Dikala aku sudah memulai hidup baruku tanpamu, kenapa kau kembali lagi. Beredar terus di sekitar, membuatku kesal.
Pergilah kau, pergi dari hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Sungguh wanita kurang ajar. Memang apa salahnya Marina menginginkan pria yang mengejar Luna? Bukankah itu wajar?
Luna sudah pernah menikah. Sudah pernah menjalani hidup yang nyaman. Sekarang dia ingin hidup dengan nyaman juga dengan seorang pria. Memangnya itu salah? Itu adalah hal manusiawi.
"Cih" decak Marina lalu meninggalkan toko Marina. Kembali ke toko sebelah untuk bekerja. Sampai malam hari, dia menunggu kehadiran Andy. Pria yang sedang mengejar Luna. Tapi pria itu tidak muncul, bahkan setelah toko Luna tutup. Kesal, Marina memilih untuk mengendarai mobil berkeliling kota.
Tidak menyangka akan menemukan sosok orang yang dia kenal di depan sebuah hotel mewah.
"Itu Arya dan wanita barunya. Yang berambut panjang sepinggang dengan gaya sok lembut. bagaimana seorang putri kerajaan. Lebih menjijikkan dari Luna" katanya sembari terus memantau pergerakan Arya dan wanita barunya.
Sayang sekali keduanya masuk ke dalam hotel mewah itu dan Marina tidak bisa mengikuti lagi. Dia berpikir akan menggunakan cerita ini untuk membuat Luna kesal besok.
Dan ternyata yang didapatkannya hanya reaksi datar dari Luna.
"Sungguh aku melihatnya. Dan mereka masuk ke dalam hotel. Tidak keluar sampai dua jam setelahnya. Kalau mereka bukan sepasang kekasih, berarti apa? Dan bila dibandingkan denganmu, wanita itu sangat ... Cantik dan tentu saja kata raya. Tampak di brand baju yang dipakai juga tas mewah itu"
Sekali lagi Luna tidak bereaksi sama sekali. Wajahnya begitu datar tidak ada ekspresi sama sekali. Entah Luna menahan emosinya atau memang sudah melupakan Arya. Yang jelas, hal itu membuat Marina tidak senang.
Untungnya sore itu ada seorang pria yang datang untuk mencerahkan perasaannya. Rok pendeknya diangkat sampai setengah paha dan kancing kemejanya dibuka sampai batas dada. Mendekat dengan cepat ke arah Andy.
"Hai Andy!" sapanya.
Begitu melihatnya, pria itu mengalihkan pandangan seperti pria polos. Tidak seperti Arya yang menatapnya tajam. Tapi boleh juga sebagai tantangan baru yang menyenangkan.
"Hai"
"Aku Marina, yang bekerja di sebelah toko Luna. Aku sering melihatmu dan ... Sepertinya aku jatuh cinta padamu"
"Kau ... Jatuh cinta padaku?"
Pasti Andy terkejut dengan wanita yang terus terang sepertinya.
"Iya, kau tampan dan seorang pengajar. Wanita mana yang tak jatuh cinta ketika melihatmu"
"Tapi aku bukan pria yang menarik. Aku hanya ... "
"Beberapa wanita, khususnya aku akan merasa bergairah melihat pria sepertimu. Bahkan sekarang, aku tak sabar membayangkan untuk bercinta denganmu di atas semua buku yang pernah kau baca" goda Marina membuat pipi pria itu merona. Sungguh menarik. Baru kali ini Marina melihat seorang pria dewasa berperilaku seperti remaja umur 15 tahun.
"Aku ... Aku ... "
"Tuan Andy, kalau kau tidak menyukaiku maka aku akan menghindar dan tidak menemuimu lagi. Selamanya" kata Marina dengan nada suara merajuk. Andy salah tingkah dan menjawab dengan malu-malu.
"Tidak!! Bukan begitu, aku hanya ... "
Pria polos tidak akan pernah menolak didekati. Karena mereka berpikir, mereka tidak menarik.
"Kalau begitu, boleh aku merencanakan makan malam denganmu?"
"Eeee, tentu saja"
Pria ini tidak terlalu baik ternyata. Padahal sedang mengejar Luna tapi begitu mudah diajak makan malam oleh Marina.
"Boleh kita bertukar nomor telepon?"
Disaat Marina dengan mudah mendekati pria baru. Arya sedang kesulitan dengan wanita yang memiliki keinginan untuk menjadi istri barunya.
