Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!
Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.
Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....
Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.
Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Pertunjukan Publik
Ada hal penting yang sulit untuk diabaikan sejak acara ini dimulai. Yaitu, nyaris tidak ada yang berinteraksi dengan Havren. Yah, mereka memang menyapa pada semua anggota keluarga kerajaan, namun tidak satupun mengatakan basa-basinya pada Havren. Seolah tidak ada yang menganggap pangeran ketiga itu cukup penting. Seolah pangeran bungsu itu tak lebih dari patung. Hanya hiasan yang diletakkan di sana.
Memang sih, secara tak tertulis, bintang utama dari acara ini adalah sang putra mahkota. Mungkin wajar kalau tamu yang datang berusaha menarik perhatian pangeran pertama itu. Mungkin juga fakta bahwa Havren sudah dijanjikan untuk Jovienne membuat para bangsawan berpikir untuk tidak cari gara-gara. Tapi! Kan! Apa salahnya tetap berinteraksi untuk membangun keakraban platonik?
Semakin dipikir, aku semakin kesal. Orang-orang ini, yang katanya berada di kasta tertinggi negeri ini, hanya bisa bergosip di belakang dan mencemooh Havren, atau menganggapnya tidak ada. Menyebalkan.
Pasalnya adalah, aku bisa merasakan betapa Havren sangat bersemangat di awal acara ini. Lalu, seiring aula yang semakin ramai, Havren terlihat semakin lesu. Beberapa kali aku mendapati matanya tertuju pada orang-orang yang berkerumpul saling bersenda gurau. Pada Raien yang meminum anggur sambil dikelilingi banyak pemujanya. Pada Caelian yang terlihat berdiskusi serius dengan entah lord dari house mana. Pada Jovienne yang menyantap kue ditemani beberapa gadis lain.
Mengeong pelan, aku menggosokkan kepalaku di lengan Havren. Aku paham sekali apa yang dirasakan Havren saat ini.
Merasa sendirian di tengah keramaian adalah hal paling menyakitkan. Membuatmu sadar betapa kesepiannya dirimu.
Aku sedikit tersentak ketika Havren tiba-tiba berdiri.
Bukannya menuruni tangga kecil ke lantai utama aula, lelaki itu justru meninggalkan ruangan lewat pintu belakang.
Aku menatap punggungnya dengan tatapan sedih.
Sempat aku menyusul Havren. Atau, rencanaku sih ingin menyusul. Hanya saja, begitu keluar dari aula, aku tidak bisa menemukannya di manapun. Dari ujung koridor ke ujung koridor lain, sudah tidak terlihat batang hidungnya.
Anak itu begitu cepat menghilang. Tidak tahu pergi ke mana….
Keinginan untuk mencari di tempat biasa aku menemukannya pun tidak bisa dilakukan, karena tahu-tahu Jovienne mengangkat tubuhku dan membawaku kembali ke aula. Ternyata gadis itu menyadari kepergianku.
Aku mengeong pelan, mengikuti arah pandang Jovienne yang tertuju ke satu sisi koridor.
Apa Jovienne juga mencari Havren...?
...*...
...*...
...*...
Ketika kembali ke aula, alunan musik mulai berubah. Ketukannya lebih hidup, tempo cepat yang membangkitkan semangat.
Sesi pertunjukan tampaknya sudah dimulai.
Pintu besar aula terbuka dan serombongan penari berjalan masuk. Masing-masing dari mereka mengenakan topeng yang menutupi separuh wajah. Kain berlapis dengan selendang tembus pandang bergerak mengikuti tiap langkah. Kaki mereka menapak di lantai tanpa alas. Gemerincing gelang kaki terdengar bersahutan. Jernih seperti kristal yang beradu, menemani ketukan lagu. Warna-warni itu dengan segera menarik perhatian semua orang.
