NovelToon NovelToon
Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Romantis / Cintamanis
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)

•••

Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.

Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.

Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Sehangat doa subuh

Suara azan subuh berkumandang, membangunkan Anindia dari tidur nyenyak nya. Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi.

Anindia perlahan membuka matanya. Ia mengedipkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan pandangannya dengan cahaya lampu pagi itu.

Untuk beberapa detik, Anindia terdiam. Ia merasa bingung. Matanya menatap langit-langit kamar, lalu menoleh ke sekeliling ruangan. Semuanya terasa familiar, tapi ada yang terasa berbeda. Ia tidak ingat kapan berpindah ke tempat tidur.

Anindia mengingat jelas bahwa ia duduk di depan meja belajar, berusaha menyelesaikan tugasnya yang tak kunjung usai. Tapi sekarang ia sudah berada di tempat tidur.

Anindia mengernyit heran. Pandangannya lalu bergeser ke samping, mendapati Shaka yang masih tertidur pulas. Anindia menatapnya cukup lama, ada rasa hangat yang cukup menenangkan.

Suara air dari kamar mandi masih terdengar, pandangannya refleks menoleh ke sana. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat sedikit. Ia tahu bahwa Keanu yang memindahnya ke atas ranjang. Setiap hal kecil yang dilakukan oleh Keanu, terasa begitu berarti.

Anindia beranjak dari tempat tidur, perlahan. Langkahnya pelan, seolah tidak ingin membangunkan Shaka yang masih terlelap.

Anindia melangkahkan kakinya mendekat ke arah meja belajar. Tatapannya langsung tertuju pada laptop di hadapannya. Ada rasa cemas yang sedikit muncul. Bukan karena takut salah, melainkan karena ia belum menyelesaikan tugasnya.

Anindia membuka laptopnya, mencari dokumen terakhir yang ia kerjakan. Matanya langsung bergerak cepat, membaca baris demi baris tulisan. Ia mencoba mengingat sampai bagian mana terakhir kali ia mengerjakan tugasnya.

Mata Anindia membulat ketika melihat halaman terakhir dokumennya. Kata-kata yang tertera jelas bukan bagian yang ia kerjakan sebelumnya. Tidak ada catatan setengah jadi, semuanya tersusun dengan rapi.

Anindia mencoba membuka halaman dokumen dari awal, memastikan kembali bahwa apa yang dilihatnya ini salah. Tapi hasilnya tetap sama, tugas itu sudah selesai, tulisannya tersusun rapi juga terstruktur.

Anindia mencoba mengingat tadi malam. Pikirannya langsung tertuju pada Keanu yang masih berjaga saat itu. Ia merasa haru, kemungkinan Keanu juga yang telah menyelesaikan tugasnya. Setelahnya, Anindia menutup laptopnya kembali.

Suara gemericik air dari kamar mandi perlahan mereda, digantikan dengan keheningan khas waktu subuh.

Ceklekk!

Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Keanu di ambang pintu. Rambutnya masih sedikit basah, lalu tangannya bergerak untuk menyeka air di wajahnya dengan handuk. Ia refleks menoleh, mendapati Anindia yang telah bangun dari tidurnya.

"Sayang, udah bangun?" Tanya Keanu lembut.

Anindia langsung menoleh, tatapannya langsung bertemu dengan mata Keanu. "Udah, Mas," jawabnya dengan anggukan singkat.

"Udah wudhu?" Tanya Keanu lagi, dengan nada suara yang tetap pelan.

Anindia menggeleng pelan, sementara Keanu mengangguk pemahaman. Ia meletakkan handuknya, lalu melangkah mendekat ke arah Anindia.

"Ayo," ajak Keanu lembut. "Kita sholat subuh bareng."

Anindia mengangguk, lalu ia beranjak dari duduknya menuju ke kamar mandi. Keanu memandangi Anindia sampai menghilang dari pandangan, lalu ia melangkahkan kakinya ke arah Shaka. Ia mengelus lembut kepala Shaka penuh kasih sayang, sebelum akhirnya memperbaiki posisi selimut Shaka.

Setelahnya, Keanu mengambil dua sajadah, lalu membentangkannya di atas lantai. Tak lama, Anindia keluar dari kamar mandi.

Anindia meraih mukena, lalu memakainya. Tanpa kata, mereka berdiri berdampingan, dengan Keanu yang maju satu langkah.

Gerakan mereka teratur, menyatu dalam ketenangan subuh. Tak ada suara lain selain bacaan lirih namun khusyuk yang dibacakan oleh Keanu, dan juga detik waktu yang berjalan pelan diantara ruku' dan sujud.

Anindia sendiri mengikuti setiap gerakan Keanu dengan sama khusyuknya. Hingga akhirnya mereka sampai di salam terakhir.

Keduanya tidak langsung beranjak, masih duduk di tempatnya. Keanu mengangkat tangannya perlahan, menengadah. Dalam diam, ia merangkai harapannya tanpa terdengar. Begitu juga dengan Anindia yang melakukan hal yang sama.

