Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26--Tangan Dewa Kredit auto acc
"Sini biar saya yang urus, Pak. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya," ucap Naufal dengan suara berat dan penuh percaya diri. Kharisma 15 miliknya bekerja secara otomatis, membuat Pak Bambang yang tadi meledak-ledak tiba-tiba terdiam dan seolah terhipnotis oleh ketenangan Naufal.
Naufal tidak melakukan refresh biasa. Dengan pemahaman dari sistem, dan keberuntungan tingkat tinggi, jarinya bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata awam. Ia masuk ke root sistem aplikasi, membersihkan sampah data yang menyumbat jalur sinkronisasi, dan mengubah parameter kompresi gambar secara manual.
"Pak Bambang, boleh saya ambil foto ulang sebentar? Tadi ada bias lampu di sudut KTP Bapak yang bikin sistem pusat bingung," pinta Naufal halus.
Pak Bambang menyerahkan KTP-nya tanpa membantah. Naufal mengambil foto dengan sudut presisi yang sudah dihitung oleh sistem. Begitu jempolnya menekan tombol *Submit*...
[Processing...]
[1%... 50%... 100%!]
[Ding! Digital Bypass Berhasil!]
Layar tablet yang tadinya berputar tanpa henti seketika berubah menjadi hijau cerah. Tulisan APPROVED"muncul dengan limit maksimal sebesar 15 juta rupiah.
"Lho? Sudah tembus?!" Rengga melongo, matanya hampir keluar dari tempatnya. "Gila! Gue tadi nyoba setengah jam nggak gerak, lo cuma pegang semenit langsung *deal*?!"
Siska pun ikut menutup mulut karena tidak percaya. "Fal... lo beneran punya tangan ajaib ya?"
"Bukan ajaib, Sis. Cuma perlu sedikit 'pijatan' di jalurnya biar nggak mampet," jawab Naufal santai sambil menyerahkan kembali tablet itu ke Rengga. "Cepat proses notanya, Rengga, siska. Jangan sampai nasabah nunggu lagi."
Rengga langsung sigap. "Siap, Bos! Makasih banyak, Fal! Sumpah, lo penyelamat gue hari ini!"
Pak Bambang pun tersenyum lebar. "Nah, gitu dong! Mas ini kerjanya cepet. Besok-besok kalau saya mau nambah unit lagi, saya cari Mas Naufal saja."
Siska disana cuma bisa tersenyum manis, dia gak merasa tersinder atas ucapan dari bambang malah sebaliknya bangga. 'Naufal memang hebat, makin hari - makin keren aja ihh!!’
[Ding!]
[Misi Sampingan: 'Penyelamat Transaksi Veva' Selesai!]
[Hadiah: Saldo +Rp 3.000.000 & Hubungan Relasi dengan Rengga Naik Drastis!]
[Tingkat ketertarikan Siska naik 3%]
Andre yang memperhatikan dari kejauhan mengepalkan tinjunya hingga kukunya memutih.
“mustahil.”
Senyum sinisnya hilang, berganti dengan rasa iri yang membakar dada. Ia tidak paham bagaimana anak baru seperti Naufal bisa menguasai teknis sistem yang bahkan orang kredit berpengalaman saja kesulitan.
Naufal menoleh ke arah Andre, memberikan tatapan datar yang seolah berkata: 'Bahkan sistem pun berpihak padaku, lantas apa yang kau punya?'
Semenjak beberapa hari ini dia merasa bahwa junior yang biasa dia injak-injak jadi makin ke PD-an. Oke kalau itu maumu.
Andre memulai rencana kalau di toko dia begitu sombong dia kasih pelajaran saja nanti, di luar kerjaan dia bakal babat dan hajar habis-habisan Naufal.
***
Sore hari, jam istirahat. Perut Naufal berbunyi keroncongan, dia lapar dan menyadari belum makan apapun untuk pagi tadi. Ia keburu-buru melakukan transaksi dengan Gino.
