-TAMAT-
Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.
Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.
Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.
Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 10 - Perjalanan
Gus Faiz sedikit berlari mengejar Ustaz Ridwan. Ustaz Ridwan yang menyadari ada seseorang mengejarnya pun berhenti.
“Ada apa, Faiz?” tanya Ustaz Ridwan.
“Mohon maaf, Ustaz.” kata Faiz.
“Untuk apa?” tanya Ustaz Ridwan.
“Saya ingin meluruskan sesuatu. Jujur saat izin keluar pesantren tadi, saya membeli ponsel, saat saya kembali saya lupa memasukkan ponsel saya ke dalam loker. Jadi, ketika saya ingat saya pegang ponsel itu, saya langsung pergi ke loker untuk mengumpulkan ponsel itu. Mungkin Dimas melihat saya saat saya sedang memegang ponsel. Tapi demi Allah Ustaz, saya tidak sempat memainkan ponsel itu.” kata Gus Faiz.
“Saya tahu kamu anak baik, Faiz. Baiklah. Terima kasih atas kejujuran kamu.” kata Ustaz Ridwan.
Gus Faiz mengangguk. “Mohon maaf karena menyebabkan masalah ini, Ustaz.” kata Gus Faiz. Dia mencium tangan Ustaz Ridwan,
“Saya pergi dulu. Assalamualaikum.” kata Ustaz Ridwan.
“Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh, terima kasih, Ustaz.” kata Gus Faiz.
Ustaz Ridwan tersenyum, menepuk punggung Gus Faiz lalu berlalu pergi.
***
Seminggu kemudian, Gus Faiz memenuhi janjinya kepada keluarga Ilham untuk mengantar ke pondok pesantren milik orang tuanya. Sebelumnya dia sudah memminta izin kepada Ustaz Ridwan dan Abah Kyai (Ayah Ning Aisha) untuk izin dua hari karena harus mengantarkan keluarga Ilham ke pesantren. Karena Gus Faiz termasuk santri yang terkenal baik dan berprestasi di pesantren, ia mendapatkan izin dengan mudah. Hari menunjukkan pukul 19.30 WIB.
“Assalamualaikum, Gus Faiz.” salam Ning Aisha.
“Waalaikumsalam. Ada apa?” jawab Gus Faiz.
“Aisha hanya ingin bilang, hati-hati di jalan.” tanya Ning Aisha, malu-malu.
Wajah Ning Aisha merona. Jantungnya berdegup dengan kencang.
“Terima kasih. Saya permisi.” kata Gus Faiz. Lalu berlalu pergi meninggalkan Ning Aisha.
Jawaban singkat Gus Faiz membuat Ning Aisha bahagia. Ning Aisha terus memandangi punggung Gus Faiz hingga Gus Fais sampai keluar gerbang pesantren.
Di luar pesantren sudah ada Ilham di atas motornya. Mereka pun langsung menuju rumah Ilham. Gus Faiz sudah menelepon Abah dan Uminya dan mengatakan kalau ada adik sahabatnya Ilham yang mau masuk pesantren, Tak lupa pula dia katakan bahwa hari ini dia beserta keluarga Ilham akan ke rumah Abah dan Umi.
“Assalamualaikum.” salam Gus Faiz dan Ilham berbarengan.
“Waalaikumsalam.” Orang tua Ilham dan kedua adiknya pun membalas salam itu.
“Ayo, Nak, Makan dulu. Setelah makan kita berangkat.” kata Yeni.
Mereka pun makan bersama. Seperti biasanya mata Linda terus tertuju pada Gus Faiz. Meski merasa tidak nyaman, namun Gus Faiz lebih memilih diam. Dia tak mau merusak acara makan malam terakhir sebelum masuk pesantren Linda dengan keluarganya.
“Aaron, gimana, barang-barang udah aman ya?” tanya Adi, suami Yeni, Ayah dari Aaron, Linda dan Ilham.
“Semua barang Linda sudah Aaron masukkan ke mobil, Pa. Aman.” kata Aaron.
“Bagus.” kata Adi.
Makan malam pun berjalan dengan lancar setelah makan, Yeni dan Linda pun ke dapur mencuci piring dan gelas makan. Setelah mereka kembali, semuapun masuk ke dalam mobil kijang innova milik keluarga Ilham.
Adi atau ayah Ilham yang mengemudi, Yeni di sampingnya. Di tengah ada Linda dan Aaron. Dan di belakang ada Gus Faiz dan Ilham. Setelah berdoa karena akan melakukan perjalanan yang dipimpin Gus Faiz, merekapun berangkat. Waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB.
***
Azan Subuh berkumandang, Adi pun menepikan mobilnya ke rest area untuk melaksanakan salat subuh. Saat bersalaman dengan Adi selepas salat, Gus Faiz mendapati raut wajah Adi yang kelelahan. Setelah keluar Masjid, Gus Faiz mendekati Adi.
