NovelToon NovelToon
12 Langkah Sebelum Januari

12 Langkah Sebelum Januari

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: pashadena

Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: KETUKAN PINTU DAN CINCIN YANG RETAK

Hari yang ditentukan itu datang bersama rintik hujan tipis yang membasahi pelataran tanah rumah kami. Aroma tanah basah berbaur dengan bau minyak goreng dari dapur, tempat Ibu dan beberapa tetangga sejak subuh telah sibuk menggoreng pisang dan membuat kue-kue pasar seadanya. Di dalam kamar, aku berdiri mematung di depan sebuah cermin retak yang digantung pada dinding bambu. Kebaya kutubaru berwarna hijau pupus pemberian Budhe Sumi melekat pas di tubuhku yang tirus. Rambut panjangku yang biasanya dikuncir kuda asal-asalan, kini telah disanggul rapi oleh jemari tangkas Budhe Sumi.

Aku nyaris tidak mengenali diriku sendiri. Di dalam cermin itu, aku tidak lagi melihat Yuni sang buruh jahit pabrik garmen Cakung yang berwajah lelah dan bermata tajam penuh kewaspadaan. Yang ada di sana adalah seorang gadis asing berkebaya yang tampak anggun, namun memiliki sorot mata yang kosong dan redup.

"Cantik sekali kamu, Nduk," bisik Budhe Sumi yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu kamar.

Wanita berusia tiga puluh delapan tahun itu tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kebanggaan. Dia melangkah mendekat, membetulkan letak selendang batik yang tersampir di pundakku. "Ingat pesan Budhe, Yuni. Nanti kalau mereka sudah datang, jalan dengan tenang, taruh pandanganmu ke bawah, jangan pecicilan. Biar Ibu Retno tahu kalau didikan Budhe selama kamu ikut Budhe dulu tidak sia-sia. Tunjukkan kalau kamu adalah gadis desa yang tahu sopan santun."

"Iya, Budhe," sahutku pelan, nyaris berbisik. Tanganku yang dingin saling meremas di depan perut.

Tak lama kemudian, suara deru mobil yang asing memecah keheningan gang desa kami yang biasanya hanya dilewati sepeda tua atau motor bebek bising. Jantungku seketika berdegup dua kali lebih cepat. Dari balik celah dinding bambu kamar, aku bisa melihat sebuah mobil sedan hitam mengilat berhenti tepat di depan pelataran rumah kami yang becek. Di desa ini, kedatangan mobil mewah seperti itu adalah sebuah tontonan. Tetangga-tetangga bahkan sengaja keluar ke teras rumah mereka, berbisik-bisik sembari menunjuk ke arah rumah kami dengan tatapan takjub bercampur iri.

Pintu mobil terbuka. Seorang wanita paruh baya turun dengan keanggunan yang mengintimidasi. Dialah Ibu Retno. Rambutnya disanggul tinggi dan rapi tanpa ada sehelai pun yang mencuat keluar, pakaian kebayanya terbuat dari kain sutra mahal berwarna ungu tua, dan seuntai kalung mutiara melingkar di lehernya. Tatapan matanya tajam, menyapu sekeliling halaman rumah kami yang sederhana dengan kerutan tipis di dahi—sebuah isyarat samar bahwa kenyataan kemiskinan kami sedikit mengusik kenyamanannya.

Di belakangnya, seorang pria muda melangkah turun sembari memegang payung untuk melindungi ibunya dari rintik hujan. Pria itu memakai kemeja batik sutra lengan panjang dengan rambut belah tengah klimis yang rapi, tipikal tren pria kota era sembilan puluhan. Wajahnya tampan, dengan garis rahang yang lembut dan pembawaan yang tampak sangat tenang, bahkan cenderung pasif. Dialah Hendra, calon suamiku.

