NovelToon NovelToon
Pak Direktur Mengejar Cintaku

Pak Direktur Mengejar Cintaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dina Sen

Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.

Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.

Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.

Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia belum terungkap

Sedangkan pagi itu… untuk pertama kalinya sejak bertemu Shintia, nama gadis itu bahkan belum muncul di kepala Raffa sama sekali. Hatinya masih terlalu kacau, pikirannya terlalu penuh.

Tentang kecelakaan, tentang asistennya. Dan tentang rasa bersalah yang terus menghantui sejak kejadian itu.

Suasana ruang kerja terasa makin pengap karena keberadaan Sella yang masih berdiri di dekat mejanya sambil memainkan ujung rambut.

“Pak Raffa jangan terlalu dipikirin,” ucap wanita itu lembut. “Namanya juga musibah.”

Raffa menghela napas pelan, jelas tidak ingin melanjutkan percakapan.

Namun Sella justru semakin mendekat.

“Kalau Bapak butuh bantuan, saya bisa nemenin ke rumah keluarga korban nanti.”

Raffa belum sempat menjawab ketika pintu kembali diketuk.

Tok tok.

Asisten satunya masuk cepat sambil membawa beberapa dokumen dan tablet kerja.

“Permisi Pak.”

Dan untuk pertama kalinya pagi itu… Raffa merasa sedikit terselamatkan.

“Aswin,” panggilnya singkat.

Pria muda itu langsung mendekat.

“Jadwal hari ini saya sudah susun ulang, Pak. Meeting siang dipindah dan pihak investor Malaysia juga sudah diberi kabar kalau keberangkatan Bapak dibatalkan.”

Raffa mengangguk kecil.

“Bagus.”

Sella terlihat sedikit kesal karena perhatian Raffa langsung beralih. Namun ia tetap tersenyum manis.

“Kalau begitu saya tinggal dulu ya Pak.”

“Hm.”

Begitu pintu tertutup, Raffa akhirnya menyandarkan tubuhnya lelah ke kursi.

Aswin memperhatikan atasannya beberapa detik sebelum bicara hati-hati.

“Bapak belum istirahat?”

“Belum bisa.”

“Dari tadi malam?”

Raffa hanya diam.

Aswin sebenarnya sudah lama bekerja di Hotel Permata. Ia tahu jelas bagaimana hubungan Raffa dengan asisten utamanya yang meninggal kemarin.

Mereka bukan sekadar atasan dan bawahan, tapi lebih seperti keluarga.

“Rumah duka nanti jam sebelas, Pak,” ujar Aswin pelan.

“Iya.”

Beberapa detik suasana kembali sunyi..Lalu tanpa sadar, mata Raffa tertuju pada meja kosong di sisi ruangan. Biasanya di sana asistennya duduk sambil sibuk mengetik laporan atau mengatur jadwal.

Sekarang kosong. Dan anehnya… baru sekarang rasa kehilangan itu terasa makin nyata.

Raffa memijat pelipisnya pelan.

“Aku bahkan belum sempat bilang terima kasih terakhir,” gumamnya lirih.

Aswin menunduk diam, ikut merasa tidak enak.

“Kecelakaan itu bukan salah Bapak.”

Raffa tertawa kecil hambar. “Kalau aku jadi ikut naik mobil itu… mungkin dia gak pergi sendirian.”

Kalimat itu membuat Aswin langsung terdiam, karena sebenarnya semua orang di hotel tahu… Raffa memang seharusnya ikut pergi malam itu. Namun di menit terakhir, jadwalnya berubah, dan sekarang mobil dinas itu hancur total.

“Ponsel saya juga hilang di sana,” ujar Raffa lagi pelan.

“Hilang, Pak?”

“Ketinggalan di mobil.”

Aswin langsung mengangguk mengerti.

Pantas saja sejak pagi banyak panggilan masuk ke nomor kantor. Semua orang kesulitan menghubungi Raffa.

Pria itu memang belum sempat mengurus apa pun selain rumah duka dan urusan keluarga asistennya.

“Kalau perlu saya urus nomor baru dulu, Pak?”

“tidak perlu, sebetulnya saya masih ada nomor lain, hanya saja tak banyak yang tahu.”

Aswin mengangguk, "baik pak, kalau bapak perlu bantuan saya tentang apapun... Saya sudah siap pak."

Raffa mengangguk pelan, lantas pandangannya jatuh ke arah jendela kaca. Pandangannya nampak terlihat kosong.

Langit Senin pagi terlihat mendung, sama beratnya dengan suasana hatinya hari ini.

***

Sementara itu…

Jauh di sisi lain kota, seseorang justru tengah hancur perlahan karena mengira dirinya mungkin sudah tidak ada.

Shintia duduk sendirian di ruang keluarga setelah Andreas berangkat kerja.

Mamanya sedang di dapur, membuat suasana di sekelilingnya kembali terasa sunyi. Dan sunyi itu membuat pikirannya semakin kacau.

ia lagi-lagi menatap layar ponsel, masih tidak ada balasan, nomor Raffa tetap tidak aktif. Shintia menggigit bibir pelan menahan rasa gelisah yang makin menjadi.

“Harusnya jangan dipikirin…” gumamnya lirih.

Tapi percuma. Semakin ia mencoba mengabaikan, wajah pria itu justru semakin jelas muncul di kepalanya.

