NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9: Rahasia Terkubur di Balik Pintu Gudang

Suara teriakan, bentakan, dan dentuman senjata kayu beradu satu sama lain menggema di seluruh halaman rumah. Pertarungan sengit pun pecah. Orang-orang suruhan Tuan Handoko menyerbu dengan ganas, ingin menerobos barisan pertahanan yang dibentuk oleh Raga, para pekerja setia, dan tetangga yang berani membela kebenaran. Di sisi lain, Raga memimpin perlawanan dengan penuh semangat, setiap gerakannya penuh kekuatan dan keberanian, matanya tidak pernah lepas dari ancaman yang mengarah ke arah Lira. Ia berjanji pada dirinya sendiri, bahkan jika tulang rusuknya patah, bahkan jika darahnya habis tertumpah, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh wanita yang menjadi seluruh hidupnya itu.

Asap hitam dari kebakaran masih mengepul tinggi di udara, bercampur dengan debu dan keringat para petarung, membuat suasana semakin kacau dan mencekam. Di tengah kekacauan itu, Bu Sumi dengan cepat menarik lengan Lira, wajahnya tegas namun penuh cemas.

“Nona, ini kesempatan kita! Semua mata mereka tertuju pada pertarungan di sini. Kita harus pergi sekarang ke gudang belakang, sebelum ada yang menyadari atau sebelum situasi menjadi lebih parah lagi!” bisik Bu Sumi cepat, suaranya terdengar jelas meski tertutup suara gaduh di sekitar.

Lira melirik sekilas ke arah Raga yang sedang bertarung dengan gagah berani, hatinya terasa nyeri dan penuh kekhawatiran. Ia ingin tetap berada di sana, ingin membantu, ingin berbagi bahaya bersama pemuda itu. Namun ia tahu, tugasnya saat ini jauh lebih penting. Kalung itu adalah satu-satunya kunci untuk mengakhiri semua kekacauan ini, satu-satunya bukti yang bisa menjatuhkan Tuan Handoko selamanya dan membawa kedamaian bagi semua orang yang menderita.

Dengan berat hati, Lira mengangguk mantap.

“Baik, Bu. Mari kita pergi. Kami tidak boleh membuang waktu sedetik pun.”

Dengan bergerak secepat dan sehalus mungkin, keduanya menyelinap menjauh dari kerumunan, berlari menuju sisi kanan rumah yang agak gelap dan jarang dilalui orang. Mereka menundukkan badan, bersembunyi di balik semak-semak dan pepohonan besar, berusaha agar tidak terlihat oleh orang-orang yang sedang sibuk bertarung maupun oleh mata-mata Tuan Handoko yang mungkin masih bersembunyi di sana.

Jarak ke gudang belakang tidak terlalu jauh, namun bagi Lira dan Bu Sumi, langkah-langkah itu terasa sangat panjang dan berbahaya. Setiap kali mendengar suara langkah kaki atau suara benda bergerak, mereka segera berhenti dan bersembunyi, jantung berdebar kencang ketakutan ketahuan. Namun berkat keberuntungan dan kehati-hatian mereka, akhirnya mereka berhasil sampai di tempat tujuan dengan selamat.

Di hadapan mereka berdiri sebuah bangunan tua berukuran sedang, dindingnya terbuat dari kayu yang sudah kusam dan lapuk dimakan usia, atapnya tertutup lumut tebal. Pintu utamanya terbuat dari papan kayu besar yang tebal, tertutup jaring laba-laba tebal, dan dikunci dengan gembok besi besar yang sudah berkarat parah. Itulah gudang yang sudah tertutup dan ditinggalkan selama lima tahun terakhir, gudang yang menyimpan banyak kenangan masa lalu, dan kemungkinan besar menyimpan rahasia terbesar keluarga mereka.

Suasana di sekitar gudang itu terasa dingin, lembap, dan sunyi, sangat kontras dengan keributan dan kegaduhan yang terjadi tidak jauh dari sana. Angin malam bertiup pelan, membawa bau tanah basah dan bau kayu lapuk yang khas.

