Lin Chen, seorang pemuda modern, bertransmigrasi ke Benua Langit Bela Diri. Sialnya, ia terbangun di dalam tubuh Master Sekte "Puncak Awan" yang sedang sekarat. Sekte tersebut dulunya berjaya, namun kini hanya menyisakan gunung tandus, bangunan hancur, dan Lin Chen sebagai satu-satunya anggota yang tersisa. Saat sekte musuh datang untuk mengambil alih tanah tersebut, Lin Chen membangkitkan Sistem Pembangunan Sekte Terkuat. Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang, membangun fasilitas ajaib, hingga menaklukkan surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Tulang Pedang Kuno Bangkit, Murid Pertama!
Keheningan menyelimuti alun-alun Kota Angin Biru. Ratusan mata menatap tak percaya pada sosok pemuda berjubah putih yang baru saja menghempaskan Tuan Muda Zhao hanya dengan auranya.
Tuan Muda Zhao, yang bernama Zhao Meng, bangkit dengan susah payah sambil memegangi dadanya. Wajahnya pucat pasi, namun arogansinya sebagai penguasa lokal belum sepenuhnya pudar.
"K-kau... kau berani melukaiku?!" teriak Zhao Meng dengan suara bergetar. "Ayahku adalah Kepala Keluarga Zhao! Dia berada di puncak Kondensasi Qi Lapis ke-10, selangkah lagi menuju Pembangunan Yayasan! Jika kau menyinggung Keluarga Zhao, kau tidak akan bisa keluar dari kota ini hidup-hidup!"
Lin Chen menoleh perlahan, tatapannya sedingin es abadi. "Keluarga Zhao? Bahkan jika leluhurmu bangkit dari kuburnya, dia harus berlutut saat berbicara denganku. Enyah."
Brak!
Lin Chen hanya menghentakkan kakinya ringan ke tanah. Gelombang kejut energi spiritual menyapu ke depan, menghantam dada Zhao Meng dan dua pengawalnya. Ketiganya kembali terpental belasan meter, menabrak tembok kedai hingga runtuh, dan jatuh pingsan dengan darah mengalir dari mulut mereka.
Kerumunan tersirap. Tidak ada satu pun yang berani bernapas terlalu keras.
Lin Chen mengabaikan mereka dan kembali menatap Ye Fan. Ia menyodorkan pil keemasan itu lebih dekat. Aroma harum pil tersebut membuat lautan Qi Ye Fan yang kering kerontang tiba-tiba berkedut.
"Pil ini disebut Pil Pemulih Tulang Surgawi," ucap Lin Chen dengan nada tenang. "Ini tidak hanya akan menyembuhkan meridianmu yang hancur, tetapi juga akan mencuci sumsummu dan membangkitkan kembali bakat bawaanmu yang tersegel. Pilihan ada di tanganmu. Menangis meratapi nasib di sini, atau ikut denganku dan buat dunia gemetar di bawah pedangmu."
Mata Ye Fan memerah. Selama tiga tahun terakhir, ia telah merasakan dinginnya dunia. Tunangannya membatalkan pertunangan, keluarganya sendiri mengusirnya, dan orang-orang yang dulu menjilatnya kini menginjak-injaknya.
Kekuatan! Aku butuh kekuatan! teriak Ye Fan dalam hati.
Tanpa ragu lagi, Ye Fan meraih pil tersebut dan menelannya dalam satu tegukan.
Detik berikutnya, wajah Ye Fan memerah padam. Suara retakan tulang terdengar dari dalam tubuhnya. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya menggeram, namun ia menggertakkan giginya, menolak untuk berteriak.
Boom!
Pusaran energi spiritual dari alam sekitar tiba-tiba tersedot dengan gila-gilaan ke arah tubuh Ye Fan. Asap hitam pekat berbau busuk perlahan-lahan keluar dari pori-porinya—itu adalah racun dingin dan kotoran yang menyumbat meridiannya selama bertahun-tahun.
Di dalam tubuhnya, meridian yang tadinya putus kini tersambung kembali, lebih tebal dan lebih tangguh dari sebelumnya. Dan yang paling mengejutkan, tulang-tulangnya mulai memancarkan pendaran cahaya keperakan.
Udara di sekitar Ye Fan tiba-tiba menjadi sangat tajam. Beberapa senjata tajam yang dibawa oleh para penonton di alun-alun bergetar hebat di dalam sarungnya, seolah-olah ingin melompat keluar untuk tunduk pada seorang raja!
"I-ini... fenomena resonansi senjata!" seru seorang tetua penonton dengan wajah ngeri. "Bakat bawaan macam apa yang dimiliki bocah Ye itu?!"
Lin Chen tersenyum puas. Tulang Pedang Kuno bawaan akhirnya bangkit!
