––Tak ada angin, tak ada hujan, Ailena di ajak oleh seorang laki-laki yang entah muncul darimana tiba-tiba menarik nya menuju kantor urusan agama (KUA).
"Cepat katakan nama mu! Dan tanda tangan setelah nya" desak Haikal dengan nada tegas.
"Tapi kita nggak saling kenal!"
"Nanti kenalan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(10) Maling?
Ailena dan Haikal berjalan keluar dari rumah beriringan.
"Kunci rumah nya ada cadangan nggak, istri?" tanya Haikal sembari memperlambat langkah nya menyetarakan dengan kaki Ailena yang kecil.
"Ada, kenapa?" Ailena terus melangkah dengan kepala menunduk menatap tanah.
"Minta dong, biar aku bisa pulang ke sini kapanpun tanpa nunggu istri.." pinta Haikal membuat Ailena menoleh sekilas.
"Nih" ucap Ailena sembari menyerahkan satu kunci yang ada di gantungan nya.
"Banyak banget itu kunci nya, kunci apa aja?" tanya Haikal yang sempat melirik ke arah gantungan kunci yang banyak kunci nya.
"Semua" jawab Ailena dengan singkat.
"Kunci hati istri berarti ada juga dong? Mau dong satu, biar bisa masuk ke dalam hati istri dan mengisi pakai nama suami mu ini" ucap Haikal membuat Ailena melirik nya sinis.
"Stres" cibir Ailena langsung mempercepat langkah kaki.
Bagi Ailena langkah nya sudah cepat, tapi ternyata itu hanya 1,5 kecepatan bagi Haikal yang memiliki langkah besar.
#~
#~
#~
Haikal kembali ke rumah Ailena setelah malam tiba, yaitu di jam 11 malam sendirian.
Dengan senter hp dia melangkah mendekati rumah sang istri, lalu mengambil kunci rumah itu untuk dia buka.
"Hey! Siapa itu?!" seru seseorang yang nampak menyenterkan Haikal dari kejauhan.
Haikal menoleh dan menyipitkan mata nya yang terkena silau lampu senter.
"Ngapain kamu disini? Mau maling di rumah mbak Lena ya!" tuduh orang itu yang seperti nya sedang ronda malam dengan sarung tersampir di pundak.
"Lah ini kan juga rumah saya" balas Haikal membuat orang itu mengernyit bingung.
"Jangan bohong deh! Jelas-jelas ini rumah mbak Lena. Halah bilang aja mau maling.. Woi warga! Sini woi! Ada yang mau maling rumah!" ucap Alvin yang langsung berteriak memanggil teman-temannya yang juga sedang ronda malam.
"Mana? Mana?"
Haikal menoleh ke sekitar dan menatap beberapa warga lain yang juga mengerubungi nya dengan senter.
"Aduh matiin senter nya dulu tolong, silau" pinta Haikal yang memejamkan mata nya dan mencoba melindungi mata nya dari cahaya senter.
"Halah jangan banyak tolong-tolong deh.. Ayo buruan kita bawa ke satpam komplek biar di amuk warga"
Haikal mulai berontak saat kedua tangan nya di ikat dan di tarik secara paksa mengikuti para pemuda yang terus berseru dengan nada keras.
#~
"Huft.. Tumben banget hari ini pulang lebih cepat, tapi bagus lah.. Jadi punya waktu buat istirahat lebih banyak" gumam Ailena sembari melangkah naik ke teras.
Ceklek
Ailena mengernyit alis heran, pintu rumah nya baru di sentuh sudah terbuka dengan sendiri nya.
Seingat nya, dia sudah mengunci pintu itu dan di cek berulang kali kalau pintu nya pasti tak akan terbuka.
Deg..
"Apa ada maling?" guman Ailena lalu masuk ke dalam rumah nya setelah mengucapkan salam dengan nada waspada.
Ailena pun teringat jika Haikal yang mengatakan akan pulang sendiri dengan kunci cadangan yang lain.
"Dia.. Nggak pulang kesini?" guman Ailena, entah kenapa perasaan nya jadi cemas dan mengkhawatirkan keadaan Haikal.
Ailena segera merogoh hp nya yang ada di dalam tas, tapi kemudian dia terdiam dan menepuk jidat nya.
"Aduh belum punya nomor dia" guman Ailena kemudian keluar dari rumah setelah menaruh tas nya dan menunggu di teras sejenak.
Siapa tau Haikal akan pulang..
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
sehat-sehat ya kakkk ❤️