Karma tidak pernah salah alamat.
Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati—ningrat tinggi yang ditakuti, yang telah menghancurkan hidup puluhan perempuan yang mencoba merebut suaminya—terbangun di ranjang dengan pria Eropa yang mengira dia pelacur seharga 550 gulden.
Namanya sekarang Suketi binti Suketo. Statusnya gundik. Milik mantan perwira laut setinggi dua meter. Pria itu posesif. Tergila-gila. Dan tidak akan melepaskannya untuk alasan apa pun.
Akankah Kusumawati berhasil kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman penuh pelayan dan kemewahan? Atau kesialan akan terus mengejarnya, memaksanya membayar dosa-dosa masa lalu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya?
Dilarang plagiat, mengambil sebagian scene atau mengubah cerita menjadi video atau bentuk lainnya. Laporkan plagiat ke Ig/FB: @hayisaaaroon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Bukan Kusumawati
Kusumawati menyimpan informasi itu untuk nanti.
"Aku tahu arti 'kusuma'." Jan Coen melanjutkan dengan nada riang. "Bunga. Sesuatu yang indah. Dan kau …," jarinya menelusuri pipi Kusumawati, "sangat sesuai dengan namamu."
‘Sial. Sial. Sial.’
Kusumawati memaki dirinya sendiri dalam hati.
"Aku ... kemarin aku seperti linglung." Dia mencoba lagi, suaranya dibuat lemah. "Mungkin karena dipukul di kepala. Atau diberi obat tidur. Aku tidak ingat banyak hal. Mungkin aku salah menyebut nama sendiri."
Jan Coen menatapnya dengan mata yang tajam.
Lalu tersenyum.
"Kau pembohong yang buruk, Sayang."
Kusumawati tidak menjawab.
"Matamu bergerak ke kiri setiap kali kau berbohong." Jan Coen mengetuk pelipisnya sendiri. "Aku sudah menginterogasi banyak orang. Aku tahu tanda-tandanya."
‘Dia bisa membaca pikiranku. Duh Gusti ….’
Kusumawati merasakan frustasi yang luar biasa. Kepalanya terasa buntu.
Setiap langkah yang dia ambil, pria ini sudah selangkah di depan. Setiap kebohongan yang dia susun, pria ini sudah melihat celahnya.
‘Ganti strategi.’
"Baiklah, aku memang tidak pandai berbohong.”
Dia berdeham pelan. “Omong-omong, nyai-nyaimu yang dulu." Kusumawati mengalihkan pembicaraan dengan cepat. "Kau bilang mereka mati konyol. Apa maksudnya? Itu terdengar mengerikan sekali."
Jan Coen mengangkat alis.
"Kenapa bertanya?"
"Penasaran saja." Kusumawati menatapnya langsung. "Apa kau membunuh mereka?"
Hening sejenak.
Lalu Jan Coen tertawa—tawa yang dalam, bergema di dinding kamar.
"Tidak. Aku tidak membunuh mereka. Tanganku memang dingin, tapi bukan dirancang untuk menyakiti wanita. Aku membunuh penjahat."
"Lalu kenapa mati?"
"Mereka rapuh." Tangannya bergerak ke rambut Kusumawati, mulai membasahinya dengan air. "Kurus. Ketakutan. Tidak pernah berani menatapku. Selalu gemetar di dekatku. Menangis setiap malam. Lama-lama mereka sakit-sakitan."
Jari-jarinya menyisir rambut panjang Kusumawati, membasahinya sampai rata.
"Yang pertama tubuhnya terlalu rapuh." Dia mengambil sabun, mulai mengusapkan ke rambut Kusumawati. "Saat ada harimau masuk ke pekarangan, dia hanya diam membeku, bukan lari atau teriak memanggilku. Aku cepat menariknya saat harimau menerjang, tapi beberapa tulangnya patah dalam prosesnya. Mungkin aku yang terlalu kuat menariknya. Atau mungkin dia yang terlalu bodoh."
Busa sabun mulai terbentuk. Aroma lavender murah menguar.
"Yang kedua …." Jan Coen terdiam sejenak, jari-jarinya memijat kulit kepala Kusumawati. "... mati saat kami sedang bercinta. Entah apa yang salah. Mungkin aku yang terlalu bersemangat dan dia yang terlalu kurus."
Kusumawati menelan ludah.
"Dan yang lain tidak jauh berbeda."
Jari-jarinya terus bergerak, memijat dengan gerakan memutar.
"Mereka semua rapuh." Suara Jan Coen terdengar ... sedih? Atau hanya kecewa? "Tidak ada yang bertahan sampai setahun. Aku sudah hampir menyerah mencari nyai yang cocok."
"Lalu aku melihatmu." Dia tersenyum. "Tidak kurus. Tidak ketakutan. Menatapku langsung di mata."
Tangannya berhenti memijat, turun ke bahu Kusumawati.
"Kau berbeda. Kau kuat. Kau tidak akan mati konyol seperti mereka."
‘Aku juga tidak akan mati di tanganmu,’ pikir Kusumawati. ‘Aku akan keluar dari sini. Entah bagaimana caranya.’
Tapi dia tidak mengatakannya.
"Tundukkan kepalamu," perintah Jan Coen. "Aku bilas."
Kusumawati menurut.
Air hangat mengalir dari ember, membilas busa sabun dari rambutnya. Jan Coen menyisir dengan jari, memastikan tidak ada sabun yang tersisa.