Hanya dalam waktu sebatang dupa, pusaran energi itu mereda. Ye Fan membuka matanya. Tatapannya kini setajam pedang terhunus. Auranya yang sebelumnya berada di level manusia fana, kini melonjak langsung menembus Kondensasi Qi Lapis ke-3 dalam sekali tarikan napas!
Ye Fan menatap kedua tangannya dengan gemetar. Kekuatan ini... benar-benar kembali! Bahkan lebih murni dari masa kejayaannya dulu!
Pemuda itu langsung berbalik menghadap Lin Chen. Ia berlutut dengan kedua lututnya dan bersujud menyentuh tanah tiga kali dengan penuh rasa hormat.
"Murid Ye Fan, memberi hormat kepada Guru! Kebaikan Guru yang telah memberikan kehidupan kedua ini, tidak akan pernah Ye Fan lupakan sampai jiwa ini hancur!" serunya lantang, suaranya diwarnai keharuan yang mendalam.
[Ding! Misi Utama Pertama Selesai!]
[Berhasil merekrut Murid Bintang 5: Ye Fan.]
[Loyalitas Murid: 100% (Mati Setia)]
[Hukuman Penurunan Kultivasi Dibatalkan.]
[Hadiah Misi Dibagikan: 500 Poin Sistem & Paket Bangunan 'Menara Latihan Gravitasi' (Tingkat Bumi).]
Lin Chen menghembuskan napas lega di dalam hatinya. Akhirnya, kultivasiku aman.
"Berdirilah, Ye Fan," ucap Lin Chen sambil mengibaskan lengan jubahnya, menggunakan energi Qi lembut untuk mengangkat tubuh muridnya. "Sekte Puncak Awan kita tidak membutuhkan banyak aturan. Yang terpenting adalah: Jangan pernah menundukkan kepalamu pada siapa pun selain Gurumu."
"Baik, Guru!" jawab Ye Fan dengan mata berbinar.
"Ayo kita pulang. Sekte kita menunggumu."
Lin Chen meraih bahu Ye Fan. Dengan basis kultivasi Pembangunan Yayasan, ia menginjak udara dan melesat ke langit, meninggalkan penduduk Kota Angin Biru yang masih ternganga kebingungan.
Satu jam kemudian, di Gunung Puncak Awan.
Angin berhembus sepi. Seekor burung gagak terbang melintasi atap Aula Utama yang bolong.
Ye Fan berdiri mematung di pelataran sekte. Matanya berkedut menatap pemandangan di depannya. Bangunan bobrok, ilalang setinggi dada, dan bekas tebasan pedang serta noda darah kering (bekas anggota Geng Serigala Hitam) berserakan di mana-mana.
"Guru..." Ye Fan menelan ludah. "Apakah... apakah kita baru saja dirampok?"
Lin Chen berdehem canggung. "Ehem. Ini... adalah bagian dari pelatihan mental. Sebuah sekte yang sejati tidak dinilai dari kemewahan dindingnya, melainkan dari kedalaman Dao yang dimilikinya."
Mendengar kata-kata bijak yang terdengar sangat mendalam itu, kekaguman kembali muncul di mata Ye Fan. Ternyata begitu! Guru sengaja membiarkan sekte ini terlihat hancur agar para murid tidak terikat pada kemewahan duniawi! Sungguh kebijaksanaan tingkat tinggi!
"Namun," lanjut Lin Chen sambil menunjuk ke arah samping reruntuhan. "Ada beberapa tempat yang tidak boleh tersentuh oleh debu fana."
Ye Fan mengikuti arah telunjuk gurunya, dan matanya seketika membelalak lebar.
Di tengah reruntuhan itu, berdiri sebuah paviliun hitam tiga lantai yang sangat megah. Ribuan untaian pedang Qi berputar mengelilinginya, menciptakan tekanan spiritual yang membuat darah di dalam tubuh Ye Fan mendidih karena resonansi.
Plakat emas di atasnya berkilau di bawah sinar matahari: Paviliun Pedang Ilahi.
"Itu adalah Paviliun Pedang sekte kita," ucap Lin Chen sambil melipat tangan di belakang punggungnya. "Di dalamnya tersimpan ribuan pedang kuno. Karena kau memiliki Tulang Pedang, masuklah. Lihat apakah ada pedang yang bersedia mengakui dirimu sebagai tuannya."
Jantung Ye Fan berdebar kencang. Ia bisa merasakan panggilan dari dalam paviliun itu. Panggilan yang seolah-olah telah menunggunya selama ribuan tahun.
"Terima kasih, Guru! Murid akan masuk sekarang!"
Ye Fan membungkuk, lalu melangkah mantap menuju pintu Paviliun Pedang Ilahi. Saat tangannya menyentuh pintu kayu spiritual itu, sebuah ledakan niat pedang menyapu seluruh puncak gunung.