sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIKET KE SURABAYA DAN PERANG DINGIN DI BANDARA
Pagi itu, suasana di kantor firma arsitek Arlan terasa lebih tegang dari biasanya. Bukan karena tenggat waktu proyek yang menumpuk, melainkan karena kehadiran sesosok wanita yang sangat ia kenal sedang duduk di ruang tunggunya dengan koper kecil di sampingnya.
"Ibu? Sedang apa di sini?" Arlan tertegun di ambang pintu ruangannya.
Bu Rahmi berdiri, merapikan bross di kerudungnya dengan gerakan anggun namun penuh maksud. "Ayahmu menelepon semalam, Lan. Proyek renovasi hotel di Surabaya itu ada kendala perizinan. Dan kebetulan, Safira sedang ada di Jakarta dan akan pulang hari ini. Ibu pikir, kenapa kalian tidak berangkat bersama saja? Kamu bisa sekalian mengecek lapangan."
Arlan memijat pelipisnya. Ini taktik klasik. "Ibu, Arlan bisa berangkat sendiri besok. Hari ini Arlan ada janji dengan klien."
"Klien bisa ditunda, Arlan. Tapi kepercayaan teman Ayahmu itu taruhannya. Safira sudah menunggu di mobil. Ibu sudah pesankan tiket pesawat untuk jam sebelas siang ini. Jangan membantah, ini demi kebaikan perusahaan," suara Bu Rahmi merendah, namun setiap katanya mengandung otoritas yang tak terbantah.
Arlan menghela napas panjang. Ia tahu jika ia menolak sekarang, ibunya akan semakin gencar menyerang Kira. Dengan berat hati, ia meraih ponselnya dan mengirimkan pesan singkat kepada Kira.
Arlan: Ra, maaf. Ibu mendadak minta aku ke Surabaya siang ini. Urusan proyek hotel. Dan... Safira ikut di penerbangan yang sama. Aku nggak bisa menolak. Aku telepon nanti kalau sudah sampai, ya?
Di sisi lain kota, Kira menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Safira ikut. Tiga kata itu terasa seperti godam yang menghantam dadanya. Ia sedang berada di pantry kantor, memegang cangkir kopi yang kini terasa dingin.
"Kenapa harus sekarang?" bisiknya lirih.
Tiba-tiba, sebuah tangan menepuk bahunya. Itu adalah Maya, rekan kerja sekaligus sahabat dekatnya di kantor.
"Ra, muka kamu pucat banget. Ada masalah sama si Arsitek Kaku itu?" tanya Maya khawatir.
Kira memberikan ponselnya pada Maya. Maya membaca pesan itu dan langsung mendengus kesal. "Wah, ini sih strategi 'penjebakan' level dewa dari calon mertua kamu, Ra. Surabaya itu jauh, Lan. Dua jam di pesawat, lalu makan malam bareng klien, hotel yang mungkin bersebelahan... kamu nggak takut?"
"Takut apa, May? Arlan kan cuma kerja," sahut Kira, mencoba membela diri meski hatinya mencelos.
"Ra, dengerin aku. Arlan itu memang setia, tapi Safira itu pilihan ibunya. Laki-laki itu kadang lemah kalau terus-menerus disuguhi 'kenyamanan' yang diinginkan orang tuanya. .
Kamu harus lakukan sesuatu!"
"Lakukan apa? Menyusul ke bandara seperti di film-film? Itu kekanak-kanakan, May. Aku bukan lagi anak SMA."
"Bukan menyusul untuk melarang, Ra. Tapi menyusul untuk menunjukkan bahwa kamu ada. Bahwa kamu pacarnya. Berikan dia sesuatu yang bikin dia ingat kamu sepanjang di Surabaya," Maya mengedipkan mata.
Satu jam kemudian, dengan jantung yang berdegup kencang, Kira sudah berada di taksi menuju Bandara Soekarno-Hatta. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak bekal berisi sandwich tuna pedas dan botol jus jeruk segar—kesukaan Arlan. Ia tahu Arlan pasti belum sempat makan siang karena jadwal mendadak ini.
Begitu sampai di Terminal 3, Kira mencari sosok Arlan di area keberangkatan. Dari kejauhan, ia melihatnya. Arlan sedang berdiri di dekat konter check-in, tampak tampan dengan kemeja flanel hitam dan tas ranselnya. Di sampingnya, Safira tampak anggun dengan tunik cokelat muda, sedang tertawa kecil mendengarkan sesuatu yang dikatakan Arlan.
Kira menarik napas panjang, menguatkan hati, lalu melangkah mendekat.
"Arlan!" panggil Kira cukup keras.
