Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 009 : Pertemuan Mereka Secara Nyata
Jam tujuh tepat. Ketika kereta dari kotak seberang mulai berhenti di stasiun kota B.
Seorang gadis, berparas cantik yang tak lain adalah Farah. Melihat sejenak ke arah kaca kereta. Ramai, adalah satu kata tepat yang menggambarkan situasi stasiun saat ini.
"Akhirnya sampai juga!" ujar Farah. Dia menurunkan Earphone miliknya yang sejak tadi dirinya kenakan selama perjalanan.
"Farah!" panggil seorang pemuda yang menemaninya sejak tadi dalam perjalanan. Farah menoleh ke samping.
Mengarahkan wajahnya yang tenang tepat ke arah Ardin dan tersenyum. Ya, Farah mengajak Ardin hari ini. Sebab, Ardinlah yang memberitahu dirinya bahwa lukisan yang dia gambarkan itu nyata.
"Lukisannya ada di koper kamu apa koperku?" tanya Ardin padanya.
Ardin sudah berdiri saat itu. Mengambil koper mereka yang diletakkan tepat di atas tempat menaruh koper yang disediakan di kereta.
Farah merubah posisinya. Dia juga ikut berdiri. Dia membantu Ardin menurunkan kopernya.
"Lukisannya ada di koperku, kak!" jawabnya, Ardin mengangguk lalu tersenyum. Beberapa orang mulai turun dari dalam kereta itu.
"Kalau begitu, mari kita turun! Bukankah di sini tujuan kamu?" tanya Ardin padanya. Wajahnya nampak menggemaskan.
Pemuda yang lebih tua dari dia ini. Sangat menawan. Dia lembut dan berwibawa. Farah nyaman bersamanya walaupun baru berkenalan kemarin. Ardin ikut dengannya, juga karena Papa Farah menyuruhnya menemaninya.
"Ya, kak! Mari kita turun!" jawab Farah tersenyum. Saat itu Ardin mengangguk. Ketika Ardin membalikkan tubuhnya untuk menuju pintu keluar.
Greppp
"Eh!" pekik Farah, tatkala tangan Ardin yang lain memegang lembut pergelangan tangannya.
Menariknya lalu menggandengnya. Farah diam, dia hanya memperhatikan punggung Ardin yang membelakanginya seraya menggeleng pelan.
'Astaga! Kenapa frontal sekali perilakunya ini!' ujar Farah dalam benaknya.
Dia mungkin terkejut. Tetapi dia membiarkan Ardin menggandengnya hingga turun dari dalam kereta. Ketika mereka berdua sudah turun.
Sorot mata Ardin dan Farah memperhatikan sekitar. Farah menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari keberadaan empat orang yang dia temui di dalam mimpi.
"Di mana mereka, Farah?" tanya Ardin padanya.
Farah diam sejenak. Dalam hatinya dia berharap sekali bisa menemukan salah satu di antara mereka barangkali.
Namun beberapa kali dia mencari. Keberadaan mereka masih tak kunjung dia temukan.
"Kak!" panggil Farah. Ardin menoleh ke samping.
Ia sedikit menunduk ketika mendengar suara Farah memanggilnya. Ya, bagaimana tidak. Farah lebih kecil dari dia. Ketika sorot mata mereka saling bertemu. Ardin menaikkan salah satu alisnya.
"Ya!" jawabnya. Farah menunjuk ke arah kursi tunggu. Dia pun berkata,
"Kakak pasti capek! Kita duduk dulu, yuk! Aku mau traktir kamu minuman!" ajak Farah. Ardin mengangguk.
Gandengan tangan mereka bahkan hingga kini belum terlepas. Ardin segera berjalan ke arah kursi yang Farah tunjuk.
Hingga tepat ketika dia berada di sana. Ardin duduk, Farah sejenak memperhatikannya. Bahkan sampai detik ini. Ardin masih belum melepas tautan tangan mereka.
"Kak!" panggil Farah lagi. Ardin mendongak kali ini. Posisi Farah masih berdiri tepat di depannya.
"Kakak terobsesi banget sama tangan Farah, ya?" ucap Farah menggodanya.
Ardin tersentak mendengar itu. Sekilas dia melihat ke arah tangannya yang masih enggan melepas tautan tangannya dan Farah.
"Ah, maaf!" ucap Ardin segera melepaskan tautan tangannya. Farah terkekeh melihat itu.
"Aku beliin minuman dulu, ya!" ucap Farah. Ardin mengangguk mendengar itu.
"Ya, aku tunggu sini, ya!" jawab Ardin padanya. Farah mengangguk. Dia pun mulai bergegas pergi dari sana.