Senyum jahilnya, Tatapan hangatnya. Dan suara rendahnya saat berkata...

“Aku gak akan nyakitin kamu.”

Air mata Shintia hampir jatuh lagi, kalau benar terjadi sesuatu… Kenapa rasanya sesakit ini?

Padahal mereka baru kenal, bahkan belum sempat benar-benar dekat. Shintia memeluk lututnya di sofa sambil menahan napas berat. Ia ingin mencari tahu keadaan Raffa.

Tapi bagaimana? Ia tidak tahu alamat rumah pria itu. Tidak tahu rumah sakit mana yang mungkin merawatnya. Dan lebih parahnya lagi… ia bahkan tidak punya keberanian bertanya ke siapa pun.

Karena kalau sampai Andreas tahu ada laki-laki yang membuatnya begini panik, kakaknya pasti langsung heboh.

“Kenapa jadi begini sih…” bisiknya frustrasi.

"kenapa kamu muncul, datang, cuma buat pergi Raffa."

***

Di Hotel Permata…

Raffa berdiri di depan jendela ruang kerjanya sambil mengancingkan jas hitamnya.

Hari ini ia harus pergi ke rumah duka. Wajahnya terlihat jauh lebih dingin dibanding biasanya.

Aswin menyerahkan beberapa berkas pelan.

“Ini santunan untuk keluarga korban sudah siap, Pak.”

Raffa menerimanya diam-diam.

“Media gimana?”

“Sudah ditangani.”

Raffa mengangguk kecil. Namun baru beberapa langkah menuju pintu, Sella kembali muncul.

“Pak Raffa.”

Pria itu langsung menahan napas tipis.

“Ada apa lagi?”

Sella tersenyum lembut seolah tidak menyadari nada dingin pria itu.

“Saya cuma khawatir.”

“Saya baik-baik aja.”

“Bapak kelihatan capek.”

“Memang.”

Wanita itu kembali mendekat sedikit.

“Kalau butuh seseorang buat nemenin...”

“Sella.”

Kali ini suara Raffa benar-benar tegas.Wanita itu langsung diam.

“Saya lagi gak punya energi buat basa-basi.”

Senyum Sella perlahan memudar. Untuk beberapa detik suasana menjadi canggung. Sebenarnya Raffa tidak membenci Sella.

Wanita itu pintar, cantik, dan pekerja keras, bahkan beberapa kali Raffa sempat tertarik. Namun sifat Sella terlalu memaksa, agresif. Dan itu membuat Raffa justru menjauh.

Berbeda dengan Shintia.

Gadis itu bahkan tidak penasaran lebih jauh pada Raffa, parahnya Shintia nampak tak begitu tertarik kemewahan seperti bekerja magang di Hotel permata.

Dan anehnya… justru itu yang membuat Raffa tertarik. Namun sekarang ia sama sekali tidak sadar… Gadis yang sedang ia dekati itu tengah menangis diam-diam karena mengira dirinya celaka.

Raffa akhirnya berjalan pergi bersama Aswin meninggalkan ruang kerja.

Sedangkan Sella berdiri diam dengan wajah kesal.

Wanita itu tahu.

Untuk pertama kalinya sejak lama… perhatian Raffa mulai teralihkan pada perempuan lain. Dan itu jelas bukan dirinya, Sella pun membuang nafas kasar usai Raffa pergi.

Ia lantas menelpon seseorang yaitu Andreas, seorang kepala bank cabang.

Ya kekasihnya.

Laki-laki yang tak Sella sadari adalah kakak wanita yang tengah Raffa dekati.

Andreas.

Andreas seperti hanya cadangan baginya, di saat ia di acuhkan Raffa, Andreas lah pelarian baginya.

Memang... Andreas juga tak kalah tampan.

1
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh Raffa cepat dong temui Shintia...

di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh Raffa mau di jodohkan ke Sella 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhhh Shintia masih khawatir tuh sama Raffa 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Duhh Shintia kangen sama Raffa tuhhh
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh Raffa harusnya temui Shintia dong 🥲
Sharah ArpenLovers Khan
Ciiieee ya tuh Raffa sebenarnya berarti buat shintia😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Shintia... Raffa itu masih hidup 🥲🥲
Sharah ArpenLovers Khan
Sella ganggu Raffa mulu..

duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲

jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...

di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh kenapa Shintia belum mendaftarkan diri? Raffa sedikit kecewa😟 donggg
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh ciiieee Shintia seperti nya sudah jatuh cinta sama Raffa 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan: Ciieee Asyik dong 😄😄
total 2 replies
Sharah ArpenLovers Khan
gk cape ya Raffa gombal mulu sama shintia😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Ya ampun... Raffa jail banget sama Shintia😆😆😆
Sharah ArpenLovers Khan
Ciiieee Raffa ajak Shintia ke Pantai😆😆
Raffa jahil banget sama Shintia 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Jangan galak² Shintia nnt jatuh cinta dg Raffa 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh seperti ny Raffa emng jatuh cinta dg Shintia 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh Raffa blg kekasih Shintia ke Andreas 😆😆😆
Sharah ArpenLovers Khan
Shintia gk tahu klo Raffa itu CEO yaa😆
Sharah ArpenLovers Khan
Cieee Shintia di blg cantik 😆😆😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!