Arlan menoleh, matanya membelalak kaget.
"Kira? Kamu... sedang apa di sini?"
Safira juga menoleh, senyum ramahnya tetap terkembang namun ada sedikit kilat heran di matanya.
"Eh, ada Mbak Kira. Mau pergi juga?"
Kira menggeleng, ia berdiri tepat di depan Arlan, mengabaikan jarak yang biasanya ia jaga di depan umum. "Enggak. Aku cuma mau antar ini.
Kamu pasti belum makan siang, kan? Tadi katanya mendadak banget."
Kira menyerahkan kotak bekal itu. Arlan menerimanya dengan tatapan tak percaya, namun bibirnya perlahan membentuk senyuman tipis yang sangat tulus.
"Makasih, Ra. Kamu repot-repot ke sini cuma buat ini?" tanya Arlan, suaranya melembut seketika.
"Nggak repot kok. Tadi kebetulan jalanan lancar," bohong Kira. Ia kemudian menoleh pada Safira.
"Hai, Safira. Maaf ya, saya ganggu sebentar.
Titip Arlan ya selama di Surabaya. Dia itu kalau sudah kerja suka lupa minum air putih."
Safira tampak sedikit tersentak dengan kata "titip" yang diucapkan Kira dengan nada yang sangat posesif namun sopan. "Oh, iya Mbak Kira.
Tenang saja, nanti saya ingatkan kalau Mas Arlan terlalu sibuk."
Arlan berdeham, ia merasa suasana mendadak menjadi sangat dingin meski AC bandara sedang bekerja maksimal. "Ra, aku harus masuk sekarang. Pesawatnya sebentar lagi boarding."
"Iya, Lan. Hati-hati ya," ucap Kira.
Tiba-tiba, Arlan melakukan sesuatu yang tak terduga. Di depan Safira, dan di tengah keramaian bandara, ia mengulurkan tangannya dan mengusap puncak kepala Kira dengan lembut—sebuah gerakan yang selama sebelas tahun ini hanya bermakna persahabatan, namun kali ini terasa jauh lebih dalam.
"Tunggu aku pulang, ya? Jangan matikan HP-mu malam ini," bisik Arlan.
Kira mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Iya, janji."
Setelah Arlan dan Safira masuk ke dalam area steril, Kira berdiri mematung di sana selama beberapa saat. Ia melihat punggung Arlan yang menjauh, berdampingan dengan Safira. Rasa insecure itu tetap ada, namun setidaknya ia sudah menandai wilayahnya.
Dua jam kemudian, Arlan sudah berada di dalam mobil jemputan menuju hotel di Surabaya. Di sampingnya, Safira tampak ragu untuk memulai percakapan. Sejak di pesawat tadi, Arlan lebih banyak diam dan sibuk dengan kotak bekal dari Kira.
"Mbak Kira perhatian sekali ya, Mas?" tanya Safira akhirnya.
Arlan menutup kotak bekalnya yang sudah kosong. "Iya. Dia selalu tahu apa yang aku butuhkan, bahkan sebelum aku sendiri menyadarinya."
"Kalian... sudah lama bersahabat?"
"Sebelas tahun, Fira. Dia bukan cuma sahabat buatku.
Dia itu... bagian dari diriku."
Safira menatap jendela luar, melihat deretan pohon di jalanan Surabaya. "Tante Rahmi banyak cerita tentang Mas Arlan ke saya. Beliau bilang, Mas Arlan butuh seseorang yang bisa menyeimbangkan hidup Mas yang terlalu sibuk. .Beliau sepertinya sangat berharap pada saya."
Arlan mengalihkan pandangannya pada Safira.
Ia tidak ingin menyakiti gadis baik-baik ini, tapi ia juga tidak bisa membiarkan kebohongan ini berlarut-larut. "Fira, aku hargai kejujuranmu.
Dan aku minta maaf kalau Ibu memberimu harapan yang tidak seharusnya. Ibu memang sayang padaku, tapi dia tidak selalu tahu apa yang benar-benar membuatku bahagia."
Safira tersenyum getir. "Jadi, benar apa yang saya lihat di bandara tadi? Mas Arlan mencintai Mbak Kira?"
Arlan tidak ragu sedikit pun. "Iya. Sangat mencintainya."
"Tapi Tante Rahmi bilang hubungan kalian tidak akan berhasil karena kalian terlalu dekat sebagai teman. Katanya, tidak ada gairah di sana, hanya kebiasaan."
Arlan terkekeh pelan, tawa yang sedikit pahit.