Bapak dan Ibu menyambut mereka di pintu depan dengan tubuh yang membungkuk dalam, sebuah gestur minder yang lahir secara alami dari orang miskin saat berhadapan dengan penguasa takhta ekonomi. Budhe Sumi dengan sigap mengambil alih situasi, menyapa Ibu Retno dengan tutur kata yang luwes dan penuh hormat, lalu mempersilakan rombongan kecil itu duduk di atas tikar pandan terbaik yang sudah kami siapkan.

"Yuni, keluar, Nduk. Bawa tehnya," suara Ibu memanggil dari luar kamar beberapa belas menit kemudian.

Aku menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga dadaku yang mendadak terasa begitu sempit. Dengan nampan plastik berisi lima cangkir teh hangat di tangan, aku melangkah keluar kamar. Kakiku terasa berat, seolah-olah semen yang kupijak menjelma menjadi lumpur hisap yang menahan setiap langkahku.

Sesuai instruksi Budhe Sumi, aku berjalan menunduk. Aku meletakkan cangkir-cangkir teh itu satu per satu di atas tikar dengan gerakan sehati-hati mungkin, memastikan tidak ada air yang tumpah atau cangkir yang berdenting keras. Saat aku menyajikan teh di depan Hendra, aku tidak sengaja melirik ke arahnya. Pria itu ternyata sedang menatapku. Tatapan matanya lembut, tidak ada keangkuhan di sana, justru ada binar ketertarikan yang tulus saat melihatku berkebaya hijau. Detik itu juga, aku sedikit merasa lega. Setidaknya, calon suamiku tidak tampak seperti monster yang menakutkan.

Namun, rasa lega itu menguap ketika pandanganku beralih pada Ibu Retno. Wanita itu menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan mata yang menyipit, seolah-olah sedang memeriksa kualitas selembar kain garmen di pabrik sebelum membelinya.

"Jahitan kebayanya rapi. Kulitnya juga bersih untuk ukuran anak desa yang bekerja di pabrik," ujar Ibu Retno, suaranya terdengar renyah namun dingin, ditujukan kepada Budhe Sumi tanpa memandangku sebagai manusia seutuhnya. "Sumi tidak berbohong. Anak ini memang kelihatan penurut."

Budhe Sumi tertawa kecil, sedikit membungkuk. "Tentu tidak, Ibu Retno. Yuni ini sejak umur tujuh tahun sudah saya asuh sendiri. Dia tahu betul bagaimana cara berbakti dan mengurus rumah tangga. Saya jamin, dia tidak akan mengecewakan keluarga Ibu."

Bapak dan Ibu hanya tersenyum kaku di sudut tikar, tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Percakapan ini sepenuhnya dikendalikan oleh Ibu Retno dan Budhe Sumi, sementara aku, Bapak, dan Ibu hanyalah objek yang sedang diserahterimakan dalam sebuah kesepakatan bisnis yang sakral bernama pernikahan.

"Baiklah," Ibu Retno membetulkan posisi duduknya, perhiasan emas di pergelangan tangannya gemerincing halus. "Kami tidak suka menunda-nunda urusan. Karena Hendra juga sudah setuju, kami ingin pernikahan ini diadakan secepatnya. Bulan depan, sebelum Januari tiba. Tidak perlu pesta besar di desa, merepotkan. Cukup akad nikah yang sah di KUA, lalu Yuni langsung kami boyong ke kota untuk tinggal di rumah kami."

Ibu Retno kemudian menoleh ke arah Hendra, memberikan isyarat dengan anggukan kepala yang tegas. Hendra merogoh saku kemeja batiknya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah tua. Dia membukanya, memamerkan sebilah cincin emas murni dengan ukiran bunga kecil di tengahnya.

"Yuni... ini untukmu," kata Hendra pelan. Suaranya terdengar sangat santun, namun ada nada datar yang mengindikasikan bahwa dia hanya sedang menjalankan sebuah skenario yang sudah diatur rapi oleh ibunya.

Budhe Sumi menyenggol lenganku, memberi kode agar aku segera menerima kotak tersebut. Aku mengulurkan tanganku yang gemetar. Ketika Hendra menyematkan cincin itu di jari manis kanan ku, rasa dingin dari logam mulia itu langsung menjalar hingga ke dadaku. Cincin itu pas di jariku, namun rasanya seperti sebuah borgol tak kasat mata yang resmi mengunci seluruh hak atas masa mudaku.

