Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Bertemu Kaisar
Langkah kaki Kael yang lebar dan tegas dengan cepat membawa mereka berdua menjauh dari jangkauan Lucian. Begitu sosok pemuda berambut kuning itu tenggelam di balik pilar-pilar koridor luar, Luvya akhirnya bisa mengembuskan napas lega yang sempat tertahan di tenggorokannya. Bahunya yang tegang sedikit turun, namun kelegaan itu hanya bertahan selama beberapa detik.
Mereka kini telah resmi melintasi gerbang dalam dan berjalan menyusuri koridor utama istana. Lantai marmer yang mengilat memantulkan bayangan mereka dengan jelas, sementara langit-langit tinggi dihiasi oleh ukiran berlapis emas yang megah. Alih-alih terpesona, kemegahan ini justru membuat Luvya kembali dicekam oleh kenyataan pahit tentang identitasnya. Setiap derap langkah sepatunya seolah mengingatkan batinnya bahwa dia adalah seorang pembunuh yang sedang berjalan dengan sukarela menuju sarang hukum.
Ketakutan yang membakar dada membuat Luvya tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak bersuara. Dengan setengah berbisik namun penuh penekanan, ia mendongak menatap rahang tegas Kael.
"Kael, kita tidak bisa begini. Jika aku dibawa ke hadapan Sang Raja, kita berdua bisa dipeng—"
"Tidak apa-apa," potong Kael pendek, bahkan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan di depan mereka. Suaranya terlampau tenang, seolah mereka hanya sedang membicarakan cuaca hari ini.
Luvya meremas tangan Kael yang menggenggamnya, mencoba menyalurkan rasa frustrasinya. "Apa maksudmu! Kau ta—"
"Aku katakan semuanya akan baik-baik saja, percayalah padaku," sela Kael lagi. Kali ini, ia menghentikan langkahnya sejenak dan menatap Luvya lurus pada matanya. Suara beratnya terdengar begitu mutlak dan penuh keyakinan, seolah seluruh dunia berada di bawah kendalinya.
Namun bagi Luvya, kalimat itu sama sekali tidak masuk akal. Bagaimana ia bisa percaya pada janji kosong di tempat di mana kepalanya dihargai sangat tinggi? Kael mungkin seorang pahlawan perang sekarang, tapi menantang titah kaisar demi menyembunyikan buronan adalah tindakan bunuh diri.
Satu-satunya hal yang terlintas di kepala Luvya saat ini adalah KABUR.
Ia harus pergi dari sini sebelum terlambat. Dengan gerakan nekat, Luvya menyentak tangannya dari genggaman Kael, memutar balik badannya, dan mencoba berlari kembali ke arah koridor tempat mereka datang tadi. Ia tidak peduli lagi dengan tata krama atau gaun mewahnya yang menjuntai. Yang ia tahu, ia harus selamat.
Namun, baru beberapa langkah Luvya mencoba memacu kakinya, tubuhnya mendadak membeku. Seluruh pasokan udara di parunya seolah tersedot habis.
Dari arah berlawanan di ujung koridor, serombongan pengawal istana tampak berjalan tegap mengawal seorang pria. Pria itu melangkah dengan keanggunan yang mengintimidasi, mengenakan jubah kebesaran yang menandakan status tingginya. Rambutnya, auranya, dan cara jalannya yang berwibawa langsung membuat memori Luvya berputar cepat.
Dia adalah Putra Mahkota Arken. Sang pemeran utama pria di dalam novel ini.
Luvya terpaku di tempatnya berdiri, tidak mampu menggerakkan satu pun otot kakinya. Tatapannya kosong, menatap sosok yang paling dihindarinya di dunia ini kini tengah berjalan lurus ke arah mereka.
Tamatlah riwayatku, gumam Luvya dalam hati dengan keputusasaan yang teramat dalam.
......................
Ketakutan terbesar Luvya akhirnya menjadi kenyataan. Di sinilah mereka sekarang, berdiri di dalam aula megah yang begitu luas dengan pilar-pilar marmer menjulang tinggi. Mereka bertiga, Kael, Luvya, dan Sang Putra Mahkota kini tengah menghadap langsung ke hadapan penguasa tertinggi kekaisaran.
Kael berdiri tegak dengan urusan militernya, sementara Arken maju dengan urusan pemerintahannya sendiri. Berdiri di dekat pria itu membuat Luvya terpesona sekaligus ngeri. Arken memiliki mata berwarna emas yang berkilau tajam dan rambut perak yang menawan. Fisiknya benar-benar menggambarkan sosok putra mahkota yang agung. Sangat mirip dengan Sang Kaisar yang duduk di atas takhta emas di depan mereka, yang juga berambut perak dan bermata emas. Sepasang ciri fisik langka yang hanya dimiliki oleh garis keturunan murni keluarga kerajaan.
Wajar saja jika Luvya yang asli tertarik dengan Putra Mahkota, batin Luvya.
Berada di bawah tatapan intimidatif dua penguasa berdarah murni itu membuat keberanian Luvya menciut sepenuhnya. Tubuhnya bergetar pelan di balik gaun indahnya. Ia memejamkan mata sesaat, sudah bersiap di dalam hati bahwa hari ini adalah hari di mana ia akan mendapatkan hukuman mati.
Hening sejenak, sebelum suara berat Sang Kaisar memecah kesunyian aula, menggema di setiap sudut ruangan.
"Bukankah ini putri Duke Vounwad yang terkenal itu?"
Mendengar kalimat itu, Luvya langsung terkesiap. Matanya terbelalak menatap lantai marmer. Terkenal? Apa maksudnya? batin Luvya berteriak panik. Apa berita tentang aku yang membunuh Bapak Kuil Penitensi sudah menjadi topik paling panas di seluruh penjuru negeri? Apa Kael membawaku ke sini sebenarnya berniat untuk menyerahkanku atas dasar kasus pembunuhan itu?
