"Papa tidak setuju!"
Terdengar suara tinggi Dion setelah mendengar keinginan anaknya, yang ingin menikah dengan pria yang berjarak 13 tahun dari sang putri.
"Aku ngga mau nikah, kalau bukan sama Om Alvin!" Sisil bersikeras.
"Tidak bisa!" tegas Dion. "Kamu itu masih muda, cantik, pintar. Jangan rendahkan diri kamu dengan menjadi PELAKOR!!"
***
Ingat, jangan nabung bab!
Follow IG : ichageul9563
Facebook : Khairunnisa (Ichageul)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawa yang Kembali
Sontak Anyelir terbangun dari berbaringnya. Wanita itu segera turun dari sofa, kemudian membereskan barang-barangnya. Tentu saja Sandi dibuat terkejut melihat tingkah Anyelir.
“Nye … kamu kenapa?”
“Sisil lagi di jalan. Sebentar lagi dia sampai di rumah. Aku harus pulang sekarang.”
“Ck … kamu kan janji mau nginap di sini malam ini.”
“Maaf San, aku ngga bisa. Sisil mau datang!” Anyelir kembali mengulangi kata-katanya barusan tentang Sisil.
“Sisil … dia siapa sih?”
“Nanti aku jelasin. Sekarang aku pulang dulu.”
Anyelir menyambar tasnya di meja. Dia mendekati Sandi lebih dulu. Keduanya berciuman sebentar, sebelum akhirnya Anyelir keluar dari unit apartemen tersebut.
Lagi-lagi Sandi dibuat dongkol. Padahal dia sudah senang saat Anyelir mengatakan akan menginap malam ini.
Saat berada di lift, Anyelir segera memesan taksi online. Dia harus segera tiba di rumah sebelum Sisil datang. Perkiraannya, Sisil masih dalam perjalanan.
Dari stasiun Gambir ke rumahnya berjarak setengah jam kalau jalanan lancar. Semoga saja macet, jadi dia bisa tiba lebih dulu.
Begitu sampai di lobi, taksi yang dipesannya sudah tiba. Dengan terburu dia menaiki mobil dan tak lupa meminta supir memasukkan kopernya ke bagasi. Perlahan kendaraan roda empat itu mulai meninggalkan pelataran gedung apartemen.
Baru lima belas menit berjalan, taksi yang ditumpangi Anyelir tidak bisa bergerak. Jalanan yang dilalui macet total. Anyelir semakin resah. Kakinya terus bergerak dan kepalanya terus melihat ke jendela samping.
“Ini macet kenapa sih, Pak? Ngga biasanya macet kaya gini.”
“Ngga tahu, Bu.”
Karena penasaran, sang supir membuka kaca jendela. Dia langsung bertanya ketika ada pedagang asongan yang melintas.
“Macet kenapa ya, Mas?”
“Ada kecelakaan di depan, Pak.”
“Mobil apa motor?”
“Mobil sama bus. Kecelakaannya parah, Pak. Kepala supir sama kernetnya sampai misah,” ujar pedagang asongan itu dengan santai, kemudian berlalu pergi.
“Ada kecelakaan, Bu. katanya kecelakaan parah. Kepala supir sama kernetnya sampai misah katanya,” ulang sang supir sambil melihat pada Anyelir dari kaca spion tengah.
“Ya pasti misah kepala supir sama kernetnya. Kalau nyatu, namanya kembar siam,” kesal Anyelir sambil mendengus kesal.
“Oh iya,” sang supir menepuk keningnya. “Asem tuh orang, ngerjain aja,” rutuknya setelah sadar dikerjai pedagang asongan tadi.
Anyelir hanya bisa pasrah, duduk menyandarkan punggung ke sandaran jok sambil melipat kedua tangannya. Yang diharapkan Sisil yang terkena macet, kenapa jadi dirinya yang terjebak dalam kemacetan.
***
Sisil baru saja turun dari kereta cepat yang ditumpanginya. Gadis itu segera turun menggunakan eskalator sambil menggeret kopernya.
Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri sesampainya di bawah, mencari sosok Alvin yang berjanji akan menjemputnya.
“Sil!” terdengar suara Alvin memanggilnya.
Senyum di wajah Sisil merekah ketika melihat seorang pria tampan yang usianya genap 33 tahun pada tahun ini mendekatinya. Walau sudah tiga puluh tahun lebih, namun Alvin tetap tampan dan mempesona.
“Om udah lama nunggunya?” tanya Sisil ketika Alvin mendekat.
“Sekitar sepuluh menitan.”
“Maaf ya, Om,” Sisil menangkupkan kedua tangannya.
“Ngga apa-apa. Emang Om aja yang sampai lebih cepat.”
“Takut telat jemput ya, Om.”