Malam harinya, setelah rombongan Ibu Retno pulang dan rumah kembali sepi, aku duduk di ambang jendela kamar, menatap sisa-sisa air hujan yang menetes dari atap rumbia. Di jari manisku, cincin emas pemberian Hendra berkilau tertimpa cahaya lampu teplok. Aku memandangnya dengan perasaan yang campur aduk.

"Kamu tidak senang, Yun?" sebuah suara halus menyapaku dari arah kegelapan pelataran.

Itu Lilis. Dia datang menyelinap lewat pintu belakang setelah tahu bahwa acara lamaranku sudah selesai. Teman sebayaku itu duduk di ambang jendela luar, menatap cincin di jariku dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Bukan tidak senang, Lis. Hanya... rasanya aneh," jawabku pelan, mengusap permukaan cincin emas itu dengan jempolku. "Semuanya berjalan terlalu cepat. Bulan depan aku sudah harus menikah, lalu pindah ke kota besar yang sama sekali tidak kukenal, tinggal di rumah semewah itu dengan mertua yang..." aku menjeda kalimatku, tidak berani melanjutkan ketakutanku tentang Ibu Retno.

Lilis menghela napas panjang, bersandar pada tiang bambu rumah. "Tadi aku melihat mobil mereka dari kejauhan. Mewah sekali, Yun. Di pabrik kita, mungkin kita harus menjahit sejuta potong kemeja dulu baru bisa membeli mobil seperti itu. Tapi... entahlah. Aku hanya takut kamu kesepian di sana nanti. Orang kaya kota punya aturan yang beda dengan kita orang desa."

"Aku punya Budhe Sumi yang menjamin, Lis. Mas Hendra juga kelihatan orang yang baik dan penurut," ujarku, mencoba menghibur diriku sendiri sekaligus menenangkan Lilis. "Yang penting, kemarin Ibu bilang kalau Ibu Retno sudah memberikan uang hantaran yang cukup banyak untuk Bapak. Uang itu bisa dipakai untuk melunasi semua utang beras dan membelikan Doni sepeda baru untuk ke sekolah. Tugas pertamaku sebagai anak sulung sudah selesai, Lis. Aku sudah berhasil menjadi jembatan untuk mereka."

Lilis menatapku lama, matanya berkaca-kaca di bawah temaram malam. "Kamu selalu memikirkan orang lain, Yun. Dari dulu, dari kita masih kecil, lalu waktu kita sama-sama memalsukan KTP di Jakarta, sampai sekarang kamu mau menikah. Kapan kamu memikirkan dirimu sendiri?"

Pertanyaan Lilis mengambang di udara malam yang dingin, tidak menemukan jawaban. Aku hanya bisa melempar senyum tipis yang getir. Bagi seorang anak sulung dari keluarga yang terlampau miskin, memikirkan diri sendiri adalah sebuah dosa besar yang tidak boleh dilakukan.

Satu bulan berikutnya berlalu seperti pusaran angin yang merenggut seluruh kesadaranku. Aku resmi mengajukan surat pengunduran diri dari pabrik garmen di Cakung. Momen perpisahan dengan Mbak Lastri dan teman-teman satu lajur jahitku berjalan dengan penuh air mata. Mereka menyelipkan beberapa potong handuk kecil dan perlengkapan dapur murah ke dalam kardus mie instanku sebagai hadiah pernikahan.

"Jaga dirimu baik-baik di kota orang ya, Yuni. Jangan mau diinjak-injak meskipun mereka kaya. Kamu itu perempuan tangguh, buruh jahit andalan lajur tiga. Ingat itu," pesan Mbak Lastri sembari memelukku erat di depan gerbang pabrik untuk terakhir kalinya.