Anindia memejamkan matanya, namun fokusnya tidak sepenuhnya pada doa, melainkan pada sosok di depannya. Tanpa sadar, mata Anindia sedikit terbuka. Ia menatap punggung Keanu, dan saat itu juga hatinya terasa penuh dengan hal-hal kecil yang selalu diusahakan oleh Keanu.

Perlahan, Anindia kembali memejamkan matanya. Kali ini doanya berubah, lebih dalam.

Beberapa saat kemudian, Keanu mengusap wajahnya, menandakan bahwa doanya telah selesai. Ia tidak langsung berdiri, tatapannya justru menoleh sedikit ke belakang.

Keanu melihat Anindia, masih menengadah dengan mata terpejam. Ada sesuatu di wajah itu yang membuat Keanu terdiam sejenak. Tanpa sadar, ia tersenyum sedikit.

Anindia mengakhiri doanya, matanya terbuka perlahan. Saat itu, jantungnya langsung berdegup kencang ketika tatapannya bertemu dengan wajah Keanu, dengan jarak yang cukup dekat. Ia tidak menyangka bahwa Keanu memperhatikannya seperti itu.

Beberapa saat bersitatap, Anindia langsung mengalihkan pandangannya ke tangan Keanu. Tanpa aba-aba, ia menarik tangan Keanu, lalu mencium punggung tangannya cukup lama. Seolah menyalurkan semua rasa terima kasih yang tidak sempat ia ucapkan sebelumnya.

Keanu terdiam, tubuhnya sedikit kaku. Ia tidak menyangka bahwa Anindia akan mencium tangannya seperti ini. Ia kemudian mengangkat tangannya ragu-ragu, sebelum akhirnya mengusap kepala Anindia lembut.

Setelahnya, Anindia kembali mengangkat pandangannya, menatap Keanu dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Keanu tersenyum, lalu mengusap pipi Anindia sejenak.

"Cantik banget sih istri aku," ujar Keanu dengan kata pujian yang terdengar begitu lembut, tatapannya tak sedikit pun beralih dari Anindia.

"Apa sih, Mas?" Ujar Anindia yang tersipu malu. "Bisa aja."

"Serius," hanya kalimat itu yang terucap dari mulut Keanu.

Anindia hanya membalasnya dengan senyuman, Keanu juga kembali tersenyum. Jarak di antara mereka begitu dekat. Subuh itu tidak hanya menjadi awal dimulainya hari, tapi juga sebagai keakraban dua insan yang semakin dekat.

Mereka tahu bahwa mereka tidak hanya sekedar bersama. Tapi juga saling memiliki dengan cara yang paling tenang.

Di sela-sela keheningan itu, tiba-tiba saja Keanu memiringkan sedikit kepalanya. Ia menatap Anindia dengan ekspresi yang sedikit berubah, menjadi sedikit usil.

"Lain kali, kalau capek jangan dipaksain." Ujar Keanu pelan.

Anindia masih menatap Keanu, namun raut wajahnya berubah sedikit. Ia sedikit menunduk, merasa bahwa ia sedang dinasehati oleh suaminya.

"Nanti kamu sakit," lanjut Keanu dengan seutas senyum, lalu sengaja memberi sedikit jeda. "Aku yang ribet."

Anindia refleks menghela nafas kecil, lalu ia kembali menoleh ke arah Keanu. Ia menatap Keanu dengan penuh rasa bersalah, karena tidak mendengarkan perkataan Keanu sepenuhnya.

"Maaf, Mas..." Hanya kalimat itu yang terlontar dari mulutnya.

Keanu sendiri terlihat santai. Lalu, ia menggelengkan kepalanya. "Aku belum selesai ngomong, lho."

Anindia kembali terdiam, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia hanya bisa menatap Keanu dengan mata yang berkaca-kaca.

"Karena," ujar Keanu lagi dengan kata yang menggantung. Keanu mengambil tangan Anindia, menggenggamnya lembut. "Aku gak bisa liat senyum kamu."

Anindia langsung tersenyum, merasa kesal sekaligus gemas dengan penuturan suaminya itu. Anindia menyenggol lengan Keanu pelan, sementara Keanu langsung terkekeh melihat reaksi istrinya itu.

Keanu sedikit mendekat, sengaja mempersempit jarak di antara mereka. Tatapannya turun sejenak, lalu kembali menatap lekat wajah istrinya.

"Kalau kamu kayak gini," ujar Keanu kemudian. "Aku jadi makin susah buat nahan diri untuk liatin kamu terus."

Anindia menundukkan kepalanya, mencoba menahan salting. Tangannya refleks membetulkan mukenanya, padahal sejak tadi sudah rapi. Jarinya sedikit bergetar, wajahnya terasa panas, bahkan ia tidak berani menatap suaminya sendiri.

"Padahal subuh-subuh gini harusnya aku fokus ibadah," lanjut Keanu dengan nada yang nyaris seperti bisikan. "Tapi, malah terfokus sama bidadari."

