Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 26: Rambut Putih?
Pagi menyelinap masuk melalui jendela kecil kamar penginapan Thorgar Skáli.
Cahayanya tipis, berwarna keemasan pucat, memantul di lantai kayu yang sedikit kasar. Debu halus melayang di udara, bergerak perlahan seperti serpihan waktu yang terjebak dalam sunyi.
Kamar itu diam.
Kasur di sisi kiri kosong.
Daji belum kembali dari bar Helga.
Namun Grachius tidak memedulikannya.
Ia masih duduk bersila di atas kasur, mata tertutup, napas tenang. Tubuhnya tidak bergerak sedikit pun, namun udara di sekitarnya bergetar tipis seolah sesuatu yang tak terlihat sedang berputar mengelilinginya.
Qi di dalam tubuhnya bergerak.
Mengalir melalui nadi.
Memutar di pusat energi.
Memadat.
Lalu menyebar lagi.
Setiap putaran terasa lebih dalam dari sebelumnya. Tidak cepat. Tidak dipaksa. Grachius membiarkannya bergerak seperti sungai bawah tanah yang mencari jalannya sendiri.
Perlahan—
kesadarannya tenggelam.
Lebih dalam.
Lebih jauh.
Hingga suara Kota Baldr menghilang.
Dentuman palu, suara roda gerobak, teriakan para dwarf di jalan—semuanya menjauh, berubah menjadi gema yang tidak lagi berarti.
Lalu ia berdiri di sana.
Di ruang tanpa batas.
Gelap.
Namun penuh bintang.
Benang-benang cahaya membentang ke segala arah, saling silang, bergetar, memanjang ke tempat yang tidak bisa dijangkau mata.
Fatum.
Nasib.
Pilihan.
Kelahiran.
Kematian.
Segalanya ada di sana.
Grachius melangkah perlahan di antara benang-benang itu. Setiap benang terasa hidup. Ada yang bergetar lembut. Ada yang tampak hampir putus. Ada yang bersinar terang seperti jalan yang belum dilalui.
Ia mengangkat tangan.
Hampir menyentuh salah satunya.
Namun sebelum jarinya mencapai cahaya itu—
esensi gelap muncul.
Tidak besar.
Namun pekat.
Nyala itu berdiri di antara Grachius dan benang Fatum, menelan cahaya di sekitarnya.
Lalu kilasan datang.
Empat Ksatria Templar terbakar dalam diam yang mengerikan.
Armor suci meleleh.
Jeritan terputus.
Bandit-bandit manusia tumbang di Skullcrack.
Darah mengalir di antara batu.
Patung Sagitta terpenggal di aula kuil, kepalanya jatuh menghantam lantai seperti simbol dunia lama yang retak.
Grachius membuka mata.
Napasnya tetap stabil, namun keringat tipis muncul di dahinya.
Cahaya pagi kembali.
Kamar kayu kembali.
Dunia nyata kembali.
Ia menatap telapak tangannya.
Diam.
Kegelapan itu masih ada.
Tidak menguasainya.
Tidak menyerangnya.
Namun menunggu.
Seolah ia hanyalah pintu yang belum sepenuhnya terbuka.
...—...
Di lantai bawah penginapan, Thorgar belum tidur.
Matanya merah karena begadang, namun wajahnya justru tampak semakin hidup. Di depannya, Enjin terbaring di atas kain tebal, diterangi cahaya lampu dan bara kecil dari tungku samping.
Thorgar membungkuk sangat dekat, mengamati bilah pedang itu seolah sedang membaca rahasia yang ditulis terlalu kecil oleh tangan dewa.
“Lekukan ini…”
Ia menggumam sendiri.
“Tidak terlalu dalam. Tapi menahan aliran dengan stabil.”
Ia memiringkan Enjin sedikit.
Cahaya bergerak di permukaan bilahnya.
“Pola tempering-nya halus. Bukan hanya indah. Ini fungsional.”
