NovelToon NovelToon
He Is My Imam, Not My Oppa

He Is My Imam, Not My Oppa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ANTARA GENGSI DAN HIDAYAH

Sapu tangan biru tua itu kini tersimpan rapi di bawah bantal Mentari. Benda itu menjadi satu-satunya alasan mengapa Mentari tidak menelepon Papanya pagi ini untuk minta dijemput paksa. Ada rasa hangat yang aneh setiap kali ia mengingat aroma kayu gaharu yang tertinggal di kain itu. Namun, sifat "bar-bar" Mentari tidak hilang begitu saja hanya karena selembar kain.

"Oke, kalau dia mau gue jadi cewek baik-baik, gue bakal jadi cewek paling baik di pesantren ini. Sampai dia pangling!" seru Mentari di depan cermin, sambil mencoba memakai kerudung segi empat dengan benar.

"Wah, Tari! Kamu kerasukan jin apa semalem?" Bondan muncul dari balik pintu, membawa tumpukan baju bersih. "Biasanya jam segini kamu masih ngedumel soal AC yang nggak dingin."

"Gue mau berubah, Bon. Gue mau ikut kelas tahfidz!"

Fahma yang sedang memakai kaus kaki tiba-tiba berhenti. Ia menatap Mentari dengan dahi berkerut. "Tahfidz? Bukannya itu tempat orang jualan es krim?"

Bondan menepuk jidatnya keras-keras. "Fahma! Itu *Thrifting*! Tahfidz itu menghafal Al-Qur'an! Aduh, otak kamu ini perlu di- *service* ke tukang jam ya?"

"Oh... menghafal ya?" Fahma mengangguk-angguk. "Aku juga hafal kok. Satu tambah satu sama dengan dua."

Mentari hanya memutar bola mata. "Udah, pokoknya gue mau ikut kelas yang diajar Gus Zikri lagi. Hafizah mana? Gue mau nanya jadwal."

Hafizah yang baru kembali dari masjid tersenyum melihat Mentari yang sudah rapi dengan kerudung yang menutup dada meski masih ada sedikit poni pirang yang mengintip nakal. "Alhamdulillah. Niat yang baik akan dibukakan jalan yang baik pula, Tari. Gus Zikri ada di perpustakaan lama jam sepuluh nanti, beliau setor hafalan untuk santri tingkat lanjut."

Mentari melangkah menuju perpustakaan lama dengan jantung yang berdegup lebih kencang daripada saat ia sedang party di Jakarta. Ia membawa sebuah Al-Qur'an kecil yang baru dibelikan Mamanya lewat paket kilat.

Di dalam perpustakaan yang sunyi dan beraroma buku tua, Gus Zikri duduk bersila di depan meja kayu rendah. Ia sedang menyimak setoran hafalan seorang santri pria. Sinar matahari pagi masuk melalui jendela kayu, menerpa wajah Zikri hingga ia terlihat seperti bercahaya.

Mentari duduk agak jauh, berpura-pura membaca. Namun, matanya terus melirik ke arah Zikri.

Tiba-tiba, santri pria itu pergi. Ruangan menjadi sangat sepi. Zikri menutup kitabnya, lalu seperti biasa, ia tetap menundukkan pandangannya.

"Ada yang bisa saya bantu, Ukhti?" tanya Zikri. Suaranya tenang, namun Mentari merasa seperti tersengat listrik.

"Gue... eh, saya... mau belajar baca Al-Qur'an. Dari nol," ucap Mentari. Suaranya yang biasanya lantang kini mencicit pelan.

Zikri terdiam sejenak. "Niat yang mulia. Tapi untuk tingkat dasar, biasanya diajar oleh Ustadzah di asrama putri."

"Nggak mau! Saya maunya diajar sama Gus! Biar... biar cepet pinter!" Mentari mulai mengeluarkan sifat manjanya, ia memajukan duduknya sedikit. "Gus kan pinter, masa nggak mau bantu orang yang mau tobat?"

Zikri menghela napas pendek. Ia meletakkan pulpennya. "Ilmu agama bukan soal siapa gurunya, tapi sejauh mana hati menerimanya. Namun, jika Ukhti memaksa, saya akan carikan waktu di serambi masjid saat ramai orang, agar tidak terjadi fitnah."

Mentari bersorak dalam hati. Misi satu: Berhasil!

Sore harinya, pelajaran dimulai. Namun, ternyata belajar mengaji tidak semudah memilih outfit untuk ke mal. Mentari yang biasanya cerdas dalam urusan bisnis dan gaya hidup, tiba-tiba menjadi sangat "lemot" di depan huruf-huruf hijaiyah.

"Ini dibaca 'A', Ukhti. Bukan 'E'," koreksi Zikri sabar.

