NovelToon NovelToon
Suamiku,Suami Sahabatku

Suamiku,Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Yang Dibayar Dengan Kesadaran

POV Fatan

Pagi itu, udara di rumah terasa berbeda.

Lebih berat.

Lebih sunyi.

Seolah dinding-dinding rumah itu menyimpan sesuatu yang belum sempat diucapkan.

Fatan menuruni tangga dengan langkah tenang atau setidaknya ia berusaha terlihat demikian.

Namun langkahnya terhenti.

Ibunya sudah duduk di ruang keluarga.

Sejak subuh.

Wajah perempuan itu tampak letih. Matanya sembab, seperti seseorang yang telah menangis diam-diam terlalu lama.

“Fatan,” panggilnya pelan.

Nada suara itu… tidak biasa.

Fatan tahu

ini bukan percakapan yang bisa ia hindari.

“Ibu ingin bicara.”

Fatan mendekat. Duduk di hadapan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya.

Namun sikapnya tetap sama.

Dingin.

Terjaga.

Seperti tembok yang tak ingin runtuh.

Ibunya menarik napas panjang.

“Ibu mendengar percakapan Kamu dan Ayah tadi malam.”

Jantung Fatan berdegup sekali.

Namun wajahnya tidak berubah.

“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan bagi Ibu?” lanjutnya lirih.

Fatan diam.

“Mendengar bahwa kamu… tidak pernah menerima pernikahanmu sendiri.”

Fatan memalingkan wajah.

“Itu kenyataannya, Bu.”

Jawabannya singkat. Tegas. Tanpa penyesalan.

Ibunya menggeleng pelan.

Air mata mulai menggenang di sudut matanya.

“Ibu tidak meminta cintamu tumbuh seketika,” katanya.

“Ibu hanya meminta… kamu berusaha.”

Suara itu bergetar.

“Kanaya tidak bersalah apa pun. Dia istrimu.”

“Aku sudah berusaha,” balas Fatan dingin.

“Dengan caraku.”

“Tidak.”

Satu kata itu… tegas.

Memotong.

“Caramu adalah menjauh,” ujar ibunya.

“Dan melukai… dengan diam.”

Hening.

Fatan berdiri.

Ada sesuatu yang pecah di dalam dirinya.

Sesuatu yang selama ini ia tahan.

“Kalau Ibu ingin kebenaran…” katanya.

Nada suaranya berubah.

Lebih keras.

Lebih jujur.

“Aku tidak bisa mencintai Kanaya.”

Ibunya membeku.

“Maksudmu…?”

Fatan menghela napas panjang.

Seolah akhirnya lelah bersembunyi.

“Aku mencintai wanita lain.”

Ia menatap lurus.

“Amira.”

Nama itu keluar tanpa ragu.

“Aku serius dengannya. Aku sudah melamarnya.”

Dunia seakan berhenti.

Wajah ibunya kehilangan warna.

“Apa…?”

Suaranya gemetar.

“Kamu melakukan itu… saat kamu masih berstatus suami?”

Fatan menunduk sejenak.

Namun saat ia bicara

nadanya tetap keras.

“Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini, Bu.”

“Semua ini terjadi karena Ayah.”

“Karena rencana keluarga.”

“Aku hanya menjalani sesuatu yang dipaksakan.”

Plak!

Suara tamparan itu menggema.

Keras.

Nyata.

Kepala Fatan sedikit terhuyung.

Tangannya refleks menyentuh pipinya.

Panas.

Namun rasa itu… tidak ada apa-apanya dibandingkan yang ia lihat di mata ibunya.

Kekecewaan.

Yang dalam.

“Cukup!” suara ibunya bergetar.

“Apa pun alasanmu langkahmu salah!”

Fatan menatapnya.

Untuk pertama kalinya… tanpa pertahanan.

“Kamu boleh tidak mencintai Kanaya,” lanjutnya, air matanya jatuh.