"Mas!" Ujar Anindia dengan perasaan yang campur aduk, antara malu, kesal dan juga gemas yang bergabung menjadi satu. "Udah punya anak, lho."

Keanu tersenyum puas melihat tingkah Anindia yang masih sama. "Iya, tapi gak pernah pacaran."

Anindia langsung terdiam. Ucapannya terhenti di tenggorokan, seolah tidak tahu harus mengatakan apa. Ia kemudian menggeleng pelan.

"Sifatnya masih sama," ujar Anindia pada akhirnya. "Dulu ngeselin, sekarang tambah ngeselin."

Keduanya sama-sama tertawa pelan, berusaha tidak menimbulkan suara yang keras agar tidak membangunkan Shaka. Hingga akhirnya, tawa kecil itu mereda.

Keanu kembali menyentuh pucuk kepala Anindia, memberikan belaian yang membuat mata Anindia langsung terpaku pada sosoknya.

"Gitu dong, senyum," ujar Keanu dengan nada yang lebih tenang, tidak ada nada tengilnya lagi. "Jangan sedih terus, jangan terlalu banyak pikiran. Mama udah sembuh, Insya Allah."

Anindia mengangguk kecil. Ia tahu bahwa ada seseorang yang selalu ada di sampingnya, seseorang yang selalu menenangkan. Bahkan, seseorang yang selalu tahu kapan harus bercanda dan kapan harus menguatkan.

"Mas," panggil Anindia lirih. "Terima kasih, ya. Udah selalu ada, udah selalu menguatkan."

Keanu menatap Anindia dalam. Ia mendengarkan dengan sabar, tanpa sedikit pun ingin menyela perkataan Anindia.

"Dan... Terima kasih juga, udah sabar sama aku," lanjut Anindia.

"Enggak perlu bilang terima kasih, sayang." Ujar Keanu kemudian. "Semua ini ya karena kamu. Karena kamu satu-satunya orang yang bisa meluluhkan kerasnya hati ini."

Anindia tersenyum lebih lebar. Ia bisa merasakan tulusnya hati Keanu untuknya. Ia tidak perduli dengan apa yang sudah berlalu. Baginya, kehadiran Keanu sudah lebih dari cukup.

Tangan Keanu masih berada di kepala Anindia, seolah tidak ingin melepas momen itu terlalu cepat.

"Sayang," panggil Keanu di sela-sela keheningan.

"Iya, Mas?" Jawab Anindia cepat.

"Siap-siap ya," ujar Keanu santai.

Anindia mengernyit heran. Ia tidak mengerti maksud Keanu yang menyuruhnya untuk bersiap, terlebih pagi buta seperti ini.

"Siap-siap?" Ujar Anindia bingung. "Untuk apa, Mas?"

Keanu mengangguk pelan. "Iya, kita keluar sebentar."

"Keluar kemana, Mas?" Tanya Anindia kemudian.

Keanu kembali mengangguk, kali ini dengan seutas senyum misterius. "Ada deh, sekalian refreshing. Bawa Shaka juga."

Anindia terkejut dengan penuturan suaminya, tatapannya langsung berubah. Ada rasa senang dan juga ragu dibalik ajakan itu.

"Tapi, nanti aku kuliah, Mas," ujar Anindia.

"Aku tau, kamu masuk jam 10, kan?" Ujar Keanu mantap, seolah telah memperhitungkan semuanya.

Anindia hanya mengangguk singkat, membenarkan perkataan Keanu.

"Masih ada waktu," lanjut Keanu santai. "Kita keluar sebentar aja, gak usah lama-lama."

Anindia masih diam, ia melirik sejenak ke arah tempat tidur, melihat Shaka yang masih terlelap. Lalu, ia kembali menoleh ke arah Keanu dengan seutas senyum.

"Boleh, Mas," ujarnya.

"Mm, bu-na..."

Dari arah tempat tidur, terdengar suara Shaka yang baru saja terbangun. Orang yang pertama ia cari adalah Anindia. Refleks, keduanya menoleh ke arah tempat tidur.

"Ya udah, siap-siap aja dulu," ujar Keanu yang langsung berdiri. "Biar Shaka sama aku."

Keanu langsung melangkah ke arah tempat tidur, sementara Anindia hanya bisa melihat pemandangan itu dengan penuh rasa syukur.

"Jagoan ayah udah bangun?" Ujar Keanu sembari menggendong tubuh mungil itu.

Shaka hanya mengeluarkan ocehan kecil ketika sang ayah menggendongnya. Anindia kemudian beranjak, menuju ke kamar mandi.

Subuh itu terasa semakin hangat. Bukan hanya doa yang baru saja mereka panjatkan, tapi juga karena hal sederhana, saling mengisi peran tanpa diminta.

^^^Bersambung...^^^

1
Fadillah Ahmad
Kok, sepi sih, yang baca? Padahal Tulisan di Sinopsis-nya bagus loh? Rapi lagi. Kok sepi banget, ya?

Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih udah mampir, kak... Selamat membaca ya, semoga terhibur hehe😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!