"Aduh Gus, mulut saya pegel kalau harus monyong-monyong gitu," keluh Mentari sambil memegang pipinya. "Bisa nggak kalau bacanya sambil santai aja?"

Di kejauhan, Bondan, Fahma, dan Hafizah mengintip dari balik tiang masjid.

"Liat deh, Tari gaya banget ya manjanya," bisik Bondan sambil mengunyah kuaci. "Tapi Gus Zikri kok tahan ya? Kalau gue jadi Gus-nya, udah gue suruh kumur-kumur pake air doa itu si Tari."

Fahma menatap mereka dengan bingung. "Itu mereka lagi ngapain sih? Lomba teriak?"

"Lagi ngaji, Fahma! Ngaji!" seru Hafizah gemas. "Tapi aku senang melihat Mentari. Setidaknya dia punya alasan untuk mendekat pada agama, walau awalnya karena Gus Zikri."

Tiba-tiba, suara keras terdengar dari arah Mentari. "Ih! Kok susah banget sih! Hurufnya mirip-mirip semua kayak mantan-mantan gue!"

Zikri sedikit tersenyum—senyuman yang sangat tipis, hampir tak terlihat, tapi Mentari menangkapnya. Senyuman itu membuat Mentari mematung.

"Kecantikan Al-Qur'an tidak akan terbuka bagi hati yang tidak sabar," ucap Zikri lembut. "Coba lagi. Pelan-pelan saja."

Kehidupan damai Mentari di pesantren terusik saat sebuah mobil mewah tiba-tiba parkir di depan gerbang. Itu adalah Reno, mantan pacar Mentari yang paling gigih. Reno datang dengan pakaian bermerk dan kacamata hitam, terlihat sangat kontras dengan lingkungan pesantren yang sederhana.

"Tari! Apa-apaan sih lo di sini? Pakai kerudung segala? Lo udah gila ya?" Reno tertawa meremehkan saat melihat Mentari keluar dari asrama.

"Reno? Ngapain lo ke sini?!" bentak Mentari.

"Gue mau jemput lo. Nyokap lo udah gue rayu, dia bilang kalau lo mau pulang, ya pulang aja. Yuk, kita balik ke Jakarta. Malam ini ada pembukaan klub baru di Senopati," ajak Reno sambil mencoba meraih tangan Mentari.

Mentari bimbang. Dunia lamanya memanggil. Kemewahan, kebebasan, dan kesenangan sesaat ada di depan matanya.

Saat itulah, Gus Zikri lewat. Ia berhenti sebentar, melihat perdebatan itu. Reno menatap Zikri dengan sinis. "Oh, jadi gara-gara Mas-mas sarungan ini lo betah di sini? Selera lo turun, Tari?"

Mentari melihat ke arah Zikri. Ia berharap Zikri akan membelanya, atau setidaknya menunjukkan rasa cemburu. Namun, Zikri hanya menunduk, lalu berucap pelan, "Ukhti Mentari, kebebasan sejati adalah saat kita tidak lagi menjadi budak bagi nafsu kita sendiri. Pilihan ada di tanganmu."

Setelah berkata begitu, Zikri pergi.

Reno tertawa. "Tuh kan, dia aja nggak peduli sama lo. Yuk, pergi!"

Mentari menatap punggung Zikri, lalu menatap Reno. Tiba-tiba, ia merasa mual melihat gaya Reno yang sombong. Ia teringat bagaimana Zikri menghargainya dengan cara tidak menyentuhnya, sementara Reno memperlakukannya seperti trofi.

"Pergi lo, Ren! Gue nggak mau balik!" teriak Mentari. "Dan satu lagi, jangan pernah sebut dia 'Mas-mas sarungan'. Ilmu dia lebih tinggi daripada harga mobil lo!"

Reno pergi dengan marah, meninggalkan debu yang mengepul. Mentari berdiri sendirian di gerbang, napasnya memburu.

Tiba-tiba, Bondan, Fahma, dan Hafizah berlari memeluknya.

"Gila! Keren banget lo, Tari!" seru Bondan bangga.

"Tadi... tadi siapa yang marah?" tanya Fahma sambil mengucek mata. "Kok mobilnya berisik banget?"

Hafizah mengusap punggung Mentari. "Kamu baru saja memenangkan satu peperangan besar, Tari. Perang melawan dirimu sendiri."

Mentari menangis, tapi kali ini bukan karena sedih. Ia menangis karena merasa bebas bebas yang sesungguhnya. Dan di kejauhan, dari balik jendela perpustakaan, seseorang menatap ke arah gerbang dengan tatapan yang sulit diartikan, namun ada segaris doa yang terucap dari bibirnya untuk keselamatan hati sang gadis bar-bar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!