Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.
Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?
📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Dia Marah
Helaan napas Sagara terdengar berulang kali, sesekali akan menerpa wajah Nara yang sudah tegang itu, semakin tegang saja. Sampai dirinya merasa tenang dan dapat mengontrol diri.
Pria itu berdehem, tatapan intens pada Nara yang tengah menundukkan pandangannya menghindari tatapannya. Kelopak mata pria itu sesekali mengedip cepat tak kalah salah fokus dengan bahu terekspos dan tulang selangka yang tampak berkilau akibat sisa tetesan air yang belum kering diterpa cahaya lampu kamar mandi.
"Maaf?" beo Sagara atas ucapan gadis itu sebelumnya.
"Hm," angguk Nara pelan, wajahnya jangan di tanya lagi, tertekan, takut, cemas, dan sesekali akan meringis karena jarak yang begitu dekat itu. Wajahnya yang putih karena baru saja di sabun, menjadi merah bak kepiting rebus.
"Karena apa?" tanya pria itu, membuat si gadis semakin tertekan oleh nada dinginnya. "Jawab!" desaknya.
"I-itu, karena mengatai mu mesum, berandal. Maaf," suara Nara pelan hampir mencicit.
"Hanya itu?!" tubuh Sagara semakin menghimpit tubuh Nara, membuat gadis itu kembali memakinya dalam hati. Pria ini benar-benar mesum, tapi ia takut menyuarakan karena bisa saja akan memprovokasinya dan itu membuat pria ini semakin menjadi-jadi. Apalagi tidak ada ibu di rumah.
Nara tampak berpikir akan kesalahan yang telah dilakukannya, tekanan ini membuat otaknya buntu dan tidak bekerja dengan semestinya.
Sagara menggeram, kembali menyadarkan Nara yang tampak melamun. Pria itu menyentak kedua tangan Nara dan seketika si gadis meneguk ludahnya susah. Tahu kesalahannya.
"M-maaf juga karena telah menjambak rambutmu. Maaf, a-aku tidak sengaja. Itu hanya gerakan refleks. Sama sekali bukan dari niatku, sumpah!" Nara membentuk jari V dikedua tangannya yang tengah di sandera itu, wajahnya meringis bersalah.
Sagara menghela napas. "Kamu tahu, perbuatan mu itu sakit sekali. Lihat, rambutku rontok bukan sehelai dua helai. Jambakan paksamu itu sungguh menyakitkan, bahkan orang tuaku saja tidak pernah menjambak ku seperti ini, senakal apapun aku! Tetapi ini, kamu ... gadis yang baruku kenal, istri yang kemarin baru ku nikahi ... berani sekali ... argh!" suara pria itu tampak amat kecewa.
"Lagi pula, aku juga hanya refleks saja menatapmu seperti itu. Itu naluri laki-laki yang bahkan aku sendiri sulit untuk mengendalikannya, jadi maaf, maaf dengan sangat!" Sagara menyentak tangan Nara, melepaskan. Ia mundur beberapa langkah.
"Aku hanya ingin masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, tidak tahu kalau masih ada kamu di dalam. Dan tindakanku tadi pure hanya ingin menolongmu yang hampir terjungkal ke belakang. Bayangkan kalau aku tidak menarikmu? Kepalamu bisa terantuk bak mandi! Lebih dari itu, ibu pasti akan sangat khawatir kalau anak gadis satu-satunya terluka," Sagara membuang napas kasar, lalu melangkah menuju pintu.
Ia berbalik sekilas. "Dan ya, aku tidak akan pernah melangkahi ucapanku sebelumnya. Aku tidak akan pernah menyentuhmu sebelum kamu mengizinkannya." Sagara melangkah keluar, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam kamar mandi.
Nara yang sedari tadi menunduk perlahan mengangkat kepalanya. Rasa bersalah yang teramat sangat seketika menyelimuti hati. Ia merenung, menyadari bahwa tindakannya memang sudah sangat keterlaluan. Seharusnya ia tidak main fisik tadi. Tapi mau bagaimana lagi, penyesalannya sekarang sudah tidak berarti.
Sekarang bagaimana ia harus menghadapi pria itu? Tampaknya dia benar-benar kecewa, dirinya seolah tidak percaya bahwa pria itu memegang teguh perkataannya.
