NovelToon NovelToon
BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: PROYEK GERHANA DAN CIUMAN PERTAMA

​Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, begitu juga dengan dendam yang membara di hati Gwen Adiguna. Di dalam mobil Bentley yang meluncur membelah jalanan protokol, Gwen menatap tablet di tangannya dengan kening berkerut.

​"Proyek Gerhana..." gumam Gwen. "Nama itu terus muncul di berkas rahasia Ayah, Elang. Tapi semua isinya dienkripsi dengan kode yang sangat rumit."

​Elang, yang duduk di kursi kemudi, melirik sekilas melalui spion tengah. Rahangnya mengeras. "Nama itu bukan sekadar proyek bisnis, Gwen. Gerhana adalah kode untuk operasi pembersihan aset secara besar-besaran. Sepuluh tahun lalu, sebelum keluarga saya hancur, ayah saya sempat menyebutkan nama itu dalam sebuah telepon darurat."

​Gwen menoleh, menatap punggung tegap Elang. "Jadi... orang yang menghancurkan keluargamu dan orang yang ingin melenyapkanku adalah orang yang sama?"

​"Kemungkinan besar," jawab Elang dingin. "Dan pelarian Reno dari ambulans tadi sore bukan sebuah kebetulan. Dia dijemput oleh orang-orang profesional. Reno sekarang bukan lagi sekadar suami yang berselingkuh, dia adalah pion yang dipersenjatai oleh organisasi itu."

​Tiba-tiba, Elang memutar kemudi dengan tajam, membuat ban mobil mencicit keras di atas aspal.

​"Elang! Ada apa?" Gwen berpegangan erat pada handle pintu.

​"Kita diikuti," desis Elang. Matanya menatap tajam ke arah dua motor sport hitam yang melaju cepat di belakang mereka. Para pengendara itu mengenakan pakaian serba hitam, dan salah satunya mulai mengeluarkan sebuah benda kecil dari balik jaketnya.

​"Menunduk!" teriak Elang.

​DOR!

​Kaca belakang mobil retak seribu akibat hantaman peluru. Gwen menjerit kecil dan segera meringkuk di bawah jok. Jantungnya berdegup kencang. Baru saja dia merasa menang di kantor, maut sudah kembali menyapanya.

​Elang tidak panik. Dengan satu tangan tetap di kemudi, tangan lainnya meraih pistol dari balik jasnya. Dia menurunkan kaca jendela sedikit, lalu melepaskan dua tembakan presisi tanpa melihat ke belakang.

​Ciaat!

​Salah satu motor oleng dan menghantam pembatas jalan, meledak dalam kobaran api yang mengerikan. Motor satunya lagi tampak ragu dan melambat, memberi kesempatan bagi Elang untuk memacu mesin mobilnya hingga kecepatan maksimal, menghilang di balik tikungan menuju area pergudangan tua yang sepi.

​Sepuluh menit kemudian, mereka berhenti di sebuah gudang yang tampak terbengkalai. Elang segera menarik Gwen keluar dan membawanya masuk ke dalam sebuah ruang kontrol rahasia di bawah tanah yang penuh dengan peralatan peretasan.

​"Gwen, kamu baik-baik saja?" Elang memegang kedua bahu Gwen, memeriksa apakah ada luka di tubuh wanita itu.

​Gwen gemetar hebat. Napasnya tersengal-sengal. "Aku... aku tidak apa-apa. Tapi mereka benar-benar ingin aku mati, Elang. Mereka tidak akan berhenti."

​Melihat ketakutan di mata Gwen, sesuatu di dalam hati Elang yang biasanya beku mendadak mencair. Dia menarik Gwen ke dalam pelukannya, mendekapnya erat. "Selama aku masih bernapas, tidak akan ada peluru yang menyentuhmu. Aku berjanji."

​Gwen menyandarkan kepalanya di dada bidang Elang. Di tengah aroma maskulin dan bau mesiu yang samar, dia merasa aman. Dia mendongak, menatap wajah Elang yang diterangi cahaya temaram dari layar monitor.

​"Kenapa kamu sangat peduli padaku, Elang? Bukankah awalnya kamu hanya ingin membalas dendam?" bisik Gwen.

​Elang terdiam. Jarak wajah mereka hanya beberapa senti. "Awalnya memang begitu. Tapi melihatmu bertarung sendirian melawan ular-ular itu... membuatku sadar bahwa kamu bukan bagian dari dosa ayahmu. Kamu adalah wanita paling berani yang pernah kutemui."

​Suasana mendadak menjadi sangat intens. Ketegangan dari kejaran maut tadi berubah menjadi tarikan magnet yang tak tertahankan. Elang menundukkan kepalanya, dan kali ini Gwen tidak menghindar.

​Bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang penuh gairah namun terasa putus asa—sebuah ciuman antara dua jiwa yang sama-sama terluka dan sedang mencari pegangan di tengah badai. Gwen melingkarkan tangannya di leher Elang, menarik pria itu lebih dekat, seolah ingin melepaskan seluruh beban dunianya ke dalam pelukan itu.

