Zerrin Atalea Felix seorang gadis mafia yang meninggal dunia lalu berpindah jiwa atau biasa di sebut bertransmigrasi ke tubuh Claudia Ramirez seorang gadis kaya tapi begitu di benci oleh saudara kandung nya sendiri, hanya kedua orang tua nya lah yang menyayangi nya.. Claudia yang selalu di anggap sebagai pembully di sekolah nya, padahal kenyataan nya selama ini dia hanya selalu di jadikan kambing hitam oleh seorang yang iri pada nya. Kesalahan pahaman ini lah yang membuat Claudia akhir nya di benci secara berlebihan oleh kedua abang dan lelaki yang sudah dia cintai sejak lama beserta anggota genk nya yang merupakan anggota most wanted di kampus. Kelompok para cowok-cowok kaya, keren dan populer di kawasan sekolah.
Bagaimana kisah jiwa Zerin yang berada di tubuh Claudia selanjutnya, ikuti terus kisahnya ya 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Sekutu yang Dibeli
Kegagalan dalam menjebak Claudia tidak membuat Sinta Melati mundur, justru membuatnya semakin bertekad. Bagi gadis yang terbiasa mengandalkan kecerdikan dan rasa kasihan orang lain, dikalahkan secara halus dan tidak bisa membela diri adalah luka pada harga dirinya yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ia menyadari bahwa menghadapi Claudia sendirian tidak akan cukup ia butuh sekutu, orang-orang yang memiliki kepentingan sama atau bisa dibujuk untuk memihaknya.
Dalam beberapa hari berikutnya, Sinta mulai mengamati lingkungan sekitar dengan lebih teliti. Ia mencari siapa saja yang mungkin memiliki rasa tidak suka atau rasa iri terhadap Claudia, atau yang bisa dimanfaatkan dengan janji keuntungan atau perhatian khusus. Matanya tertuju pada sekelompok siswi yang selama ini merasa tersaingi karena Claudia sering mendapatkan perhatian guru dan posisi-posisi penting di sekolah. Di antara mereka ada Lia, gadis yang ambisius dan sering merasa posisinya tergeser, namun tidak berani bertindak secara terang-terangan.
Sinta mendekati Lia dengan sikap yang sama seperti biasanya lembut, penuh perhatian, dan seolah ingin menjadi teman yang setia. Ia mulai mendengarkan keluhan Lia, menyetujui setiap kata yang diucapkannya, dan perlahan-lahan menanamkan benih rasa tidak suka yang lebih dalam.
“Kak Lia, aku mengerti perasaanmu,” ujar Sinta suatu sore saat mereka duduk berdua di sudut taman. “Kau sudah berusaha keras selama bertahun-tahun, tapi begitu Claudia datang, semua perhatian seolah beralih padanya. Rasanya tidak adil, bukan? Padahal aku melihatnya juga tidak sebaik yang orang lain kira… dia terlihat sopan, tapi sering kali dingin dan tidak peduli pada kesulitan orang lain.”
Lia yang sudah merasa terganggu sejak lama langsung menyambut kata-kata itu. “Benar sekali! Dia selalu terlihat sempurna di depan orang lain, tapi siapa yang tahu apa yang ada di dalam hatinya. Aku yakin dia punya cara sendiri untuk memikat semua orang agar memihaknya.”
Sinta tersenyum tipis, merasa mulai berhasil mempengaruhi pikiran Lia. “Kalau begitu, mengapa kita tidak saling membantu? Aku tahu dia punya kelemahan, dan kau tahu bagaimana cara bekerja di lingkungan sekolah ini. Jika kita bekerja sama, kita bisa membuat semua orang melihat siapa dia sebenarnya, dan posisi yang seharusnya menjadi milikmu akan kembali ke tanganmu.”
Dengan janji dukungan dan keuntungan yang terasa menggiurkan, Lia pun setuju untuk bekerja sama. Sinta juga mulai mendekati beberapa siswa lain yang merasa kurang diperhatikan, menjanjikan perhatian, bantuan dalam pelajaran, atau bahkan hadiah kecil yang ia beli dengan uang yang didapat dari sumber yang tidak diketahui. Perlahan namun pasti, ia membentuk kelompok kecil yang setia padanya, siap melakukan apa saja yang ia perintahkan selama tidak terlihat mencurigakan.