Di meja sebelah, beberapa potong besi percobaan tergeletak. Sebagian retak. Sebagian bengkok. Salah satunya bahkan patah menjadi dua.
Thorgar telah mencoba meniru struktur Enjin sejak malam.
Dan gagal.
Lagi.
Dan lagi.
Namun bukannya putus asa, matanya justru semakin berapi-api.
“Siapa pun yang membuatmu…”
Ia menyentuh bagian sambungan gagang Enjin dengan sangat hati-hati.
“…bukan pandai besi biasa.”
Ia tersenyum lebar.
Lelah.
Gila.
Bahagia.
“Rare Grade…”
Jarinya mengepal.
“Aku akan membuatnya. Satu hari nanti. Rare Grade. Lalu lebih tinggi.”
Ia menatap Enjin seperti menatap gunung yang ingin ia taklukkan.
“Unique. Legendary. Bahkan…”
Ia berhenti.
Lalu tertawa kecil pada dirinya sendiri.
“Jangan terlalu jauh dulu, Thorgar. Belajar jalan sebelum memukul langit.”
Namun matanya tetap penuh mimpi.
...—...
Di sisi lain Kota Baldr, bar Helga baru mulai tenang setelah malam panjang.
Beberapa meja masih kotor. Gelas-gelas kayu menumpuk di sudut. Aroma minuman keras, daging panggang, dan asap kayu masih menggantung di udara.
Di salah satu meja—
Daji tertidur telungkup.
Dua ekor rubahnya terlihat samar di belakangnya, bergerak pelan tiap kali ia bernapas. Rambutnya berantakan. Satu tangannya masih memegang kain lap, meski jelas ia sudah menyerah menggunakannya sejak lama.
Helga lewat sambil membawa tong kecil di bahu.
Ia berhenti.
Menatap Daji.
Lalu melempar kain kasar ke kepala siluman rubah itu.
“Kalau mau tidur, pindah ke sudut!”
Daji bergerak sedikit tanpa membuka mata.
“Mmm… aku karyawan paling berbakat…”
“Karyawan paling berbakat tidak tidur di meja pelanggan.”
“Aku menjaga meja agar tidak kabur…”
Helga mendengus.
“Kalau meja itu kabur, aku akan menggajimu dua kali lipat.”
Daji mengangkat satu tangan lemah.
“Kesepakatan diterima…”
Lalu ia tidur lagi.
Helga hanya menggeleng, namun sudut bibirnya naik sedikit.
“Rubah aneh.”
...—...
Jauh di Dataran Tinggi Aetherion, angin menghantam balkon batu dengan keras.
Sagitta berdiri di sana, jubahnya bergerak liar, sementara Sunchaser berada di tangannya. Di bawah balkon, lembah dan tebing terbentang luas seperti dunia kecil yang bisa ia injak kapan saja.
Seekor elang turun dari langit.
Cakarnya membawa gulungan kecil.
Sagitta mengangkat tangan. Elang itu mendarat sebentar, menyerahkan pesan, lalu kembali terbang menembus angin.
Sagitta membuka gulungan itu.
Matanya bergerak membaca.
Grachius berada di Kota Baldr.
Beberapa detik berlalu.
Wajahnya tidak berubah banyak.
Namun udara di sekelilingnya terasa lebih dingin.
Gulungan itu hancur dalam genggamannya.
“Dia masih hidup.”
Suara Magia terdengar dari belakang.
Wanita itu berdiri di ambang pintu balkon, tenang seperti biasa.
“Dan sekarang berhenti di Baldr.” katanya.
“Mungkin dia ingin membeli sepatu baru sebelum membunuhmu.”
Sagitta menoleh perlahan.
Tatapannya tajam.
Magia tersenyum tipis.
“Apa? Perjalanan jauh itu melelahkan.”
“Dia harus mati.”
“Kalau begitu...”
"...bunuh dia sendiri.”
Angin berhembus lebih kuat.