"Tuan Arya Mahendra, maaf kalau saya lancang. Mengatakan pada kedua kakak saya kalau Anda adalah calon suami saya. Tapi saya tidak memiliki cara lain untuk memaksa mereka menerima bagiannya tanpa menuntut kembali. Saya selalu mengalah atas segalanya. Kedua kakak saya diberikan pendidikan tinggi, rumah, mobil bahkan calon istri pilihan. Sedangkan saya? Tidak ada satupun yang disiapkan untuk saya" keluh Angelica ketika mereka bertemu kembali di restoran sebuah hotel. Atas permintaan wanita itu.
Arya pikir hanya untuk meminta maaf padanya karena kesalah pahaman yang merugikannya. Tapi wanita itu kembali bicara dan terus bicara tiada henti.
"Orang tua saya hanya menyayangi anak laki-laki. Dan semua warisan yang lain telah diberikan pada kedua kakak laki-laki saya. Hanya tinggal tanah itu saja yang masih belum. Dan setelah keduanya meninggal dalam kecelakaan, kedua kakak laki-laki saya menuntut bagian mereka. Saya tidak memiliki seseorang yang mendukung dan melindungi saya. Karena itu saya biarkan mereka mengambil bagian. Tapi setelah mereka tahu harga baru tanah itu, segera saja mereka meminta bagian lagi. Dan saya sudah muak. Saya tidak mau terus seperti ini"
"Nona Angelica, Anda tidak boleh mempergunakan nama saya. Untuk apapun"
"Saya tahu. Tapi saya tidak mengenal pria lain selain Anda"
Arya memegang dahinya.
"Ada pengacara Herman yang Anda temui jauh sebelum saya"
Angelica tampak ragu namun kembali menjawab
"Anda ... Lebih tampan. Dan lebih mirip dengan pria pujaan saya dibandingkan pengacara Herman. Dan lagi, Anda jelas lebih kaya. Seseorang dengan kekuatan dan kekayaan seperti itu sangat berguna untuk mendukung saya"
Arya mendesah kesal. Dia dimanfaatkan, sungguh memalukan.
"Aku tidak ingin terlibat masalah keluarga Anda, nona Angelica. Ini tidak sepadan dengan waktu yang saya buang"
"Apa? Anda ... Tidak tertarik pada saya?" tanya Angelica terdengar putus asa.
"Tidak" jawab Arya tegas.
"Kenapa? Saya masih muda, saya cantik dan tubuh saya bagus. Apa yang menyebabkan Anda tidak tertarik pada saya?"
"Kau jelek dan tidak menarik"
Mendengar jawaban Arya, Angelica kembali terkejut. Sepertinya tidak pernah mendengar penilaian seperti itu dari seorang pria. Tapi hal itu menjadi hal buruk bagi Arya. Karena Angelica sekali lagi tidak berhenti bicara. Mengemukakan kelebihan-kelebihannya yang sama sekali tak menarik untuk didengar.
Dan ketika Arya sudah bosan mendengarnya. Dia berdiri dan berjalan keluar. Tapi Angelica tidak menyerah, terus mengejarnya.
"Saya jelek dan tidak menarik? Apa Anda tidak bisa melihat kecantikan saya? Saya selalu dipuji karena cantik dan memiliki sifat baik. Anda tidak bisa melihat itu?"
Arya berbalik dan menatap lurus pada Angelica.
"Urusan tanah akan diselesaikan oleh pengacara Herman. Jangan menghubungi saya lagi atau polisi akan mengambil alih" katanya kemudian mengambil mobil dan pulang.
Baru saja ingin masuk basement apartemen, Arya melihat Luna. Sedang duduk di kursi taman dekat apartemen. Tidak, Luna tidak sedang duduk. Luna sedang ... Menangis?
Wanita yang dicintai Arya itu terlihat terus mengusap pipinya. Seolah tidak mau air matanya dilihat oleh orang lain.
Apa yang membuat Luna menangis?
Tengah malam, Arya lagi-lagi masuk ke dalam apartemen Luna. Dia mendekati wanita yang tertidur itu dan melihat bekas air mata yang mengering di pipi Luna.
"Jangan menangis sayang. Aku disini" katanya lalu memeluk Luna dalam selimut. Memastikan tidur Luna nyenyak dan hangat.
tahi