya tidak membebani Tuan Arka dan Keluarga..."

"Diam kau!" potong Nyonya Soraya tajam. "Kau mau pergi ke mana dengan perut besar begitu? Mau mempermalukan kami di jalanan? Kau pikir semua ini mudah?!"

"Sudah cukup, Bu!" Arka yang sedari tadi diam mendengarkan akhirnya angkat bicara dengan suara yang berat dan dingin. Wajahnya tampak sangat serius dan menakutkan.

"Masalah biaya operasi ibu Aluna itu sudah menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Aku yang janji, aku yang akan bayar dan urus semuanya sampai tuntas," ucap Arka tegas tanpa ada keraguan sedikitpun.

"Tapi Ka... itu kan uang sangat besar dan resikonya juga belum tentu berhasil!" cegah Nyonya Soraya tidak terima. "

"Buat apa buang buang harta untuk orang yang tidak ada hubungannya darah daging dengan kita?" ucapnya tak setuju.

"Baginya Ibu Aluna adalah keluarganya. Dan selama dia mengandung anakku maka bahagia dan tenangnya dia adalah prioritasku," jawab Arka menatap ibunya tajam.

"Aku tidak mau anakku lahir dengan mental lemah atau trauma karena ibunya selalu stres dan sedih memikirkan orang tuanya. Lagipula aku orangnya pegang janji. Aku sudah bilang akan menyembuhkan ibunya sampai sembuh maka aku akan lakukan itu apa pun caranya," jelas Arka.

Nyonya Soraya mendengus kesal dan sangat marah, namun tidak bisa berbuat apa apa lagi karena Arka sudah memutuskan dengan sangat bulat.

Wanita itu hanya bisa menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan ruangan dengan perasaan dongkol yang luar biasa.

Setelah keributan mereda, tinggalah Arka dan Aluna berdua di ruang tengah yang hening. Aluna masih terus menangis, meski kali ini air matanya adalah air mata haru.

"Tuan... kenapa Tuan masih mau baik sama Aluna? Padahal Aluna selalu bikin masalah dan keributan di keluarga Tuan..." tanya Aluna pelan dengan hati yang terharu.

Arka duduk di sebelahnya, lalu mengusap air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya yang hangat.

"Aku melakukan ini bukan semata mata karena aku baik hati atau karena aku sudah jatuh cinta padamu," jawab Arka jujur apa adanya. "Aku melakukan ini karena aku tahu betapa berartinya ibumu itu bagimu."

"Dan jika ibumu selamat dan sehat maka kamu akan bahagia. Jika kamu bahagia dan tenang maka anakku akan tumbuh dengan sempurna dan kuat di dalam sana," lanjut Arka sambil menepuk pelan perut besar Aluna. "Jadi ini semua adalah investasi jangka panjang demi masa depan anakku."

"Tapi terima kasih ya Aluna... Terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Kau memang wanita hebat dan kuat," bisik Arka lagi dengan nada yang sedikit lebih lembut

Aluna tersenyum lebar meski masih ada sisa air mata di wajahnya. "Terima kasih Tuan. Terima kasih sudah mau menolong Ibu Aluna. Aluna tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Tuan selain dengan menjaga anak Tuan ini sampai lahir dengan selamat dan sehat."

"Maka lakukanlah itu dengan baik," ucap Arka tersenyum tipis.

"Besok aku akan suruh asistenku mengurus semua tiket dan perizinan. Ibumu akan segera terbang ke luar negeri dan mendapatkan perawatan terbaik di sana. Kau tidak perlu khawatir tentang apa apa lagi," lanjutnya.

Malam itu Aluna bisa tidur dengan sedikit lebih tenang berkat janji manis dan perlindungan dari pria kejam itu. Ia sadar betul bahwa alasan Arka berbuat baik masih sebatas tanggung jawab pada sang bayi. Namun baginya kehadiran dan perlindungan pria itu saat ini sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasa aman dan dicintai.

1
Xiao Juan
ni orang tua mulutnya pen gua tampar, nyolot bet anying, manaa ada dimana-mana lagii, ikut campur bangett
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!