Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Ki Lurah yang berdiri agak jauh hanya bisa menyaksikan semuanya dengan tatapan yang berubah kelam. Bukan takut, tapi ngeri—perasaan yang jarang sekali menyentuh hatinya. Apa yang terjadi di hadapannya sudah melampaui bayangan terburuknya tentang sebuah pertempuran.
Warga yang tersisa tak sanggup bertahan lebih lama. Ia mundur sempoyongan, lalu bersembunyi di balik batang pohon besar. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tak teratur. Dalam hitungan detik, rasa mual itu tak tertahan lagi—ia muntah, berulang kali, sementara suara benturan dan jeritan dari medan pertarungan terus menghantam telinganya tanpa ampun.
Di sisi lain, pria kekar yang memimpin komplotan itu kini tak lagi bergerak maju. Ia berdiri terpaku, matanya membelalak, menyaksikan satu per satu anak buahnya tumbang dengan cara yang bahkan tak sempat mereka pahami. Keyakinan yang tadi memenuhi dadanya kini mulai runtuh, digantikan oleh sesuatu yang lebih asing—ketidakpercayaan.
“Siapa… sebenarnya mereka…” gumamnya lirih, suaranya mulai bergetar tanpa ia sadari sendiri.
Di hadapannya, dua sosok bertopeng itu masih bergerak tanpa henti. Tidak terburu-buru, tidak panik, seolah semua yang terjadi hanyalah bagian dari ritme yang sudah mereka kuasai sepenuhnya. Setiap langkah mereka membawa akhir bagi satu nyawa lagi.
Dan untuk pertama kalinya, pria itu merasakan sesuatu yang selama ini tak pernah ia akui—rasa gentar yang perlahan merayap naik dari dadanya, mengikat tenggorokan, dan membuatnya sadar… bahwa malam ini, mereka bukanlah pemburu.
Sejenak kemudian, niat untuk kabur muncul tanpa bisa ia tahan lagi. Ia sadar, melawan dua sosok itu sama saja dengan menyerahkan nyawanya. Bahkan, dalam benaknya sendiri, ia mengakui—mereka jauh lebih kejam daripada dirinya.
Tanpa berpikir panjang, kakinya berbalik. Ia hendak melesat masuk ke dalam hutan, meninggalkan arena pertempuran yang kini telah berubah menjadi ladang kematian bagi anak buahnya sendiri.
Wusss!
Tubuhnya hampir saja lenyap ditelan gelap. Namun pada detik yang sama, dari arah belakang terdengar desingan tajam membelah udara.
Srrrtttt… slaap!
“Hegghh—!”
Sesuatu menghantam lehernya dengan keras. Rantai besi itu melilit dengan presisi, menghentikan langkahnya seketika. Tubuhnya tersentak mundur, napasnya tercekat, kedua tangannya refleks berusaha melepaskan lilitan yang semakin mengencang.
“Mau ke mana kau, kisanak?” suara Nyai Lodra terdengar dingin, nyaris tanpa emosi.
“Le… lepaskan aku…” suaranya pecah, kini tak lagi penuh amarah, melainkan kepanikan yang telanjang.
Nyai Lodra hanya memiringkan kepala sedikit. “Akan kulepaskan.”
Srrttt… craass!
Rantai itu memang terlepas. Namun sebelum benar-benar lepas, duri-duri tajam di sepanjang rantai berputar dan mencabik lehernya dalam satu tarikan brutal. Kulit dan daging terkoyak, membuka luka yang dalam dan mengerikan. Darah menyembur deras, membasahi tanah di sekitarnya.
Pria itu terhuyung beberapa langkah, matanya masih terbuka lebar, seolah belum menerima apa yang baru saja terjadi. Lalu tubuhnya kehilangan tenaga, ambruk ke tanah dengan suara berat.
Dan malam kembali menyisakan sunyi… yang kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.
Malam di pinggir Hutan Wengker itu benar-benar mencekam. Mayat bergelimpangan, anggota tubuh berserakan tanpa arah, seolah tanah sendiri menolak menerima semuanya dengan utuh. Darah berceceran, mengilap diterpa cahaya bulan yang pucat, sementara angin yang berembus pelan membawa bau anyir yang menusuk hingga ke dada.
Di antara keheningan yang mulai turun, masih ada satu sosok yang merayap pelan. Tubuhnya terseret, kakinya telah tiada, namun naluri untuk hidup membuatnya terus bergerak menjauh dari tempat itu. Napasnya tersengal, jemarinya mencakar tanah yang basah oleh darah.
Namun tak ada yang luput dari pengamatan Ki Bagaskara.
Dengan langkah tenang, ia menghampiri sosok itu. Tanpa tergesa, tanpa ragu. Ujung goloknya perlahan diarahkan, lalu ditancapkan tepat di tengkuk orang tersebut.
“Arghhhh—!”
Jeritan itu singkat, terpotong di tengah napas. Tubuh yang merayap itu langsung kaku, lalu terdiam tanpa sisa kehidupan.
Ki Bagaskara mencabut goloknya perlahan. Darah mengalir di sepanjang bilahnya, menetes ke tanah yang sudah tak lagi bisa dibedakan warnanya.
Tak boleh ada yang tersisa. Tak boleh ada satu saksi pun… kecuali mereka yang benar-benar tak memahami apa yang terjadi malam ini.
Ia menoleh ke arah Ki Lurah dan warga yang masih hidup.
