Aluna butuh 3M buat nebus utang kakaknya. CEO es batu Arsen Asmara nawarin nikah kontrak setahun. Syaratnya gampang: Tidur pisah ranjang, dilarang jatuh cinta.
Tapi semua berantakan gara-gara satu malam salah kamar. Aluna hamil anak CEO paling ditakuti se-Indonesia.
Pas foto mereka satu selimut viral + saham anjlok 12%, Arsen bukannya marah malah pasang badan hajar mantanku. Katanya ini cuma kontrak... tapi kenapa ciumannya bikin jantungku mau copot?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Akan Hancurkan Siapa Pun yang Nyentuh Kamu
Suasana basement penthouse malam itu terasa mencekik.
Aluna berdiri membeku sambil menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Video yang baru diupload beberapa menit lalu terus diputar ulang tanpa ampun di media sosial.
Dan semakin banyak orang salah paham.
Potongan video itu memang terlihat buruk.
Sangat buruk.
Di layar terlihat dirinya menangis di kamar hotel sambil berkata pelan, “Aku takut…”
Lalu video dipotong tepat sebelum Arsen mendekat.
Seolah-olah dirinya dipaksa malam itu.
Padahal kenyataannya sama sekali bukan begitu.
Komentar netizen bergerak cepat brutal.
Gue bilang juga apa, CEO dingin itu pasti psikopat.
Kasihan ceweknya.
Fix dipaksa sampai hamil.
Tangkap aja cowok kayak gitu.
Napas Aluna langsung nggak teratur.
Dadanya sesak banget.
Karena sekarang bukan cuma dirinya yang dihancurkan.
Tapi Arsen juga.
Dan semua ini terjadi gara-gara dirinya.
“A-Arsen…”
Suara Aluna melemah saat menoleh pelan.
Namun laki-laki itu diam banget.
Tatapan matanya dingin mengarah ke layar ponsel.
Terlalu dingin.
Sampai Aluna sendiri mulai takut.
Karena sejak mengenal Arsen…
ini pertama kalinya dia melihat laki-laki itu semarah ini.
Bukan marah meledak-ledak.
Tapi marah yang benar-benar gelap.
“Tuan…”
Salah satu bodyguard terlihat ragu mendekat.
“Media mulai menyerang perusahaan.”
Sunyi.
Arsen masih diam beberapa detik sebelum akhirnya bicara pelan.
“Cari Bima.”
Nada suaranya rendah banget.
Namun tekanan di dalamnya bikin semua orang langsung tegang.
“Sekarang.”
“Baik, Tuan!”
Beberapa bodyguard langsung pergi cepat.
Sedangkan Aluna makin panik.
“Arsen jangan…”
Laki-laki itu akhirnya menoleh.
Dan jantung Aluna langsung jatuh.
Karena tatapan mata Arsen sekarang benar-benar menyeramkan.
“Dia nyentuh kamu terlalu jauh.”
Suara laki-laki itu pelan.
Tapi justru itu yang bikin bulu kuduk merinding.
“Aku nggak apa-apa…”
“Kamu nangis.”
Deg.
Kalimat itu langsung bikin Aluna diam.
Karena Arsen benar.
Dirinya memang takut.
Takut banget.
Namun bukan karena video itu.
Melainkan karena dirinya takut Arsen akan menghancurkan hidupnya sendiri demi membela dirinya.
“Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa gara-gara aku…”
Arsen langsung mendekat.
Pelan.
Dan dalam hitungan detik tubuh Aluna sudah terpojok di dekat mobil.
Deg.
Jantungnya langsung berdetak kacau lagi.
Karena aura laki-laki itu sekarang terlalu intens.
Terlalu dekat.
“Kamu masih nggak ngerti ya?”
Suara Arsen rendah banget.
Tatapan matanya tajam lurus ke arah Aluna.
“Saya marah bukan karena nama saya dihancurin.”
Deg.
Napas Aluna tertahan.
“Tapi karena dia bikin kamu takut.”
Jantung Aluna langsung bergetar aneh.
Tatapan mereka saling menahan beberapa detik.
Dan untuk pertama kalinya…
Aluna benar-benar sadar satu hal.
Arsen bukan lagi sekadar peduli.
Laki-laki itu benar-benar nggak tahan melihat dirinya disakiti.
Dan kesadaran itu bikin dada Aluna sesak sendiri.
Karena sekarang dirinya mulai takut jatuh lebih dalam.
Namun sebelum suasana berubah makin berbahaya—
ponsel Arsen tiba-tiba bergetar lagi.
Daniel menelepon.
Arsen langsung mengangkatnya tanpa mengalihkan pandangan dari Aluna.
“Dapat?”
“Kami nemuin lokasi Bima.”
Tatapan Arsen berubah dingin lagi.
“Di mana?”
“Salah satu apartemen temannya di daerah Selatan.”
Sunyi sebentar.
“Jangan gerak dulu,” ucap Arsen rendah. “Saya ke sana.”
Deg.
Wajah Aluna langsung berubah.
“Apa?!”
Telepon langsung dimatikan.
Arsen berjalan menuju mobil.
Sedangkan Aluna buru-buru mengejarnya.
“Arsen tunggu!”
Laki-laki itu berhenti sebentar.
“Aku ikut.”
“Nggak.”
“Aku harus ngomong sama Bima!”
Arsen langsung menoleh tajam.
“Untuk apa?”