“Ini dia, Nona. Gudang tempat Bu Ratih dulu sering datang sendirian,” kata Bu Sumi pelan, matanya menatap bangunan tua itu dengan pandangan penuh kenangan dan rasa hormat. “Kuncinya… aku ingat sekali, Tuanku Ardiansyah dulu pernah memberiku salinan kunci cadangan ini, dan berpesan agar aku menyimpannya baik-baik, untuk digunakan hanya dalam keadaan darurat yang paling genting. Aku tidak menyangka, hari inilah saatnya kunci itu benar-benar dibutuhkan.”

Bu Sumi mengeluarkan dari saku bajunya sebuah kunci besi tua yang juga sudah agak berkarat, lalu dengan susah payah memasukkannya ke dalam lubang gembok yang berkarat itu. Terdengar suara gesekan kasar, diikuti bunyi ‘klik’ yang nyaring saat gembok itu akhirnya terbuka.

Suara itu terdengar sangat jelas di keheningan malam, membuat keduanya seketika menegang dan melihat ke sekeliling dengan waspada. Namun tidak ada apa pun yang terjadi, tidak ada orang yang datang. Napas mereka pun kembali lega.

Bu Sumi mendorong pintu kayu besar itu perlahan-lahan. Pintu itu mengeluarkan suara decitan keras dan panjang, suara yang mengerikan di tengah keheningan, seolah pintu itu sendiri sedang mengeluh karena sudah terlalu lama tidak disentuh.

Begitu pintu terbuka, udara lembap dan debu tebal segera menyambar hidung mereka, membuat mereka sedikit batuk-batuk. Cahaya bulan yang redup hanya bisa menembus sedikit melalui celah-celah dinding kayu dan jendela kecil yang tertutup debu, membuat isi gudang itu terlihat samar-samar dan penuh bayang-bayang gelap yang menakutkan.

“Mari masuk, Nona. Hati-hati dengan lantainya, banyak papan yang sudah rapuh dan berkarat,” peringatkan Bu Sumi pelan, sambil mengeluarkan senter kecil dari saku dan menyalakannya, memancarkan cahaya putih yang cukup terang untuk menerangi jalan mereka.

Mereka berdua melangkah masuk perlahan-lahan, menutup kembali pintu kayu itu dari dalam agar tidak ada orang yang melihat atau masuk mengikuti mereka. Di dalam sana, tersusun banyak sekali barang-barang lama: perabot kayu tua yang sudah rusak, peti-peti kayu besar, tumpukan kain usang, alat pertanian tua, dan benda-benda lain yang sudah tidak digunakan lagi selama bertahun-tahun. Semuanya tertutup lapisan debu tebal dan jaring laba-laba, tanda bahwa tempat ini benar-benar sudah lama tidak dijamah tangan manusia.

Lira mengamati sekeliling dengan hati-hati, rasa haru bercampur rasa penasaran memenuhi hatinya. Di tempat inilah ibunya dulu sering datang sendirian, di tempat inilah kemungkinan besar ibunya menyimpan benda paling berharga itu demi melindunginya dari orang jahat.

“Bu Sumi, Ibu dulu bilang ada ruang rahasia di sini, ada kotak besi tua yang terkunci. Di mana letaknya?” tanya Lira dengan suara berbisik, matanya memindai setiap sudut ruangan yang luas itu.

Bu Sumi mengarahkan cahaya senter ke arah bagian paling belakang gudang, di sana ada tumpukan peti-peti kayu besar yang disusun rapi hingga hampir mencapai langit-langit.

“Dulu Bu Ratih pernah menunjuk ke arah sana, Nona. Beliau bilang, di balik tumpukan peti besar itu ada dinding palsu, dan di belakangnya ada ruang kecil tersembunyi. Tapi kita harus memindahkan semua peti-peti berat ini dulu supaya bisa masuk ke sana,” jawab Bu Sumi.

Tanpa membuang waktu lagi, mereka berdua segera mulai bekerja. Meski tubuh Bu Sumi sudah tua dan Lira juga tidak terbiasa bekerja berat, mereka berusaha sekuat tenaga untuk mendorong, menarik, dan memindahkan peti-peti kayu besar yang berat itu satu per satu. Debu beterbangan ke mana-mana, membuat napas mereka sesak dan mata mereka perih, namun semangat dan harapan yang besar membuat mereka tidak merasa lelah atau mengeluh sedikit pun.