​Setelah beberapa saat, Elang melepaskan ciumannya dengan perlahan, kening mereka masih bersentuhan. "Ini salah satu alasan kenapa cerita ini tidak akan berakhir cepat, Gwen. Karena aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum aku menghancurkan siapa pun yang membuatmu ketakutan."

​Gwen tersenyum tipis, rona merah menghiasi pipinya. "Aku memegang kata-katamu, Tuan Bodyguard."

​Tiba-tiba, salah satu komputer di ruangan itu berbunyi bip panjang. Elang segera kembali ke mode profesionalnya dan memeriksa layar.

​"Aku berhasil menembus enkripsi ponsel Reno yang sempat kucuri datanya sebelum dia kabur," ucap Elang. "Ada sebuah koordinat lokasi. Sebuah dermaga pribadi di luar kota. Dan ada pesan suara yang baru saja masuk."

​Elang menekan tombol play.

​"Reno, selamat atas pelarianmu. Bawa dokumen asli Proyek Gerhana ke dermaga 7 malam ini. Jika kamu membawanya, Tuan Besar akan memberimu perlindungan dan wajah baru. Tapi jika kamu gagal lagi... jangan harap kamu bisa melihat matahari besok."

​Gwen mengepalkan tangannya. "Itu suara Paman Pratama? Tidak, suaranya lebih berat. Itu orang lain."

​"Itu adalah suara pimpinan Organisasi Hitam," sahut Elang. "Gwen, ini adalah kesempatan kita. Jika kita bisa mendapatkan dokumen itu sebelum Reno menyerahkannya, kita akan memegang kunci untuk menghancurkan mereka semua dari akarnya."

​"Tapi itu sangat berbahaya, Elang. Itu jebakan!"

​"Memang. Tapi aku adalah ahli dalam menghancurkan jebakan," Elang mengambil sebuah rompi antipeluru dan menyerahkannya kepada Gwen. "Pakai ini. Kita akan melakukan penyerbuan malam ini. Kita tidak bisa menunggu sampai mereka mengonsolidasikan kekuatan."

​Gwen memakai rompi itu dengan mantap. "Aku ikut. Aku ingin melihat wajah Reno saat dia sadar bahwa dia tidak punya tempat lagi untuk lari."

​Sementara itu, di Dermaga 7 yang gelap dan berkabut, Reno duduk di dalam sebuah mobil van dengan kaki diperban. Dia memegang sebuah flashdisk emas di tangannya. Matanya tampak liar dan ketakutan.

​"Ayo cepat datang... aku tidak mau mati di sini," gumam Reno.

​Tiba-tiba, lampu sorot dari sebuah kapal besar di tengah laut menyala, mengarah tepat ke mobil Reno. Beberapa pria bersenjata lengkap turun dari kapal menggunakan sekoci.

​Namun, dari kegelapan di balik kontainer-kontainer pelabuhan, sepasang mata elang sudah mengunci posisi mereka. Elang berada di atas atap gudang dengan senapan sniper, sementara Gwen berada di dalam mobil yang siap untuk menabrak apa pun.

​"Target terlihat," bisik Elang melalui earpiece. "Gwen, bersiaplah. Saat aku memberi aba-aba, injak gasnya. Kita akan mengambil flashdisk itu dan mengakhiri drama Reno malam ini."

​"Siap, Elang," jawab Gwen, tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat.

​Namun, tepat sebelum Elang menarik pelatuknya, sebuah helikopter muncul dari atas langit, menjatuhkan bom asap di seluruh area dermaga.

​"Apa-apaan ini?!" teriak Elang.

​Melalui asap tebal, seorang wanita cantik dengan pakaian tempur hitam turun menggunakan tali dari helikopter. Dia mendarat tepat di depan mobil Reno dan menendang kaca jendela hingga hancur.

​"Reno, kamu lambat sekali," ucap wanita itu dengan suara yang sangat dikenal oleh Elang.

​Elang membeku di posisinya. "Tidak mungkin... Sarah?"

​Gwen mendengar nama itu melalui radio. "Elang? Siapa Sarah?"

​"Mantan tunanganku... yang seharusnya sudah mati sepuluh tahun lalu," jawab Elang dengan suara bergetar.

​Drama baru saja dimulai. Masa lalu Elang yang paling gelap telah bangkit dari kubur untuk memisahkan dia dari Gwen.

1
Anonymous
Semakin seru dan misterius
Anonymous
Semakin komplek dan misterius
Anonymous
Paman ?Memang harta lebih agung dan sangat berharga apalagi hanya sekedar ponak'an
Anonymous
Reno "I B L I S "
Anonymous
Reno kurang bersyukur dengan kehadiran Gwen dalam hidupnya seorang istri yang csntik punya harkat martabat dan derajat
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia
Anonymous
Mulai membaca dan larut di dalamnya
Anonymous
Tegar dan percaya diri Gwen tidak mudah terbawa perasaan
Anonymous
Masih misterius semua
Anonymous
Sip.....aku suka karakter Gwenn👍
Leebit
siap!! makasih ya udah berkunjung ke karyaku😊
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!