Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1: Pengantin Pengganti yang Terbuang
Gaun pengantin berwarna putih gading itu terasa mencekik leher Araya. Di hadapan cermin besar, ia menatap pantulan dirinya—seorang wanita yang tampak pucat namun mempesona. Tidak ada binar bahagia. Baginya, pernikahan ini bukan awal hidup baru, melainkan hukuman mati yang ditunda.
"Jangan memasang wajah menyedihkan begitu, Araya! Kau seharusnya sujud syukur karena Keluarga Lin masih mau memberimu tempat tinggal!"
Suara melengking Siska, ibu tirinya, memecah kesunyian. Ia melangkah masuk dengan gaun merah mencolok yang tampak kontras dengan suasana hati Araya. Di belakangnya, Clara—kakak tirinya—bersedekap dengan senyum meremehkan.
"Benar kata Ibu," kekeh Clara. "Lagi pula, kau sangat cocok dengan Tuan Muda Arkanza. Kau anak haram yang tak diinginkan, dan dia pria cacat yang temperamental. Pasangan sampah yang sangat serasi, bukan?"
Araya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia meremas ujung gaunnya, membiarkan tubuhnya sedikit gemetar. Di mata mereka, ia adalah kelinci kecil yang ketakutan.
‘Teruslah bicara, Clara. Nikmati saat-saat terakhirmu merasa menang sebelum aku menghancurkan seluruh aset keluargamu,’ batin Araya dingin.
"Baik, Bibi... Aku akan menurut. Tapi tolong, pastikan operasi nenekku tetap berjalan," ucap Araya dengan nada parau yang ia buat sesedih mungkin.
Siska mendengus puas. "Tentu. Selama kau tutup mulut dan tidak mempermalukan kami di kediaman Aditama, nenekmu akan selamat."
Beberapa jam kemudian, Araya sudah berada di mansion mewah keluarga Aditama. Tidak ada pesta. Tidak ada tamu. Hanya kesunyian mencekam yang menyambutnya. Ia ditinggalkan di sebuah kamar utama yang luas, bernuansa maskulin dengan dominasi warna hitam dan abu-abu.
Begitu pintu jati itu tertutup rapat dan langkah pelayan menghilang, punggung Araya yang tadinya membungkuk langsung tegak. Wajah lugunya berganti menjadi ekspresi datar yang tajam.
Ia mengangkat gaun pengantinnya yang berat, merogoh saku rahasia di balik lapisan kain, dan mengeluarkan sebuah ponsel tipis hitam legam. Jarinya menari dengan kecepatan luar biasa di atas layar.
[Sistem Keamanan Aditama Group ditembus. Mengunduh data privasi...]
"Rumor bilang Arkanza Aditama adalah monster yang sulit ditembus. Ternyata sistem keamanannya tak lebih dari sekadar mainan anak TK," gumam Araya dengan seringai tipis.
Ceklek.
Suara gagang pintu diputar. Jantung Araya berdesir, tapi jemarinya bergerak lebih cepat. Ponsel itu menghilang ke balik gaun dalam sekejap. Ia langsung duduk bersimpuh di lantai, menunduk, dan memasang kembali topeng "gadis lemah"-nya.
Ia menunggu suara roda kursi roda atau ketukan tongkat yang menyeret di lantai. Namun, yang ia dengar justru langkah kaki yang mantap. Berat, penuh wibawa, dan... sangat sehat.
Sepatu kulit hitam yang mengkilap berhenti tepat beberapa senti di depan lututnya.
"Jadi, kau pengantin pengganti yang dikirim keluarga Lin?"
Suara bariton itu rendah, serak, dan sangat dingin. Araya perlahan mengangkat wajahnya. Napasnya seakan tersangkut di tenggorokan.
Berdiri menjulang di hadapannya adalah seorang pria dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan aura dominan yang menyesakkan napas. Wajahnya bak pahatan dewa, namun matanya setajam elang yang siap memangsa.
Pria ini tidak lumpuh. Dia tidak cacat.
"K-kau... bisa berdiri?" bisik Araya, setengah akting, setengah benar-benar syok.
Arkanza mencondongkan tubuhnya, mencengkeram dagu Araya dengan tangan besarnya yang hangat namun mengancam. Ia memaksa Araya menatap langsung ke dalam kegelapan matanya.
"Sepertinya," bisik Arkanza tepat di depan bibirnya, "istri kecilku akan menemukan banyak kejutan malam ini."