Dan memang demikian, penghianatan dari mantan yang hanya ingin tubuhnya saja membuat Nara sangat berhati-hati, serta tidak mudah percaya dengan yang namanya lelaki. Mereka hanya menginginkan hal itu! Tapi, melihat bagaimana perlakuan Sagara padanya, membuat pandangannya terhadap lelaki sedikit berubah.
Toh, pria itu bisa saja menerkamnya begitu saja. Mereka sudah halal. Persetan dengan kesepakatan, yang di hadapan lebih menarik. Tetapi, pria itu tidak melakukanya.
Blam!
Terdengar pintu depan menutup, di susul bunyi motor. Nara membuang napas, pria itu pergi dengan motornya.
Nara keluar dari kamar mandi, menatap sekeliling yang begitu hening. Ia berjalan cepat menuju kamarnya, pandangannya dengan cepat mengamati setiap sudut dan didapatinya tas ransel gunung itu. "Hufh! Aku kira dia akan pergi meninggalkan rumah." Tetapi, ternyata tidak.
***
Seharian itu, Nara menyempatkan diri untuk membantu ibunya. Di kala pelanggan menjadi longgar, ia isi waktunya untuk kembali menulis. Projek tulisannya hampir mendekati deadline, ia harus pandai-pandai menggunakan waktunya.
Makan siang berlalu dan pria yang telah menjadi suaminya itu tidak terlihat. Biasanya akan selalu makan siang di warung ibunya. Namun kini, batang hidungnya saja tidak terlihat.
Ingin Nara bertanya pada ibunya, tetapi ia terlalu malu akan hal tersebut. Istri mana yang tidak tahu menahu keberadaan suaminya. Haist! Nara menepuk-nepuk dahinya, terlihat frustasi.
"Kamu kenapa Nara?" tanya ibunya mengernyit, gadis itu segera menggeleng, mengatakan tidak apa-apa. "Itu si Samir minta kembalian, tidak ada uang kecil di sini."
Nara baru menyadari bocah tujuh tahun itu sudah berada di sampingnya, mengulurkan uang lima puluh ribu.
"Beli apa aja?" tanya Nara pada bocah itu.
"Dua bungkus nasi kuning lauk lengkap, sama perkedel jagung lima," beritahu bocah itu seraya kembali mengulurkan uangnya.
Nara menerima uang tersebut, dibukanya laci meja dan mengambil uang kembalian. "Nih, hati-hati di jalan, ya." Bocah itu mengangguk dan pergi dengan kantong plastiknya.
Pandangan Nara mengikuti, jalanan gang begitu tenang, tidak ada suara kendaraan, apalagi suara khas motor besar itu.
Jam menunjukkan pukul 4 lewat, nasi di warung Ratna telah ludes, menyisakan beberapa laut yang bisa digunakan untuk makan malam. Nara dan ibunya mulai mengangkut perkakas yang akan dicuci di rumah.
"Ibu, tadi kan sudah Saga bilang untuk tunggu Saga saja yang angkut. Kenapa malah diangkat sendiri?" suara berat Sagara terdengar dari arah halaman. Mesin motornya baru saja dimatikan dan diparkir di bawah pohon.
Langkah Nara yang baru saja ingin keluar untuk mengambil sisa perkakas langsung terhenti seketika. Dari posisinya berdiri, ia bisa melihat pria itu sedang berbincang hangat dengan ibunya, lalu dengan sigap mengambil alih ember-ember berat berisi piring kotor dari tangan sang ibu.
Ketika langkah lebar pria itu berbelok menuju ke arahnya, kepanikan seketika menjalar di wajah Nara. Sampai akhirnya ...
"Tolong beri jalan, saya harus membawa ini masuk," ujar pria itu datar. Suaranya terdengar begitu dingin, berbanding terbalik dengan nada hangat yang ia gunakan saat berbincang dengan ibunya tadi.
Nara segera menggeser tubuhnya ke samping, memberikan akses jalan bagi Sagara untuk masuk. Saat Sagara melintas di dekatnya, mulut Nara sempat terbuka hendak bersuara, namun kembali terkatup rapat. Ingin mengatakan sesuatu, tapi tak bisa. Akhirnya ia hanya bisa melihat punggung pria itu yang menuju ke ruang belakang.
"Perasaan kemarin-kemarin sudah aku-kamu, sekarang sudah balik ke saya lagi. Pasti dia benar-benar marah," gumam Nara menyadari. Karena entah sejak kapan, panggilan satu sama lain mereka yang awalnya saya-kamu menjadi aku-kamu. Tapi ini, kembali lagi menjadi saya-kamu.
***
Bersambung ...