Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Valerio dan Sisi Lembut yang Tersembunyi
Setelah melewati malam Jumat Kliwon yang mendebarkan di mana taktik militer Barat harus bertekuk lutut di hadapan sapu lidi dan air garam Bianca, markas Aegis Esports di Palmerah perlahan kembali ke ritme normalnya. Selamatan potong tumpeng yang disarankan Bianca sukses digelar keesokan harinya, lengkap dengan mengundang Ibu Kos Sukeni dan jajaran pengurus RT setempat. Langkah taktis ini tidak hanya berhasil menenangkan "Mbak Kunti" penghuni tangga lantai tiga, tetapi juga resmi mengukuhkan klan De Luca sebagai tetangga yang ramah dan beradab di mata warga gang senggol.
Namun, di balik semua dinamika komikal dan ketegangan internasional yang kerap melanda ruko tersebut, ada satu sosok yang tetap berdiri kokoh bagai patung granit tanpa emosi.
Valerio De Luca.
Sebagai tangan kanan sekaligus eksekutor utama Lorenzo, Valerio dikenal sebagai pria yang dingin, tak banyak bicara, dan memiliki kalkulasi pembunuhan yang presisi. Bagi Dante, kakaknya adalah mesin tempur yang efisien. Bagi Lorenzo, Valerio adalah perisai besi yang tidak pernah retak. Namun bagi Bianca, tidak ada manusia yang sepenuhnya terbuat dari batu. Pasti ada celah kecil di dalam hati sang algojo Sisilia yang menyembunyikan sisi kemanusiaan yang lembut—dan celah itu mendadak terbuka justru karena seekor makhluk kecil yang tak berdaya di gang Palmerah.
Sore itu, Jakarta Barat diguyur hujan badai yang sangat deras. Petir menyambar bergantian di atas langit Palmerah, mengubah jalanan semen di depan ruko menjadi aliran air yang keruh. Kegiatan latihan tim Aegis terpaksa dihentikan karena suara gemuruh hujan yang terlalu bising menembus kaca jendela lantai dua.
Valerio berdiri di dekat balkon, tangannya memegang cangkir berisi espresso pekat tanpa gula. Matanya yang tajam menatap ke arah gang sempit di samping ruko, mengamati tirai air yang jatuh dari langit. Tiba-tiba, telinganya yang terlatih untuk mendengar suara sekecil apa pun di medan perang menangkap sebuah frekuensi suara yang asing.
Itu bukan suara gesekan kabel atau gemercik air biasa. Suara itu adalah pekikan kecil yang putus-putus, sangat lemah, dan dipenuhi oleh rasa ketakutan yang murni.
Valerio meletakkan cangkir espressonya di atas pagar balkon. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Lorenzo atau Dante yang sedang sibuk menganalisis data, ia berbalik badan, melangkah turun ke lantai dasar, lalu membuka pintu gerbang besi ruko. Ia melangkah keluar ke tengah guyuran hujan deras tanpa menggunakan payung maupun jaket pelindung.
Di dalam ruko, Bianca yang kebetulan sedang ingin mengambil camilan di lantai dasar langsung melongo melihat kelakuan Valerio. "Lho, Mas Val mau ke mana hujan-hujan begini? Mau nyari si Reno ya?" gumamnya penasaran. Ditdorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi, Bianca mengambil payung bermotif kodok hijau miliknya dan ikut menyelinap keluar.
Bianca mengikuti langkah tegap Valerio yang masuk ke dalam gang tikus di samping ruko. Di sana, di antara tumpukan kayu bekas proyek renovasi dan sebuah tempat sampah plastik besar yang terbalik, Valerio menghentikan langkahnya. Pria bertubuh tegap penuh otot itu perlahan-lahan berlutut di atas tanah yang becek berlumpur, mengabaikan kemeja flanel mahalnya yang kini basah kuyup terkena percikan air kotor.
Dengan jari-jarinya yang besar dan kasar—jari yang biasanya digunakan untuk menarik pelatuk senapan runduk atau mematahkan leher musuh—Valerio perlahan menggeser selembar papan kayu yang basah.
Di balik papan itu, terjebak di dalam genangan air yang mulai meninggi, terdapat seekor anak kucing jalanan yang masih sangat kecil. Bulunya yang berwarna oranye kusam tampak basah kuyup, menempel erat pada tubuhnya yang kurus hingga memperlihatkan tulang rusuknya yang menonjol. Matanya yang sebelah kiri tertutup oleh kotoran, dan makhluk kecil itu gemetar hebat menahan dingin sambil terus mengeong lemah.
Bianca yang baru saja tiba di lokasi langsung menahan napas. Ia bersiap untuk melihat Valerio menyingkirkan kucing itu dengan kasar karena dianggap mengganggu perimeter keamanan, atau mengabaikannya begitu saja seperti tipikal mafia yang tidak peduli pada hal-hal sepele.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru membuat rahang Bianca hampir jatuh ke tanah.