“Tapi kamu tidak berhak mempermainkan pernikahan.”

“Apalagi… melukai dua perempuan sekaligus.”

“Ibu…” suara Fatan melemah.

“Diam!”

Kalimat itu tajam.

“Ibu malu.”

Sunyi.

“Bukan pada orang lain…”

Suara itu pecah.

“Tapi pada cara Ibu membesarkanmu.”

Kalimat itu

lebih menyakitkan dari tamparan.

“Kamu sudah dewasa, Fatan,” lanjutnya.

“Dan setiap pilihanmu… ada akibatnya.”

“Jangan berlindung di balik orang tua… untuk membenarkan pengkhianatan.”

Fatan mengepalkan tangan.

Dadanya sesak.

“Aku hanya ingin bahagia.”

Ibunya menatapnya lama.

“Bahagia… bukan dengan menghancurkan.”

“Cinta yang benar… tidak tumbuh dari kebohongan.”

Air mata itu jatuh.

Tidak ditahan lagi.

“Kalau kamu masih punya nurani…” katanya pelan.

“Selesaikan semuanya dengan jujur.”

“Bukan dengan lari ke perempuan lain.”

Fatan tidak menjawab.

Ia tidak bisa.

Untuk pertama kalinya

ia merasa… sendirian.

Benar-benar sendirian.

Dan pagi itu

ia menyadari satu hal:

Cinta yang ia kejar…

telah membuatnya kehilangan arah.

Malam datang lebih cepat dari yang ia sadari.

Langkah Fatan membawanya entah ke mana.

Trotoar. Lampu jalan. Suara kendaraan.

Semua terasa jauh.

Yang dekat hanya satu:

Suara ibunya.

Tatapan itu.

Tamparan itu.

Ia terus berjalan.

Tanpa tujuan.

Sampai akhirnya

ia masuk ke sebuah gang sempit.

Gelap.

Pengap.

Penuh suara tawa kasar dan bau alkohol.

“Lihat jalan, Bro.”

Bahunya bersenggolan dengan seseorang.

Fatan berhenti.

Tatapannya kosong.

“Aku tidak ingin bicara.”

“Tapi kau menyenggolku.”

Suara itu berubah.

Lebih menantang.

Dua orang lain ikut mendekat.

Lingkaran kecil terbentuk.

Fatan tertawa hambar.

“Pergi.”

Dorongan keras menghantam dadanya.

Dan sesuatu di dalam dirinya… pecah.

Pukulan pertama ia terima.

Yang kedua… ia balas.

Perkelahian pecah.

Kasar.

Tanpa arah.

Fatan tidak bertarung untuk menang.

Ia bertarung…

untuk melampiaskan.

Semua amarah.

Semua penyesalan.

Semua kebisingan di kepalanya.

Salah satu pria meraih balok kayu.

Mengangkatnya tinggi.

“Aku akhiri ini!”

“Fatan!”

Suara itu

memecah segalanya.

Fatan menoleh.

Wajahnya memucat.

“Kanaya…?”

Ia tidak sempat berpikir.

Tidak sempat bergerak.

Kanaya berlari ke arahnya.

Mata itu…

penuh ketakutan.

“Hentikan!”

Namun semuanya sudah terlambat.

Balok itu diayunkan.

Keras.

Cepat.

Dan Kanaya

melangkah ke depan.

“Fatan—!”

Benturan itu terdengar.

Namun bukan Fatan yang terkena.

Tubuh Kanaya terhuyung.

Pelipisnya berdarah.

Dan dalam satu detik

ia jatuh.

Ke dalam pelukan Fatan.

“Kanaya!”

Suara Fatan pecah.

Benar-benar pecah.

Segalanya berubah kacau.

Orang-orang mundur.

Sebagian lari.

Namun Fatan… tidak bergerak.

Ia berlutut.

Memeluk tubuh Kanaya yang lemah.

Tangannya gemetar.