Sagitta kembali menatap kejauhan.
“Aku akan melakukannya.”
Magia memperhatikannya beberapa saat.
“Kau mulai terdengar lebih serius.”
Sagitta tidak menjawab.
Namun tangannya menggenggam Sunchaser sedikit lebih erat.
Di matanya, Grachius bukan lagi sekadar rumor.
Bukan lagi manusia kurang ajar yang menghancurkan patung.
Ia mulai menjadi gangguan nyata.
Dan gangguan seperti itu harus dipatahkan.
...—...
Di kamar penginapan, Grachius berdiri dari meditasinya.
Hari pertama belum selesai.
Namun sesuatu di dalam dirinya telah berubah.
Sedikit lebih tajam.
Sedikit lebih berat.
Lebih fokus.
Ia berjalan ke jendela dan memandang Kota Baldr dari atas.
Para dwarf sudah mulai bekerja. Percikan api beterbangan dari bengkel terbuka. Asap tungku naik ke langit pagi. Suara palu memenuhi udara seperti detak jantung kota.
Tang.
Tang.
Tang.
Grachius menatap langit di atas Baldr.
Dan berkata pelan—
“Datanglah.”
Hening sebentar.
“Siapa pun.”
Ia tidak mengucapkannya dengan amarah.
Tidak juga kesombongan.
Hanya penerimaan.
Karena ia tahu—
riak kecil dari tindakannya telah berubah menjadi gelombang.
Dan gelombang itu kini bergerak kembali menuju dirinya.
Grachius kembali ke kasur.
Duduk bersila.
Menutup mata.
Ia menyingkirkan suara kota dari pikirannya.
Dentuman palu.
Langkah kaki.
Suara orang berbicara.
Semuanya perlahan menjauh.
Qi kembali berputar.
Lebih dalam.
Lebih berat.
Setiap tarikan napas membawa ketenangan.
Setiap hembusan membuang kegelisahan.
Namun di dasar jiwanya—
api hitam tetap ada.
Diam.
Panas.
Menunggu.
Grachius belum menguasainya.
Belum sepenuhnya.
Dan ia tahu itu.
...—...
Di ruang kerja penginapan, Varkun datang membawa roti dan kendi kecil.
Ia berhenti di ambang pintu ketika melihat Thorgar masih duduk di meja yang sama.
“Kau belum tidur?”
Thorgar tidak menoleh.
“Tidur kalah menarik dibanding Enjin.”
Varkun meletakkan roti di meja.
“Kalimat yang hanya bisa diucapkan orang gila atau pandai besi.”
“Bedanya?”
“Pandai besi membayar pajak.”
Thorgar mendengus.
Varkun menuang minum.
“Daji menghajar satu party petualang di bar Helga.”
“Begitu ya.”
“Kau tidak terkejut?”
“Dia datang bersama Grachius. Aku sudah berhenti berharap mereka normal.”
Varkun tersenyum kecil.
Lalu duduk.
“Harga logam naik lagi.”
Kali ini Thorgar menoleh.
“Apa?”
“Bijih dari utara terlambat datang. Pedagang menaikkan harga.”
Thorgar memukul meja.
“Bagaimana aku membuat senjata kalau logam bagus makin mahal?”
“Dengan doa.”
“Aku lebih percaya palu.”
“Itu sebabnya Ferrum tidak menyukaimu.”
Thorgar menggerutu.
“Pelanggan penginapan juga makin cerewet. Satu minta kamar lebih luas, satu minta sup lebih panas, satu lagi mengeluh pintunya terlalu pendek. Ini kota dwarf. Pintunya memang pendek.”
Varkun tertawa pelan.
Namun Thorgar menatapnya lebih serius.
“Kenapa kau memberi mereka tempat gratis?”
"Maksudmu Grachius dan Daji?"
Varkun memegang roti, diam sejenak.
“Hati kecilku berkata aku harus melakukannya.”
Thorgar menatapnya datar.
