Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
di Balik Senyum
Udara di dalam aula megah itu terasa sejuk berkat pengaturan suhu yang canggih, namun bagi Alex dan Aulia, suasananya terasa panas dan penuh tekanan. Setiap langkah yang mereka ambil disertai tatapan puluhan pasang mata ada yang penuh kekaguman, ada yang penasaran, dan tak sedikit yang menyimpan rasa iri atau niat buruk.
Mereka melangkah perlahan melewati deretan tamu, menyapa dengan senyum sopan namun tetap menjaga jarak yang wajar. Di sisi lain ruangan, Ramon Salazar masih berdiri di tempatnya, sesekali mengangkat gelasnya seolah sedang menikmati suasana, namun matanya tidak pernah lepas dari pergerakan Alex dan Aulia.
“Dia seperti ular yang sedang bersiap menyergap mangsanya,” bisik Aulia pelan, cukup terdengar hanya oleh Alex. Tangannya yang tergandeng erat di lengan pria itu sedikit menegang.
Alex menoleh sekilas, menatap wajah Aulia dengan tatapan menenangkan sekaligus melindungi. “Biarkan dia menatap sepuasnya. Semakin dia fokus pada kita, semakin dia lupa mengawasi kelemahannya sendiri. Ingat, kita yang mengatur irama malam ini.”
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berpakaian rapi mendekat ia adalah perwakilan dari perusahaan investasi besar asal Eropa yang menjadi incaran Alex dan juga target rebutan Ramon.
“Tuan Alex, selamat malam. Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung,” sapa pria itu ramah sambil mengulurkan tangan. “Saya Gerard Moreau, dari Grup Aurora.”
Alex menyambut uluran tangan itu dengan tegas namun sopan. “Selamat malam, Tuan Moreau. Kehormatan ada di pihak saya. Izinkan saya memperkenalkan pasangan hidup saya, Nona Aulia.”
Aulia tersenyum anggun, sedikit membungkukkan badan. “Senang bertemu dengan Anda, Tuan Moreau.”
Gerard menatap Aulia dengan pandangan kagum sesaat, lalu kembali menatap Alex. “Saya sudah mendengar banyak hal tentang proyek film ini, dan khususnya soal desain set serta kostum yang dikerjakan oleh Nona Aulia. Kabarnya, kualitasnya melampaui standar yang biasa kita lihat di industri ini.”
“Karya Aulia bukan sekadar desain, Tuan Moreau. Ia adalah jiwa dari cerita yang ingin kami sampaikan,” jawab Alex dengan nada bangga yang tulus.
Percakapan yang terlihat santai itu berlangsung lancar, membahas rencana kerja sama dan potensi pasar, namun di tengah obrolan itu, sosok Ramon Salazar tiba-tiba melangkah mendekat dengan senyum lebar yang terasa dipaksakan.
“Wah, rupanya sudah ada diskusi penting di sini,” sapa Ramon dengan suara lantang yang menarik perhatian tamu di sekitarnya. Ia berdiri tepat di samping Gerard, memposisikan dirinya seolah sudah menjadi bagian dari percakapan itu. “Selamat malam, Tuan Moreau. Sudah lama tidak bertemu.”
Gerard mengernyitkan dahi samar, namun tetap bersikap sopan. “Selamat malam, Tuan Salazar. Memang sudah lama.”
Ramon kemudian menoleh ke arah Alex, senyumnya terasa lebih tajam dan penuh tantangan. “Dan tentu saja, Tuan Alex. Kita akhirnya bertemu secara resmi. Saya sudah sering mendengar nama Anda berseliweran di kota ini. Konon Anda orang yang sangat cepat dalam mengembangkan bisnisnya.”
Alex membalas tatapan itu dengan tenang, tanpa sedikit pun terlihat terganggu. “Memang baik jika nama kita dikenal. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita membangunnya dengan dasar yang kuat, bukan hanya dengan cara yang sembarangan.”
Kata-kata itu mengandung sindiran halus, namun cukup jelas dimengerti oleh Ramon. Rahangnya mengeras sesaat sebelum ia kembali tersenyum. “Tentu saja. Tapi terkadang, terlalu berhati-hati justru membuat kita kehilangan kesempatan emas. Misalnya saja, kontrak kerja sama yang sedang dibicarakan ini saya juga sudah menyampaikan penawaran yang cukup menguntungkan kepada Tuan Moreau. Mungkin kita bisa membandingkannya bersama?”
