NovelToon NovelToon
Saya Jokernya

Saya Jokernya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Keputusan yang Salah

Kematian selalu meninggalkan jejak yang kotor, betapapun mewahnya tempat ia singgah.

Udara pagi di perbukitan Sentul terasa menggigit kulit. Kabut sisa badai semalam masih menggantung rendah, menyelimuti atap villa-villa bernilai puluhan miliar layaknya selimut pemakaman. Namun, hawa dingin dari alam itu sama sekali tidak sebanding dengan rasa dingin yang merayap di dalam pembuluh darahku saat aku berdiri menatap tubuh kaku di atas lantai marmer.

Hakim Agung Setiawan.

Pria yang wajahnya menghiasi halaman depan seluruh surat kabar pagi ini sebagai buronan korupsi terbesar dalam dekade terakhir, kini terbaring tak bernyawa di genangan darahnya sendiri.

Aku menarik sarung tangan lateksku lebih rapat. Bau anyir darah segar yang belum sepenuhnya mengering bercampur dengan aroma tajam dari bubuk mesiu yang terbakar. Di tangan kanannya yang terkulai lemas, sebuah pistol revolver tergeletak. Sebagian tempurung kepalanya hancur, melukis dinding kaca di belakangnya dengan warna merah yang mengerikan.

"Dia memilih jalan pintas," gerutu Inspektur Bramantyo. Pria paruh baya itu berdiri di sebelahku, mengusap wajahnya yang kusut dengan saputangan kain. "Begitu siaran berita semalam menelanjangi semua rekening lepas pantainya dan bukti suap itu bocor... dia tahu hidupnya sudah tamat. Dia tidak sanggup menghadapi sorotan kamera dan baju tahanan oranye."

"Kapan perkiraan waktu kematiannya, Dokter?" tanyaku, mengabaikan omelan Bram. Suaraku terdengar serak, berusaha menekan getaran aneh di tenggorokanku.

Dokter forensik yang sedang berjongkok di dekat mayat itu mendongak. "Rigor mortis belum sepenuhnya mengunci persendian besar. Suhu tubuhnya juga masih belum turun drastis. Berdasarkan laju koagulasi darah di lantai ini... aku bertaruh dia menarik pelatuknya antara jam dua hingga jam tiga dini hari tadi, saat badai di luar sedang deras-derasnya."

Jam dua dini hari.

Perutku mendadak bergejolak hebat. Rasa mual yang pekat menyerang ulu hatiku, membuatku harus menarik napas panjang melalui mulut.

Pada jam dua dini hari tadi, aku baru saja tiba di apartemenku dengan pakaian yang basah oleh hujan. Aku sedang duduk memeluk jas abu-abu milik Arlan yang masih menyimpan wangi sandalwood-nya. Aku sedang menangis tertahan di ujung ranjang, berdebat dengan kewarasanku sendiri karena menyadari bahwa aku mulai menaruh hati pada pria bermantel yang meneror kota ini.

Sementara aku menangisi perasaanku yang kacau padanya, pria itu ternyata sedang berada di sini. Berdiri di ruangan ini.

Mataku menyapu sekeliling ruang tamu yang berantakan. Pecahan botol wiski berserakan di dekat jendela. Karpet bulu domba yang mahal berantakan seolah seseorang baru saja berlutut, merangkak, dan memohon di atasnya.

Bram dan tim forensik mungkin melihat ini sebagai adegan bunuh diri biasa dari seorang koruptor tua yang putus asa. Tapi mataku melihat hal lain. Aku melihat sebuah teater penyiksaan mental.

"Bram," panggilku pelan, berjongkok di dekat meja kaca di tengah ruangan. "Lihat ini."

Bram mendekat dengan langkah berat. Aku menunjuk pada sebuah botol kaca kecil berwarna gelap yang berdiri tegak di atas meja, sangat kontras dengan kekacauan di sekitarnya. Botol itu kosong, namun tidak ada sidik jari Setiawan di sana. Lalu, tepat di sebelahnya... sebuah kartu.

