Hari itu dimana aku salah memilih dan bersikeras walau orang tua ku melarang dan memperingatkan atas apa yang ku pilih.
aku hidup dengan status baru sebagai seorang istri, dimana aku harus selalu berusaha menutupi apa yang ku rasakan.
Hingga dimana hidup ku bagai di ujung jurang neraka yang menjelma di dalam bumi,
rasa ingin mengakhiri waktu untuk diriku sendiri.
sayang Tuhan masih baik mengirimkan perantara untuk hidup ku.
hari hari ku masih dengan segala pertanyaan hingga ayah ku datang ke rumah ku dengan seribu misteri jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra Badrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekhawatiran Mariam
Mereka pulang dengan tubuh lelah, pikiran masing masing memenuhi isi otak yang tidak tau harus mengatakan dengan kalimat apa, mereka memikirkan chandra.
"Kenapa keluarga nya tidak ada yang datang sebegitu lama nya, atau mungkin mereka tidak peduli lagi dengan masalah yang di buat nya tapi ia pun melakukan itu pasti ada sebab, mungkin dipaksa memberikan uang, memberikan kebutuhan ya seperti Kristi itu" begitu pikir nya bunga
Sementara revo berfikir "Kok bisa sampai di bully dalam sel apa lagi sampai jadi korban asusila seksual sesama jenis, selama ini itu anak kan sok jagoan selalu menantang, kok bisa kalah begitu aja"
Lalu Pak dayat berhenti di pinggir jalan terlalu penat isi kepala nya berfikir yang tidak seharus nya.
"den itu anak kalo ngak pakai alat bantu apa nanti mati?, nanti keluarga nya kalau ngak datang di kubur nya bagaimana mana penyakit nya banyak lagi"
Seketika pikiran dua muda yang berusaha memecahkan pikiran sendiri tersedak kaget dengan pertanyaan pak dayat.
"ya kali pak ngak ada keluarga nya satu pun yang datang nanti pasti pihak polisi datang kerumah salah satu keluarga nya lah"
"kasian ya non mana belom nikah udah menderita begitu, ya sudah kita jalan lagi pulang aja pusing bapak mikirin nya"
"Biar ngak pusing kita mampir di warung nasi Padang dulu pak, takut nya ada gempa lokal dari tiga kawasan"
Mereka belum sempat makan siang sejak tadi karena di kantin pun tidak selera memakan apapun yang ada di sana, fokus nya menunggu hasil laboratorium pemeriksaan kondisi chandra.
Ah... hati nya begitu lembut bagai kapas, sudah berkali kali di sakiti, di celakai masih aja begitu peduli. Ya sudah begitulah kira kira kan hati perempuan
"Yakin nih non makan nasi padang"
"iya bapak bunga laper udah gejala gempa lokal nih, nunggu sampe rumah yang ada bencana alam rubuh pertahanan ini"
"Hahaha bisa aja, oke deh berangkat"
Di sebrang yang jauh disana hati seorang ibu begitu gelisah tidak seperti biasa nya, pikiran nya terus mengembang untuk sang anak, tapi tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasan tenaga.
Ibu Chandra tidak bisa lagi berjalan dengan baik karena stroke ringan yang di derita nya pasca hasil sidang putusan anak anak nya, dengan alat bantu jalan tongkat besi, di titipkan oleh yayasan panti sosial.
Anak dan mantu yang tersisa tidak lagi sanggup menghidupi seorang ibu yang selalu berjuang untuk kehidupannya dan kebahagiaan anak anak nya.
Mariam dengan kegelisahan nya tidak tau mau bercerita kepada siapa, "kenapa anak anak ku begitu tega menelantarkan ku di tempat ini, bahkan rumah yang ku miliki tempat tua ku beristirahat tidak bisa lagi ku nikmati"
Menatap kosong duduk di bangku pelataran panti wajah sedih yang mendalam, hari hari Mariam hanya berteman dengan sesama para lansia yang sama di telantarkan oleh keluarga nya dan ada lansia yang di ambil dari tempat tidak layak oleh dinas sosial.
Seorang pekerja yang selalu menemani dan mengecek satu persatu para lansia duduk di samping mariam, begitu lembut menyapa nya.
"Kenapa ibu duduk di luar sampai sore nanti capek duduk terus, masuk aja yuk jangan sedih wajah nya ya"
Mariam menoleh tidak ada senyum seperti biasa "Saya masih mau duduk disini mbak, menunggu anak saya datang"
"Masuk aja yuk bu, nanti masuk angin lama duduk di luar, tunggu di dalam aja cuaca begitu dingin sore ini mau turun hujan"
"Hati saya gelisah ingat anak laki-laki terakhir mbak, boleh saya minta tolong mbak?"
