Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Teguran Keras Umi Di Depan Para Santri
Teguran keras Umi di depan para santri menggelegar memecah keheningan pelataran tengah pondok pesantren sewaktu matahari pagi baru saja naik sepenggalah. Umi Kalsum yang ternyata sudah kembali dari rumah sakit dengan kursi roda besi berdiri dipapah oleh Sarah di hadapan ratusan pasang mata yang sedang bersiap mengikuti kajian kitab subuh. Gema suaranya yang parau namun sarat akan kekuasaan membuat barisan santriwati di selasar asrama putri mendadak menundukkan kepala sedalam dalamnya karena takut. Wajah wanita tua itu tampak menegang hebat memandangi Azzam yang baru saja melangkah memasuki gerbang setelah menempuh perjalanan dari kota.
"Apakah begini cara seorang ustaz muda memperlakukan marwah pondok ini dengan mengejar menantu durhaka yang jelas jelas menolak tunduk pada aturan surau?" pekik Umi Kalsum seraya menunjuk lurus pada wajah putra tunggalnya.
Azzam menghentikan langkah kaki tepat di tengah koridor paving block, membiarkan tumpukan dokumen kuno milik keluarga Hana yang berada di dalam tasnya tersimpan rapat. Sepasang matanya menatap sang ibunda dengan pancaran kekecewaan yang mendalam namun tetap menjaga kesantunan sikap sebagai seorang anak kandung yang saleh.
"Umi, masalah pernikahan saya adalah urusan domestik yang tidak sepatutnya diangkat menjadi konsumsi publik di hadapan seluruh santri yayasan ini," sahut Azzam dengan volume suara yang ditekan rendah.
"Urusan pernikahanmu sudah menjadi urusan yayasan semenjak istrimu berani menggugat cerai serta mengancam legalitas tanah wakaf leluhur kita," seru Umi Kalsum dengan napas yang memburu cepat.
"Tolong dengarkan penjelasan saya secara pribadi di dalam ruangan kantor utama dahulu, Umi, jangan memperluas fitnah yang tidak berdasar," pinta Azzam seraya melangkah mendekati kursi roda ibundanya.
Sikap tenang Azzam justru semakin menyulut kemarahan Umi Kalsum yang merasa wibawa spiritualnya sedang diuji di hadapan para pengikut setianya. Sarah yang berdiri di samping wanita tua itu tampak tersenyum kemenangan, melirik sinis ke arah Azzam seolah menegaskan bahwa posisi tawar keluarga kota sudah hancur lebur. Beberapa pengurus senior asrama mulai saling berbisik penuh kecemasan, merasakan adanya badai perpecahan keluarga yang siap meruntuhkan dinasti kepemimpinan pondok yang selama ini terlihat kokoh. Azzam menyadari bahwa dirinya sedang dikepung oleh opini sepihak yang sengaja digubah sedemikian rupa untuk menyingkirkan Hana sepenuhnya dari sejarah pesantren.
Sementara itu, di sebuah ruko berlantai dua yang terletak di kawasan niaga pusat kota, Hana sedang sibuk menata beberapa manekin kayu di dekat jendela kaca besar. Tempat usaha baru yang ia sewa bersama modal patungan dari pemilik butik terkemuka itu kini sudah mulai tampak rapi dengan plang nama yang tertulis anggun. Jemari lentik Hana bergerak cekatan menyampirkan selembar jilbab marun hasil rancangan perdananya yang memiliki potongan asimetris modern namun tetap menutup dada secara sempurna. Ketenangan batin yang ia temukan di ruang kerja baru ini menjadi pembuktian nyata bahwa kreativitas seorang wanita tidak boleh mati hanya karena penolakan mertua.
"Ruko ini terasa sangat luas dan memiliki pencahayaan yang sangat bagus untuk memamerkan koleksi gaun muslimah milikmu, Hana," puji sang pemilik butik yang baru saja datang membawa beberapa contoh kain.