Bukan sembarang kartu.

Kartu serat karbon berwarna putih kusam dengan gambar seorang badut tersenyum sinis. Mata badut itu meneteskan tinta merah yang menyerupai darah.

Bram memaki pelan. Umpatan kotor keluar dari mulutnya saat ia menyadari apa arti kartu tersebut.

"Joker," desis Bram, wajahnya memucat, matanya membelalak menatap kartu itu. "Bajingan itu ada di sini semalam. Ini bukan bunuh diri murni, El. Setiawan tidak sekadar menembak kepalanya sendiri karena malu. Seseorang memaksanya. Seseorang menyudutkannya ke ujung jurang yang paling gelap dan memberikannya pistol itu."

Aku terdiam, menatap lekat-lekat wajah badut di kartu itu.

Arlan tidak menarik pelatuknya. Ia menjaga tangannya tetap bersih secara hukum pembunuhan. Tapi ia masuk ke rumah ini menembus penjagaan, mematikan sumber cahaya, melumpuhkan psikologis sang hakim agung hingga titik nadir, dan menyodorkan pilihan antara kematian atau penyiksaan.

Ia membalas dendam untuk ayahnya dengan cara yang paling kejam: membuat musuhnya menghukum dirinya sendiri.

Tanganku tanpa sadar meremas ujung jaket kulitku. Ponsel di sakuku terasa sangat berat, seolah terbuat dari timah. Pesan terakhir yang kukirimkan padanya semalam—pesan di mana aku mengatakan bahwa aku mencari kejujuran dan perlindungan padanya—tidak pernah dibalas. Kini aku tahu alasannya. Saat pesan itu masuk ke layarnya, tangannya mungkin sedang menunjuk pistol ini ke arah wajah Setiawan.

"Tim pelacak sedang menyisir area luar, tapi aku tidak yakin kita akan menemukan jejak ban atau sidik sepatu lumpur," kata Bram, mengusap belakang lehernya dengan frustrasi yang memuncak. "Orang ini... dia bekerja seperti hantu. Dan sekarang, dia baru saja menjatuhkan salah satu pilar penegak hukum tertinggi di negara ini. Publik akan menganggapnya pahlawan bertopeng, sementara kita terlihat seperti sekelompok badut berseragam."

"Dia bukan pahlawan, Bram," balasku pelan, bangkit berdiri. Mataku tak bisa lepas dari genangan merah di lantai. "Dia hanya orang yang sangat terluka, yang memutuskan untuk membakar seluruh kota hanya agar dia tidak merasa kedinginan sendirian."

Bram menatapku dengan kening berkerut, tidak memahami makna kalimatku. Aku tidak memedulikannya. Aku berbalik, melangkah keluar dari ruangan yang berbau kematian itu. Udara pagi yang lembap di luar villa menghantam wajahku, memberiku sedikit ruang untuk memompa oksigen ke paru-paru.

Aku berjalan cepat menuju mobil SUV-ku yang terparkir di luar batas garis kuning polisi. Aku masuk, membanting pintu dengan keras, dan mengunci diriku di dalam.

Suasana kabin mobil yang kedap suara sama sekali tidak membantuku menenangkan diri. Jantungku berdetak dengan ritme yang menyakitkan, menabrak tulang rusukku. Kepalaku serasa mau pecah. Dua dunia yang selama ini kucoba pisahkan kini bertabrakan dengan brutal. Dunia Arlan, pria yang rapuh dan menghangatkanku di bawah hujan; dan dunia sang Joker, monster yang menghancurkan sistem hukum kota ini.

Lalu, sebuah nama lain merayap naik ke permukaan pikiranku layaknya bisa ular yang menjalar ke jantung.

Vanguard Group. Darmawan Salim. Ayahku.

