Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.
Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.
Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.
Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul
Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
liontin
Hari-hari Rania akhir-akhir ini berwarna, bukan warna abu-abu kayak abis hujan, bukan warna hitam kayak galau tingkat dewa. Tapi warna pastel kayak langit pagi sebelum matahari nongol. Warna yang bikin dia tersenyum tanpa sebab, yang bikin dia sering lirik HP, yang bikin dia secara refleks megang jam tangan di pergelangan.
Kenapa? Ya jelas Alfino.
Pria itu sekarang sudah kayak bayangan bukan bayangan yang serem. Tapi bayangan yang selalu ada. Pagi jemput, pulang antar, kadang kirim kopi ke kantor tanpa diminta. Kadang tiba-tiba muncul di lobi dengan plastik gorengan dan senyum kecil yang bikin jantung Rania oleng kayak perahu di ombak.
Ibu sudah tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan. Beliau sibuk bersih-bersih rumah setiap kali ada kabar Alfino mau main. Parfum ruangan disemprot sampai mabuk. Kue-kue dadakan muncul kayak sulap. Bapak juga mulai manggut-manggut kalau namanya Alfino disebut, bahkan pernah bilang anak itu sopan. Bukan tipe yang suka pamer Bapak suka.
Naufal? Jangan ditanya si adik ini sudah kayak tim sukses.
Setiap ada kesempatan, dia pasti nyengir sambil berbisik, "Mbak, gaspol aja jangan dipikirin. Gue jamin Mas Alfino bukan kaleng-kaleng."
Alfino sendiri? Dia makin sering datang. Gak cuma buat ngajak Rania makan, tapi juga buat silaturahmi ke keluarga. Kadang bawa buah, kadang bawa parcel camilan kadang bawa durian . Pernah sekali dia bawa satu set alat kebun buat bapak yang baru saja hobi nanam cabe. Bapak sampai melek, langsung repot-repot potong rumput halaman depan, padahal biasanya mangkir kalo disuruh bersihin.
Rania gemas sendiri.
"Ini bukan pacaran namanya ini udah kayak uji coba jadi mantu."
Tapi dia tidak protes. Karena dia juga mulai merasakan kenyamanan itu. Ketenangan itu. Perasaan yang tidak perlu diterjemahkan dengan label apapun.
Sore itu hari kamis mendung tipis di langit kayak kapas yang kebasahan.
Rania baru pulang dari kantor badannya agak pegal karena begadang bikin laporan buat Pak Heru yang killernya minta ampun. Naufal belum pulang mungkin lagi nongkrong di bengkel motor. Bapak dan Ibu di teras, Ibu lagi nyulam, Bapak lagi baca koran.
Rania duduk di sofa ruang tamu, merebahkan punggungnya kayak karung beras yang dijatuhkan.
Tiba-tiba...
BRREEET!
Bel pintu berbunyi.
Rania bangkit malas-malasan. "Siapa sih, jam segini?"
Dia buka pintu tidak ada orang tapi di bawah, di teras, ada paket dus kecil warna coklat. Dibungkus plastik bening dengan pita merah.
Rania mengerjap.
“Pasti dari Alfino kayaknya ada-ada aja ini orang,” ujarnya pelan.
“Baru kemarin kasih cemilan, sekarang kasih apa lagi?”
Dia ambil paket itu, lalu masuk ke ruang tamu. Ibu menengok dari dapur.
“Kiriman?” tanya Ibu.
“Iya, Bu. Mungkin dari Mas Alfino,” jawab Rania sambil duduk.
Ibu nyengir lebar. “Cepet dibuka,” ujarnya penuh semangat.
Bapak yang tadi membaca koran ikut melirik. “Coba lihat, apa isinya,” ujarnya penasaran.
Rania membuka plastiknya perlahan lalu dusnya. Di dalamnya ada kotak kecil warna hitam, lembut seperti beludru.
Jantungnya mulai berdebar.
“Apa ini ya?” gumamnya.
“Perhiasan lagi? Alfino, jangan boros amat… nanti aku sungkan,” ujarnya setengah berbisik.
Dia menelan ludah. Tangannya sedikit gemetar saat membuka kotak hitam itu secara perlahan.