Hana menoleh seraya mengulas senyuman hangat yang memancarkan aura ketegasan seorang wanita mandiri yang telah lepas dari belenggu intimidasi. "Semua ini berkat bantuan dan kepercayaan Ibu, saya berjanji akan menyelesaikan pesanan jubah gelombang pertama tepat waktu minggu depan."
"Fokuslah pada kualitas jahitanmu, Hana, biarkan urusan persidangan di pengadilan agama diselesaikan sepenuhnya oleh tim pengacara kita," sambung wanita pengusaha itu penuh dukungan.
Keberhasilan merintis usaha dari puing air mata masa lalu membuat Hana semakin yakin bahwa keputusan mengambil jalur gugatan khulu adalah skenario terbaik yang dituntun oleh langit. Ia tidak lagi memperdulikan bagaimana Umi Kalsum menggunakan pengaruh sosialnya di pesantren untuk mencoreng nama baik keluarganya dengan tuduhan menantu yang tidak beradab. Baginya, harga diri seorang wanita muslimah tidak ditentukan oleh tingkat kepatuhan buta pada sistem keluarga yang zalim, melainkan pada keteguhan menjaga syariat dalam kemandirian akhlak. Hana kembali memegang penggaris kain, menggoreskan kapur putih pada lembaran sutra dengan penuh konsentrasi tanpa ada lagi keraguan yang tersisa di dalam batinnya.
Kembali ke pelataran pesantren yang masih diliputi atmosfer ketegangan, Azzam akhirnya memilih membalikkan tubuh menghadap ratusan santri yang masih berdiri kaku menyaksikan perselisihan keluarga tersebut. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh kekuatan mentalnya untuk meluruskan distorsi informasi yang selama ini sengaja diembuskan oleh keluarga Sarah. Pandangan matanya yang teduh namun berwibawa seketika mengunci perhatian seluruh pengurus asrama yang berada di lokasi kejadian.
"Demi tuhan yang menguasai jiwa saya, Hana tidak pernah berniat merebut aset pondok ini, melainkan kamulah yang telah mengambil hak keluarganya, Sarah," tegas Azzam dengan suara bariton yang menggema di setiap sudut serambi.
Sarah tersentak mundur, wajahnya mendadak berubah pucat pasi laksana mayat ketika melihat Azzam mengeluarkan berkas kuno berstempel resmi dari dalam tasnya. "Ustaz Azzam, jangan memfitnah saya di depan para santri, saya hanya ingin melindungi dokumen milik Umi Kalsum."
"Dokumen yang kamu pegang kemarin adalah bukti sewa tanah palsu yang sengaja kalian susun untuk menipu ibu saya yang sedang sakit," potong Azzam seraya menunjukkan lembaran asli yang memuat tanda tangan almarhum nenek Hana.
Keberanian Azzam membongkar borok internal di depan publik pesantren laksana hantaman ombak besar yang meruntuhkan skenario suci milik keluarga Sarah dalam sekejap mata. Umi Kalsum terdiam seribu bahasa, memandangi lembaran kertas kuno yang sangat ia kenali polanya tersebut dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa syok yang luar biasa. Barisan santriwati mulai riuh berbisik, menyadari bahwa menantu yang selama ini mereka cap buruk ternyata adalah pemilik sah dari tanah tempat mereka menimba ilmu agama selama ini. Azzam melangkah mendekati ibundanya, meletakkan dokumen asli tersebut di atas pangkuan wanita tua itu dengan gerakan yang sangat takzim namun penuh ketegasan moral.