Jika apa yang kubaca di dokumen rahasia semalam benar—bahwa ayahku merencanakan pembunuhan orang tua Arlan sepuluh tahun lalu—maka Arlan tidak akan berhenti di Setiawan. Hakim ini hanyalah hidangan pembuka. Target puncaknya adalah pria yang membesarkanku.

Rasa mual kembali menyerang lambungku. Selama ini aku selalu tahu Darmawan Salim adalah pria yang menghalalkan segala cara di meja bisnis. Ia menyuap pejabat, ia memanipulasi tender pemerintah, ia menghancurkan saingan bisnisnya tanpa sedikit pun rasa kasihan. Karena tumpukan dosa itulah aku lari dari rumah mewah di Menteng, menolak fasilitasnya, dan memilih hidup pas-pasan dengan gaji seorang detektif polisi. Aku ingin membersihkan nama keluarga yang ia kotori.

Tapi pembunuhan berencana? Membakar suami istri hidup-hidup di dalam mobil di dasar jurang?

Aku mencengkeram kemudi mobil dengan kedua tangan hingga buku-buku jariku memutih kaku dan gemetar. Aku butuh kepastian. Aku butuh menatap langsung mata pria yang darahnya mengalir di nadiku itu, dan mendengar kebenarannya meluncur langsung dari bibirnya.

Sebagai seorang detektif kepolisian, ini adalah pelanggaran prosedur operasional terburuk. Mengonfrontasi calon tersangka utama tanpa bukti fisik yang mengikat, hanya bermodal emosi yang meledak-ledak dan dokumen yang bocor di internet. Ini adalah keputusan yang sangat salah, yang bisa merusak seluruh penyelidikan departemen di kemudian hari.

Namun hari ini, detik ini, aku tidak sedang memakai topi detektifku. Aku adalah seorang anak perempuan yang kewarasan dan logikanya baru saja dihancurkan.

Aku menyalakan mesin mobil. Ban SUV-ku berdecit keras menggilas aspal basah, melesat meninggalkan kompleks perbukitan Sentul, turun menuju pusat kota Jakarta. Menuju sarang sang naga.

Lobi utama gedung Vanguard Tower selalu berhasil membuat siapa pun yang masuk merasa kerdil. Plafon setinggi lima belas meter, dinding berlapis marmer hitam murni yang memantulkan cahaya layaknya cermin gelap, dan deretan penjaga keamanan berseragam rapi yang posturnya lebih mirip tentara bayaran daripada satpam gedung komersial. Tempat ini tidak dirancang untuk menyambut tamu dengan hangat; tempat ini dirancang untuk mengintimidasi mereka.

Aku berjalan cepat melintasi lobi, mengabaikan sapaan kaget dari beberapa resepsionis yang mengenaliku. Sepatu botku berketuk nyaring. Aku langsung menuju lift pribadi berdinding kaca buram yang hanya bisa diakses menggunakan kartu VIP khusus dewan direksi. Aku masih menyimpan kartu itu terselip di sudut dompetku, sebuah pengingat akan hak istimewa yang selalu kutolak mentah-mentah.

Lift melesat naik tanpa suara yang berarti ke lantai enam puluh. Lantai eksekutif.

Pintu lift bergeser terbuka, menampilkan hamparan ruangan yang dilapisi karpet tebal kedap suara berwarna abu-abu. Tidak ada kubikel karyawan atau suara mesin ketik di sini. Hanya ada meja resepsionis berbahan kayu jati, beberapa lukisan maestro asli bernilai miliaran rupiah yang digantung sebagai pajangan, dan pintu kayu ganda yang menjulang tinggi di ujung lorong.

"Nona Elara!" Sekretaris pribadi ayahku, seorang wanita paruh baya bernama Rini, langsung berdiri dari kursinya dengan wajah panik saat melihatku melangkah maju seperti badai yang akan mengamuk. "Bapak sedang ada panggilan telepon penting dengan investor luar negeri. Anda tidak bisa masuk sekarang—"

Aku sama sekali tidak memedulikan cegahannya. Aku melangkah melewatinya dan mendorong pintu kayu ganda itu dengan kedua telapak tanganku tanpa repot-repot mengetuk.