"Sudah."
Kusumawati mengangkat kepala.
Dia menatap pintu kamar. Pelayan tadi bisa kembali kapan saja dengan pakaian yang dipesan.
‘Aku tidak mau dilihat seperti ini lagi.’
"Aku mau keluar." Kusumawati mulai berdiri, air mengalir dari tubuhnya. "Sudah cukup berendamnya."
Jan Coen tidak mencegah. Dia hanya menatap dengan mata yang lapar saat Kusumawati bangkit dari bak mandi, tubuh basah mengkilap.
"Ember." Kusumawati menunjuk ember berisi air bersih di samping bak. "Siram aku."
Jan Coen tertawa. "Sekarang kau yang memerintah?"
Tapi dia menurut. Mengambil ember, berdiri, menyiramkan air bersih ke tubuh Kusumawati dari atas.
Air dingin mengguyur. Kusumawati menahan napas sejenak, lalu menghembuskan perlahan.
‘Segar.’
Jan Coen mengambil handuk dari samping bak, menyodorkannya.
Kusumawati menerimanya tanpa berterima kasih. Melilitkan ke tubuh, menutupi dari dada sampai paha. Lalu mengambil handuk kecil lain untuk rambutnya.
Dia duduk di tepi tempat tidur, mengeringkan rambut dengan gerakan yang lambat.
Setelah berendam, badannya terasa lebih ringan. Otot-otot yang tegang mulai rileks. Pikiran yang keruh mulai jernih.
Jan Coen membilas badan, keluar dari bak mandi sambil mengeringkan badan.
Air mengucur dari tubuh raksasanya, membentuk genangan di lantai kayu. Dia mengambil handuk kering lagi, melilitkannya asal di pinggang, lalu berdiri tepat di hadapan Kusumawati yang masih duduk di tepi tempat tidur.
Tingginya menjulang.
Kusumawati yang sedang mengeringkan rambut terpaksa mendongak. Dan pemandangan yang menyambutnya ...
Perut berotot dengan bulu tipis. Dada bidang yang basah dan bulu lebat yang lepek. Dan tepat di depan wajahnya, setinggi mata—sesuatu yang menonjol di balik handuk putih.
Kusumawati langsung mengalihkan pandangan ke samping.
Jan Coen tidak peduli. Dengan santai dia mengeringkan rambut sebahunya yang basah dengan handuk kecil. Jenggot lebatnya meneteskan air ke dada, ke perut, ke ...
Kusumawati memaksa matanya menatap lantai.
"Kau tahu," suara Jan Coen terdengar dari atas, "aku sudah memandikanmu. Mencuci rambutmu. Menyirammu dengan air bersih."
"Ya. Lalu?"
"Lalu …." Handuk berhenti bergerak. Kusumawati bisa merasakan tatapan pria itu di puncak kepalanya. "Aku rasa aku berhak mendapat sesuatu sebagai balasan."
Kusumawati mengangkat wajah.
Jan Coen menatapnya dengan senyum yang tidak bisa disalahartikan.
"Tidak."
"Kenapa tidak?" Alis Jan Coen terangkat.
"Aku baru saja mandi. Bersih. Segar." Kusumawati merapatkan handuk di dadanya. "Aku tidak mau—"
"Justru karena bersih." Jan Coen berjongkok, wajahnya sekarang sejajar dengan Kusumawati. Mata birunya berbinar jahil. "Lebih enak, bukan? Tidak bau. Tidak lengket."
"Aku tidak—"
"Anggap saja ... pembayaran." Dia mengelus pipi Kusumawati dengan punggung tangan. "Untuk pelayanan yang sudah kuberikan."
“Pelayanan? Kau yang memaksaku mandi bersamamu!”
Tapi sebelum Kusumawati sempat protes, Jan Coen sudah bangkit dan mendorongnya berbaring di tempat tidur.
"Tunggu—"
"Sebentar saja." Handuk Kusumawati terlepas lilitannya. "Aku tidak akan lama."
Protes Kusumawati terpotong saat tubuh besar itu menindihnya. Mulutnya dibungkam kecupan panas.
Tak lama, ranjang berderit.
Kayu tua bergesekan dengan kayu tua. Irama yang lambat pada awalnya, lalu semakin cepat.
Kusumawati mencengkeram sprei dengan jari-jari yang memutih. Mulutnya merapat, menahan suara yang tidak ingin dia keluarkan.
‘Ini menjijikkan, sangat memalukan.’
Tapi tubuhnya mengkhianati, bereaksi di luar kendalinya.
Jan Coen di atasnya, napas berat, bergumam tentang harimau betina dan hutan belantara dan hal-hal lain yang tidak sepenuhnya didengar Kusumawati.
Ranjang terus menghentak. Lalu ketukan di pintu.
Kusumawati membeku.
Jan Coen tidak berhenti.
"Tuan?" Suara perempuan tua dari luar. "Pesanannya sudah datang."
“Jah-jangan.” Suara Kusumawati tersengal. “Jangan suruh masuk. Demi Tuhan, jangan—”
"Masuk!" seru Jan Coen dengan nada riang.
“TIDAK!”
pemberontak yg licik ,
kusumawati terbujuk kah ,kembali ke kadipaten dgn situasi kadipaten ,walau pun bukan soedarsono yg mnjdi bupati
tapi selama ini kadipaten lah yang selalu mnjdi prioritas selama hidup nya
berat sama si Jan cok