Dalam hati dia berdoa, “Mungkin anting… mungkin kalung… mungkin gelang… mungkin… ya Allah, jangan cincin dulu. Belum waktunya,” ujarnya dalam hati, gugup.
Kotak terbuka Rania terdiam.
“Ini…” suaranya pelan.
Di dalamnya, terbaring sebuah liontin kecil. Sederhana, tapi berkilau halus, seperti menyimpan makna.
Ibu mendekat. “Bagus banget,” ujarnya kagum.
Bapak ikut berdiri. “Itu emas, ya?” tanyanya.
Rania masih menatap liontin itu lama dadanya hangat, tapi juga bingung.
“Mas Alfino…” bisiknya lirih.
“Kamu ini sebenarnya maunya apa sih?” ujarnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Tangannya mengangkat liontin itu perlahan di baliknya, ada ukiran kecil Rania menyipitkan mata.
“Ini ada tulisannya…” ujarnya pelan.
Dia membaca.
Dan detik itu, jantungnya seperti berhenti sesaat.
Warna perak mengkilap berbentuk hati di bagian tengahnya ada satu batu kecil bukan berlian sebenarnya, tapi batu zirkonia cantik yang berkilau kayak tetesan embun kena sinar matahari.
Rania menggenggamnya hatinya bergetar, tapi bukan getar senang.
"Kenapa rasanya... aneh?"
Dia perhatikan bentuknya hati dengan ukiran garis melengkung di sisi kiri simetris sederhana. Tidak ribet.
Dan tiba-tiba...
BLIP!
Sekejap sedetik membludak.
Ingatan itu datang tanpa diundang kayak tamu yang masuk tanpa ngetok pintu. Kayak hujan yang tiba-tiba jatuh dari langit cerah. Kayak lagu lama yang tiba-tiba diputar radio.
Dulu, waktu masih pacaran dengan Rangga, Rania pernah duduk di emperan toko, dua tahun lalu. Hujan turun deras, mereka terjebak di sana, menunggu reda.
Di depan mereka, ada etalase perhiasan. Lampunya kuning hangat, memantulkan kilau kalung dan cincin.
Rania memperhatikan cukup lama.
Lalu entah kenapa, dia mengambil kertas struk belanja dari tasnya. Mengeluarkan pulpen mulai menggambar sebuah liontin, bentuk hati dengan ukiran garis melengkung di sisi kiri.
Dia tersenyum kecil melihat gambarnya sendiri.
“Kalau aku punya desain kayak gini, lucu ya, Rang?” ujarnya sambil menyodorkan kertas itu.
Rangga melirik sekilas, lalu mengangguk santai.
“Beli aja,” ujarnya datar.
Rania meringis kecil.
“Mahal,” ujarnya sambil tertawa ringan.
Rangga menyandarkan punggung ke dinding.
“Ya udah, nanti kalau aku punya duit, aku bikinin sesuai desainmu,” ujarnya seolah itu hal biasa.
Rania menoleh, matanya berbinar sedikit.
"Janji?” tanyanya memastikan.
Rangga tersenyum tipis.
“Janji,” ujarnya singkat.
Rania tertawa waktu itu hujan masih turun tapi hatinya terasa hangat.
Selesai.
Itu dulu.
Dan sekarang… tangannya sedikit gemetar saat memegang liontin di depannya.
Rania tidak pernah ingat lagi karena janji itu seperti janji-janji lain yang kadang terlupakan. Apalagi setelah Rangga pergi, semua kenangan dia kubur dalam-dalam, ditimbun tanah, dikasih batu nisan yang bertuliskan tidak Usah Dibuka Lagi.
Tapi sekarang.
Liontin ini.
Persis. Sama persis. Kayak di-copy-paste dari ingatan, bentuk hati ukiran garis batu zirkonia di tengah rantai tipis. Rania terdiam jantungnya berdebar keras pangkal tenggorokannya terasa tersumbat kayak ada yang nyangkut.
"Ini bukan dari Alfino." Bisik rania pelan
Ibu menyenggol. "Rania, kenapa diem? Cantik tuh liontin, mas Alfino pilihannya bagus."
Rania tidak menjawab dia lihat kotak dia lihat bagian dalam ada secarik kertas kecil, terlipat rapi.
Dia buka tulisan tangan, huruf kapital kaku kayak orang yang menulis dengan gemetar.