"Ibu salah. Justru karena kami sudah tahu semua keburukan masing-masing, cinta kami jauh lebih kuat. Aku tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain di depan Kira. Dan buatku, itu jauh lebih berharga daripada 'gairah' yang Ibu maksud."
Safira terdiam cukup lama. "Terima kasih sudah jujur, Mas. Setidaknya aku tidak perlu membuang waktu untuk mengejar seseorang yang hatinya sudah terkunci rapat."
Malam harinya di Surabaya, setelah pertemuan singkat dengan klien hotel, Arlan duduk di balkon kamarnya. Ia menatap lampu-lampu kota yang asing baginya. Pikirannya melayang kembali ke Jakarta. Ia merindukan tawa cempreng Kira, ia merindukan cara Kira memarahinya jika ia terlalu banyak minum kopi.
Ia meraih ponselnya dan melakukan panggilan video.
Hanya butuh dua detik bagi Kira untuk mengangkatnya. Wajah Kira muncul di layar, ia tampak sedang berada di atas tempat tidur dengan piyama kesayangannya.
"Halo, Lan? Sudah di hotel?" tanya Kira antusias.
"Sudah, Ra. Baru saja selesai urusan klien. Kamu sedang apa?"
"Baru mau tidur. Tadi habis nonton drakor bareng Maya di telepon. Kamu... gimana di sana?
Safira mana?" Kira mencoba bertanya dengan nada sesantai mungkin, tapi Arlan bisa menangkap nada cemburu di sana.
Arlan tertawa kecil. "Safira di kamarnya, Ra. Kamar kami beda lantai kalau kamu mau tahu."
"Eh? Aku nggak nanya itu kok!" seru Kira, pipinya memerah di layar.
"Hahaha, iya iya. Ra, makasih ya buat makan siangnya tadi. Itu sandwich terbaik yang pernah aku makan."
"Lebay! Itu kan cuma roti isi tuna biasa."
"Beda, Ra. Bapanya pedas, pas banget sama suasana hatiku yang lagi panas karena dipaksa Ibu ke sini."
Kira terdiam sejenak. "Lan... Safira tadi bilang apa saja?"
Arlan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. "Dia bertanya soal kita. Dan aku sudah jujur padanya, Ra. Aku bilang aku mencintaimu. Aku bilang dia nggak usah dengerin apa kata Ibu."
Mata Kira membelalak. "Kamu serius? Kamu bilang begitu ke dia?"
"Iya. Aku nggak mau dia jadi korban manipulasi Ibu. Dia gadis baik, dia pantas mendapatkan pria yang benar-benar mencintainya, bukan pria yang dipaksa mencintainya."
Kira menarik napas lega, senyumnya kini benar-benar tulus. "Makasih ya, Lan. Makasih sudah berani jujur."
"Harusnya aku yang makasih, Ra. Makasih sudah datang ke bandara tadi. Kalau kamu nggak datang, mungkin aku bakal bete seharian di pesawat." Arlan menatap wajah Kira di layar dengan penuh kerinduan. "Ra, besok aku usahakan pulang sore. Begitu sampai Jakarta, aku langsung ke tempatmu, ya?"
"Iya, Lan. Aku masakin nasi goreng buat kamu."
"Janji ya?"
"Janji."
Percakapan malam itu berlangsung hingga berjam-jam. Mereka membicarakan hal-hal sepele, dari desain hotel di Surabaya hingga kucing liar yang tadi sore lewat di depan apartemen Kira. Sebelas tahun persahabatan memang memberi mereka stok obrolan yang tak pernah habis, namun kini, setiap kata yang terucap terasa memiliki bobot emosional yang berbeda.
Namun, di tengah keasyikan mereka, Arlan tidak menyadari bahwa di luar kamarnya, Safira sedang berdiri di lorong hotel. Gadis itu baru saja hendak mengantarkan titipan berkas dari klien yang tertinggal di mobil, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Arlan yang begitu lembut dan penuh tawa dari dalam kamar.
Safira menatap berkas di tangannya, lalu tersenyum sedih. Ia akhirnya sadar, tidak peduli seberapa keras Bu Rahmi mencoba menjodohkan mereka, Arlan adalah sebuah benteng yang takkan pernah bisa ia tembus. Safira meletakkan berkas itu di depan pintu kamar Arlan, lalu berbalik pergi.
Esok harinya, perjuangan yang lebih besar menanti. Karena jika Safira sudah menyerah, Bu Rahmi pasti akan mencari cara yang lebih ekstrem lagi untuk memisahkan mereka. Dan kali ini, sasarannya bukan lagi Arlan, melainkan langsung ke titik terlemah Arlan: Ibu dari Kira sendiri di kampung halaman.