Ruang kerja Darmawan Salim menyambutku dengan baunya yang khas: paduan kayu mahoni yang dipoles, kulit asli dari sofa tamu, dan aroma tajam cerutu Kuba yang mahal. Pemandangan dari balik jendela kaca raksasa di belakang meja kerjanya memperlihatkan kota Jakarta yang terlihat sekecil mainan balok dan tak berdaya di bawah sana.

Ayahku sedang berdiri menghadap jendela, memegang telepon tanpa kabel di telinganya. Ia hanya mengenakan kemeja putih mahal tanpa jas, namun postur punggungnya tetap tegak, menguarkan arogansi yang tak pernah luntur.

Mendengar suara pintu yang berdebam menabrak dinding, ia berbalik. Mata tuanya yang tajam menatapku, sedikit terkejut melihat penampilanku yang berantakan, namun dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi senyum kebapakan yang sangat terlatih.

"Tutup pintunya dari luar, Rini. Jangan ada yang berani mengganggu kami," perintahnya tenang pada sekretarisnya yang masih berdiri ragu dengan wajah pucat di ambang pintu.

Pintu kayu itu pun ditarik hingga tertutup rapat, menyisakan kami berdua dalam keheningan yang terasa mencekik leher.

Darmawan meletakkan gagang teleponnya ke atas meja. Ia berjalan lambat menuju sebuah lemari minuman kristal di sudut ruangan.

"Jarang sekali putriku tersayang mau menginjakkan kakinya di menara ini," ucapnya santai, seolah ia tidak sedang berada di tengah pusaran krisis nasional yang mengancam perusahaannya. Ia menuangkan cairan keemasan ke dalam dua gelas kristal kecil. "Anggur pagi hari? Kau terlihat sangat pucat, El. Kurang tidur mengejar maling motor?"

"Aku baru saja pulang dari Sentul, Yah," suaraku memotong basa-basi murahan itu. Keras, tajam, dan bergetar menahan amarah. "Aku berdiri di tengah genangan darah Hakim Setiawan. Dia menembakkan peluru ke kepalanya sendiri beberapa jam yang lalu."

Gerakan tangan Darmawan terhenti selama satu detik. Hanya satu detik. Botol kristal di tangannya berdenting pelan saat menyentuh gelas. Ia lalu melanjutkan menuangkan minumannya dengan ketenangan yang menakutkan.

"Aku sudah mendengar beritanya sepuluh menit yang lalu dari kepala keamananku," jawabnya. Ia mengambil salah satu gelas dan menyesapnya pelan. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan, apalagi kesedihan. Hanya ada kekesalan yang samar, seperti seseorang yang baru saja mengetahui ban mobilnya kempes di tengah jalan, bukan kehilangan teman lama. "Sungguh tragis. Tekanan publik dan media akibat kebocoran semalam pasti terlalu berat untuk jantung tua pria itu. Ia memilih jalan keluar seorang pengecut yang rapuh."

"Tragis?" Aku melangkah maju, tanganku mengepal erat di sisi tubuh. "Kau menyebutnya tragis seolah dia mati karena flu? Dia tidak bunuh diri karena tekanan media, Ayah. Dia bunuh diri karena dokumen suapnya dibocorkan. Dokumen yang menelanjangi keterlibatannya dalam konspirasi memuakkan yang juga melibatkanmu!"

Darmawan menghela napas panjang, sebuah embusan napas panjang yang merendahkan. Ia berjalan perlahan ke arah kursi kulit besarnya dan duduk bersandar. Ia meletakkan gelasnya, menatapku dengan tatapan kasihan—tatapan meremehkan yang biasa ia berikan pada anak kecil yang menangis karena mainannya direbut.