Saat dia sedang melakukan absen istirahat dan izin untuk istirahat setengah jam, tiba-tiba sebuah tangan menuju kepadanya, bekal yang dibalut rapi dengan tas cangkul. Naufal menatap sosok yang tiba-tiba menyodorkan makanan itu.
Siska tampak terlihat memasang wajah malu.
Siska membuang muka ke arah jajaran unit pajangan, namun pipinya yang merona merah tidak bisa berbohong. Tangannya masih menyodorkan tas bekal bermotif kotak-kotak itu dengan kaku.
"Nih... buat lo," ucap Siska pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh bising suara musik promo di dalam toko.
Naufal menaikkan sebelah alisnya, menerima tas bekal itu. "Buat gue? Tumben banget, Sis. Lo nggak lagi ngerjain gue, kan?"
Siska mendengus, mencoba menutupi kegugupannya dengan ketus yang dibuat-buat. "Ih, geer banget! Tadi pagi nyokap gue masak kebanyakan, daripada mubazir ya udah gue bawa aja. Lagian tadi lo udah bantu gue *closing* unit Veva, anggap aja ini upah jasa 'tangan dewa' lo itu."
[Ding!]
[Analisis Kebohongan Aktif!]
[Target: Siska]
[Status: Bohong. Siska sengaja bangun lebih pagi untuk memasak bekal ini khusus untuk tuan rumah. Dia memang sejak awal sengaja membuat ini.]
Naufal tersenyum tipis. Kemampuan analisis sistem ini terkadang membuatnya merasa seperti dukun, tapi melihat Siska yang salah tingkah seperti ini ada kepuasan tersendiri.
Dia ternyata memang lucu juga. Berbeda dengan Luna yang menampilkan sisi dewasa dan perbedaan umur, siska itu satu angkatan dengan dia, mereka lulus SMK baru baru ini, jadi itu terlihat sedikit menggemaskan.
"Makasih ya, Sis. Pas banget perut gue udah demo dari tadi," ucap Naufal sambil membuka tas bekalnya. Aroma nasi goreng gila dengan telur mata sapi yang masih hangat langsung menyeruak.
"Makan di belakang aja, Fal. Jangan di depan sini, nanti ditegur Pak manajer," bisik Siska sambil buru-buru pergi kembali ke konternya sebelum Andre melihat mereka berdua.
Naufal berjalan menuju ruang istirahat kecil di sudut gudang. Namun, baru saja ia hendak menyuapkan sendok pertama, langkahnya terhenti. Di balik rak stok barang yang tinggi, ia melihat Andre sedang berbisik serius dengan dua orang pria berbadan tegap yang bukan karyawan toko.
Naufal menajamkan pendengarannya.
"Nanti pas dia pulang shift, pas bocah itu pulang malam. Pokoknya kasih pelajaran sampai dia nggak bisa masuk kerja besok. Gue muak liat mukanya yang sok jagoan itu," bisik Andre dengan nada penuh kebencian.
"Beres, Bos Andre. Yang penting setorannya lancar," jawab salah satu pria berjaket kulit kusam tersebut.
Naufal kembali menarik kepalanya ke belakang rak. Ia menyuapkan nasi goreng buatan Siska dengan tenang, seolah tidak baru saja mendengar rencana pengeroyokan terhadap dirinya.
Rasanya enak, gurih dan pas. Berbeda dengan masakan Istri paman Rahmat saat terkadang dia main kesana.
Namun paling penting obrolan mereka jelas gak enak.
"Mau main fisik di luar, ya?" gumam Naufal.
Ia melirik panel status sistemnya untuk kemarin dia gak all in kepintaran doang, dia juga menambahkan status kekuatan. “Mari kita lihat siapa yang malah dibantai.”
Naufal yakin yang sok keras biasanya kalau di gaz malah kayak kertas, Andre itu ya gitu. Meski senior kalau di pepet paling juga kencing di celana.
.
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN