"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.
Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.
Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10 Pagi Yang Berbeda
Matahari pagi bersinar terang, menyelinap masuk melalui celah gorden kamar tidur utama. Suasana di dalam kamar terasa hangat dan damai, sangat berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya yang selalu diisi dengan kecanggungan dan ketegangan.
Kirana membuka matanya perlahan. Ia merasa sangat nyenyak dan segar. Tubuhnya terasa ringan, dan hatinya... oh, betapa bahagianya hatinya saat ini.
Ia menoleh ke samping.
Arga sudah bangun. Pria itu duduk bersandar di kepala ranjang, memejamkan mata seolah sedang menikmati kedamaian pagi atau mungkin sedang berdoa. Sinar matahari pagi menyinari separuh wajahnya, memperlihatkan garis rahang yang tegas dan bulu mata yang panjang. Tanpa kacamata dan tanpa ekspresi serius, wajah Arga terlihat sangat tampan dan damai.
Melihat suaminya yang sedang tenang seperti itu, Kirana tersenyum sendiri. Ia teringat kembali janji manis yang diucapkan Arga semalam di bawah sinar bulan. 'Kita bangun keluarga yang sesungguhnya.' Kalimat itu terus berputar di kepalanya bagaikan lagu indah.
Perlahan, Kirana bergerak ingin bangun, tidak ingin mengganggu ketenangan Arga. Namun baru saja ia menggerakkan tangan, sebuah tangan besar langsung menangkap pergelangan tangannya.
"Mau ke mana?" tanya Arga tanpa membuka mata, suaranya terdengar berat dan serak khas orang baru bangun tidur.
Kirana tersentak kecil. "Eh... kamu sudah bangun? Aku mau mandi terus siap-siap sarapan."
Arga membuka matanya, menatap Kirana dengan tatapan yang sangat lembut dan mengantuk. Tatapan itu membuat jantung Kirana berdegup kencang seperti pertama kali bertemu.
"Belum ada jam segini. Teman aku di sini sebentar lagi," ucap Arga, lalu ia menarik tangan Kirana, meminta wanita itu untuk mendekat dan kembali berbaring.
Kirana salah tingkah. Wajahnya memerah. "Tapi... nanti kesiangan lho."
"Bodo amat soal jam. Hari ini aku libur sebentar. Aku mau nikmati waktu sama kamu," jawab Arga santai, lalu ia melingkarkan lengannya di pinggang ramping itu, menarik tubuh Kirana hingga berada tepat di sampingnya, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
Kirana menahan napas. Jantungnya seakan mau meledak. Ini terlalu cepat. Perubahan sikap Arga begitu drastis namun begitu manis. Rasanya seperti bermimpi indah yang tidak ingin ia bangunkan.
"Kamu... serius mau ubah semuanya kan?" tanya Kirana pelan, matanya menatap nanar ke bola mata hitam itu, masih sedikit ragu apakah ini nyata atau hanya ilusi semalam.
Arga tersenyum tipis, lalu dengan lembut ia mengusap kepala dan kerudung wanita itu.
"Serius sekali. Aku janji, Kirana. Mulai hari ini, tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi topeng dingin. Kita mulai lembaran baru," jawab Arga tegas. "Tapi ingat, kalau aku mulai berubah jadi galak atau dingin lagi nanti... ingatkan aku ya. Cubit atau pukul saja aku, nanti aku akan sadar sendiri."
Kirana terkekeh pelan mendengarnya. Suasana menjadi begitu ringan dan bahagia. "Iya, nanti aku cubit kuat-kuat."
"Silakan saja, Nyonya Wijaya. Terserah kamu mau apa sama aku sekarang," jawab Arga dengan nada menggoda yang membuat wajah Kirana semakin merah.
Mereka menghabiskan waktu sekitar setengah jam lebih hanya dengan berbaring berdekatan, sesekali mengobrol santai tentang hal-hal sepele, tertawa kecil, dan menikmati kebersamaan yang selama ini sangat jarang mereka rasakan. Arga ternyata punya selera humor yang baik saat ia sedang santai, dan Kirana pun menjadi lebih berani untuk bercanda.
Hingga akhirnya, perut Kirana berbunyi nyaring meminta diisi.
Prutt...
Keduanya terdiam, lalu tertawa lepas bersama.
"Lapar kan? Ayo kita turun. Pasti Bi Sumi sudah siapin sarapan," kata Arga sambil turun dari ranjang, lalu mengulurkan tangannya membantu Kirana turun dengan sangat gentleman.
Saat mereka berjalan turun dari tangga menuju ruang makan, Bi Sumi yang sedang mengatur meja terlihat terbelalak kaget. Mulutnya hampir ternganga melihat pemandangan di hadapannya.
Tuan Arga dan Nyonya Kirana sedang berjalan berdampingan. Dan yang paling membuat Bi Sumi tidak percaya... tangan kiri Arga terlihat melingkar santai di pinggang istrinya! Wajah mereka berdua cerah, penuh senyum, dan terlihat sangat bahagia.
"Pagi, Bi Sumi!" sapa Arga ceria, sangat berbeda dari biasanya yang hanya lewat begitu saja.
"Pagi, Tuan... Pagi, Non..." jawab Bi Sumi terbata-bata, matanya melirik ke arah tangan Tuan Arga yang ada di pinggang Non Kirana berulang kali. "Sarapan sudah siap, Tuan."