Setelah bekerja keras selama beberapa menit, akhirnya satu per satu peti besar itu berhasil dipindahkan ke sisi lain ruangan. Dan tepat seperti yang dikatakan ibunya dulu, di balik tumpukan itu, tampak jelas sebuah dinding kayu yang warnanya sedikit berbeda dengan dinding asli gudang, dan di tengahnya terlihat garis batas yang halus, menandakan bahwa itu memang dinding palsu yang bisa dibuka.

“Ini dia, Nona! Ini dia ruang rahasianya!” seru Bu Sumi dengan suara penuh kegembiraan dan harapan, matanya berbinar terang.

Lira segera melangkah mendekat, jantungnya berdebar kencang seolah mau melompat keluar dari dadanya. Ia meraba permukaan dinding kayu itu dengan tangan yang gemetar, mencari bagian yang bisa didorong atau ditarik. Saat tangannya menyentuh bagian tengah bawah dinding itu, ia merasakan ada tonjolan kecil yang tersembunyi di balik lapisan kayu kasar itu.

Dengan hati-hati, Lira menekan tonjolan itu sekuat tenaga.

Terdengar bunyi ‘klik’ pelan, dan dinding kayu itu perlahan bergerak sendiri, terbuka ke dalam seperti pintu biasa, menampakkan sebuah celah masuk yang cukup lebar untuk satu orang.

Di balik pintu rahasia itu, terdapat sebuah ruangan kecil yang ukurannya hanya sekitar dua kali dua meter. Ruangan itu jauh lebih bersih dan kering dibandingkan gudang luarnya, udaranya tidak terlalu lembap, seolah ada sirkulasi udara rahasia yang membuat tempat ini tetap terjaga kondisinya selama bertahun-tahun. Di tengah ruangan kecil itu, berdiri kokoh sebuah kotak besi besar berwarna hitam, permukaannya kasar dan penuh ukiran motif bunga yang indah namun sederhana. Kotak itu terlihat sangat kuat dan kokoh, tidak sedikit pun berkarat atau rusak meskipun sudah disimpan di sana puluhan tahun.

Itulah kotak besi yang dulu pernah diceritakan ibunya.

Lira dan Bu Sumi saling pandang dengan mata terbelalak kaget dan penuh harapan. Perlahan, mereka melangkah masuk ke ruangan kecil itu, aroma kayu wangi yang lembut tercium samar-samar di udara, aroma yang sangat dikenal oleh Lira—aroma parfum kesayangan ibunya dulu. Rasanya seolah-olah kehadiran ibunya masih terasa ada di sana, seolah ibunya sedang berdiri di samping mereka, tersenyum lembut dan menyemangati mereka.

Lira berlutut di depan kotak besi itu, matanya menatap ukiran di permukaannya dengan pandangan penuh rasa hormat dan rindu. Di bagian atas kotak itu, terukir jelas sebuah tulisan tangan yang halus dan indah, tulisan tangan ibunya:

“Untuk putriku tercinta, Lira Anindita. Buka kotak ini hanya jika bahaya sudah di depan mata, hanya jika kamu siap mengetahui seluruh kebenaran yang akan mengubah seluruh hidupmu. Ingatlah, kebenaran itu menyakitkan, namun kebenaran adalah satu-satunya jalan menuju kebebasan dan keadilan.”

Air mata perlahan menetes di pipi Lira saat membaca tulisan itu. Ternyata ibunya sudah mempersiapkan semuanya jauh sebelumnya, sudah memperkirakan semua bahaya dan kesulitan yang akan menimpa dirinya di masa depan, dan sudah meninggalkan petunjuk serta perlindungan untuknya.

Di bagian tengah kotak besi itu, terdapat lubang kunci berbentuk bulat kecil, ukurannya persis sama dengan ukuran lubang kunci di liontin kalung yang hilang itu.