Entah dari mana rombongan ini berasal, sepertinya mereka cukup populer. Tepuk tangan dan siulan menemani gerak tari yang memukau. Selendang berkibar dan berputar, sesekali menyapa beberapa tamu yang berdiri paling dekat. Kaisar Lucerian mengangkat gelas wine dan mereguknya dengan senyum menghiasi wajah, tampak begitu terhibur.
Rombongan itu menggunakan sejumlah properti dalam tarian mereka. Kipas lipat dibentangkan dari balik selendang, geraknya membentuk bermacam pola yang kembali mengundang seruan kagum. Ketika kipas itu dilempar ke udara dan perhatian kebanyakan orang terarah ke sana, mereka menarik keluar sepasang pedang pendek.
Aku tidak terlalu paham soal tarian pedang, entah apa bedanya dengan permainan pedang yang asli, yang jelas mereka tampak begitu lihai.
Satu, dua dari mereka melompat ke udara dan beradu pedang. Sepintas tidak ada gerakan yang terlihat berbahaya. Biarpun seperti mensimulasikan pertarungan, mereka tidak terlihat hendak saling menyakiti. Mereka bergerak serentak, terkontrol.
Kecuali....
Ketika tempo musik semakin cepat penanda memasuki klimaks, salah satu penari itu melompat tinggi. Ia mendarat di anak tangga menuju kursi yang diduduki keluarga Kerajaan. Pedangnya berayun lebar. Satu gerakan yang kemudian menjatuhkan semua penari lain. Denting logam yang terbentur dan berjatuhan ke lantai terdengar bersahutan, bersama pekik dan seruan terkejut.
Kekacauan yang seketika merusak formasi.
Orang-orang di aula sejenak mematung, tidak yakin apakah itu adalah anomali ataukah bagian dari pertunjukan. Para pengawal yang berdiri di tiap penjuru mulai meraih pedang mereka. Di kursinya, Raien duduk lebih tegak.
Lalu,
Satu-satunya penari yang masih berdiri itu melepas topengnya.
Dan semua orang baru menyadari bahwa rambut di bawah tudung selendang itu… berwarna perak.
“Kuharap anda menikmati persembahan dariku ini, Yang Mulia.”
Penari itu—Havren???—berkata. Wajah cantiknya bersemu merah dan senyumnya merekah lebar.
Situasi yang mengikuti kalimat gembira itu, namun, amat bertolak belakang.
Tidak ada tepuk tangan meriah yang terdengar. Ruangan itu hening. Udara yang menggantung terasa berat, seakan semua yang ada di sana tidak berani bernapas terlalu keras.
Anggota lain rombongan tari itu tampak sama terkejutnya, kelabakan. Sebagian dari mereka segera berdiri, sementara sebagian lain bersujud rendah. Seakan tidak ada kesepakatan di antara mereka.
Untuk sementara waktu, tidak ada yang mengatakan apa-apa. Bahkan Kaisar Lucerian hanya menghela napas dan mengalihkan pandangan, seolah tidak ingin berada di sana.
Setelah beberapa saat, suara Caelian terdengar memecah keheningan menegangkan itu. “Menarik," ujarnya lambat; nyaris malas. “Di antara sekian banyak cara untuk menarik perhatian…”
Kalimatnya terjeda.
Beberapa orang menahan napas, menunggu kelanjutan perkataannya.
“Alangkah lebih baik bila inisiatif itu tetap hanya sebuah rencana.” Caelian tetap berbicara dalam intonasi netral, tanpa sedikitpun menaikkan suaranya. Senyum tipis membayang di bibirnya, meski jelas tidak mencapai mata.
Tanpa menunggu tanggapan dari siapapun, sang putra mahkota mengangkat satu tangan, gerakan kecil yang serta merta dimengerti semua.
Cukup sudah.
(Alias perintah tanpa verba agar menyingkir dari hadapan)
Rombongan penari itu serentak meninggalkan ruangan. Gerakan mereka tampak sedikit tergesa, resah. Amat kontras dengan langkah mereka ketika memasuki aula tadi.