Matahari yang kian tinggi mulai memancarkan hawa panas yang membakar sisa kemunafikan di atas altar pelataran tengah pondok pesantren yang suci tersebut. Umi Kalsum memegangi dadanya yang kembali terasa sesak, memandangi Sarah dengan sorot mata yang berubah menjadi penuh kemarahan sekaligus kekecewaan yang teramat mendalam. Sandiwara kesalehan lahiriah yang selama ini dipamerkan oleh calon menantu impiannya ternyata hanyalah sebuah kedok busuk untuk menguasai manajemen finansial yayasan secara ilegal. Azzam menyandang kembali tas ranselnya, memandang ke arah gerbang utama dengan tekad yang sudah bulat untuk melepaskan seluruh ikatan kepengurusan yang mengikat kebebasan jiwanya.
"Umi, hari ini saya pamit pergi dari pesantren ini untuk menyelesaikan tanggung jawab saya sebagai seorang suami di hadapan hukum negara," ucap Azzam seraya membungkuk hormat.
"Azzam, jangan tinggalkan Umi bersama orang orang lancung ini, tolong pimpin kembali asrama putra," rintih Umi Kalsum dengan suara yang mulai melemah menahan rasa malu.
"Maafkan saya, Umi, biarkan saya belajar menjadi lelaki yang sesungguhnya di luar tembok pembatas surau ini," jawab Azzam tanpa menoleh lagi ke belakang.
Langkah kaki sang ustaz muda terasa sangat ringan saat berjalan melintasi gerbang utama pondok pesantren yang selama puluhan tahun menjadi penjara emosional bagi pertumbuhan batinnya. Ia memacu kendaraannya membelah jalur lintas provinsi dengan kecepatan tinggi, menuju pusat kota tempat Hana sedang membangun kerajaan bisnis kecilnya yang mandiri. Azzam sadar bahwa proses pemaafan dari keluarga Hana tidak akan mudah didapatkan hanya dengan membawa selembar dokumen kebenaran tanah wakaf yang terlambat diselamatkan. Namun, ia bertekad untuk terus berdiri di depan pintu rumah mertuanya, menghadapi segala bentuk penolakan hukum demi menebus setiap kelalaian tugasnya sebagai pelindung istri.
Ketika senja mulai memancarkan warna jingga yang redup di langit kota, kendaraan roda dua milik Azzam akhirnya berhenti tepat di depan ruko berlantai dua milik Hana. Dari balik kaca transparan, ia bisa melihat sosok Hana yang sedang tertawa lepas bersama beberapa karyawan wanita saat melipat kain gaun muslimah yang baru selesai dijahit. Pemandangan indah tersebut laksana tetesan air tawar yang menyiram gundulnya padang pasir di dalam rongga dada Azzam yang selama ini gersang akibat konflik rumah tangga. Ia turun dari kendaraan, merapikan letak jubah abu tuanya seraya melangkah ragu mendekati pintu masuk ruko dengan hati yang berdebar tidak keruan menahan gejolak rindu.
Hana yang sedang memegang tumpukan pakaian mendadak menghentikan aktivitasnya begitu menangkap siluet tubuh tinggi Azzam yang berdiri di ambang pintu masuk utama toko. Senyuman yang baru saja menghiasi wajah ayunya seketika memudar, digantikan oleh tatapan mata yang dingin dan penuh batasan jarak yang tegas laksana seorang asing. Suasana di dalam ruangan niaga yang semula hangat berubah menjadi kaku, menyisakan bunyi detak jarum jam dinding yang terasa kian nyaring memecah keheningan malam yang mulai turun. Hana melangkah lambat mendekati meja kasir, memberikan isyarat kepada para karyawannya untuk segera mengunci pintu samping ruko demi menjaga privasi komunikasi mereka.
"Jika Anda datang hanya untuk membawa titipan pesan dari Umi Kalsum, sebaiknya urungkan niat Anda karena tempat ini adalah wilayah privasi kerja saya," tegur Hana dengan nada suara yang sangat datar tanpa ekspresi.
Azzam menundukkan kepala, merasakan perih yang teramat dalam akibat perubahan sikap istrinya yang kini sudah menjelma menjadi sosok wanita modern yang berkarakter kuat.