Laki-laki muda yang menikah karena perjodohan dengan wanita yang tak ia kenali dan wanita yang sedang sakit akibat kecelakaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yushang-manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Kini khaulah dan Hafshah berada ditaman belakang rumah. Meski sedikit canggung awalnya, namun setelah berbagi cerita hubungan keduanya menjadi hangat rasa canggung itu memudar begitu saja.
"Nak Salma, Pasti sudah mendengar kabar tentang perjodohan kalian bukan?"
Khaulah mengangguk pelan. "Iyah umma."
"Apa kamu mau, jadi anak umma?"
Khaulah tersenyum tipis. "In syaa Allah, jika menurut Allah baik, saya akan menerimanya umma."
"Ma syaa Allah." Hafshah memeluk khaulah menumpahkan rasa bahagianya. "Terimakasih nak, umma bahagia sekali mendengarnya. Kamu sudah memberi tahu umi dan Abi mu?"
"Sudah umma."
"Maa syaa Allah bismillah nanti kami ke rumah mu lagi, tapi bukan untuk menjenguk mu, tapi meminangmu.." Hafshah terkekeh setelahnya.
"Jika menurut engkau ini pilihan yang terbaik dari yang terbaik, maka aku ikhlas. Aku bahagia lihat raut kebahagiaan di wajah orang-orang yang aku sayang. Jadikan dia imam yang baik bagi akhirat dan dunia ku ya Allah."
Fatih datang bersama Ahmed yang baru saja pulang dari Magelang. Di ruang tamu masih ada keluarga Yuan. Yuan menyambut ramah kakak iparnya, begitupun dengan pendar, sedangkan Yasmine hanya duduk dan terus menunduk tak ikut berdiri menyambut ramah ahmed.
"Apa kabar mas?" tanya Yuan.
"Alhamdulillah, kalian gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah kami baik."
Ahmed beralih menatap Yasmine yang terus menunduk sejak awal kedatangan dirinya.
"Yasmine.. Sudah lama aba tidak bertemu. Kemarilah..." pinta Ahmed sembari melambaikan tangannya.
Yasmine mendongak matanya bertemu dengan tatapan teduh yang sangat dirinya rindukan. Lantas ia segera bangkit langkah ragu nya membawa dirinya ke dalam pelukan hangat om nya.
"Yasmine rindu aba."
Ahmed mengelus punggung anak perempuannya yang bergetar. "Aba jauh lebih rindu."
Yasmine mengurai pelukannya lalu tangannya mengusap jejak air matanya.
"Umma mana?" tanya Ahmed saat tidak mendapati kehadiran istrinya di sana.
"Kayaknya lagi sama Salma ba."
Ahmed tersenyum kala mendengar nama Salma disebut. "Aba boleh minta tolong?" tanyanya pada Yasmine.
"Boleh dong, apa?"
"Panggilkan umma sama Salma yah?"
"Oke, siap bos." hormat Yasmine lalu meninggalkan tempat itu mencari keberadaan dua orang yang sangat ia sayangi.
"Umma, Salma. Kalian disini dari tadi?"
"Iyah, habis ngobrol sama calon mantu umma."
"Cieee Salma... Ihiw."
"Yasmine.. Apa sih.."
Gelak tawa kembali terdengar. "Yaelah segala malu-malu Lo sal."
"Sudah-sudah kamu jangan ngeledek calon mantu umma dong. Jadi kamu ada apa cari umma?"
"Ehehe, Iyah umma maaf yah Salma. Aba sudah sampai, tadi aba nyari umma, makanya aku panggilkan."
"Loh, sudah sampai?" Yasmine mengangguk. "Yasudah umma ke dalam dulu."
Hafshah melenggang masuk ke dalam rumah berjalan menuju ruang tengah. Sedangkan Yasmine ia menahan tangan khaulah yang hendak bangun dari duduknya.
"Sebentar yah sal."
"Kita ngobrol lagi nanti yah? Aku gak enak kalau tidak ikut menemui kyai Ahmed."
"Hm, yaudah deh."
"Maaf yah? Bukannya aku tidak mau.."
"Iyah gue paham kok, namanya juga calon mantu yah kan? Harus nyambut camer nya dong."
"Bukan gitu.. Yasmine ih."
"Iya iya, bercanda..., udah ah yuk."
Kini semuanya telah kumpul di ruang tengah. Ada kecanggungan yang terasa di sana. Semua merasakannya termasuk Fatih walaupun tidak tahu apa-apa.
"Yuan, bagaimana bisnis mu?"
"Alhamdulillah lancar mas."
Ahmed menganggukkan kepalanya. "Pendar, kamu tidak bekerja bukan?"
"Iyah mas."
Ahmed kembali mengangguk. "Berarti kamu selalu di rumah?"
"Tidak juga." sela Yasmine saat pendar akan bicara yang ia yakini akan berbohong. Pendar menatap tajam Yasmine.
"Ehem, Mas, mba, kalau begitu kami pamit pulang sudah sore juga. Habis ini saya ada meeting." pamit Yuan sebelum ia yang kena dan disudutkan.
"Oh, baik, silahkan. Yasmine ikut pulang juga nak?"
Yasmine menatap ibunya lantas beralih menatap Hafshah. "Ayo Yasmine kita pulang." ajak pendar.
"Yasmine disini aja yah bunda?"
Pendar melotot. "Ayo dong sayang..., kamu gak kangen rumah? Bunda, ayah?"
Yasmine memutar bola matanya malas. "apa yang harus gue kangenin, bangke.*
"Pendar, kalau Yasmine ingin di sini yah tidak masalah.* ujar Ahmed.
"Tapi mas, nanti Yasmine merepotkan kalian."
"Tidak sama sekali, Yasmine kan anakku juga pendar. Jadi aku tidak merasa direpotkan." ucap Hafshah.
"Anak gak tau diuntung..." pendar menatap Yasmine sengit, begitupun dengan Yuan.
"Yasudah kalau begitu kami pamit." pamit Yuan.
Pendar memeluk anaknya dari samping."Sayang..., bunda pulang dulu yah. Kamu jangan ngerepotin umma." ujarnya. "Sudah berani kamu melawan hm? awas aja saat pulang kamu harus terima hukumannya.* bisik nya sebelum menguraikan pelukannya.
*Hati-hati bunda, ayah, hati-hati juga untuk hati kalian."
Pendar hendak bersalaman dengan Hafshah namun Hafshah lebih dulu hengkang dari sana.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."