"Makasih, Bi. Ayo, Ran," ajak Arga, lalu menarik kursi untuk Kirana duduk dengan sangat sopan, layaknya seorang ksatria.
Kirana duduk dengan wajah berseri-seri. Ia merasa seperti seorang putri raja.
Sarapan pagi itu benar-benar terasa berbeda. Tidak ada koran, tidak ada HP, tidak ada keheningan mencekam. Hanya ada obrolan ringan dan tawa. Arga bahkan dengan sukarela mengambilkan roti dan mengoleskan selai untuk Kirana.
"Makan yang banyak ya. Kamu harus sehat," ucap Arga sambil mendorong piring buah potong ke arah Kirana.
"Iya, kamu juga," jawab Kirana lembut.
Di sudut ruangan, Bi Sumi menyeka air mata haru. Ia sudah bekerja bertahun-tahun melayani Tuan Arga yang dingin dan penyendiri. Melihat perubahan drastis ini, melihat rumah yang tadinya sepi dan kaku kini dipenuhi aura bahagia, membuat hati pembantu setia itu sangat terharu.
Setelah sarapan, Arga tidak langsung pergi ke ruang kerjanya. Ia justru duduk di sofa dan memanggil Kirana.
"Kirana, sini dong. Duduk sini."
Kirana menghampiri dengan bingung. "Kenapa?"
"Aku mau ngobrol. Atau... kamu mau nonton film? Atau kita main game? Apa saja deh yang penting sama kamu," kata Arga santai, lalu menarik tangan Kirana agar duduk di sebelahnya.
Kirana tertawa kecil. "Kamu ini kenapa jadi lengket banget sih pagi ini? Biasanya kan cuek bebek."
"Dulu itu dulu, sekarang sekarang. Kan aku lagi masa percobaan jadi suami baik," jawab Arga sambil tersenyum jail. "Lagipula, istriku kan cantik dan enak dilihat. Kenapa harus aku cuekin?"
Wajah Kirana memerah padam. Ia memukul pelan lengan Arga. "Ih, mulut kamu bisa saja manisnya!"
"Manis kan? Coba cicipi gimana..." bisik Arga tiba-tiba, wajahnya mendekat perlahan ke arah wajah Kirana.
Mata Kirana membelalak. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. Wajah tampan itu semakin dekat, aroma parfum khas Arga memenuhi indra penciumannya.
"Ar... Arga..." bisiknya terbata-bata, memejamkan mata secara refleks.
Arga melihat reaksi istrinya yang begitu polos dan menggemaskan itu. Ia tersenyum lebar, lalu justru mencubit pelan pipi montok itu.
"Gombal doang. Masa iya aku cium kamu seenaknya di ruang tamu? Nanti dilihatin Bi Sumi," goda Arga lalu tertawa lepas melihat wajah Kirana yang kecewa bercampur malu.
"Dasar jahil!" Kirana memukul lengan Arga berkali-kali, sementara Arga hanya tertawa lebar menikmati godaan itu.
Hari itu berlalu dengan sangat indah. Mereka menghabiskan waktu bersama seolah sedang bulan madu. Arga mengajak Kirana berenang di kolam renang belakang rumah, lalu mereka makan siang bersama di teras dengan pemandangan taman yang indah.
Arga banyak bercerita tentang kegiatannya di kantor, tentang proyek-proyek yang sedang ia kerjakan, dan tentang cita-citanya. Kirana pun mendengarkan dengan antusias, sesekali memberikan tanggapan atau ide yang ternyata cukup cerdas dan membuat Arga terkejut. Wanita ini tidak hanya cantik dan lembut, tapi juga punya pemikiran yang luas dan bijaksana.
Sore harinya, saat mereka duduk bersantai di taman, Arga tiba-tiba memegang tangan Kirana dengan serius.
"Kirana..."
"Ya?"
"Aku mau minta maaf sekali lagi soal Natasha dan soal sikapku yang dulu," ucap Arga pelan. "Aku janji akan berusaha jadi yang terbaik buat kamu. Tapi aku juga mau minta satu hal sama kamu."
"Apa itu?"
"Jangan pernah ragu sama perasaanku. Dan jangan pernah tutup hati buat aku. Kita harus saling jujur, apa pun yang terjadi. Oke?"
Kirana mengangguk mantap, lalu tersenyum lebar. "Oke, suamiku. Aku janji."
Arga tersenyum lega, lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya. Kali ini bukan untuk menggoda. Tatapannya serius dan lembut.
"Malam ini... tidur sama aku ya di sini. Di kamar utama. Jangan pisah-pisah lagi. Aku kangen," bisiknya memelas.
Wajah Kirana memanas, tapi kali ini ia tidak menunduk atau lari. Ia menatap mata Arga dalam-dalam, lalu mengangguk kecil.
"Iya... aku mau."
Mendengar jawaban itu, senyum lebar kembali terukir di wajah Arga. Ia merasa menjadi pria paling beruntung di dunia saat ini. Pernikahan yang tidak diinginkan itu ternyata membawa ia pada kebahagiaan yang selama ini ia cari kemana-mana namun tak pernah ia temukan.
Dan perjalanan manis mereka, baru saja dimulai dengan sejuta harapan.