"Apa yang bisa saya bantu untuk ibu?"
"Tolong mbak cari tau kabar anak saya tolong mbak"
Pekerja itu berfikir sejenak bagaimana cara mendapatkan informasi sementara tidak tau harus mencari tau kemana.
"Tapi ibu masuk dulu ya, nanti saya coba cari tau dimana anak ibu Mariam"
Mariam mengikuti apa yang di katakan pekerja panti yang berusaha membujuk nya begitu lama, sementara Mariam sendiri pun sudah melemah ingatan nya, hanya segelintir ingatan yang masih di mudah di ingat nya.
Kasih ibu sepanjang masa dalam susah mau pun senang, tidak mudah seorang ibu melupakan anak anak nya walau anak anak nya sering melupakan sosok seorang ibu yang selalu berjuang untuk mereka.
Wanita paruh baya itu duduk kembali di ruang tengah panti tempat dimana para lansia berkumpul dengan kegiatan nya ada yang penjahit, membaca, menyulam dan kegiatan lain nya.
Dada nya begitu sesak mengingat chandra hampir satu tahun setengah tidak ia kunjungi di dalam sel, karena kakak dan abang nya mengirim mariam ke dalam panti.
"Nak, apa kabar kamu disana" mariam bermonolog sendiri di dalam hati nya, bukan sebuah rindu lagi yang di mengisi hati nya, tapi kekhawatiran yang mendalam secara tiba tiba terbayang wajar chandra yang sedih dan menahan sakit.
Mariam mengingat kemana anak anak nya terakhir bertemu dengan nya, tapi tidak ada yang tersangkut pada ingatan nya.
Wanita paruh baya itu masuk ke dalam kamar nya meringkuk memeluk guling yang selalu menemani nya, tidak ada gairah kehidupan.
Ruh chandra berjalan entah kemana mana tidak tau tujuan, mencari tapi tidak tau mau mencari apa dengan hati marah meruntuk pada keluarga yang mengabaikan diri nya begitu saja.
Berdiam di bawah pohon besar yang rindang menyandarkan tubuhkan di batang pohon besar, memori sesekali mengingat sang ibu yang selalu membela nya salah atau benar perbuatan nya sendiri.
Tetap kalah dengan emosi dan dendam yang selalu di bawa nya, berteriak teriak memanggil satu persatu keluarga nya yang di ingat.
Bahkan selintas ingatan nya mengingat gadis itu masa indah yang gadis itu berikan sesama bersama dahulu, waktu yang singkat tapi semua hilang begitu saja gelap mata karena egois nya mengubah cinta menjadi memanfaatkan.
"Agghhhh aku harus mencari bunga, dia pasti menunggu ku, gadis bodoh itu selalu memberi apapun yang aku minta" ruh nya hanya mengingat kejadian itu, tidak mengingat diri nya mendapat hukuman di sepadan dengan perlakuan diri nya.
Dengan semangat berdiri dari singgah nya berjalan terus tidak tau arah mana yang harus dilewati, memang ruh nya tersesat di dimensi lain, jiwa nya yang jahat membuat nya terbuang terbawa angin panas.
Gadis itu merasa diri nya seperti di panggil tapi entah siapa yang memanggil, sesekali keluar dan mencari sumber suara yang memanggil nya, tidak menemukan apapun hanya halaman kosong yang di lihat nya tidak ada orang lain disana.
"Bunga .... Bunga.... Sayang ..... Dimana kamu sayang"
Suara itu memekak telinga nya, gadis itu tidak ambil pusing "mungkin aku hanya berhalusinasi setelah melihat penderitaan dia"
Gadis itu berlalu masuk duduk melihat gadis kecil dirumah nya sedang belajar dengan giat, bibir nya mengulas senyum bangga melihat nia begitu giat dalam belajar.
Ruh chandra terus berjalan berteriak memanggil gadis yang sudah di sakiti nya, seperti orang gila yang bingung arah sesuka hati berjalan.
Runggu nya mendengar suara mariam menyerukan nama nya, tapi sama seperti bunga tidak mendapati asal suara itu "Chandra...." suara nya begitu sesak di iringi tangis sendu.
Ya Mariam menanggis memeluk guling nya berkali kali menyuarakan nama sang anak, dari banyak anak nya hanya chandra yang di panggil nya hati nya tidak bisa berbohong begitu khawatir.