“Huum … nanti kalau telat jemput, terus kamu digondol penculik gimana?”
“Ish … siapa juga orang yang mau nyulik aku? Aku tuh makannya banyak tahu. Bisa-bisa mereka bangkrut kalau nyulik aku.”
“Hahaha ….”
Alvin tak bisa menahan tawanya. Ada saja celotehan yang keluar dari gadis ini. Dan itu malah membuat hidupnya lebih berwarna.
Dengan sigap Alvin memasukkan koper ke bagasi, kemudian membukakan pintu bagian depan untuk Sisil.
“Silakan masuk, princess.”
“Terima kasih, Om ganteng.”
Sebuah usakan di kepala diberikan Alvin. Pria itu kemudian memutari bodi mobil lalu masuk dan duduk di belakang kemudi. Kendaraan roda empat itu segera melaju dengan kecepatan sedang.
“Tante Anye sudah pulang dari Medan, Om?”
“Kok kamu tahu kalau Tante Anye lagi di Medan?”
“Dari Tante Chelsa. Terus aku juga dengar pas Papa ngobrol sama pimpinan Blue Mart di Jakarta, kalau staf keuangan yang dikirim ke Medan sudah kembali pagi tadi.
Emangnya Tante Anye belum sampai? Sekarang kan sudah jam … lima,” Sisil melihat jam di pergelangan tangannya.
Alvin langsung terdiam. Tadi pagi Anyelir mengatakan kalau mereka masih harus tinggal satu hari lagi di Medan untuk penyelesaian akhir. Kemungkinan mereka baru akan kembali ke Jakarta lusa sore.
Apa Anye berbohong?
Atau Sisil yang salah mendengar informasi?
Seketika perasaan Alvin langsung tak enak. Sesampainya di rumah nanti, dia akan langsung menghubungi Anyelir. Ingin memastikan apa informasi yang didapatnya dari Sisil akurat.
Karena perjalanan terbilang lancar, mereka pun bisa sampai di rumah tepat waktu. Alvin membawakan koper Sisil ke kamar tamu. Bi Dian sudah membersihkan kamar serta mengganti seprainya.
“Gimana dengan kamarnya? Ada yang mau ditambah ngga?”
“Ngga, Om. Udah pas kok ini. Makasih ya. Om tahu aja aku suka warna biru muda,” ujar Sisil sambil melihat seprai yang terpasang di kasur.
“Om masih ingat semua kesukaanmu.”
“Masa? Coba … aku paling senang nonton film apa?”
“Action atau horror.”
“Aku paling suka minum apa?”
“Minuman yang ada coklatnya. Kalau kopi, kamu paling suka mochachino.”
Sisil terus menanyakan pertanyaan dan semuanya bisa dijawab dengan benar oleh Alvin. Gadis itu cukup terkejut karena sampai sekarang Alvin masih mengingat apa yang disukai dan tidak disukainya.
“Pertanyaan terakhir … aku paling suka makan apa?”
“Kamu kan pemakan segala, jadi apa aja masuk. Perut karung, hahaha ….”
“Om Alviiiiiinnn!!!”
“Hahaha ….”
Dari luar kamar, Dian bisa mendengar tawa Alvin. Sejak menikah dengan Anyelir, belum pernah dia mendengar Alvin tertawa selepas ini.
Terima kasih, Ya Allah. Sepertinya kedatangan Non Sisil membawa keceriaan lagi di rumah ini.
“Om, Sisil lapar. Makan yuk, Bi Dian masak apa?”
“Ayo, Bi Dian masak empal gentong. Kamu suka kan empal gentong?” tanya Alvin seraya merangkul bahu Sisil kemudian mengajaknya keluar kamar.
“Suka dong.”
Keduanya segera menuju ruang makan. Mereka berpapasan dengan Bi Dian yang ada di ruang tengah. “Bi … tolong siapkan makan,” ujar Alvin.
“Baik, Mas Alvin.”
Bergegas Bi Dian menuju dapur. Wanita itu memindahkan dulu empal gentong ke dalam mangkok, kemudian membawanya ke meja makan. Tak lupa pula menyiapkan lauk lain, termasuk nasi.
Baru saja Alvin menarik kursi, telinganya mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Pria itu bergegas keluar. Dari balik kaca jendela, Alvin bisa melihat Anyelir turun dari mobil. Dia langsung membuka pintu rumah.
“Bukannya kamu bilang baru besok bisa kembali ke Jakarta?” sembur Alvin tiba-tiba. Kepulangan Anyelir malam ini membuktikan kalau apa yang dikatakan Sisil benar.
Pertanyaannya … ke mana saja dia kalau pulang dari Medan pagi hari?
***
Nah loh
yg penting nti di Ending om Alvin ttp sma sisil🤭