Valerio tidak menendang atau mengabaikan makhluk itu. Ia justru menurunkan tubuhnya lebih rendah lagi. Wajahnya yang sangar dan biasanya sedingin es perlahan melunak. Dengan kehati-hatian yang sangat ekstrem, seolah-olah sedang menjinakkan bom waktu berkekuatan tinggi di medan perang, Valerio menyendok anak kucing itu menggunakan kedua telapak tangannya yang besar.
"Kau aman sekarang, Prajurit Kecil," bisik Valerio dengan suara rendahnya yang berat. Bahasa Italianya terdengar sangat lembut, sebuah intonasi suara yang belum pernah didengar oleh siapa pun di dalam keluarga De Luca selama sepuluh tahun terakhir.
Anak kucing itu, merasakan adanya kehangatan yang tiba-tiba dari sepasang tangan raksasa tersebut, langsung berhenti mengeong. Ia menyusupkan kepalanya yang basah ke dalam sela-sela jari Valerio, mencari perlindungan dari dinginnya badai Jakarta.
Valerio berdiri perlahan, memeluk anak kucing itu erat-dedekat di dadanya, berusaha melindunginya dari terpaan angin hujan menggunakan postur tubuhnya yang lebar. Saat ia berbalik, ia mendapati Bianca sedang berdiri membeku di bawah payung kodok hijaunya dengan mata yang berkaca-kaca.
Wajah Valerio mendadak kembali mengeras, rona merah tipis yang canggung muncul di belahan rahangnya. "Bianca. Jangan katakan apa pun pada Lorenzo atau Dante tentang hal ini."
Bianca justru tersenyum lebar, senyuman manis yang dipenuhi oleh rasa takjub yang mendalam. Ia melangkah maju, memayungi Valerio dan anak kucing di pelukannya. "Waduh, Mas Val... ternyata di balik tampang algojo Sisilia yang menyeramkan ini, ada hati yang selembut gulali ya. Sini, bawa masuk ke dalam ruko cepat sebelum dia mati kedinginan!"
Setengah jam kemudian, ruang rapat utama tim Aegis Esports yang biasanya dipenuhi oleh laptop berspesifikasi tinggi dan cetak biru strategi permainan mendadak beralih fungsi menjadi ruang perawatan hewan darurat.
Valerio duduk di lantai beralaskan handuk kering, sibuk mengeringkan bulu anak kucing itu menggunakan pengering rambut (hairdryer) milik Bianca dengan tingkat ketelitian yang luar biasa. Ia mengatur jarak tiupan angin panas agar tidak melukai kulit tipis sang kucing, gerakannya sangat ritmis seolah sedang membersihkan komponen sensitif dari senapan laras panjangnya.
Dante yang masuk ke dalam ruangan untuk mengambil flashdisk langsung menghentikan langkahnya di ambang pintu. Kacamata minusnya hampir melorot saat melihat kakaknya—pria yang pernah menghancurkan satu markas sindikat di Milan sendirian—kini sedang dengan telaten membersihkan kotoran mata seekor anak kucing menggunakan kapas basah.
"Valerio... apa yang sedang kau lakukan?" tanya Dante dengan nada tidak percaya. "Apakah kau sedang mencoba menginterogasi agen mata-mata baru milik musuh?"
"Dia bukan musuh, Dante," jawab Valerio tanpa menoleh, jemarinya perlahan mengelus bagian belakang telinga sang kucing yang kini mulai kering dan mengembang menjadi warna oranye cerah. "Dia adalah korban perang dari cuaca ekstrem kota ini. Dia butuh asupan logistik segera."
Lorenzo melangkah masuk tak lama kemudian. Sang Capo dei Capi menatap tajam ke arah makhluk kecil yang kini dengan santainya mendengkur (purring) di atas pangkuan celana Valerio.
"Kita tidak memelihara hewan di markas, Valerio," ucap Lorenzo, suaranya terdengar datar namun tegas. "Klan De Luca tidak boleh memiliki kelemahan domestik yang bisa dimanfaatkan oleh musuh untuk melakukan pemerasan psikologis."
Sebelum Valerio sempat merespons dengan wajah kaku khasnya, Bianca sudah lebih dulu pasang badan di depan Lorenzo, berkemben dengan memegang botol susu bayi kecil yang baru saja ia beli dari warung depan.
"Ih, Mas Bos ini hatinya tegar banget kayak batu kali ya!" semprot Bianca, menggunakan hak istimewanya sebagai manajer lokal yang tidak takut pada gertakan mafia. "Ini bukan kelemahan, Mas! Ini namanya maskot keberuntungan tim Aegis! Kucing oranye di Indonesia itu terkenal punya mental petarung nomor satu, nggak takut sama siapa pun, persis kayak mental klan De Luca! Lagian yang nyelametin kan Mas Val, masa Bos tega ngebuang barang bawaan wakilnya sendiri?"