Ia berusaha menarik perhatian Gerard, mencoba menunjukkan bahwa dirinya adalah pilihan yang lebih baik. Namun sebelum Gerard sempat menjawab, Aulia melangkah maju sedikit, suaranya lembut namun tegas dan jelas terdengar.
“Tuan Salazar, saya dengar Anda juga memiliki bisnis di bidang perhotelan dan hiburan. Jika boleh saya bertanya, apakah Anda juga memperhatikan nilai seni dan kualitas detail seperti yang kami usahakan dalam proyek ini?” tanya Aulia dengan pandangan yang tenang namun tajam.
Ramon tertegun sejenak, seolah tidak menyangka wanita muda itu berani bertanya balik. “Tentu saja. Saya selalu mengutamakan keuntungan dan kepuasan klien.”
“Keuntungan memang penting,” sambung Aulia, tidak mundur sedikit pun. “Tapi kepuasan sejati tidak hanya datang dari angka di atas kertas. Dalam desain, dalam produksi, dan dalam bisnis yang bertahan lama, kita butuh fondasi yang terencana, terukur, dan jujur. Proyek ini tidak hanya soal uang, tapi soal kepercayaan yang kami bangun sejak awal.”
Kata-kata Aulia membuat Gerard mengangguk setuju. “Benar sekali. Dalam jangka panjang, kualitas dan kepercayaan adalah aset yang paling berharga.”
Wajah Ramon memerah karena malu sekaligus marah. Ia merasa dipermalukan di depan orang yang ingin ia tarik ke pihaknya. “Anda masih sangat muda, Nona. Mungkin Anda belum mengerti bahwa di dunia bisnis yang sesungguhnya, hal-hal semacam itu sering kali harus dikalahkan oleh kebutuhan yang lebih mendesak.”
“Usia tidak menentukan kebenaran, Tuan Salazar,” potong Alex dengan nada yang tiba-tiba berubah lebih dingin dan berwibawa, membuat suasana di sekitar mereka menegang. “Dan jika Anda menganggap kepercayaan sebagai hal yang bisa dikalahkan, maka itu sebabnya bisnis Anda selalu berjalan di jalur yang tidak pasti. Saya tidak bermain dengan cara yang merugikan pihak lain, dan saya tidak akan membiarkan siapa pun merusak apa yang sudah saya bangun.”
Tatapan mata Alex berubah gelap, memancarkan aura kekuasaan dan bahaya yang membuat Ramon merasakan getaran ketakutan yang tidak ia harapkan. Ia sadar, di depan orang ini, ia tidak sekuat yang ia bayangkan. Namun gengsinya terlalu tinggi untuk mundur begitu saja.
“Baiklah, kita lihat saja nanti hasilnya,” desis Ramon pelan, lalu berpamitan dengan alasan ingin menyapa tamu lain, meski langkah kakinya terasa tergesa-gesa.
Setelah sosok itu menjauh, Gerard menghela napas pendek sambil tersenyum tipis. “Dia memang orang yang giat, tapi caranya sering kali terasa memaksa. Jujur saja, penawaran Anda jauh lebih masuk akal dan transparan, Tuan Alex. Percakapan malam ini sudah semakin memperjelas pilihan saya.”
Alex mengangguk lega. “Terima kasih atas kepercayaannya, Tuan Moreau. Kami akan membuktikan bahwa keputusan itu tidak salah.”
Setelah perbincangan itu selesai dan Gerard pergi menyapa tamu lain, Alex segera menoleh ke arah Aulia, matanya penuh kekaguman dan rasa bangga yang meluap. Ia mengangkat tangan kanannya, menyentuh pipi wanita itu dengan lembut.
“Kau luar biasa, Sayang. Cara kau menjawabnya membuatku semakin yakin bahwa kau bukan hanya pendamping, tapi juga kekuatan terbesarku,” ucap Alex dengan suara rendah yang hanya terdengar oleh mereka berdua.
Aulia tersenyum, napasnya terasa sedikit memburu karena ketegangan tadi. “Aku hanya bicara apa yang aku yakini. Dan aku tidak mau melihat dia meremehkan kita begitu saja.”