“Pergilah, Ki Lurah. Jauhi tempat ini. Kami akan membereskan semuanya,” ucapnya datar, suaranya tertahan oleh penutup wajah yang masih ia kenakan.
“Ba… baiklah. Ta-tapi… siapa kalian sebenarnya?” tanya Ki Lurah, masih diliputi kebingungan dan sisa ngeri yang belum hilang.
“Ki Lurah, pergilah!” kali ini nada suara itu naik, lebih tegas, tak memberi ruang untuk pertanyaan lanjutan.
Ki Lurah terdiam sejenak. Ia menatap kedua sosok itu sekali lagi, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, berbalik dan berjalan menjauh. Warga yang tersisa segera mengikuti di belakangnya, langkah mereka cepat, seolah ingin secepat mungkin keluar dari tempat terkutuk itu.
Tak lama, hanya tersisa dua sosok di tengah ladang kematian.
Angin malam kembali berembus, menggerakkan ujung rantai Nyai Lodra dan kain penutup wajah Ki Bagaskara. Mereka berdiri diam di antara mayat-mayat yang membisu, seakan malam itu… memang menjadi milik mereka sepenuhnya.
Dengan sigap, Ki Bagaskara dan Nyai Lodra mulai bekerja. Tanpa banyak bicara, keduanya menggali sebuah lubang besar di dalam hutan, cukup dalam untuk menelan semua jejak malam itu. Gerakan mereka terlatih, seolah pekerjaan seperti ini bukan hal yang asing bagi tangan mereka.
Satu per satu, tubuh-tubuh yang telah kehilangan bentuknya diseret dan dicampakkan ke dalam lubang. Potongan anggota yang tercecer dikumpulkan tanpa sisa, dilempar begitu saja ke dalam gelapnya liang tanah. Tak ada upacara, tak ada doa—hanya kesunyian yang menjadi saksi.
Setelah semuanya terkumpul, mereka menimbun lubang itu dengan tanah dan semak belukar. Dalam waktu singkat, bekas pembantaian itu seolah lenyap, tersamar oleh rimbunnya hutan, seperti tak pernah terjadi apa-apa.
Di kejauhan, lolongan anjing hutan terdengar panjang, menyayat malam yang dingin. Suaranya seakan menyahut peristiwa berdarah yang baru saja terjadi, membawa gema yang merambat di antara pepohonan.
Tanpa menoleh lagi, Ki Bagaskara dan Nyai Lodra bergegas meninggalkan tempat itu.
Semakin mendekati rumah mereka, suasana perlahan berubah. Angin tak lagi membawa bau darah, melainkan aroma tanah dan kehidupan. Dan di sela-sela itu, terdengar suara lirih seorang bocah yang sedang menyanyikan tembang macapat.
Awalnya samar, seperti bisikan yang terselip di antara angin. Namun semakin dekat, suara itu semakin jelas, mengalun pelan namun penuh makna.
Ing wengi peteng tanpa lintang,
Angin nggawa crita lawas,
Getih mili ing lemah garing,
Sapa sing eling bakal gemetar,
Bayang-bayang ora kendhat ngetutaké,
Laku dosa ora ilang,
Kaya geni ing njero dodo,
Ngobong sepi lan rasa salah,
Sing kepungkur ora tau sirna.
(artinya)
Dalam malam gelap tanpa bintang,
Angin membawa kisah lama,
Darah mengalir di tanah kering,
Siapa yang mengingat akan gemetar,
Bayang-bayang tak henti mengikuti,
Jejak dosa tak pernah hilang,
Seperti api di dalam dada,
Membakar sepi dan rasa bersalah,
Yang telah berlalu tak pernah sirna.
Ternyata yang bernyanyi adalah Gandraka. Ia duduk bersila di pendapa, tubuh kecilnya tegap dengan sorot mata yang terlalu dalam untuk seusianya. Senyum tipis tersungging saat ia melihat kedua orang tuanya kembali.
Ia menghentikan tembangnya sejenak.
“Aku suka sekali bila melihat pakaian ayah dan ibu berlimuran darah. Terasa lebih mengasyikkan… dan begitu nyata dibandingkan seribu mantra. Mengapa ayah tak mengajakku menyaksikannya?” ucapnya polos, namun nada suaranya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Nyai Lodra dan Ki Bagaskara tak menjawab. Keduanya hanya saling berpandangan singkat, lalu melangkah masuk ke dalam rumah tanpa sepatah kata pun. Air segera disiapkan, pakaian dilepas, darah dibersihkan—seolah semua itu hanyalah rutinitas yang harus dituntaskan.
Di pendapa, Gandraka tetap duduk tenang. Senyumnya perlahan memudar, digantikan ekspresi datar. Ia kembali memejamkan mata sejenak, lalu melanjutkan tembang macapatnya, suaranya lirih namun meresap jauh ke dalam malam.
Nalika wengi saya peteng,
Swara lara dadi kidung,
Tilas jejak kebak getih,
Nglirwaké welas lan pangapura,
Ati atos kaya watu,
Kebak geni ora padam,
Sing tiba ora bakal bali,
Namung dadi layon bisu,
Nglenggahi petenging jaman.
(artinya)
Ketika malam semakin gelap,
Suara penderitaan berubah menjadi nyanyian,
Jejak yang tertinggal penuh darah,
Mengabaikan kasih dan pengampunan,
Hati menjadi keras seperti batu,
Dipenuhi api yang tak pernah padam,
Mereka yang jatuh tak akan kembali,
Hanya menjadi jasad yang membisu,
Menghuni kegelapan zaman.