Lorenzo menatap Bianca yang sedang melotot ke arahnya, lalu beralih menatap Valerio yang meskipun diam, namun tatapan matanya menunjukkan pembelaan yang mutlak terhadap anak kucing tersebut. Melalui sisa ikatan emosional yang terkadang masih bisa ia rasakan dari Bianca, Lorenzo menangkap adanya getaran kehangatan yang mendalam di dalam ruangan ini—sebuah kemewahan emosi yang tidak pernah mereka miliki selama hidup di bawah bayang-bayang senjata di Italia.
Lorenzo menghela napas pendek, lalu memutar tubuhnya membelakangi mereka. "Pastikan dia tidak mengencingi kabel server utama milik Dante. Dan Valerio... beri dia nama yang layak untuk seorang prajurit."
Valerio memberikan anggukan kecil yang sangat penuh rasa hormat. "Terima kasih, Capo."
Setelah mendapatkan persetujuan dari Lorenzo, ruko Palmerah resmi memiliki penghuni baru. Anak kucing oranye itu diberi nama "Corporal Gatot" oleh Bianca—karena ditemukan di dekat selokan dekat jalan Gatot Subroto—namun Valerio lebih suka memanggilnya dengan nama taktis: "Kopral Gatito".
Perubahan perilaku Valerio setelah kehadiran Kopral Gatito menjadi tontonan paling menghibur sekaligus menghangatkan hati bagi seluruh anggota klan. Pria yang biasanya menghabiskan waktu luangnya dengan membaca jurnal balistik atau merancang rute pelarian darurat itu, kini memiliki rutinitas baru yang sangat kontras.
Setiap pagi pukul enam, sebelum anak-anak tim Aegis bangun untuk latihan, Valerio akan terlihat berjalan ke pasar tradisional Palmerah mengenakan kaos oblong hitam ketat yang memperlihatkan otot bisepnya yang mengerikan. Para pedagang ikan di pasar awalnya ketakutan melihat bule sangar tersebut, namun ketakutan itu sirna ketika tahu bahwa tujuan Valerio setiap hari adalah menawar kepala ikan tongkol segar dengan bahasa Indonesia yang sangat patah-patah demi membuat makanan rumahan untuk kucingnya.
"Ibu... ini ikan... potong bersih untuk... Kopral," ucap Valerio pada salah satu ibu penjual ikan dengan nada sedatar robot, namun jarinya dengan lembut menunjuk ikan terbaik.
Di ruko sendiri, Kopral Gatito tampaknya tahu betul siapa pelindung utamanya. Makhluk kecil itu menolak tidur di tempat tidur kucing mahal yang dibelikan Dante. Ia lebih memilih tidur di dalam ruang penyimpanan senjata rahasia milik Valerio, tepat di atas kotak penyimpanan peluru yang dilapisi kain beludru, atau bergelung manis di atas pundak lebar Valerio saat pria itu sedang membersihkan senjatanya.
"Lihat itu, Mas Lorenzo," bisik Bianca pada suatu sore, menunjuk ke arah ruang tengah.
Di sana, Valerio sedang duduk di sofa sambil menonton berita televisi. Di atas dadanya yang bidang, Kopral Gatito sedang tertidur pulas sambil sesekali menggerakkan ekornya. Tangan kanan Valerio yang dipenuhi bekas luka tembak dan pisau tampak mengelus perut buncit sang kucing dengan gerakan yang sangat lembut, seolah-olah seluruh kekerasan dunia bawah Eropa yang pernah ia lalui menguap begitu saja setiap kali makhluk kecil itu mengeluarkan suara dengkurannya.
Dante yang melihat hal itu dari meja kerjanya hanya bisa tersenyum tipis. "Secara psikologis, Lorenzo... Kopral Gatito bertindak sebagai katarsis emosional bagi Valerio. Selama lima belas tahun di Sisilia, dia dipaksa untuk menjadi mesin yang tidak boleh merasakan empati agar kita semua bisa bertahan hidup. Kucing kecil ini... memberikannya ruang aman untuk menjadi manusia biasa kembali tanpa harus merasa bersalah."
Lorenzo mengangguk perlahan, meminum kopinya sambil menatap pemandangan itu dari kejauhan. "Aku tahu, Dante. Selama perisai besiku tetap tajam di medan pertempuran, aku tidak keberatan jika dia memiliki sedikit kelembutan di dalam ruko ini."
Malam itu, di bawah rintik hujan sisa badai yang membasahi aspal Palmerah, markas mafia De Luca terasa jauh lebih hangat daripada lantai marmer Palazzo mana pun di Roma. Melalui penyelamatan sederhana di bawah guyuran hujan, Valerio tidak hanya menyelamatkan sebutir nyawa kecil yang tak berdaya, tetapi ia juga berhasil menemukan kembali bagian dari jiwanya yang sempat hilang di tengah desingan peluru masa lalu—sebuah sisi lembut yang tersembunyi, yang akhirnya mekar dengan indah di bawah kepungan kehangatan sebuah gang kecil di Jakarta Barat.