Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Garis yang Kembali Tebal
Pagi itu, cuaca di luar sebenarnya cerah, namun bagi Zerya, matahari seolah kehilangan fungsinya. Ia berdiri di depan cermin, memastikan setiap helai rambutnya rapi dan lipstik merah pucatnya menutupi bibir yang semalam gemetar.
Topeng itu sudah kembali. Lebih tebal dan lebih keras dari sebelumnya.
Di lokasi proyek lapangan kedua, Javian sudah menunggu. Ia bersandar di kap mobilnya, tampak lebih santai dengan kemeja biru navy. Namun, saat melihat Zerya turun dari mobil dengan pengawalan dua pria berbadan tegap—kiriman Aldric—matanya menyipit.
"Selamat pagi, Tuan Javian," sapa Zerya. Suaranya datar, tanpa nada hangat yang sempat muncul di bawah rintik hujan atau di meja makan pai apel kemarin.
Javian memperhatikan sepasang pengawal yang berdiri beberapa meter di belakang Zerya. "Anda membawa rombongan hari ini, Nona Zerya?"
"Keamanan adalah prioritas keluarga saya, Tuan. Ayah saya rasa ini yang terbaik," jawab Zerya tanpa menatap mata Javian. Ia segera membuka tabletnya. "Bisa kita mulai peninjauan area kanal?"
Javian tidak bergerak. Ia justru melangkah satu langkah lebih dekat, mengabaikan tatapan waspada para pengawal. "Ada apa dengan 'Tuan' itu lagi? Kemarin kita sudah melewati tahap itu."
Zerya menarik napas pendek, menelan rasa sesak yang tiba-tiba muncul. "Kemarin adalah kesalahan profesional. Saya rasa kita harus kembali ke batasan yang seharusnya. Saya tidak ingin rumor murahan merusak reputasi Omerly maupun Talandra."
Javian terdiam. Ia merasakan perubahan suhu yang drastis. Gadis yang kemarin menangis di pelukan ibunya seolah telah menguap, digantikan oleh robot cantik yang hanya bicara soal reputasi.
"Rumor murahan?" Javian mengulang kalimat itu dengan nada rendah. "Atau ini hanya cara Anda untuk melarikan diri setelah menunjukkan siapa Anda sebenarnya?"
Zerya akhirnya mendongak, menatap Javian dengan pandangan yang kosong. "Saya bukan melarikan diri. Saya sedang bersiap."
"Bersiap untuk apa?"
"Untuk masa depan saya," Zerya memaksakan sebuah senyum kecil yang sangat palsu. "Ayah saya sudah merencanakan kepindahan saya ke Singapura dalam waktu dekat. Ada aliansi keluarga yang harus saya penuhi di sana. Jadi, saya ingin memastikan proyek ini selesai tepat waktu sebelum saya pergi."
Hening.
Angin pesisir bertiup kencang, membawa debu yang membuat mata terasa perih. Javian mengepalkan tangannya di dalam saku jas. Kata 'Singapura' dan 'Aliansi' adalah kode korporat untuk satu hal: Perjodohan.
"Singapura," Javian menggumamkan kata itu seolah itu adalah racun. "Begitu cepat Ayah Anda bergerak."
"Ini yang terbaik untuk semua orang, Tuan Javian. Termasuk untuk keberlangsungan kontrak kita," sahut Zerya dingin. "Sekarang, bisakah kita fokus pada pekerjaan? Saya tidak punya banyak waktu."
Zerya melangkah pergi lebih dulu, diikuti oleh kedua pengawalnya. Ia berjalan dengan punggung tegak, tidak membiarkan Javian melihat bagaimana tangannya yang memegang tablet bergetar hebat.
Javian tetap berdiri di tempatnya. Ia menatap punggung Zerya yang semakin menjauh, dipagari oleh dua pengawal itu. Ia tahu Zerya sedang berbohong, atau setidaknya, ia tahu Zerya sedang dipaksa untuk setuju.
Pesan Aldric tersampaikan dengan jelas lewat perubahan sikap Zerya.
Javian merogoh ponselnya, melihat pesan masuk dari ibunya yang bertanya kapan Zerya akan datang lagi untuk makan malam. Ia tidak membalas. Matanya tetap tertuju pada Zerya yang kini sedang berbicara kaku dengan mandor lapangan.
"Dia pikir dia bisa mengurungmu di Singapura," bisik Javian pada dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Javian Arka Talandra merasakan amarah yang bukan karena bisnis. Bukan karena angka yang meleset, tapi karena seseorang sedang mencoba memadamkan cahaya yang baru saja ia temukan.
Ia tidak akan mengejar Zerya sekarang. Mengejar hanya akan membuat Aldric menarik talinya lebih kencang. Javian harus bermain lebih cantik. Jika Aldric menggunakan "masa depan" sebagai ancaman, maka Javian akan memastikan masa depan itu tidak pernah terjadi.
"Lakukan sesukamu, Nona Zerya," batin Javian. "Tarik garis setebal mungkin. Tapi kau lupa, akulah yang memegang pena kontrak hidupmu saat ini."