NovelToon NovelToon
Sayap Patah Milik Melodi

Sayap Patah Milik Melodi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Konflik etika / Persahabatan / Angst / Penyesalan Suami
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dae_Hwa

“Apa ... jangan-jangan, Mas Aldrick selingkuh?!”

Melodi, seorang istri yang selalu merasa kesepian, menerka-nerka kenapa sang suami kini berubah.

Meskipun di dalam kepalanya di kelilingi bermacam-macam tuduhan, tetapi, Melodi berharap, Tuhan sudi mengabulkan doa-doanya. Ia berharap suaminya akan kembali memperlakukan dirinya seperti dulu, penuh cinta dan penuh akan kehangatan.

Namun, siapa sangka? Ombak tinggi kini menerjang biduk rumah tangganya. Malang tak dapat di tolak dan mujur tak dapat di raih. Untuk pertama kalinya Melodi membuka mata di rumah sakit, dan disuguhkan dengan kenyataan pahit.

Meskipun dirundung kesedihan, tetapi, setitik cahaya dititipkan untuknya. Dan Melodi berjuang agar cahaya itu tak redup.

Melewati semua derai air mata, dapatkah Melodi meraih kebahagiaan? Atau justru ... sayap indah milik Melodi harus patah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPMM10

"Mak Ngah, lontong kuah lemak nya satu ya, bungkus." Tutur Nadia sambil menarik kursi dan langsung menyandarkan tubuhnya di sana.

"Pakai ati ayam nggak?" tanya Mak Ngah, penjual menu sarapan langganan Nadia dan Melodi.

Nadia mengangguk. "Pakai dong, seperti biasa."

"Pasti buat Melodi, ya?" Mak Ngah mengulas senyuman tipis.

"Sudah pasti. —Tumben sepi, Mak." Manik Nadia mengedar, menatap ke sekeliling yang tak ada satupun pembeli.

"Bukan sepi. Orang-orang pada malas keluar, karena hujan tadi malam. Jadi pada pesan makanan di sini pakai GoPrut," jawab Mak Ngah.

"Goprut? Go-Food, Mak," protes Nadia.

"Ah sama aja itu, beda dikit doang," sanggah Mak Ngah.

"Beda dikit bijimane? Ibarat kata ini persandingan antara Rihana sama Irene Red Velvet, Mak!" Nadia tak mau kalah.

"Siapa itu?" Mak Ngah mengernyit heran.

"Kembaran saya," jawab Nadia asal.

Di balik steling nya, Mak Ngah tersenyum cengengesan. Interaksi bersama Nadia cukup menghiburnya.

"Dasar burung sialan! Sini lo kalau berani!"

Mak Ngah menoleh ke arah Nadia yang baru saja mengumpat. Sambil membawa sebungkus lontong, perempuan separuh baya itu menghampiri Nadia.

"Kenapa sih? Tiba-tiba kesurupan begitu," Mak Ngah pura-pura tidak tau. Padahal, matanya sudah melirik ke punggung tangan Nadia.

"Tangan saya diberakin sama itu burung sialan, Mak. Dikata saya ini jamban?" Nadia berdiri, membasuh tangannya ke air mengalir dan mengeringkannya dengan tisu. "Berapa, Mak?"

Setelah membayar sebungkus lontong, Nadia pun berpamitan. Dia menuju ke motornya yang diparkir tepat samping kedai Mak Ngah. Dengan kondisi kaca helm yang terbuka, Nadia mengendarai motornya dengan kecepatan rendah. Dia menikmati udara yang terasa sejuk. Namun, tiba-tiba ....

BUGH!

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Nad? Mata lo kenapa?!" Seru Melodi dan Aldrick bersamaan ketika melihat kedua mata Nadia lebam biru.

"Ditabrak burung!" sungut Nadia sambil meletakkan sebungkus lontong di atas meja.

"Burung?" Melodi dan Aldrick saling melempar pandang ke arah Nadia. Tatapan yang amat serius, seolah meminta penjelasan lebih.

Nadia mendengus, ia menjelaskan kejadian yang bermula di warung Mak Ngah dan berujung ia di keroyok para kawanan burung-burung kecil. Melodi dan Aldrick tak mampu menahan tawa.

"Sorry, Nad. Keram perut gue," kata Aldrick.

"Ya, lagian lo ngapain juga nantangin itu burung, Nad?" Melodi menyeka air bening yang keluar disudut mata.

"Ya, mana gue tau kalau itu burung songong bakal balik lagi. Petantang-petenteng, giliran ditantang, bawa teman serenteng."

Tawa kembali pecah di ruangan yang tadinya penuh kesedihan. Kehadiran Nadia, benar-benar mengubah suasana.

"Yaudah, Drick. Lo pergi sono, gantian gue yang jaga Melodi."