Pikiran buruk yang menumpuk di kepalanya membuat Luvya kehilangan logika karena terlalu panik. Tanpa sadar, lututnya melemas dan ia langsung berlutut bertumpu pada lantai marmer yang dingin di hadapan takhta, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Maafkan hamba, Yang Mulia! Hamba siap dihukum!" seru Luvya dengan suara bergetar namun lantang, memecah formalitas ruangan. "Namun... namun semua yang saya lakukan ada alasannya, Yang Mulia! Saya juga tidak berniat untuk kabur!"
Pernyataan nekat dan tiba-tiba itu seketika membuat semua orang di dalam ruangan itu terkejut. Arken menaikkan satu alis peraknya, menatap Luvya dengan pandangan heran, sementara Kael yang berdiri di sampingnya hanya diam, menghela napas pelan melihat gadisnya yang masih mengira dirinya seorang kriminal.
Mendengar pengakuan bersalah yang berapi-api dari Luvya, Sang Kaisar yang sudah sangat lama tidak tertawa karena penyakitnya, mendadak menyandarkan punggungnya ke takhta. Detik berikutnya, tawa lepasnya pecah, menggema memenuhi aula agung tersebut.
"Hahahahaha!"
Luvya yang masih berlutut menjadi bingung setengah mati. Kenapa orang yang mengumumkan hukuman mati justru tertawa seolah mendengar lelucon?
"Sepertinya kau sudah terlalu lama menghilang di perbatasan dan sama sekali tidak tahu kabarnya ya, Putri Vounwad," ucap Kaisar setelah tawanya mereda, menatap Luvya dengan binar geli di matanya yang emas.
Luvya perlahan mengangkat kepalanya, menatap Sang Kaisar dengan dahi berkerut rapat. Di dalam hatinya, rasa takutnya kini perlahan bergeser menjadi kebingungan yang teramat sangat.
Kabar? Kabar apa? pikir Luvya linglung.
Kaisar tersenyum tipis, menatap Luvya yang masih terpaku dalam posisi berlututnya. "Kau tidak tahu, ya? Apa Duke Grandwick belum memberitahumu sama sekali?" kata Kaisar, matanya melirik takzim mengisyaratkan pria yang berdiri tegap di sebelah Luvya.
Pria yang tak lain adalah Kael.
Luvya mendongak pelan, lidahnya mendadak kelu saat mengulang gelar yang baru saja diucapkan oleh sang penguasa tertinggi kekaisaran. "Duke Grandwick?"
Dada Luvya bergemuruh hebat. Kesadaran itu menghantamnya seperti godam yang tidak kasat mata. Pria di sampingnya ini bukan lagi menyandang nama Vounwad seperti yang tertulis di dalam halaman-halaman novel yang pernah ia baca, melainkan telah bangkit menjadi seorang Duke Grandwick—pemilik otoritas baru yang berdiri mandiri di atas kakinya sendiri.
Kepala Luvya mendadak terasa pening, berputar hebat mencoba mencerna realitas yang ada di depannya. Apa lagi yang sekarang bisa Luvya percayai? Alur cerita macam apa lagi ini?
Luvya melirik Kael dari sudut matanya. Pria itu masih mempertahankan ekspresi datarnya yang kokoh bagai tebing batu, namun ada kilat kepuasan yang samar di matanya saat melihat Luvya akhirnya mulai menyadari seberapa besar perubahan dunia yang telah ia lewatkan selama empat tahun tertidur di dalam es.
Kaisar bersandar di takhtanya, mengayunkan tangan pelan seolah semua kekacauan yang ada di kepala Luvya hanyalah perkara kecil. "Ah, beberapa bulan ini dia telah membersihkan namamu. Mulai dari penganiayaan dari keluarga Vounwad hingga kejahatan di Kuil Penitensi, semuanya sudah selesai."
Napas Luvya tercekat. Kalimat itu menghantam indra pendengarannya bagai petir di siang bolong.
"Selesai?" gumam Luvya lirih, suaranya nyaris hilang di dalam luasnya aula agung.
"Betul. Duke Grandwick sangat hebat, bukan? Bukan hanya menjadi orang yang luar biasa di medan tempur, dia juga pemimpin yang bijaksana," kata Kaisar dengan nada membanggakan, matanya menatap Kael dengan penuh rasa hormat yang mendalam.
Di sebelah sang ayah, Putra Mahkota Arken pun hanya diam, tidak menyanggah sepatah kata pun, menjadi saksi mutlak bahwa nama Luvya kini benar-benar telah suci dari segala tuduhan kriminal.
Luvya perlahan bangkit dari berlututnya dengan tubuh yang masih terasa lemas. Kepalanya mendadak kosong. Rantai status antagonis dan bayang-bayang tiang gantungan yang selama ini mencekik lehernya, runtuh begitu saja dalam satu kalimat. Seluruh beban ketakutan yang ia bawa sejak terbangun di gunung salju menguap, digantikan oleh rasa sesak yang lain.
Ia menoleh, melirik pria kekar yang berdiri tegak di sampingnya. Kael masih tetap diam, menatap lurus ke depan dengan ekspresi sedingin es seolah pujian dari Kaisar tidak ada apa-apanya dibanding keberadaan Luvya yang kini aman di sisinya.
Mata biru terang Luvya bergetar menatap garis rahang tegas itu. Rasa bersalah, haru, dan ketidakpercayaan bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya.
Apa yang sebenarnya kau lakukan untukku selama ini, Kael? bisik Luvya dalam hatinya
penulisannya sangat bagus