“Om?” Gus Faiz duduk di samping Adi.
“Ada apa, Nak?” tanya Adi.
“Om terlihat lelah. Kalau diizinkan biar saya saja yang membawa mobil, Om.” kata Gus Faiz.
“Om memang lelah. Tapi, apa kamu bisa bawa mobil? Kamu belum punya sim kan?” tanya Adi.
“Insyaallah saya bisa, Om. Tidak perlu khawatir, perjalanan tinggal sedikit lagi dan insyaAllah tidak ada polisi di daerah sini sampai pondok.” kata Gus Faiz.
Adi mengamati raut wajah Gus Faiz yang penuh dengan kesungguhan. Lalu, hati kecilnyapun berkata kalau dia Gus Faiz memang dapat dipercaya untuk membawa mobil. Adi pun memberikan kunci mobil pada Gus Faiz.
Lagi pula Adi sangat lelah. Adi tentu tidak mau terjadi apa-apa bisa dia terus memaksakan. Ilham baru bisa membawa mobil walaupun bisa Ilham suka nengebut, jadi Adi tidak bisa meberikan kunci itu pada Ilham, sedangkan Aaron belum bisa mengendarai mobil.
Setelah Adi memberikan kunci mobil pada Gus Faiz, Adi menghampiri istri dan anak-anaknya di mobil.
“Kenapa? Bokap gue ngantuk ya?” tanya Ilham.
“Iya, beliau terlihat lelah.” kata Gus Faiz.
“Ck, masih aja lo terlihat-terlihat hahaha.” kata Ilham.
Gus Faiz hanya melirik Ilham. “Kamu bukannya bisa bawa mobil? Walaupun baru belajar tapi sepertinya kamu cukup mahir.” tanya Gus Faiz.
“Belakangan gue kebayang tabrakan mulu, Is.” kata Ilham.
Gus Faiz yang mendengar kalimat Ilham langsung menoleh. Ilham terlihat tidak seperti biasanya. Dalam hati Gus Faiz bertanya-tanya apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
Melihat rasa penasaran Gus Faiz, Ilhampun kembali menjelaskan. Tidak ada gunanya dia menutup-nutupi apa yang sedang dialaminya.
“Iya, belakangan, gue dibayang-bayangi tambrakan. Gue bener-bener ngerasa tabrakan itu bakalan terjadi, dan gue nggak mau bawa-bawa keluarga gue.” kata Ilham.
“Kamu tidak boleh mendahului takdir. Memvonis hasil dari sesuatu yang belum terjadi bukankah artinya kamu mendahului Allah?” kata Gus Faiz.
“Betul juga kata lo, Is.” kata Ilham.
“Saran saya, lebih baik tenangkan hatimu dengan mengingat Allah. Bukankah hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang?” kata Gus Faiz.
Ilham mengerti apa yang dikatakan Gus Faiz.
“Gue beruntung punya sahabat kayak lo, Is. Itu surat Ar-ra’du kan?” tanya Ilham.
Gus Faiz mengangguk.
“Ayat 25?” tanya Ilham.
“Ayat 28.” ralat Gus Faiz.
“Ck, cuma nginget ayat aja gue nggak bisa.” kata Ilham.
“Bukan tidak bisa. Harus lebih mau belajar lagi.” kata Gus Faiz.
Ilham menoleh ke arah Gus Faiz, lalu terkekeh.
“Makasih ya, Is.” kata Ilham.
Gus Faiz mengangguk.
“Yuk, berangkat.” kata Ilham.
Gus Faiz dan Ilham pun menuju mobil. Melihat Mereka berdua datang, mereka pun masuk. Kini, yang akan mengemudi adalah Gus Faiz. Di sampingnya ada Adi. Di bangku tengah ada Yeni dan Linda, dan bangku paling belakang ada Aaron dan Ilham.
“Kamu sudah lama bisa mengemudi, Nak?” tanya Adi.
“Baru dua tahun ini, Om.” kata Faiz.
Di belakang Gus Faiz, diam-diam Linda makin mengagumi sosok Faiz. Sosok Faiz di matanya adalah sosok yang sangat idaman.
“Sudah cukup lama ya?” tanya Adi.
Gus Faiz hanya tersenyum menanggapi.
“Cara bawa mobil kamu juga halus.” kata Adi.
“Terima kasih, Om.” kata Gus Faiz.
“Di pondok suka bawa mobil matic ya?” tanya Adi.
“Hampir semua mobil di pondok manual, Om.” jawab Gus Faiz.
“Wah, hebat, biasanya kebanyakan orang, meski biasa bawa mobil, kalau keseringan pakai manual pasti bawa matic tidak halus.” kata Adi.