"Elara, Sayang. Kau terlalu banyak membaca portal berita gosip rendahan di internet," ucapnya lembut, menggunakan nada seorang ayah yang sedang mengajari anaknya. "Setiawan adalah hakim yang baik dan berguna, tapi ia mungkin punya kelemahan finansial. Vanguard Group sama sekali tidak ada hubungannya dengan rekening lepas pantainya atau dari mana ia mendapat uang itu. Jangan biarkan emosimu sebagai detektif polisi merusak akal sehatmu."

"Jangan panggil aku sayang," desisku. Aku melangkah lebar, membanting kedua telapak tanganku ke atas permukaan meja kerjanya yang terbuat dari kayu solid, mencondongkan wajahku ke arahnya. "Apakah kau juga menyebutnya kelemahan finansial saat Handoko Salim diracun mati di rumahnya sendiri? Apakah kau menyebutnya kebetulan saat rekan-rekan bisnismu mulai terbunuh dalam minggu yang sama?"

Darmawan tidak berkedip. Matanya yang gelap membalas tatapanku tanpa gentar sedikit pun. Tidak ada getaran ketakutan di pupil matanya.

"Aku tidak datang ke sini untuk membahas Setiawan atau hartanya," ujarku, menurunkan suaraku menjadi bisikan yang bergetar. Aku menelan ludah yang terasa perih di tenggorokan. "Aku datang ke sini untuk bertanya langsung padamu tentang satu nama. Adrianus Wiratama."

Keheningan yang terjadi setelah nama itu meluncur dari bibirku terasa sangat memekakkan telinga. Ruangan ini tiba-tiba terasa seperti ruang hampa udara.

Aku menatap lekat-lekat pada wajah ayahku, mencari otot yang berkedut, mencari tanda kebohongan atau setitik rasa bersalah. Tapi aku sedang berhadapan dengan predator puncak dari dunia korporat. Otot wajahnya tetap rileks. Napasnya teratur dan tenang. Ia hanya menyandarkan punggungnya lebih dalam ke kursi, memutar cincin emas di jari manis kanannya dengan gerakan lambat.

"Adrianus," ulang Darmawan, memecah kesunyian. Nadanya terdengar seperti sedang mengingat nama seorang kenalan lama yang tidak penting. "Mantan direktur keuangan kita yang bermasalah. Pria lemah yang menggelapkan dana triliunan rupiah perusahaan dan menabrakkan mobil keluarganya sendiri ke jurang sepuluh tahun lalu karena tak sanggup menghadapi hukuman penjara. Mengapa tiba-tiba kau mengungkit hantu dari masa lalu, El?"

"Karena dia bukan hantu, dan dia bukan pencuri!" teriakku, kehilangan sisa-sisa kesabaran dan profesionalitasku. Gema suaraku memantul keras di dinding kaca ruangan itu. "Aku membaca salinan audit asli yang bocor semalam. Aku membaca memo rahasia yang ditandatangani Handoko atas perintah langsung darimu! Kalian menjebaknya! Kalian memutus rem mobilnya dan membakar suami istri itu hidup-hidup hanya untuk menutupi pencucian uang kalian sendiri!"

Untuk pertama kalinya sejak aku masuk ke ruangan ini, suhu di sekitarku terasa turun drastis.

Darmawan berhenti memutar cincinnya. Ia meletakkan kedua telapak tangannya mendatar di atas meja. Senyum kebapakannya menguap tak bersisa dalam sekejap mata, digantikan oleh wajah seorang tiran yang tidak menoleransi pembangkangan dalam bentuk apa pun. Matanya kini sedingin es.

"Kau tidak tahu apa-apa tentang bagaimana dunia ini berputar, Elara," suara Darmawan merendah, tidak ada lagi nada lembut di sana. Suaranya terdengar seperti geraman tertahan. "Adrianus adalah ancaman. Dia memiliki idealisme bodoh yang akan menghancurkan puluhan ribu pekerjaan di Vanguard Group. Jika aku membiarkannya pergi ke kejaksaan waktu itu, perusahaan ini akan hancur. Saham kita akan anjlok. Negara ini akan krisis. Aku membuat keputusan yang harus dibuat oleh seorang pemimpin untuk menyelamatkan kapal besar ini."