“Biar semuanya berhenti!”
Tatapan mata Arsen berubah gelap lagi.
“Dan kamu pikir orang kayak dia bakal berhenti kalau kamu minta baik-baik?”
Deg.
Aluna langsung diam.
Karena dirinya sendiri sebenarnya tahu jawabannya.
Bima sekarang sudah kelewatan.
Tapi tetap saja…
dirinya takut sesuatu terjadi malam ini.
“Aku nggak mau kamu berantem lagi…”
Suara Aluna mengecil.
Dan entah kenapa kalimat itu membuat ekspresi Arsen sedikit berubah.
Laki-laki itu mendekat lagi perlahan.
Lalu tanpa peringatan—
tangannya mengusap pipi Aluna pelan.
Deg.
Tubuh Aluna langsung membeku.
Karena sentuhan kecil itu terasa terlalu lembut di tengah situasi segelap ini.
“Luna.”
Suara Arsen turun rendah.
“Saya nggak akan kalah sama orang kayak dia.”
Jantung Aluna makin nggak aman.
Tatapan mata laki-laki itu sekarang terlalu dalam.
Terlalu serius.
Dan itu bikin dirinya makin sulit menganggap hubungan mereka cuma kontrak.
Namun sebelum Aluna sempat bicara—
Arsen tiba-tiba menarik tubuhnya ke dalam pelukan.
Deg.
Napas Aluna langsung berhenti sesaat.
Karena pelukan itu berbeda.
Bukan sekadar menenangkan.
Tapi seperti orang yang takut kehilangan.
“Saya janji,” gumam Arsen pelan di dekat telinganya. “Saya akan hancurin siapa pun yang nyentuh kamu.”
Deg.
Kalimat itu sukses bikin seluruh tubuh Aluna merinding.
Dan anehnya…
di tengah semua kekacauan ini, dirinya justru merasa aman di pelukan laki-laki itu.
---
Perjalanan menuju apartemen tempat Bima bersembunyi terasa sunyi dan menegangkan.
Hujan mulai turun di luar mobil.
Lampu kota terlihat samar di balik kaca yang basah.
Sedangkan Aluna duduk diam di samping Arsen sambil terus menggenggam jemarinya sendiri.
Dirinya masih nggak tenang.
Instingnya buruk.
Sangat buruk.
Karena malam ini Arsen terlihat terlalu berbeda.
Aura dinginnya benar-benar keluar.
Dan itu justru bikin takut.
“Arsen…”
“Iya?”
“Kalau nanti ketemu Bima… jangan emosi.”
Sunyi sebentar.
Lalu Arsen tertawa kecil tanpa humor.
“Dia fitnah saya memperkosa istri saya.”
Deg.
Wajah Aluna langsung panas.
Karena mendengar Arsen menyebut dirinya “istri saya” sekarang terasa beda.
Terlalu nyata.
“Aku serius…”
Tatapan Arsen akhirnya sedikit melunak saat melihat wajah khawatir Aluna.
Namun laki-laki itu justru menggenggam tangan perempuan itu pelan.
Hangat.
Kuat.
“Tenang.”
Nada suaranya rendah.
“Saya masih bisa kontrol diri.”
Entah kenapa…
kalimat itu justru nggak menenangkan sama sekali.
---
Mobil akhirnya berhenti di basement apartemen tua yang terlihat sepi.
Beberapa bodyguard sudah menunggu di sana.
Daniel langsung mendekat cepat.
“Tuan.”
“Di atas?”
Daniel mengangguk.
“Unit 1703.”
Tatapan Arsen berubah dingin lagi.
“Dia sendirian?”
“Sejauh ini iya.”
Namun sebelum Arsen melangkah—
tangan kecil Aluna tiba-tiba menahan lengannya.
Deg.
Laki-laki itu langsung menoleh.
Dan untuk pertama kalinya malam itu…
Arsen melihat mata Aluna benar-benar ketakutan.
“Please…”
Suara perempuan itu hampir pecah.
“Jangan sampai ada yang kenapa-kenapa.”
Sunyi.
Tatapan mata mereka bertemu cukup lama.
Dan entah kenapa…
kalimat sederhana itu justru membuat emosi Arsen sedikit turun.
Karena di tengah semua kekacauan ini, Aluna masih khawatir pada dirinya.
Bukan takut pada skandal.
Bukan takut pada media.
Tapi takut dirinya terluka.
Arsen akhirnya mengusap kepala Aluna pelan.
Gerakan kecil yang bikin jantung perempuan itu langsung berantakan lagi.
“Saya balik.”
Deg.
Dan sebelum Aluna sempat sadar—
Arsen tiba-tiba mengecup keningnya singkat.
Tubuh Aluna langsung membeku.
Sedangkan laki-laki itu berjalan masuk lift bersama beberapa bodyguard tanpa menoleh lagi.
Jantung Aluna sekarang benar-benar kacau.
Karena dirinya sadar satu hal.
Dia sudah jatuh terlalu dalam pada Arsen Asmara.
Dan itu menakutkan.
Sangat menakutkan.
Namun beberapa menit kemudian—
suara keras tiba-tiba terdengar dari lantai atas.
Brak!
Disusul suara orang berteriak.
Aluna langsung berdiri panik.
Jantungnya jatuh seketika.
Karena entah kenapa…
dirinya merasa sesuatu yang buruk baru saja terjadi.