“Benar, Nona! Kunci kotak ini adalah kalung liontin itu sendiri,” ucap Bu Sumi dengan suara bergetar karena emosi. “Kalung itu bukan hanya perhiasan biasa, bukan hanya tempat menyimpan surat bukti… tapi juga kunci pembuka harta karun dan rahasia terbesar keluarga kita.”

“Tapi Bu… Kalung itu kan dibawa pergi oleh Tuan Handoko, katanya dia menyimpannya di tempat rahasia di rumahnya. Bagaimana kita bisa membuka kotak ini kalau kuncinya ada di tangan musuh kita?” tanya Lira dengan nada bingung dan sedikit kecewa.

Namun Bu Sumi tersenyum misterius, lalu perlahan mengeluarkan sesuatu dari lehernya, sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik baju yang selalu ia kenakan setiap hari.

Itu adalah sebuah kalung sederhana berbahan perak tua, dengan sebuah liontin kecil yang bentuknya sama persis dengan kalung milik ibunya, hanya saja ukurannya sedikit lebih kecil dan tidak terlalu mencolok.

“Bu Sumi?! Itu… itu kalung apa?!” seru Lira kaget, matanya terbelalak menatap benda itu.

“Ini adalah kunci cadangan, Nona,” jawab Bu Sumi pelan, matanya berkaca-kaca. “Sebelum Bu Ratih meninggal, dua hari sebelum beliau sakit parah, beliau memanggilku diam-diam, memberikan kalung ini kepadaku, dan berkata: ‘Sumi, simpanlah kunci ini baik-baik. Kalau sampai nanti kalungku hilang atau diambil orang jahat, dan Lira membutuhkan isi kotak besi itu, berikan kunci ini padanya. Kalung ini bisa membuka kotak itu sama seperti kalung asliku. Tapi jangan berikan sebelum saatnya tiba, jangan berikan sebelum Lira benar-benar siap menghadapi kebenaran yang ada di dalam sana.’”

Lira terkejut luar biasa. Selama ini ia selalu mengira kunci itu sudah hilang selamanya bersama kalung milik ibunya, ternyata ada kunci cadangan yang sudah disiapkan khusus untuknya dan disimpan dengan aman oleh Bu Sumi selama bertahun-tahun tanpa diketahui siapa pun.

“Bu… Kenapa Bu tidak pernah bilang sama aku selama ini? Kenapa Bu menyembunyikan hal besar ini sendirian bertahun-tahun?” tanya Lira dengan suara gemetar, bercampur rasa kaget dan rasa haru.

“Karena aku harus menjaga rahasia ini, Nona. Bu Ratih berpesan agar aku diam saja sampai saat yang tepat tiba. Jika aku bilang padamu dulu, saat kamu masih muda, lemah, dan belum siap menghadapi bahaya, mungkin kamu akan ceroboh, atau informasi ini akan bocor dan sampai ke telinga orang jahat, lalu nyawamu akan berada dalam bahaya besar. Aku harus menanggung beban rahasia ini sendirian demi keselamatanmu, meskipun rasanya berat sekali,” jawab Bu Sumi dengan suara menangis pelan. “Maafkan aku ya, Nona… Aku terpaksa harus membohongimu selama ini demi kebaikanmu sendiri.”

Lira segera memeluk tubuh Bu Sumi dengan erat, menangis tersedu-sedu karena rasa terima kasih dan rasa sayang yang luar biasa besar.

“Tidak ada yang harus dimaafkan, Bu… Aku mengerti, aku paham… Aku berterima kasih kepada Bu seumur hidupku. Bu sudah menjadi orang tua kedua bagiku, Bu sudah melindungiku, menjagaku, dan menyelamatkanku berkali-kali. Aku tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikan Bu…”

Setelah momen haru itu berlalu, Bu Sumi melepaskan pelukan, lalu melepas kalung kunci itu dari lehernya, dan menyerahkannya kepada Lira dengan kedua tangan.

“Sekarang, Nak… Saatnya sudah tiba. Semua bahaya sudah datang, semua rahasia mulai terbuka, dan kamu sudah tumbuh menjadi wanita yang kuat, berani, dan bijaksana. Sekarang, kotak ini milikmu, isinya milikmu, dan kebenaran di dalamnya adalah milikmu untuk kau pegang dan kau gunakan dengan bijak.”