“Hati kecil tidak membayar tagihan.”
“Aku tahu.”
“Jawaban yang buruk.”
“Mungkin.”
Varkun menatap tangannya sendiri.
“Tapi Grachius mengingatkanku pada sesuatu.”
Thorgar menyipitkan mata.
“Pedangnya?”
“Rambutnya.”
Suasana berubah sedikit.
Thorgar tidak langsung membalas.
Varkun melanjutkan dengan suara lebih rendah.
“Tidak ada manusia yang memiliki rambut putih seperti itu. Tidak lagi.”
Thorgar perlahan menatap pintu.
“Maksudmu…”
“Mereka.”
Hening.
Berat.
“Mereka seharusnya sudah lama hilang.” kata Thorgar pelan.
“Ya.”
“Kecuali…”
Varkun mengangguk kecil.
“Aku belum tahu siapa Grachius sebenarnya.”
Ia menatap ke arah lantai atas.
“Tapi aku yakin kedatangannya ke Baldr bukan kebetulan.”
Thorgar tidak bercanda lagi.
Di luar, suara palu terus terdengar.
Namun di ruang itu, rahasia lama seolah mulai bergerak dari bawah debu.
...—...
Jauh di atas awan dan badai—
Sky Kingdom berdiri megah.
Pilar-pilar emas menjulang di antara langit. Jembatan marmer menghubungkan istana-istana putih yang melayang di atas lautan awan. Air terjun cahaya jatuh dari tepi platform surgawi, menghilang sebelum menyentuh dunia bawah.
Di pusatnya berdiri Istana Caelum.
Megah.
Bersinar.
Dan terlalu tinggi untuk mengenal kerendahan.
Di dalam aula utama, para dewa dan dewi berpesta.
Musik surgawi mengalun. Kristal-kristal memantulkan cahaya. Anggur bercahaya dituangkan ke dalam piala emas. Tawa memenuhi ruangan seolah dunia bawah tidak pernah menderita.
Di singgasana tertinggi, Vasilias duduk dengan tenang.
Di sisinya, Regina memandang pesta dengan senyum kecil.
Mereka tidak perlu berbicara untuk menunjukkan kekuasaan.
Seluruh aula sudah berbicara untuk mereka.
Di dekat balkon, dua dewi berbicara santai.
Mare, dengan rambut biru laut yang berkilau lembut.
Dan Amor, dengan mata merah muda yang tampak selalu tersenyum.
“Kau dengar pesan Nuntius?” tanya Mare sambil memutar piala.
“Tentang orang berambut putih yang akan menghancurkan para dewa?”
Amor tertawa kecil.
“Sulit untuk tidak mendengar lelucon itu.”
Mare tersenyum malas.
“Orang-orang berambut putih seharusnya sudah punah.”
“Benar.” kata Amor.
“Istri Sonne seharusnya yang terakhir.”
Mare menatap langit di luar balkon.
“Kecuali Occidens, tentu saja.”
“Dewa barat itu selalu menjadi pengecualian yang merepotkan.”
Mereka tertawa pelan.
Tidak jauh dari sana—
Vita berdiri diam.
Ia mendengar semuanya.
Tidak ada perubahan di wajahnya.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada peringatan.
Namun dalam hatinya, ia tahu.
Mereka masih terlalu santai.
Terlalu angkuh.
Terlalu yakin bahwa langit tidak bisa retak.
Di bawah sana, Grachius sedang bermeditasi.
Mengasah dirinya.
Menguatkan fondasinya.
Memahami Fatum.
Menyimpan kebencian yang semakin tenang, semakin dingin, dan semakin berbahaya.
Para dewa terus berpesta di atas awan.
Mereka tertawa.
Minum.
Meremehkan ramalan.
Sementara di dunia bawah—
seorang pemuda berambut putih duduk dalam keheningan.
Dan perlahan—
selangkah demi selangkah—
ia mendekati langit.
...A Novel By Franzzz...