“Kenapa…”

Suaranya bergetar hebat.

“Kenapa kamu melakukan ini lagi…?”

Air mata jatuh.

Tanpa ia sadari.

“Kenapa selalu kamu…?”

Kelopak mata Kanaya bergerak.

Perlahan.

Susah payah.

Ia menatap Fatan.

Lemah.

Namun… hangat.

“Karena…”

Napasnya berat.

“…aku tidak ingin kamu terluka.”

Kalimat itu—

menghancurkan sesuatu di dalam Fatan.

Sepenuhnya.

Untuk kesekian kalinya

perempuan yang sama…

melindunginya.

Dan untuk pertama kalinya

Fatan menyadari sesuatu yang tidak bisa lagi ia abaikan:

Ia mungkin tidak mencintai Kanaya…

seperti ia mencintai Amira.

Namun luka yang diberikan Kanaya untuknya…

bukan luka biasa.

Itu adalah cinta.

Yang tidak pernah ia minta.

Namun selalu… ada.

Dan di tengah darah yang mengalir

dan tubuh yang semakin melemah

Fatan akhirnya mengerti:

Tidak semua cinta datang dengan cara yang ia inginkan.

Namun beberapa…

datang dengan pengorbanan yang terlalu besar…

untuk diabaikan.

1
Asih
akhirnya saya puas liat kesombongan srorang lelaki terpuruk
Nirna: Kadang kesombongan memang perlu dijatuhkan dulu supaya seseorang sadar 😊 Terima kasih kak sudah mengikuti ceritanya sampai ikut puas dengan alurnya 🤗❤️
total 1 replies
Asih
lanjutt
Nirna: Terima kasih banyak sudah membaca 😊 Lanjutannya segera aku update ya kak
total 1 replies
Kereng Pangi
bahasanya kbnyak retorika
Nirna: Terima kasih atas masukannya 🙏. Ke depannya akan saya perbaiki supaya bahasanya lebih nyaman dibaca.
total 1 replies
Asih
lanjut semakin seruuu
Nirna: Terima kasih banyak 🙏 Senang banget kakak menikmati ceritanya. Ditunggu terus ya kelanjutannya 😊
total 1 replies
Asih
padahal kalau mau bicara dari hati ke hati dn terus terang.sama kanaya
Nirna: Iya benar juga 😊 Terima kasih sudah ikut memberikan sudut pandang. Nanti akan ada perkembangan cerita yang lebih dalam lagi, ditunggu ya 🙏
total 1 replies
Asih
lanjut dong
Nirna: Siap 😊 Terima kasih sudah menunggu. , jangan bosan mengikuti ceritanya ya 🙏
total 1 replies
rina saragih
waw waw... fatan kapok kamuuu
Nirna: Hehe, iya nih kak 😄 Fatan lagi diuji banget kesabarannya. Kira-kira dia bakal kuat sampai kapan ya? Terima kasih sudah baca dan dukung ceritanya 💖
total 1 replies
rina saragih
kenapa susah sekali menicintai yg halal?
hati memang penuh misteri
Nirna: MasyaAllah, terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Semoga ceritanya bisa menyentuh dan menemani 😊Terima kasih banyak sudah membaca dan berbagi pendapat 😊 Memang hati itu penuh misteri, semoga cerita ini bisa sedikit menggambarkan perasaan itu ya🙏
total 1 replies
rina saragih
fatan oh adrian
Nirna: Nah loh, mulai ketahuan ya benang merahnya 😄 Stay tune terus ya kakak🙏
total 1 replies
rina saragih
awal yang bagus
aku berharap akan seru seterusnya
Nirna: Terima kasih banyak 😊 Senang sekali kakak suka di awalnya, semoga bab selanjutnya bisa lebih seru lagi ya
total 1 replies
Angel 💖
karya yang bagus
. tapi kenapa sepi ya?
Nirna: terimakasih banyak kakak sudah berkomentar,iya nih masih sepi🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!