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Rio tiba-tiba mendekat dengan langkah cepat namun tetap tenang, wajahnya menyiratkan ada hal penting yang harus disampaikan.
“Bos, ada laporan masuk. Tim pengawas melihat ada beberapa orang yang menyusup masuk tanpa kartu undangan resmi. Mereka bergerak mengelilingi ruang pameran benda-benda koleksi yang ada di lantai dua,” lapor Rio dengan suara rendah.
Mata Alex menyipit tajam. “Pasti anak buah Ramon. Mereka tidak terima sudah kalah dalam perdebatan, jadi mereka ingin membuat keributan dengan cara lain. Jika ada barang berharga yang hilang atau rusak, reputasi kita yang akan jatuh.”
“Mereka ingin mempermalukanmu di depan semua tamu penting,” tambah Aulia yang segera menangkap maksud rencana licik itu.
Alex menggenggam tangan Aulia lebih erat, lalu menatap matanya dengan tegas. “Kau tetap di sini bersama Victor. Jangan pergi ke mana pun. Aku dan Rio akan memeriksa ke atas. Jika ada yang mencurigakan, hubungi tim keamanan yang sudah kita tempatkan.”
“Hati-hati, Alex,” pesan Aulia dengan nada khawatir namun percaya.
Alex mengangguk, lalu berjalan cepat diikuti Rio menuju tangga menuju lantai atas. Begitu sampai di koridor yang lebih sepi dan redup cahayanya, mereka bisa melihat bayangan tiga orang yang sedang membuka kunci lemari pajangan kaca dengan alat khusus.
“Tertangkap basah,” gumam Alex dingin.
Ia memberi isyarat pada Rio untuk mengelilingi dari sisi lain, sementara dirinya melangkah maju dengan langkah yang tidak menimbulkan suara. Saat ketiga pencuri itu sadar ada kehadiran orang lain, mereka langsung berbalik dan mengeluarkan senjata pendek.
“Jangan bergerak!” bentak salah satu dari mereka.
Namun Alex tidak gentar sedikit pun. Ia adalah pria yang tumbuh dan bertahan hidup di dunia yang mengandalkan kekuatan dan kecepatan. Begitu salah satu pria itu mengarahkan senjatanya, Alex melompat maju dengan gerakan kilat, memukul lengan orang itu hingga senjatanya terlempar jatuh ke lantai.
Pertarungan singkat namun sengit pun terjadi. Satu orang mencoba menyerang dari samping, namun Rio sudah siap dan segera menahan serangan itu, memutar tubuh lawannya hingga jatuh terjerembab. Alex berhadapan dengan pemimpin kelompok itu, menerima pukulan keras di bahunya, namun segera membalas dengan serangan yang lebih terukur dan mematikan, menekan tubuh lawannya hingga terjepit di dinding dengan napas terengah-engah.
“Siapa yang menyuruh kalian datang ke sini?” desis Alex, cengkeramannya di kerah baju pria itu semakin kuat.
“Kami… kami tidak tahu siapa nama orangnya… hanya disuruh mengacak-acak barang di sini agar terlihat seperti perampokan biasa…” jawab pria itu ketakutan merasakan kekuatan yang luar biasa dari Alex.
“Bawa mereka ke ruang pengamanan. Jangan sampai ada yang melihatnya dulu,” perintah Alex pada Rio. “Kita punya bukti baru yang bisa kita gunakan untuk menjerat Ramon lebih dalam lagi.”
Setelah semuanya diamankan, Alex memeriksa luka kecil di sudut bibirnya dan memijat bahunya yang terasa sakit. Ia tahu, ini baru satu bagian dari rencana Ramon. Musuh itu tidak akan berhenti hanya dengan satu usaha gagal.
Saat ia kembali turun ke aula utama, tatapannya segera menemukan Aulia yang sedang menunggunya dengan wajah cemas. Begitu melihat Alex kembali dengan selamat, meski ada sedikit bekas pertarungan, Aulia segera melangkah mendekat.
“Kau terluka?” tanyanya lembut sambil menyeka sudut bibir Alex dengan sapu tangan kecil yang ia bawa.
“Luka ringan, tidak apa-apa,” jawab Alex sambil tersenyum tenang. “Mereka gagal lagi, dan kali ini mereka justru memberi kita kesempatan untuk membalas dengan cara yang lebih cerdas.”