Sementara itu, di dunia yang lebih besar dan berbahaya, persiapan untuk pertemuan resmi antara Klan Felix dan Klan Black Phantom telah dimulai. Berdasarkan informasi yang disampaikan Raka kepada ayahnya, Paman Hendra Pratama memutuskan untuk mengirimkan utusan resmi untuk bertemu langsung dengan pemimpin Klan Felix. Tujuannya adalah untuk membahas batas wilayah, jalur perdagangan, serta menentukan apakah kedua klan bisa menjalin kerja sama yang saling menguntungkan atau cukup menjaga hubungan damai tanpa saling mengganggu.
Bagi Zerrin, pertemuan ini sangat penting. Klan Black Phantom adalah kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh melawan mereka akan membawa kerusakan besar bagi kedua pihak, namun menjadi terlalu bergantung juga bisa membuat Klan Felix kehilangan kebebasan dan identitasnya sendiri. Ia harus memimpin perundingan ini dengan kebijaksanaan yang tinggi, mempertahankan hak dan kepentingan klannya tanpa menimbulkan kesan bermusuhan.
Pertemuan dijadwalkan berlangsung di tempat yang netral, sebuah gedung pertemuan tua yang terletak di batas wilayah kedua klan, dijaga ketat oleh pasukan dari kedua sisi untuk memastikan keamanan dan menghindari kesalahpahaman.
Pada hari yang ditentukan, rombongan dari Klan Black Phantom tiba dengan penampilan yang rapi dan membawa wibawa yang besar. Dipimpin oleh Pak Arif, penasihat kepercayaan Paman Hendra, mereka datang dengan sikap sopan namun tegas, menunjukkan bahwa mereka tahu posisi dan kekuatan yang mereka miliki.
Zerrin menyambut mereka dengan hormat, diiringi oleh Tuan Han dan Karim, serta beberapa kepala kelompok terpercaya. Suasana di ruang pertemuan terasa tenang namun penuh ketegangan, seolah setiap kata yang diucapkan akan memiliki dampak yang besar.
“Kami datang atas perintah Paman Hendra Pratama untuk membahas hubungan ke depan antara kedua klan,” buka Pak Arif dengan nada yang tenang namun berat. “Selama ini wilayah kita tidak bersentuhan langsung, namun dengan berkembangnya aktivitas perdagangan dan pemulihan wilayah Klan Felix, ada kemungkinan jalur kita akan saling bersilangan. Kami ingin memastikan semuanya berjalan dengan tertib dan damai.”
Zerrin mengangguk sebagai tanda persetujuan. “Saya mengerti maksud kedatangan Anda. Klan Felix juga ingin menjaga kestabilan dan keamanan di wilayahnya, serta berusaha menjalin hubungan yang baik dengan semua kelompok yang berniat damai. Kami terbuka untuk membahas segala hal yang menguntungkan kedua pihak.”
Pembahasan pun dimulai. Pak Arif mengajukan beberapa usulan pembagian batas wilayah yang jelas, perjanjian tidak saling menyerang, serta tawaran untuk menjalin kerja sama dalam jalur perdagangan besar yang akan memberikan keuntungan yang cukup bagi Klan Felix, namun dengan syarat mereka harus mengikuti aturan dan pengawasan yang ditetapkan oleh Klan Black Phantom.
Mendengar syarat itu, Zerrin tidak langsung menjawab. Ia menunduk sejenak, berpikir mendalam. Tawaran itu terlihat sangat menguntungkan akses ke pasar yang lebih luas, modal yang lebih besar, dan perlindungan dari kekuatan yang lebih besar. Namun syarat pengawasan itu berarti Klan Felix akan kehilangan sebagian kebebasan dalam mengambil keputusan, dan secara perlahan bisa menjadi bagian dari kekuasaan Klan Black Phantom tanpa disadari.
“Usulan ini memang menarik,” jawab Zerrin perlahan, memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati. “Namun Klan Felix telah berdiri selama bertahun-tahun dengan prinsip dan aturannya sendiri. Kami menghargai tawaran kerja sama, namun kami juga ingin tetap memegang kendali penuh atas urusan internal dan wilayah kami sendiri. Kami bisa bekerja sama dalam hal perdagangan dan keamanan, namun tanpa perlu ada pengawasan atau perintah dari pihak luar.”
Pak Arif menatapnya dengan pandangan yang menguji. “Anda harus mengerti, di dunia ini, kekuatan yang berdiri sendiri tanpa dukungan sering kali menjadi sasaran bagi mereka yang ingin merebut keuntungan. Klan Black Phantom bisa memberikan perlindungan itu, namun ada harga yang harus dibayar.”
