Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07
“Kenapa muka lo kusut begitu? Udah lulus harusnya sumringah,” ucap David sambil mengemudi. Keluarga David kini dalam perjalanan pulang setelah dari tempat wisuda.
“Iya. Kenapa, Van? Perasaan tadi berseri-seri. Kok pulangnya cemberut?” tanya Lia melihat Vano yang sedari naik mobil terus saja menekuk wajahnya.
“Gimana nggak kusut mukaku, Bu. Cewek yang ku incar malah suka sama kakakku sendiri. Mana minta aku nyomblangin dia sama Mas David lagi. Kan sakit hatiku, Bu,” adu Vano pada sang Ibu.
David mengernyit. “Suka sama gue? Siapa?”
“Rashi.”
David menaikkan satu alisnya.”Lo suka sama dia? Yakin lo?”
“Lah emang kenapa? Dia cantik. Dia pinter. Dan dia tuh beda dari cewek-cewek lain. Dia tuh jutek banget kalau sama gue. Itu yang bikin gue tertarik, Mas. Tapi setelah ketemu sama lo, dia suka sama lo. Ish, masa suka sama yang lebih tua sih,” gerutu Vano tak suka gadis incarannya justru menyukai sang kakak yang memang tak kalah tampan dengannya.
David tertawa. “Pesona pria matang itu emang menggoda, Van.”
“Tapi, Mas. Dia bilang pernah ketemu Mas sama Mbak Tara di Mall, apa kejadian itu sama saat aku melihat Mas dan Mbak Tara juga disana?” tanya Vano yang juga melihat David dan Tara waktu itu.
David tersentak dan melirik sekilas orang tuanya yang ikut terkejut sembari melihatnya.
“Tara? Kamu bertemu lagi dengan Tara, Vid?” tanya Bram.
Vano yang menyadari jika dia baru saja keceplosan sontak menutup mulutnya rapat-rapat. David sudah pernah mengatakan kalau Vano dilarang menyebut nama Tara saat bersama orang tuanya, namun gara-gara gadis incarannya itu, Vano jadi keceplosan.
David tak menjawab dan fokus menatap jalanan di depannya. Bram dan Lia saling pandang.
“David, jawab pertanyaan Bapak. Kamu bertemu lagi dengan mantan pacarmu itu?” tanya Lia.
David menghela napas pelan. Dalam hati mengumpat Vano habis-habisan. “Ehm… Iya, Bu. Nggak sengaja ketemu.”
“Dimana?”
“Di Mall. Tapi setelah itu kita nggak ketemu lagi.” David mengucapkan maaf dalam hati pada kedua orang tuanya karena telah berbohong. Namun dia tak ingin kedua orang tuanya tahu tentang Tara. Setidaknya untuk saat ini.
“Kamu lagi nggak bohong kan, Vid?” tanya Bram dengan tatapan curiga.
“Enggak, Pak. Kami nggak sengaja ketemu. Dan disaat yang sama aku juga nggak sengaja ketemu Vano,” ucap David.
Bram dan Lia saling pandang lalu mengangguk.
“David, kalau memang kamu mau balikan sama Tara, Ibu dan Bapak setuju kok. Kami merestui kalian. Ibu dan Bapak pernah membuat kesalahan dulu. Dan jika memang bersama Tara kamu bahagia, Ibu dan Bapak juga akan menerimanya dengan senang hati. Ibu ingin kamu menikah, Vid. Tapi Ibu nggak akan maksa kamu. Siapapun calon istrimu nanti, Ibu dan Bapak akan menerimanya asal kamu yakin untuk menikah dengannya,” ujar Lia menatap David.
David melirik spion tengah dan melihat Ibunya dengan tersenyum. “Terima kasih, Bu. Tapi untuk saat ini, aku belum ingin menikah.”
“Apa Tara menolak balikan sama kamu?” tanya Bram.
David sontak menoleh pada sang Ayah sekilas lalu kembali menatap jalanan. “Iya.”
“Kamu menyerah?”
“Nggak tahu, Pak.”
“Kejarlah jika sekiranya kamu ingin dia kembali. Itupun jika statusnya masih sendiri. Tapi kalau dia sudah bersama orang lain, jangan pernah kamu menjadi pengganggu dalam hubungan orang lain, Vid,” nasehat Bram menepuk bahu David sekali.
Vano terbatuk. Lia menyodorkan air mineral botol pada Vano. Vano menerimanya dan meminumnya sambil melihat spion tengah. Vano menciut saat David juga menatapnya lewat spion dengan tatapan peringatan. Sebuah kode bahwa Vano tak boleh membocorkan apapun pada orang tuanya.
Selanjutnya, Vano mengalihkan pembicaraan. Vano membicarakan banyak hal tentang rencananya setelah lulus. Hal itu membuat David merasa lega karena orang tuanya tak lagi mencecarnya dengan pertanyaan yang berhubungan dengan Tara.
***
“Ganteng banget sih suami aku.”
Devan tersenyum lebar sambil menatap istrinya. “Kalau nggak ganteng, mana mau kamu nikah sama aku.”
Tara terkikik. “Iya sih. Ganteng dan kaya. Itu masuk kriteria untuk jadi suami aku.”
Devan menggeleng geli. Padahal dia hanya sedang memakai baju seragam gurunya dan menyemprotkan minyak wangi di depan meja rias, namun Tara memujinya berlebihan dari atas ranjang. Tara malas beranjak dari kasurnya. Bangun tidur, dia mengambil novel yang dibelinya kemarin lalu memutuskan untuk membaca lanjutan ceritanya.
“Kamu beneran seharian mau di atas kasur aja?” tanya Devan melirik Tara yang masih melihatnya.
Tara mengangguk. “Kamu beli sarapan sendiri aja ya. Aku lagi mager banget.”