RAN, INI AKU MAAF LIONTIN INI SESUAI DESAINMU DULU AKU TEPATI JANJI, BUKAN UNTUK MELAMAR. TAPI UNTUK MEMINTA MAAF AKU TAU KAMU MARAH. AKU TAU KAMU KECEWA. TAK APA SETIDAKNYA, AKU TELAH MENEPATI JANJI. SEKALI LAGI, MAAF.RANGGA.
Dunia Rania berhenti berputar Ibu masih komat-kamit Bapak masih baca koran tapi Rania tidak mendengar apa-apa yang dia dengar cuma suara darah yang mengalir deras kayak sungai banjir di kepalanya.
"Rangga."
"Rangga."
"Rangga."
Nama itu terasa asing dan akrab di saat bersamaan kayak bau rumah lama yang sudah gak pernah dikunjungi.
Dia pegang liontin itu tangannya gemetar, seperti daun kering ditiup angin.
Ibu mulai curiga. “Rania, ada apa?” tanyanya sambil mendekat.
“Kamu pucat kayak tembok,” ujarnya tajam.
Rania cepat menggeleng.
“Enggak, Bu… gak apa-apa,” ujarnya terbata.
Ibu menyipitkan mata.
“Jangan bohong,” ujarnya.
“Ibu kenal anak Ibu. Kamu pucat, matanya sayu, rambutnya kusut… kayak orang baru digrebek,” ujarnya setengah bercanda tapi penuh selidik.
“BU!” suara Rania meninggi.
“Aku bilang gak apa-apa!” ujarnya, sedikit emosi.
Bapak nengok dari balik koran, pelan-pelan dia menurunkan korannya, lalu menatap Rania.
“Rania,” panggilnya tenang.
“Paket itu dari siapa?” tanyanya pelan, tapi tegas.
Rania diam beberapa detik.
Lalu dia menutup kotak itu, kertas kecilnya dia lipat, kecil-kecil, lalu dimasukkan ke saku celana.
“Paling cuma promosi toko online, Pa,” ujarnya singkat, menghindari tatapan.
Bapak mengangkat alis.
“Promosi pakai kotak beludru?” ujarnya.
"Jangan bercanda.”
Rania tidak menjawab dia berdiri langkahnya gontai, seperti robot yang kehabisan baterai.
Tanpa menoleh lagi, dia berjalan ke kamar.
Pintu tertutup pelan.
Ibu dan Bapak saling pandang.
“Ada yang tidak beres,” ujar Ibu pelan.
Bapak menghela napas panjang.
“Biarkan dulu,” ujarnya tenang.
“Nanti juga dia cerita.”
Di kamar, Rania duduk di tepi kasur kotak hitam tergeletak di sampingnya dia buka lagi, lhat liontin itu.
Hati kecilnya berkata "Janji dulu ,yang lupa. Sekarang dikirim, tepat, persis sesuai desain."
Hatinya yang lain berbisik "Tapi sekarang sudah lewat, Ran. Janji itu datang saat luka sudah mengering tidak ada gunanya."
Hatinya yang pertama lagi membantah "Tapi dia ingat, Ran. Dia ingat desain itu, dia ingat janjinya. Di antara sekian banyak keburukan, setidaknya dia menunjukkan itikad."
Rania menutup muka.
"Rangga, kenapa lo baru ingat sekarang? Kenapa gak dari dulu? Kenapa pas aku mulai bahagia dengan... dia?"
Dia ingin membuka ponsel ingin cerita ke Alfino. Ingin bertanya, "Mas, aku harus gimana?"
Tapi jarinya tidak bergerak.
Bukan karena malas. Bukan karena takut. Tapi karena... dia sadar. Dia belum bisa membawa Alfino ke dalam pusaran, ini masalah masa lalunya. Ini luka lamanya dan dia harus menyelesaikannya sendiri, atau setidaknya, memilahnya sendiri dulu.
Rania tidak menulis WA tiidak menelepon hanya menatap kotak hitam itu.
Lalu dia buka laci meja belajar. Di dalamnya ada buku catatan, pulpen, dan beberapa surat lama yang sudah lusuh. Dia masukkan kotak itu ke dalam laci, tidak dia kenakan, tidak dia buang.
Hanya disimpan untuk sementara.