Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Berita soal gugatan ulang ini langsung meledak! Media pun segera merilis siapa pengacara yang mewakili kedua belah pihak.
Ternyata, Laras dan Tania menyewa Rina Wijaya, pengacara top yang sudah malang melintang tujuh tahun dengan tingkat kemenangan mencapai 70%! Nama besar di dunia hukum.
Sementara di sisi Bimo... yang muncul cuma Arga, pengacara muda yang baru lulus, bahkan belum pernah menang satu kasus pun selama setengah tahun buka praktik!
Elite Lawyer VS Rookie Lawyer.
Netizen langsung heboh membahasnya.
[Hah? Bimo nyewa pengacara magang? Serius?]
[Gila sih, gimana mau menang lawan pengacara senior? Jarak kemampuannya jauh banget.]
[Udah kalah di sidang pertama, sekarang gugat lagi tapi bawa pengacara cupu. Pasti kalah lagi deh.]
[Iya lah, lawannya itu serigala, tim kita ini husky yang masih kecil wkwk.]
[Udah tamat kayaknya ceritanya. Meskipun si "Selebtoktok" salah, tapi pengacaranya hebat.]
[Kenapa gak nyewa yang profesional sih? Buang-buang waktu aja nyewa pengacara pemula.]
Di sisi lain, Laras dan Tania tahu kalau mereka digugat lagi dan tahu lawannya cuma pengacara magang, mereka malah ketawa.
"Orang ini nekat ya, nyewa pengacara baru mau lawan kita?" celetuk Laras.
Tania agak gelisah, "Kak, beneran gak usah minta maaf aja ya? Kan kita cuma kira-kira dia motret, terus minta cek HP. Salah dikit doang kan?"
Laras langsung mendengus, "Minta maaf apanya sama cowok jijik gitu? Gue udah suruh sepupu gue yang tangani. Dia pengacara hebat lho, menang terus! Dia bilang malah ada bukti baru, kali ini kita bisa bikin Bimo masuk penjara!"
Mata Tania langsung berbinar, "Beneran bisa masukin Bimo ke penjara, Kak?!"
"Pasti dong! Siapa lagi yang pantas masuk kalau bukan dia? Kalau gue gak sadar duluan, mungkin gue yang udah difoto dia!" jawab Laras sombong.
Seperti biasa mereka berdua lagi naik MRT. Kebetulan di depan mereka ada cowok ganteng banget.
Laras dan Tania langsung sibuk motret! Cekrek! Cekrek! Cekrek!
Selama 40 menit perjalanan, HP mereka gak berhenti njepret cowok itu dari berbagai sudut, bahkan sampai bagian bawah badan pun difotoin.
Laras langsung upload ke grup telegram, [Para bestie-bestiku! Dapet cogan di MRT! Ganteng banget sumpah!]
Dia juga posting di status WA-nya, [OMG! Ketemu pangeran!! Alamak tampannya 😍]
Tania ikutan posting juga.
"Ah, kalau bisa tidur sama cowok ganteng gini semalam, pasti enak banget," gumam Laras sambil senyum-senyum.
"Iya nih, mata jadi seger. Beda banget sama si Bimo yang jijik itu, kesannya mesum banget," sahut Tania.
Mereka lupa, bahwa apa yang mereka lakukan sekarang... persis seperti apa yang mereka tuduhkan ke orang lain!
Tiga hari berlalu. Hari persidangan tiba.
Kasus ini disiarkan langsung secara live streaming! Pengadilan di negara ini terbuka untuk pengawasan publik.
Sebelum sidang dimulai, penonton online udah ada belasan ribu orang!
[Kapan mulai nih?]
[Semoga si "Selebtoktok" dipaksa minta maaf! Fitnah orang terus gak bertanggung jawab.]
[Semangat Pak Arga! Menang dong, bikin mereka nangis!]
[Kalau Bimo kalah lagi, berarti kedepannya orang bisa sembarangan nuduh orang seenaknya ya?]
[Gue jadi takut naik MRT, nanti dituduh sembunyiin kamera di tas.]
[Tapi jujur sih, rasanya susah menang. Lawannya pengacara senior, kita cuma pengacara magang.]
[Meskipun gak yakin menang, tapi tetap berdoa yang terbaik deh!]
Tinggal tiga menit lagi. Hakim, juri, semua saksi sudah duduk rapi. Bimo sudah di tempat penggugat. Laras, Tania, dan Pengacara Rina juga sudah siap di tempat tergugat.
Semua sudah lengkap... kecuali Arga.
[Wkwk, telat nih si pengacara magang.]
[Iya, beneran telat.]
[Gak profesional banget. Semua udah pada dateng, dia kemana?]
[Udah tamat ini kasus. Cuma nyisa satu menit, pengacaranya gak ada. Mending gak usah lawan dari awal.]
Tinggal SATU MENIT sebelum sidang resmi dimulai...
CREK!
Pintu ruang sidang terbuka. Arga masuk dengan langkah santai tapi penuh wibawa, tangan di saku celana, wajah datar tanpa ekspresi. Dia duduk tepat waktu di kursi pengacara.
Laras berbisik ke Rina, "Kak Rina, gak ada masalah kan?"
Rina tersenyum sinis, "Tenang aja. Aku punya bukti baru yang bisa bikin Bimo langsung masuk bui. Nanti kalian tinggal iya-in aja."
Rina langsung mencoba menjatuhkan mental Arga sebelum sidang mulai.
"KEBERATAN! Yang Mulia Hakim! Pengacara lawan terlambat datang! Ini menghina pengadilan! Saya minta agar kuota hukumnya dicabut dan dia diminta keluar!" seru Rina lantang.
Semua mata tertuju ke Arga.
Arga mendongak, menatap Rina dengan tatapan dingin.
"Maaf ya Bu Pengacara, dengan kecerdasan Ibu seharusnya tidak perlu jadi pengacara. Lihat jam dinding dong, persidangan belum mulai. Di mana buktinya saya terlambat? Atau mata Ibu buta? Kebetulan saya kenal dokter mata bagus, mau saya rekomendasikan?"
Cessss!
Jawaban Arga pedas banget! Penonton online langsung heboh.
Rina tersenyum miring, berusaha tetap santai. "Hahaha, ternyata pengacara muda tidak bisa diajak bercanda ya. Pantas saja setengah tahun tidak ada yang mau pakai jasa Anda, memang ada alasannya."
Suasana jadi tegang. Biasanya pengacara gak saling serang personal begini. Tapi karena Rina mulai duluan, Arga gak mau kalah.
Arga menatap Rina tajam, "Maaf ya, ibumu meninggal ya? ... Eh bercanda kok, ibumu kan masih hidup."
PLAK! Serangan balik yang mematikan!
Wajah Rina langsung berubah merah padam, matanya memancarkan amarah. "Mulut Anda kotor! Semoga ini kasus terakhir dan terakhir kali Anda bisa jadi pengacara! Tahu kan kantor Anda mau bangkrut? Kalau kalah hari ini, langsung tutup toko!"
Arga minum air putih dengan tenang, lalu berkata pelan tapi jelas:
"Kantor saya bangkrut atau enggak itu urusan belakangan. Yang penting... setelah kasus hari ini, saya tidak yakin Ibu masih bisa praktek jadi pengacara lagi."
semangat author/Determined/
tapi kali ini, saya akan lawan💪
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