“Kamu mah kalau punya buku baru, selalu begitu. Harus dibaca sampai kelar baru deh ingat dunia nyata,” sindir Devan paham dengan kebiasaan Tara.
“Soalnya lebih indah dunia fiksi daripada dunia nyata. Apalagi kisah aksi dibalut romantisme. Nggak kayak dunia nyataku yang pahit banget. Kagak ada romantis-romantisnya,” sindir Tara balik.
Devan tertawa. “Mau diromantisin kayak gimana sih? Dinner romantis hampir seminggu sekali, aku turutin. Mau beli apa, aku bebasin. Mau kemana aja, aku izinin. Kurang romantis apa coba?”
“Sentuhan fisik yang kurang,” jawab Tara sambil membuka buku novelnya.
Devan menggeleng jengah. “Aku nggak berani, Sayang.”
Tara mencebik. “Manggil aja Sayang.. Sayang.. tapi aslinya nggak sayang. Pencitraan. Huh.”
“Nggak sayang gimana sih. Wong udah disayang gitu lho. Oh.. aku tahu.. ini kamu pasti mau bahas hal begituan lagi kan?”
Tara menatap Devan. “Kalau iya, kenapa? Cobalah sekali. Aku penasaran loh, Dev. Apa perlu aku kasih kamu obat perangsang?”
Devan tersentak dan menatap Tara tajam. “Kamu tahu tentang obat itu, Ra?”
“Tahu lah. Aku baca di novel tentang kisah para gadis yang ingin menjebak CEO ganteng dan kaya lewat one night stand memakai obat begituan. Tapi aku nggak tahu beli obat begituan dimana. Apa di marketplace ada ya?”
Devan menggeleng. “Jangan macam-macam, Ra. Obat itu banyak efek sampingnya. Bahaya kalau diminum sembarangan.”
“Ya habisnya kamu susah banget diajak begituan. Aku udah pakai baju dinas super seksi, kamu nggak kegoda. Aku udah ngrayu kamu, kamu cuma diam dan malah ninggalin aku gitu aja. Aku udah cosplay jadi wanita penggoda, kamu tetap melengos nggak mau lihat aku. Kan sakit hati aku nih, Dev. Sekali aja aku pingin ngrasain itu. Kita udah sah loh. Tiga tahun nikah, masih perawan aja.”
“Apa kamu sama mantan kamu belum pernah nglakuin itu?” tanya Devan.
Tara menaikan kedua alisnya. “Kamu pikir aku ini wanita apaan? Aku nggak akan semudah itu mau nglakuin hal begituan tanpa ada ikatan pernikahan. Zina tahu.”
Ucapan Tara memelan di akhir kalimatnya. Dia ragu. Bukankah perbuatan dia dan David dulu juga termasuk berzina? Dia dan David pernah saling menyentuh bahkan setengah telanjang di hadapan satu sama lain. Walaupun tak sampai bercinta, tapi tetap saja perbuatan mereka melanggar batas wajar.
“Kamu yakin mau mencobanya sama aku?” tanya Devan membuyarkan lamunan Tara tentang David.
“Yakin. Ayolah, Dev. Kalau nggak minum obat perangsang, apa kita mabuk aja? Beli wiski gitu. Kalau mabuk kan nggak sadar terus bisa bercinta deh. Gimana?” tanya Tara menawar. Dia baru saja mengingat adegan panasnya bersama David dulu dan tiba-tiba dia menginginkannya lagi bahkan kalau bisa sekalian bercinta dengan suaminya sendiri.
“Minuman keras juga nggak baik, Tara.”
“Ya terus? Kita harus nyoba sekali aja, Dev. Setelah itu baru kita lihat apa kamu bisa sembuh atau tidak.”
Devan tampak berpikir. Saran dari Tara boleh saja dicoba apalagi dia sehat, tak punya penyakit apapun. Dia juga penasaran apa orientasi seksualnya bisa sembuh setelah berhubungan intim dengan istrinya.
Devan menatap Tara. “Oke. Kita coba. Tapi biar aku aja yang cari obat itu.”
Tara tersenyum sumringah. “Yes. Jangan lama ya, Dev. Dan jangan berubah pikiran.”
Devan tersenyum. “Iya. Tapi sekali ini aja ya. Aku nggak mau mengkonsumsi obat begituan berulang kali.”
Tara mengangguk senang. Tak sabar rasanya menunggu saat itu datang. Saat mendebarkan yang hanya boleh dilakukan sepasang suami istri.
***
Alan [Obat perangsang?]
Devan [Iya. Lo tahu dimana belinya? Spill dong.]
Alan [Ngapain lo minum begituan? Tanpa itu, lo udah hebat.]
Devan [Buat bini gue.]
Alan [Anjir. Lo main sama bini lo harus banget pakai obat perangsang?]
Devan [Iya. Lo tahu nggak yang jual dimana?]
Alan [Tahu. Gue kasih alamatnya ntar.]
Devan [Thanks.]
Alan [Tapi, lo tetap datang ke gue kan, Beb?]
Devan [Yes. Selesai dengan urusan bini gue, kita atur jadwal lagi.]
Alan [Oke. Gue kirim alamatnya sekarang.]
Devan tersenyum saat Alan sudah mengirim alamat sebuah tempat yang menjual obat perangsang itu. Devan tak ingin sembarangan meminum obat perangsang abal-abal. Dia ingin yang kualitasnya nggak kaleng-kaleng.
Setelah pulang dari mengajar nanti, Devan akan menuju alamat tersebut. Dia akan memberi kejutan pada istrinya nanti malam. Devan juga penasaran, apakah obat itu berpengaruh padanya saat bersama Tara nanti.
Bersambung ….