Aldrcik menoleh ke arah Melodi, menatap lembut sang istri. Sebenarnya, ia tidak ingin pergi bekerja. Namun, ia tahu, Melodi pasti akan murka.

"Hati-hati pergi kerjanya, Mas. Di tunggu slip gajinya ya." Ucap Melodi penuh tekanan, mengundang gelak tawa di bibir Nadia.

Sepeninggalan Aldrick, Melodi menatap penuh arti sang sahabat.

"Jadi gimana, Nad? Udah ada informasi?" Melodi menelisik dengan tatapan.

Nadia memanggil Melodi dengan ujung telunjuknya. Melodi langsung mendekatkan telinga ke bibir Nadia.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Karin menggenggam lembut jemari Aldrick. Matanya menatap pria itu dengan amat manja. “Drick, kok chat aku semalam nggak dibalas, ‘sih? —Padahal aku cemas tau kamu nggak masuk. Kamu sakit apa? Udah mendingan?”

Aldrick menyandarkan tubuhnya, ia menghela napas kasar. Untuk sesaat, waktu terlewati dalam diam. Namun, begitu Aldrick menegakkan punggungnya, entah kenapa suasana terasa menegangkan. Di tambah lagi, sorot mata Aldrick yang mengalahkan tajamnya pisau.

Dengan kasar, Aldrick menepis genggaman Karin. "Sejak kapan aku pernah membalas chat mu, Karin? —Benar, aku menelpon mu. Tapi, itu untuk urusan pekerjaan yang sangat mendesak. Jikapun bukan urusan pekerjaan, itu berarti hanya tentang anting mu yang aku temukan. Atau lebih tepatnya ... anting yang sengaja kau jatuhkan di ruangan ku?"

Karin tersenyum tipis, wajahnya tenang, emosinya sedikitpun tidak terbaca.

"Aku hanya mengkhawatirkan mu sebagai sesama rekan kerja, Drick," jawabnya santai.

"Rekan kerja ku tak hanya kau seorang, Karin. Tapi, hanya kau yang kerap bersikap berlebihan seperti ini," dengus Aldrick.

"Berlebihan? Wah, aku jadi tersinggung," Karin tersenyum tipis. "Sepertinya kamu salah paham, Drick."

Aldrick tertawa pelan. "Salah paham? —Ayolah, Karin. Aku mengenalmu sudah lama, jauh sebelum aku mengenal Melodi, jadi tak perlu munafik. Kau kira aku tak tau ... kalau kau mendekati sepupuku Vina yang tak menyukai Melodi, demi mencari informasi di mana aku bekerja? Dan ... dalam beberapa waktu, kau sudah bekerja di sini, di kantor ini, di tim ku."

Karin menyemburkan tawa. "Sepertinya kamu memiliki mentalitas korban ya, Drick?" Ia menanggapi dengan wajah santai. Meskipun di bawah meja, kakinya sudah lemas bergetar.

"Di sini ... memang aku korbannya, ‘kan? Rambutmu, lipstik mu, parfum yang kau semprotkan di tas kerja ku. Lalu ... anting yang sengaja kau jatuhkan di ruangan kerjaku. Bodohnya, aku baru memeriksa keanehan itu hari ini." Aldrick tersenyum remeh. "Rin, kau tidak sedang bermimpi untuk menggantikan posisi Melodi, ‘kan? Kalau iya—hentikan, karena kau hanya sedang membuang-buang waktu. Dan ... ambil ini. Milikmu, ‘kan?"

Aldrick meletakkan sebuah benda mungil di atas meja. Alat penyadap suara yang ia temukan tadi pagi di dalam tas nya.

Karin melirik benda itu dengan santai. Mengambilnya dengan tenang, lalu berdiri. "Kamu terlalu percaya diri mengatakan aku membuang-buang waktu, Drick. —Bukannya sekarang, hubungan mu dan Melodi sudah di pinggiran jurang?"

Tanpa menunggu respon Aldrick, Karin melangkah pergi. Senyum percaya dirinya tetap terpatri di wajah runcingnya.

...----------------...

"Jadi, lo hanya salah paham, Mel." Tutur Nadia lembut sambil menepuk pelan bahu Melodi. "Memang itu ulet keket yang ngejar-ngejar Aldrick."

Melodi menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang rumah sakit. Ia menghela napas pelan. "Tetap aja, Nad. Aldrick juga salah. Kalau Aldrick bisa bersikap tegas dari awal, nggak mungkin si Karin berani sampai sejauh ini."

"Bener yang lo bilang, tapi, kalau wanita itu bukan Karin. Masalahnya, ini Karin, jalang yang anti menyerah dari zaman jebot demi dapetin cintanya Aldrick. —Dari informasi yang gue dapet, Aldrick malah nggak pernah ngeladenin sama sekali. Tapi, si Karin ini, selalu bersikap seolah-olah dia tuh punya hubungan dekat sama laki lo. Licik emang—" Nadia terdiam sejenak, mengeluarkan tissue dari dalam tas nya dan membersihkan jejak darah di bawah hidung Melodi.

"Thank's ...," kata Melodi lemah. Sedari tadi ia menahan sakit kepala yang mendera.

"Jadi, apa kata dokter, Mel?" Nadia akhirnya kembali fokus dengan kesehatan Melodi.

"Kanker, Nad," sahut Melodi lemah.

"Oh, kanker," Nadia manggut-manggut."Apa? —Kanker?! Lo jangan bercanda, Mel ...!" manik Nadia terbelalak.

Melodi menarik napas dalam-dalam. Meraup oksigen sebanyak-banyaknya. "Nad, kayaknya hidup gue nggak bakal lama lagi ...."

*

*

*

1
vj'z tri
bener bener Vina lampir satu ini biang Lala nya 😤😤😤😤
Dae_Hwa💎: Biang lala 😄
total 1 replies
Cookies
up
Dae_Hwa💎: Asiappp
total 1 replies
Riaaimutt
gampang meninggal ini kamsud nya apa sih nad.. q kok gagal memahami kata-kata mu..
Dae_Hwa💎: ah sudahlah 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
💕Bunda Iin💕
😭😭😭😭😭😭
Dae_Hwa💎: 😭😭😭😭😭😭😭
total 1 replies
kaylla salsabella
ya Alloh Thor semoga ibu Ajeng dan melody selamat .....awas aja klu di buat sad ending.....aku mutung pokok nya 😭😭😭🏃
Dae_Hwa💎: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣😭😭😭😭😭😭😭
total 1 replies
vj'z tri
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭 thorrrr novel ini kamu buat dengan campuran bawang merah berapa ton 😭😭😭😭😭😭😭😭😭🤧🤧🤧🤧🤧🤧
Dae_Hwa💎: 10 ton kak 😭😭😭😭😭 Biar mata pembaca pada kewer²😭😭😭😭😭
total 1 replies
istianah istianah
kadang seorang suami tidak merasa kalau sang istri lg kesepian ,apa lg blm pnya anak ,dan seorang suami akan sadar apa bila istri tak ada di sampingnya , kalau sudah tak ada baru terasa 😭😭😭
Dae_Hwa💎: betul.
Sifat suami yang selalu berulang itu ya, tidak peka.
total 1 replies
Baek chanhun
,, menunggu,, membuat emosi.
,, penyesalan,, membuat sesak di
di dada, dalam penyesalan hanya
dua kata sering di ucapkan,
,, andaikan dan misalkan,, dua
kata ini tambah penyesalan.

thanks mbak 💪 💪
Dae_Hwa💎: betul.
Andaikan, misalkan. Berujung nyesal
total 1 replies
Raa
Semoga tidak seperti yang ada dalam benakku 🥹
Dae_Hwa💎: Semoga 🙃
total 1 replies
Raa
Nggak ada kata ampun sih untuk Vina & Karin. Jahat banget.
Dae_Hwa💎: Pake bangeeeet
total 1 replies
Raa
Kan ... bener dugaan ku, wajib dimasukkan bui dah dua titisan Dajjal ini🔥
Dae_Hwa💎: Wajib 🥺🥺🥺
total 1 replies
Raa
Kalau nggak ada si Setan Vani, pasti hubungan mertua dan menantu ini manis banget ❤️
Dae_Hwa💎: Manis banget, kalah gulali
total 1 replies
Raa
Nggak tahu mesti komen gimana, yang pasti melow, ikutan deg"an🥹
Raa
Bakalan nyesek banget kalau sampai diriku kehilangan Melodi ya Nad 🥹
Raa
Mel ... teruslah berjuang sampai titik darah penghabisan 🥹
Dae_Hwa💎: 🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
Raa
Bisa jadi ulah si Vina.
💕Bunda Iin💕
thor jgn di gantung ngapa ga enak tau😢🥺🥺
Dae_Hwa💎: 😭😭😭😭😭😭😭
total 1 replies
💕Bunda Iin💕
ku tunggu azab kau berdua ya karin n vina😡😡😡
Dae_Hwa💎: awas aja mereka berdua.
nggak masuk bui pun, semoga ada karma yg lain.
total 1 replies
💕Bunda Iin💕
mertua'y melodi ini sangat lah baik karna ada ular di sisi dia jdi berubah sikap'y ke melodi
Dae_Hwa💎: betul, di hasut mulu tiap hari
total 1 replies
kaylla salsabella
apakah melodi koma
Dae_Hwa💎: 🥺🥺🥺🥺🥺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!