Meski tidak ada yang mengatakannya secara gamblang, semua yang ada di sana seakan setuju—bahwa ini adalah kesalahan.
Mengikuti gestur aba-aba dari sang putra mahkota, pemain musik kembali mengganti alunan lagu. Melodi halus nan ringan penanda waktu berdansa kini memenuhi ruangan. Perlahan para tamu kembali mengambil napas mereka.
Lalu, Caelian berdiri dari kursinya. Ia melangkah menuruni tangga dalam gerakan yang terkontrol. Posturnya tegap dan tak sedikitpun terlihat ragu.
Putra mahkota itu berdiri di hadapan seorang gadis. Tangannya terulur dengan telapak terbuka.
Sebuah undangan.
Dan, seperti yang seharusnya terjadi, tidak ada yang menolak.
Bersamaan dengan jemari yang saling bertaut, aula itu kembali dipenuhi tepuk tangan dan riuh obrolan hangat.
Ramai. Penuh semangat.
Putra Mahkota telah memilih teman dansa pertamanya!
Dengan cepat atensi beralih. Menghapuskan apa yang terjadi beberapa saat lalu.
...*...
...*...
...*...
Selesai menyaksikan dansa pertama putra mahkota, aku mencari Havren. Bagaimanapun juga, ditegur seperti tadi di hadapan orang banyak bukanlah hal menyenangkan. Aku sedikit mengekspektasi pangeran muda itu meninggalkan pesta, mungkin ke taman labirin di mana dia biasa memainkan seruling, atau tempat-tempat lain favoritnya.
Tapi, aku justru melihat dia sudah kembali ke ruang dansa. Bahkan masih mengenakan pakaian para penari. Yang berbeda hanyalah ketiadaan topeng dan selendang, dan dia… sedang berbincang dengan seseorang.
Bukan hanya seseorang. Itu Althea Grendahl!
Sementara orang-orang berdansa di tengah ruangan, mereka mengobrol dengan gelas wine di tangan. Sementara orang-orang tampak berusaha mengabaikan kejadian sebelum ini—dan mengabaikan keberadaan Havren sebagi pusat dari insiden, gadis itu… berbicara hangat. Tawa kecil sesekali terdengar.
Mereka terlihat… akrab.
Aah…. beginikah memang kekuatan tokoh utama perempuan.
Tentu saja, di antara orang-orang yang bersikap dingin, dia adalah presensi hangat yang didamba. Pelipur lara.
HAH!
Apa Althea baru saja tersipu??
Tatapan itu…. Tidak salah lagi…..
MAYDAY!
Ini bukan jalur yang baik!!
Tidak bisa!!! HARUS AKU SABOTASE!!!
...*...
...*...
...*...
Riuh ramai pesta masih terdengar dari aula utama. Seiring malam yang semakin larut, tawa dan obrolan terdengar lebih nyaring di bawah pengaruh alkohol. Di langit, bulan sabit bersinar begitu terang, dengan bintang-bintang berserak di sekitarnya. Tampak alam semesta pun turut memeriahkan pesta.
Angin berhembus cukup kencang, seakan tak setuju dengan hingar bingar itu. Derunya terdengar seperti teguran. Pembawa berita bagi siapa yang mendengarkan.
Dengan lentera di tangan, ia berjalan menjauhi bangunan kastil utama. Langkahnya yang lebar menunjukkan urgensi, walau derapnya ringan seakan tak ingin menimbulkan waspada. Cahaya api menari di bola mata gelap, memantul di batu garnet yang menghiasi ikat rambut.
Pintu gudang dibukakan oleh pengawal yang memanggilnya ke sana.
Di bawah cahaya lentera, di antara tumpukan peralatan, sosok itu separuh tersembunyi. Tubuhnya gemetar dan matanya melebar ketakutan.
Bola mata sewarna langit malam menatap bergantian kain yang menyumpal mulut, tali kasar yang mengikat pergelangan tangan dan kaki, lalu… gelang kristal di pergelangan kaki tanpa alas.