Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. VOC
"Tadi Guru berkata, VOC bangkrut, lalu pemerintah Belanda mengambil alih." Arjo mengetuk-ngetuk foto di tangannya. "Tapi VOC itu kan kongsi dagang. Pengusaha. Seperti pedagang kain di pasar, atau saudagar gula di pelabuhan. Lalu, bagaimana bisa pedagang menguasai seluruh Jawa?"
Arjo mengerutkan dahi. "Kalau saudagar gula Tionghoa di pasar tiba-tiba menyerang kadipaten, pasti akan ditangkap."
Kang Guru Harjo terdiam sejenak, matanya menyipit memandang Arjo.
"Pertanyaan bagus." Sang guru mengangguk pelan. "Sangat bagus, malah. Tidak kusangka keluar dari mulutmu."
"Guru meremehkan saya." Arjo melirik kesal.
"Biasanya kau malas kalau pelajaran sejarah yang hanya menghafal. Tapi sekarang kau mencoba bernalar. Itu bagus.”
Kang Guru Harjo mengambil foto Jan Pieterszoon Coen.
“VOC memang kongsi dagang. Vereenigde Oostindische Compagnie—Persekutuan Dagang Hindia Timur. Tujuan awal mereka ke sini hanya satu: membeli rempah-rempah dan menjualnya kembali ke pasar Eropa."
"Lada, pala, cengkeh." Arjo meneruskan, semakin tampak tertarik. "Yang harganya semahal emas di Eropa, katanya."
"Tepat. Tapi masalahnya," Kang Guru Harjo meletakkan foto itu di meja, "VOC bukan satu-satunya yang datang dari Eropa. Ada banyak bangsa lain yang datang karena rempah-rempah. Seperti pedagang pada umumnya, mereka harus bersaing dengan pedagang lain. Lalu berpikir bagaimana caranya untuk monopoli, menguasai sendiri, menyingkirkan semua pesaing."
Arjo mengangguk. "Pesaingnya dari mana saja Guru?"
"Pedagang lokal, pedagang Arab, pedagang Gujarat, pedagang Portugis, pedagang Inggris, dan masih banyak lagi. Persaingan sengit. Kapal-kapal dagang mereka dilengkapi dengan meriam, serdadu, senjata lengkap. Selain untuk keamanan di laut yang juga ganas dengan para bajak lautnya, mereka juga tidak segan-segan saling menenggelamkan kapal pesaing, membakar gudang, dan hal-hal licik lainnya."
Arjo bersiul pelan. "Rempah kita jadi primadona."
Kang Guru Harjo mengangguk. "Tapi menang persaingan dengan para pedagang lain saja belum cukup untuk menguasai rempah. Nusantara ini luas dan sebelum mereka datang, wilayah-wilayahnya yang subur sudah dikuasai oleh kerajaan-kerajaan yang banyak dan kuat, yang lebih mengenal tanah ini. Kalau VOC menyerang langsung, mereka akan kalah."
"Lalu bagaimana?" Alis tebal Arjo berkerut dalam.
"Begini. Ceritanya panjang sekali sampai akhirnya Belanda menguasai. Jawa pada abad ke-17 tidak bersatu. Ada Mataram di tengah dan timur, kerajaan paling kuat. Ada Banten di barat, kerajaan pelabuhan yang kaya. Ada Cirebon di pesisir utara. Dan banyak kerajaan kecil lainnya. Mereka semua saling bermusuhan, tapi juga ada yang saling mendukung."
Arjo mengangguk, membayangkan peta persebaran kerajaan di tanah Jawa yang pernah dia hafalkan, ada banyak sekali kerajaan.
“Itu yang membuat saya semakin heran Guru, bagaimana bisa tanah ini sekarang dikuasai Belanda? Padahal, kerajaan juga punya banyak prajurit dan senjata, bukan? orang Belanda yang datang dengan menggunakan kapal itu kan tidak banyak, lebih banyak penduduk Jawa?”
"Masalahnya mereka tidak bersatu, sebagian besar dari kerajaan-kerajaan itu juga bersaing, saling ingin menghancurkan." Kang Guru Harjo menghela napas. "Salah satu contoh, Kesultanan Mataram, terutama di bawah kepemimpinan Sultan Agung dan penerusnya Amangkurat I, berusaha keras untuk menaklukkan Banten karena ambisi menguasai seluruh Jawa dan jalur perdagangan lada. Banten punya basis penting perdagangan lada, Mataram ingin sumber kekayaan ini.”
Arjo mulai paham. "Dan VOC memanfaatkan itu."