Lira menerima kalung kunci itu dengan perasaan yang sangat berat namun penuh rasa hormat. Ia mendekatkan kalung itu ke lubang kunci di kotak besi, lalu memasukkan ujung liontin itu perlahan ke dalam lubang kunci yang pas ukurannya.

Dengan napas tertahan, Lira memutar kunci itu satu kali ke kanan.

KLIK!

Suara kunci berputar terdengar jelas, dan tutup kotak besi itu perlahan terangkat sedikit sendiri, menandakan kotak itu sudah terbuka.

Jantung Lira berdebar kencang sekali. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia perlahan mengangkat tutup kotak besi itu sepenuhnya.

Di dalam kotak itu, tersimpan rapi beberapa benda penting: sebuah tumpukan dokumen tebal yang diikat dengan pita sutra merah, sebuah buku catatan kulit tua, sebuah amplop besar yang disegel rapi, sebuah peta usang yang digulung, dan di bagian paling atas, tergeletak kalung liontin asli milik ibunya yang selama lima tahun ini dianggap hilang atau dicuri orang!

Lira langsung meraih kalung itu dengan cepat, memegangnya erat di tangannya, air mata bahagia mengalir deras. Ternyata kalung itu tidak pernah dibawa pergi atau diambil oleh siapa pun, tidak pernah jatuh ke tangan Tuan Handoko sama sekali. Ibunya sudah menyimpannya di sini sejak lama, menyembunyikannya dari jangkauan tangan jahat orang itu, sehingga meskipun Tuan Handoko mencari ke seluruh penjuru rumah, ia tidak akan pernah menemukannya karena tidak ada yang tahu tempat rahasia ini.

“Kalungnya ada di sini… Ternyata benar, kalungnya aman selama ini…” gumam Lira dengan suara bahagia yang luar biasa.

Namun rasa bahagia itu segera berubah menjadi rasa penasaran yang besar. Mata Lira tertuju pada tumpukan dokumen dan benda-benda lain di dalam kotak itu. Ia segera mengambil tumpukan dokumen itu, membuka ikatan pitanya, dan mulai membaca isinya dengan cepat di bawah cahaya senter Bu Sumi.

Semakin lama ia membaca, semakin wajahnya berubah menjadi pucat, kaget, dan penuh rasa tidak percaya. Tangannya gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal, matanya melotot lebar seolah tidak percaya dengan apa yang sedang ia baca dan lihat.

Di sana, tertulis semua kebenaran yang jauh lebih besar, jauh lebih mengerikan, dan jauh lebih mengejutkan daripada yang pernah ia, Raga, atau siapa pun duga sebelumnya.

Di sana tertulis:

- Bahwa Tuan Handoko sebenarnya bukan sahabat sejati ayahnya, melainkan orang yang sengaja mendekati ayahnya puluhan tahun lalu dengan tujuan khusus untuk merebut kekayaan dan kekuasaan keluarga Ardiansyah.

- Bahwa rasa cinta yang ditolak bukan satu-satunya alasan, melainkan ada dendam masa lalu yang sudah berlangsung selama dua generasi, antara kakek Lira dan kakek Handoko, yang membuat rasa benci itu sudah tertanam sejak lahir di dalam darah mereka.

- Bahwa Tuan Handoko tidak hanya merencanakan pembunuhan ibunya saja, tetapi juga merencanakan pembunuhan ayahnya, dan bahkan merencanakan untuk membunuh Raga juga jika anaknya itu tidak mau menuruti keinginannya.

- Dan yang paling mengejutkan dari semuanya: Di dalam dokumen itu juga tertulis bukti sah bahwa sebagian besar kekayaan dan tanah yang selama ini dianggap milik sah keluarga Handoko, sebenarnya adalah milik asli keluarga Ardiansyah yang direbut dan diambil secara paksa serta curang puluhan tahun yang lalu. Artinya, Tuan Handoko bukan hanya penjahat dan pembunuh, tetapi juga orang yang hidup di atas harta hasil rampasan dan penipuan orang tuanya sendiri.

Namun yang membuat Lira paling terkejut dan terpukul adalah isi amplop besar yang disegel itu. Saat ia membukanya, di dalamnya terdapat surat tulisan tangan panjang dari ibunya, yang ditulis khusus untuk dibaca olehnya di saat ini.

Di sana tertulis baris kalimat yang membuat seluruh darah di tubuh Lira terasa membeku:

“Anakku sayang, ada satu rahasia terbesar yang harus kamu ketahui, rahasia yang paling berat dan paling sulit untuk kamu terima. Dengarkan baik-baik: Tuan Handoko bukan hanya musuh keluarga kita, bukan hanya pembunuh ibumu… Dia adalah saudara kandung ayahmu sendiri. Dia adalah paman kandungmu, Nak. Dia adalah saudara kembar kakekmu yang dulu terpisah dan saling bermusuhan, dan darahnya mengalir di darah ayahmu, juga mengalir di darahmu sendiri. Musuh terbesarmu itu ternyata masih satu darah, satu daging, satu keluarga dekat denganmu. Itulah sebabnya dia tahu semua kebiasaan, semua rahasia, dan semua kelemahan keluarga kita, karena dia bagian dari keluarga itu sendiri.”

Lira menjatuhkan surat itu dari tangannya, tubuhnya lemas seketika, ia hampir jatuh terduduk jika tidak segera ditahan oleh Bu Sumi. Dunia seolah runtuh di hadapannya. Semua rasa benci, rasa marah, rasa dendam yang selama ini ia simpan untuk melawan orang itu, ternyata ditujukan kepada orang yang masih satu darah dengannya, orang yang masih ada hubungan keluarga dekat dengannya. Fakta itu begitu mengerikan, begitu menyakitkan, begitu sulit untuk diterima oleh akal dan hatinya.

“Ya Tuhan… Tidak mungkin… Tidak mungkin hal itu benar…” gumam Lira dengan suara parau dan lemah, air mata kaget dan sakit hati mengalir deras di wajahnya. “Dia adalah paman kandungku… Orang yang ingin membunuhku, orang yang membunuh Ibu dan Ayahku sendiri… ternyata masih satu darah denganku…”

Bu Sumi juga membaca baris kalimat itu, dan wajahnya seketika berubah menjadi pucat pasi, mulutnya terbuka lebar karena kaget yang luar biasa. Ia juga tidak tahu apa-apa tentang rahasia masa lalu yang besar ini, ia juga baru mengetahuinya untuk pertama kalinya saat itu.

“Ya Allah… Jadi semua kejahatan ini, semua pertumpahan darah ini, semua dendam ini… sebenarnya adalah perselisihan keluarga yang sudah berlangsung turun-temurun…” gumam Bu Sumi dengan suara gemetar.

Namun di tengah rasa kaget dan rasa sakit hati yang luar biasa itu, Lira perlahan mengangkat kepalanya, matanya yang tadinya penuh rasa lemah dan putus asa, perlahan berubah kembali menjadi tajam, tegas, dan penuh keteguhan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ia menyadari satu hal penting: meskipun mereka masih satu darah, meskipun mereka masih satu keluarga, itu tidak berarti kejahatan yang dilakukan Tuan Handoko menjadi benar, menjadi bisa dimaafkan, atau menjadi tidak berdosa. Darah memang lebih kental dari air, tapi kejahatan tetaplah kejahatan, pembunuhan tetaplah pembunuhan, dan orang yang melakukannya tetap harus bertanggung jawab di hadapan hukum dan kebenaran, tidak peduli siapa pun asal-usul atau keluarganya.

Justru karena itu, tugasnya menjadi jauh lebih berat dan jauh lebih penting. Ia harus mengakhiri perselisihan dan dendam keluarga yang sudah berlangsung puluhan tahun ini, harus menghentikan lingkaran kejahatan yang terus berulang dari generasi ke generasi, dan harus membawa keadilan meskipun itu harus dilakukan terhadap anggota keluarganya sendiri.