Dan di sinilah aku sekarang. Di pertengahan bulan Desember yang basah, di dalam sebuah kamar tidur yang luasnya tiga kali lipat dari ukuran kamar petak kontrakanku di Cakung. Kamar ini terletak di lantai dua rumah mewah milik keluarga Hendra di pusat kota besar. Lantainya terbuat dari tegel marmer yang dingin, ranjangnya besar dengan kasur pegas yang empuk ditutupi sprei katun halus bermotif bunga, dan ada sebuah lemari jati besar tiga pintu yang berdiri kokoh di sudut ruangan.

Pernikahan kami sudah dilangsungkan satu minggu yang lalu di KUA desa dengan sangat sederhana, persis seperti keinginan Ibu Retno. Tidak ada pesta, tidak ada panggung pelaminan, hanya ada sumpah suci di depan penghulu yang disaksikan oleh Bapak, Ibu, dan Budhe Sumi. Setelah itu, aku langsung dibawa pergi menggunakan mobil sedan hitam, meninggalkan kampung halamanku, meninggalkan Lilis, dan meninggalkan sisa-sisa masa remajaku di belantara desa.

Namun, keindahan fisik rumah mewah ini ternyata berbanding terbalik dengan atmosfer di dalamnya. Seminggu menjadi istri Hendra, aku mulai menyadari sebuah kenyataan pahit tentang suamiku. Hendra adalah pria yang sangat rapuh. Di depan ibunya, dia berubah menjadi sosok anak laki-laki yang tidak memiliki suara sama sekali. Dia tidak pernah berani membantah, bahkan untuk hal-hal kecil seperti menentukan menu sarapan atau jam berapa dia harus pulang dari toko grosir kain keluarga mereka.

"Hendra, istrimu itu diajari cara menyetrika baju yang benar. Kemarin kemeja batikmu yang dicuci dia masih agak kusut di bagian kerah. Dasar anak desa, pegang setrika listrik saja sepertinya masih gemetar," suara Ibu Retno terdengar lantang dari arah ruang makan bawah, menembus langit-langit kamar kami yang tinggi.

Di dalam kamar, Hendra yang sedang memakai jam tangannya hanya menghela napas pendek. Dia melirikku yang sedang merapikan sprei tempat tidur dengan tatapan minta maaf yang bisu.

"Yuni... maafkan Ibu, ya. Beliau memang orangnya perfeksionis. Kamu turuti saja apa maunya, jangan dibantah. Biar rumah ini tetap tenang," kata Hendra pelan, suaranya terdengar pasrah dan tak berdaya.

"Iya, Mas. Yuni tidak apa-apa. Nanti Yuni setrika ulang kemejanya," jawabku sembari memaksakan senyum.

Hendra melangkah mendekat, mengusap puncak kepalaku singkat sebelum bergegas turun ke bawah karena suara klakson mobil ibunya sudah berbunyi di garasi. Setelah langkah kakinya menjauh, aku terduduk di tepi ranjang yang empuk. Kamar mewah ini mendadak terasa seperti sebuah penjara bawah tanah yang pengap dan dingin. Aku menatap jari manisku, tempat cincin emas pernikahan kami melingkar. Entah karena gesekan saat aku membersihkan kamar mandi rumah ini kemarin atau karena kualitas pengerjaannya yang kurang rapi, aku menyadari ada sebuah goresan halus yang melintang di permukaan cincin emas itu. Goresan kecil yang tampak seperti retakan tipis.

Aku mengusap retakan di cincin itu dengan ujung jariku yang gemetar. Angin Desember berembus kencang di luar jendela kamar yang besar, membawa rintik hujan yang mulai menderu menghantam kaca. Pernikahanku baru berjalan satu minggu, namun di dalam hati kecilku yang paling dalam, sebuah alarm kewaspadaan yang kupelajari selama dua tahun bertahan hidup di Jakarta mendadak berdering keras. Langkahku di rumah mewah ini baru saja dimulai, namun rasa dingin di dadaku berbisik bahwa perjalanan menuju bulan Januari nanti akan menjadi perjalanan paling berat yang harus kutempuh seorang diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!