“Perlindungan yang membuat kita kehilangan kebebasan bukanlah perlindungan yang kita butuhkan,” jawab Zerrin dengan tegas namun tetap sopan. “Kami siap membangun kekuatan kami sendiri, dan kami berjanji tidak akan melanggar batas atau mengganggu kepentingan Anda. Jika kita bisa saling menghormati dan berbagi keuntungan tanpa mengatur satu sama lain, maka kerja sama itu akan bertahan lama dan bermanfaat bagi kedua pihak.”
Pembahasan berlanjut selama berjam-jam, penuh dengan argumen, usulan, dan penolakan yang disampaikan dengan nada yang tetap terjaga kesopanannya. Akhirnya, setelah mencapai titik temu, disepakati perjanjian yang seimbang batas wilayah ditetapkan dengan jelas, jalur perdagangan dapat saling dimanfaatkan dengan persentase keuntungan yang adil, dan kedua pihak berjanji tidak akan membantu musuh satu sama lain namun tanpa adanya pengawasan atau perintah dari satu pihak ke pihak lain.
“Paman Hendra pasti akan mendengar hasil ini dengan baik,” ujar Pak Arif sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Anda adalah pemimpin yang tegas dan bijaksana. Saya mengerti mengapa Raka banyak bercerita tentang Anda. Kita berharap hubungan ini akan berjalan baik ke depannya.”
“Demikian juga dari pihak kami,” jawab Zerrin sambil menjabat tangannya dengan erat. “Semoga kita bisa menjadi mitra yang saling menguntungkan, bukan lawan yang saling merugikan.”
Setelah pertemuan selesai dan rombongan Klan Black Phantom pergi, Tuan Han mendekat dengan ekspresi lega namun tetap waspada.
“Keputusan yang sangat bijaksana, Queen. Jika kita menerima syarat mereka, kita akan perlahan menjadi bagian dari mereka. Tapi jika kita menolak mentah-mentah, kita bisa menimbulkan persaingan yang tidak perlu. Jalan yang dipilih ini adalah yang terbaik.”
Zerrin mengangguk, namun matanya tetap memancarkan kewaspadaan. “Ini baru permulaan, Tuan Han. Klan Black Phantom adalah kekuatan yang besar, dan mereka tidak akan berhenti hanya karena perjanjian ini. Mereka akan terus mengamati kita, melihat apakah kita benar-benar mampu berdiri sendiri atau hanya bertahan sementara waktu. Kita harus membuktikan bahwa kita layak diperhitungkan, bukan hanya dengan kata-kata tapi dengan tindakan.”
Sementara itu, di sekolah, Sinta dan kelompok barunya mulai menyusun rencana kedua. Mereka berusaha mengumpulkan informasi tentang kebiasaan Claudia, mencari kelemahan yang bisa dimanfaatkan, dan mulai menyebarkan desas-desus samar yang menyiratkan bahwa Claudia memiliki hubungan dengan orang-orang yang berbahaya atau memiliki latar belakang yang tidak diketahui orang banyak.
Namun kali ini, Claudia tidak tinggal diam. Ia sudah mengetahui bahwa Sinta mulai membentuk kelompok sendiri, dan ia membiarkannya bergerak karena semakin banyak langkah yang diambil Sinta, semakin banyak jejak yang ia tinggalkan, dan semakin mudah bagi Claudia untuk membongkar seluruh rencananya di saat yang tepat.
Suatu sore, saat melihat Sinta dan Lia sedang berbisik-bisik di sudut koridor, Claudia berjalan melewati mereka dengan tenang, namun menatap Sinta sekilas dengan pandangan yang cukup untuk membuat gadis itu merasakan ketakutan yang samar.
“Permainkan peranmu sebaik mungkin, Sinta,” pikir Claudia dalam hati. “Semakin tinggi kau melompat, semakin keras jatuhnya nanti saat topengmu terlepas sepenuhnya.”
Dua jalur permainan intrik dan kekuasaan terus berjalan bersamaan satu di dunia yang terang namun penuh kepalsuan, satu lagi di dunia yang gelap namun diatur oleh aturan yang tegas. Zerrin harus terus berjalan di antara keduanya, menjaga keseimbangan, dan memastikan bahwa baik musuh yang tersembunyi maupun mitra yang kuat tidak akan pernah bisa menguasai langkahnya.
**✿❀ ❀✿** To be continued **✿❀ ❀✿**