Sambil membawa ranselnya. Farah menuju ke arah penjual minuman yang letaknya agak jauh dari tempat Ardin berada. Pada saat itu, ketika Farah mulai memilih minumannya.
Ke empat orang yang sedang dia tunggu. Baru saja sampai di stasiun itu. Mereka berempat sudah saling bertemu tepat di pintu masuk stasiun.
Sejak tadi, mereka mencari keberadaan Farah. Pada saat itu, ketika mereka hampir menuju ke arah Ardin. Rifki sempat bersuara,
"Ke mana, Farah ini? Kenapa kita masih gak nemuin dia?" ujar Rifki. Kesabarannya yang sekecil amoeba itu teruji drastis rasanya.
Desta terkekeh mendengar itu.
"Sabarlah, namanya juga gadis! Kamu tahu, kan? Gadis itu pasti gak akan tepat waktu!" ujar Desta.
Haikal yang mendengar itu terkekeh begitupun Aldi. Ada saja celetukan Rifki dan Desta sejak tadi. Anehnya walaupun mereka baru saja bertemu. Tetapi keempatnya merasa sangat dekat dan nyambung.
Perlahan jarak antara Ardin dan mereka mulai terpangkas. Hingga saat itu bola mata Aldi tak sengaja melihat ke arah Ardin. Dia yang tadinya berjalan kini berhenti,
Degggg
Aldi membulatkan kedua matanya. Dia terpaku. Kira-kira jaraknya berkisar dua puluh langkah dari tempat Ardin berada. Rifki dan yang lain sontak ikut berhenti ketika melihat Aldi yang tertinggal. Mereka menoleh ke arah Ardin.
"Hei!" panggil Rifki padanya. Desta dan Haikal sejenak saling tatap.
"Dia kenapa?" tanya Desta padanya. Haikal mengangkat kedua bahunya.
"Entahlah?" jawabnya.
Aldi menyipitkan kedua matanya. Memperhatikan apa yang ada di balik punggung Ardin saat itu. Bagaimana dia tidak berhenti dan terpaku.
Ketika pandangannya disambut secara spontan oleh senyuman lebar sesosok wanita berwajah hitam. Bola mata sosok itu memerah. Menatap tepat ke arah Ardin.
"Pekat sekali auranya!" ujar Aldi yang masih terpaku. Sosok itu tersenyum semakin lebar. Air liurnya menetes.
Hingga, jika saja Ardin bisa merasakannya. Jika saja Ardin seorang indigo. Mungkin dia akan merasakan bagaimana air liur sosok itu menetes tepat di atas kepalanya.
Rifki yang merasa ada hal ganjal pun memilih menoleh ke arah yang Aldi lihat. Dia, juga membulatkan kedua matanya.
Sosok itu, sosok yang ada dalam mimpi mereka. Sosok yang sempat Rifki lihat juga. Perlahan, sosok itu mulai menghilang. Ketika pandangan Rifki padanya kiat menajam.
"Aldi!" panggil Haikal dan Desta bersamaan. Suara mereka membuat Aldi sadar.
"Kamu kenapa?" tanya mereka berdua. Mendengar itu Aldi hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Tidak apa, tapi sepertinya kita sudah dekat sama Farah, loh!" jawab Aldi pada mereka. Sebuah jawaban yang membuat Haikal dan Desta mengernyitkan dahi mereka.
"Gimana kamu tahu?" tanya mereka berdua pada Aldi. Saat itu, ketika Aldi kembali memperhatikan Ardin. Tak lama dia tersenyum.
Benar, firasatnya. Dia melihat Farah sedang berjalan ke arah Ardin sambil membawa minuman. Sontak, Aldi secara refleks segera menggerakkan jari telunjuknya ke arah Ardin.
"Nah, itu!" ujar Aldi. Haikal dan Desta segera mengikuti arah tunjuk jari Aldi. Dan benar! Mereka menemukan Farah sekarang. Tanpa basa-basi. Mereka pun segera menghampirinya.
Saat itu, ketika mereka berlima dikumpulkan di satu tempat yang sama. Sesosok bayangan di seberang rel kereta memperhatikan mereka.
'Aku datang melihat kalian tanpa mampu menyentuh secara fisik. Datanglah, wahai pemilik darah yang ditunggu. Kalian adalah kunci serta solusi.' gema suara sosok bayangan itu menguar.
Sosok bayangan itu berharap agar salah satu dari mereka mendengarnya. Tetapi, jangkauannya terlalu jauh. Dia melemah.
Bayangan yang selalu berada di dekat mereka. Sosok yang selalu memanggil mereka.
Sosok itu, tersenyum sejenak. Kemudian menghilang. Gerbang urusan antara alam nyata dan alam sebelah dibuka sejak saat ini.
ternyata dia lebih tua dari aku🤣