"Kau membunuhnya!" bentakku, air mata kemarahan akhirnya jatuh membasahi pipiku. "Kau membunuh temannya sendiri! Kau memerintahkan eksekusi pada keluarga yang tak bersalah!"

"Aku membersihkan kekacauan!" Darmawan menggebrak mejanya, membuat gelas kristal di atasnya bergetar keras. Ia setengah berdiri, mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Kekacauan yang akan membuatmu tidur di jalanan jika aku tidak bertindak! Kau pikir dari mana biaya sekolah kepolisianmu yang mahal itu? Dari mana apartemenmu? Kau membenci caraku bekerja, kau memakai lencana itu untuk merasa suci, tapi kau lupa bahwa kau makan, hidup, dan bernapas dari uang yang kau sebut kotor itu, Elara!"

Kata-katanya menghantamku seperti godam fisik. Lututku terasa lemas. Aku mundur selangkah dari meja kerjanya, menatap pria paruh baya di hadapanku dengan kengerian yang membuat napasku sesak.

Dia tidak menyangkalnya. Dia baru saja membenarkan semuanya tanpa mengucapkan kata 'membunuh'. Dia merasionalisasi pembantaian sebuah keluarga sebagai keputusan bisnis.

Pria yang mengajariku naik sepeda, pria yang membacakan buku cerita saat aku kecil... adalah iblis yang sesungguhnya. Sang Joker tidak berbohong.

"Jangan pernah berani masuk ke ruanganku lagi dan menuduhku dengan moralitas sempitmu," desis Darmawan, merapikan kerah kemejanya dan kembali duduk. "Aku akan mengatasi masalah pembocor dokumen ini dengan caraku sendiri. Dan kau... jauhi kasus ini. Bermainlah menjadi polisi di luar sana, tapi jangan pernah berani menggigit tangan yang memberimu makan."

Aku tidak bisa membalas kata-katanya. Mulutku terkunci. Air mata terus mengalir dalam diam.

Aku memutar tubuhku, setengah berlari menuju pintu keluar. Aku tidak ingin menghabiskan satu detik pun lebih lama menghirup udara yang sama dengan pembunuh ini.

Saat aku melangkah keluar dari ruangan eksekutif itu, menyusuri lorong yang sunyi, pikiranku berputar tak terkendali. Segalanya telah hancur. Hukum yang kupercaya ternyata hanyalah ilusi yang dibeli oleh ayahku. Dan pria yang seharusnya melindungiku ternyata adalah sumber dari segala penderitaan di kota ini.

Langkahku perlahan melambat, lalu berhenti total di depan pintu lift yang tertutup. Aku menatap pantulan diriku sendiri di permukaan baja lift yang mengilap. Wajahku terlihat pucat pasi, mataku sembap.

Jika ayahku adalah monster yang membunuh tanpa belas kasihan demi uang... maka apa hakku untuk menangkap Arlan yang membunuh demi keadilan keluarganya?

Aku menyentuh kaca dingin pintu lift, membiarkan dinginnya baja meresap ke kulitku. Kepalaku berdengung memikirkan semua kebohongan yang membungkus hidupku sejak lahir.

"Ayah," bisikku pada pantulan kosong di depanku, suaraku terdengar putus asa dan sarat akan kengerian. "Apa lagi yang sebenarnya kau sembunyikan?"

1
Emi Widyawati
bagus bangeeetttt. cerita beda dengan yang lainnya. baca novel tapi serasa liat film. bagus banget Thor. lup u sak kebon 😘
Misterios_Man: banyakin likesnya dong biar popularitasnya naik, gratis kok hehehe.
total 2 replies
Ainun masruroh
semangat 💪
Misterios_Man: Ok kak nice dream ya,, jangan lupa ikuti novelnya heheh.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!