Lira segera mengumpulkan kembali semua dokumen, surat, buku catatan, peta, dan kalung itu dengan cepat dan hati-hati, memasukkannya kembali ke dalam amplop dan tas kecil yang dibawanya. Semua benda ini adalah bukti mutlak, senjata terkuat, dan kunci utama untuk mengakhiri semuanya.

“Bu Sumi… Kita harus segera pergi dari sini, kembali ke sana,” kata Lira dengan suara yang tegas dan penuh kekuatan baru, meskipun matanya masih merah dan bengkak karena menangis. “Kita harus membawa bukti ini ke hadapan semua orang, ke hadapan hukum, dan membongkar semua kebenaran ini sampai ke akar-akarnya. Tidak peduli dia siapa, tidak peduli dia keluarga atau bukan, orang yang melakukan kejahatan harus menerima hukuman yang pantas. Dan kita akan mengakhiri dendam keluarga kejam ini selamanya, supaya tidak ada lagi korban yang jatuh di masa depan.”

Bu Sumi mengangguk dengan mata berkaca-kaca namun penuh rasa hormat dan bangga melihat perubahan sikap majikannya itu.

“Baik, Nona. Aku siap mendampingimu ke mana pun, melakukan apa pun bersamamu. Kamu benar, kebenaran dan keadilan tidak pandang bulu, tidak pandang darah dan keluarga. Kita akan berjuang sampai akhir.”

Namun tepat saat mereka hendak menutup kembali kotak besi itu dan bersiap keluar dari ruang rahasia itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berat dan cepat mendekat dari luar gudang, disusul suara pintu gudang utama yang didorong keras terbuka.

Suara kasar orang lelaki terdengar menggema masuk ke dalam:

“Cari ke seluruh sudut gudang ini! Pastikan mereka ada di sini atau tidak! Tuan Handoko sudah bilang pasti mereka bersembunyi di tempat tua ini!”

Darah Lira dan Bu Sumi seketika membeku. Jantung mereka berhenti berdetak sesaat. Mereka ketahuan! Orang-orang suruhan Tuan Handoko sudah menemukan tempat persembunyian mereka, dan sekarang mereka terperangkap di dalam ruang rahasia kecil ini, tidak ada jalan keluar lain, tidak ada tempat bersembunyi lagi!

Mereka saling pandang dengan wajah pucat dan ketakutan yang luar biasa. Di luar sana, suara langkah kaki semakin mendekat, suara benda-benda ditendang dan dipindahkan terdengar jelas, menandakan orang-orang itu sedang memeriksa setiap sudut gudang dengan teliti. Mereka tinggal beberapa langkah lagi dari tempat persembunyian Lira dan Bu Sumi.

Di saat yang sama, di halaman depan rumah, pertarungan masih berlangsung sengit, namun kekuatan Raga dan teman-temannya mulai menipis karena jumlah musuh yang jauh lebih banyak. Tuan Handoko tersenyum sinis penuh kemenangan, karena ia tahu dua hal sekaligus: pasukannya akan segera mengalahkan perlawanan Raga, dan orang-orangnya yang lain sudah berhasil melacak keberadaan Lira dan sedang menangkapnya di gudang belakang. Segera, semua yang ia inginkan akan menjadi miliknya, dan tidak ada lagi orang yang bisa menghalangi jalannya.

Namun di ruang rahasia itu, Lira memegang erat bukti kebenaran di tangannya, matanya menatap Bu Sumi dengan pandangan yang penuh tekad terakhir. Ia tahu situasinya sudah sangat genting, nyawa mereka berada di ujung tanduk, namun ia tidak akan menyerah, tidak akan membiarkan bukti ini jatuh ke tangan orang jahat itu. Ia akan melindungi kebenaran ini dengan nyawanya sendiri jika perlu.

Di tengah kegelapan dan bahaya yang semakin mendekat itu, takdir mereka sedang di ujung garis batas. Apakah mereka akan tertangkap dan semuanya akan hancur? Atau ada keajaiban yang akan datang menyelamatkan mereka tepat pada waktunya?

 

(Bersambung ke Episode 10)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!