"Tepat. VOC bersekutu dengan Banten, Mataram selalu gagal menguasai Banten. Sultan Agung berulang kali menyerang Batavia, tapi juga gagal karena strategi VOC dan kekuatan Banten. Para pangeran di dalam kerajaan sendiri saling berebut tahta. Kakak melawan adik. Paman melawan keponakan. Semuanya ingin menjadi raja."
Kang Guru Harjo menunjuk foto Jan Pieterszoon Coen. "Orang ini—Coen—dia jenius dalam hal itu. Ketika ada pangeran yang ingin merebut tahta dari saudaranya, VOC datang menawarkan bantuan pada salah satu pihak. Kami punya kapal dengan senjata lengkap, punya serdadu, kami punya meriam, kami bisa membantu Tuanku memenangkan perang. Sebagai gantinya..."
"Sebagai gantinya?" Arjo menunggu jawaban tanpa berkedip.
"Tanah. Pelabuhan. Hak monopoli dagang." Kang Guru Harjo menggeleng pelan. "Para raja mengira mereka hanya memberikan sedikit konsesi. Tapi dari sedikit demi sedikit itu, bertahun-tahun, konsesi itu menumpuk. Pelabuhan-pelabuhan jatuh ke tangan VOC. Hak dagang dikuasai VOC. Pasukan kerajaan bergantung pada bantuan VOC."
"Sampai akhirnya ...." Wajah Arjo berubah masam.
"Sampai akhirnya para raja itu sadar bahwa mereka bukan lagi penguasa sejati, mereka hanya simbol, untuk membuat rakyat mau bekerja untuk asing." Kang Guru Harjo menatap Arjo tajam. "Mereka hanya boneka. Raja-raja yang bertahta karena izin VOC. Yang bisa digulingkan kapan saja kalau tidak menurut."
Hening sejenak.
Arjo memandang foto-foto di tangannya dengan pandangan berbeda.
"Jadi VOC tidak menaklukkan Jawa dengan perang besar." Suaranya pelan. "Mereka menaklukkan Jawa karena raja-raja Jawa sendiri yang membuka pintu."
Kang Guru Harjo tersenyum getir. "Ya, mereka yang membuka pintu, mengundang masuk, bahkan menyediakan kursi dan jamuan. Ketika ada perseteruan dalam istana, siapa yang dipanggil untuk membantu? VOC. Ketika ada pemberontakan rakyat, siapa yang dimintai bantuan? VOC. Ketika ada ancaman dari kerajaan tetangga, siapa yang dijadikan sekutu? VOC. Perjanjian-perjanjian yang mereka sodorkan selalu menguntungkan VOC. Para raja yang sedang terdesak tidak punya pilihan selain menandatangani. Dan sekali menandatangani, tidak bisa ditarik kembali."
Arjo mengingat sesuatu yang pernah ia dengar dari Nyi Seger.
"Seperti perjanjian Giyanti? Yang memecah Mataram jadi dua?"
"Tepat. Tahun 1755. Mataram yang dulu perkasa dipecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta." Kang Guru Harjo mengangguk. "Siapa yang memfasilitasi perpecahan itu? VOC. Siapa yang diuntungkan? VOC. Kerajaan yang terpecah lebih mudah dikendalikan daripada kerajaan yang bersatu."
Arjo mendengkus. "Licik."
"Licik, tapi efektif." Kang Guru Harjo mengedikkan bahu. "Dalam waktu kurang dari dua ratus tahun, VOC yang awalnya hanya pedagang rempah berubah menjadi penguasa de facto. Tanpa perlu menaklukkan satu per satu dengan perang besar. Cukup dengan memecah belah, mengadu domba, dan menunggu para raja saling menghancurkan."
Arjo terdiam lama.
Ia memandang foto Jan Pieterszoon Coen—wajah keras dengan mata dingin. Pedagang yang menjadi penakluk. Tamu yang menjadi tuan rumah.
"Guru."
"Apa lagi?"
"Jadi kesimpulannya …," Arjo meletakkan foto itu perlahan, "VOC bisa menguasai Jawa karena raja-raja Jawa yang membutuhkan bantuan, mempercayai mereka sebagai sekutu. Dan persekutuan yang mereka lakukan, tidak gratis, ada tanah Jawa yang digadaikan."
"Dan ketika para raja itu sadar bahwa mereka sudah dijerat, sudah terlambat." Kang Guru Harjo mengangguk. "Mereka sudah terlalu lemah untuk melawan. Terlalu bergantung pada VOC untuk bertahan."
"Seperti …," Arjo mencari perumpamaan yang tepat, "seperti orang yang memelihara ular karena ular itu membantunya memakan tikus di sawahnya. Tapi lama-lama ular itu tumbuh besar, dan yang dimakan bukan tikus lagi, tapi orang yang memeliharanya."
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo