Ardan Putra Anjaya seorang dosen lulusan khairo di Universitas Trisakti Bangsa. Penerus satu-satunya keluarga Anjaya. Demi bakti pada orang tua Ardan menerima perjodohan dengan wanita pilihan sang Bunda.
Zahwa Andana Srinata salah satu mahasiswa tempat Ardan mengajar. Memiliki paras yang cantik dan budi pekerti yang baik membuat Marwa menjadi idola kampus, tak ada lelaki yang tak tertarik dengannya. Namun prinsip warna tetap teguh tiada kata pacaran sebelum menikah sesuai ajaran orang tuanya.
Akankah pernikahan Ardan dan Zahwa berakhir bahagia? jika disaat benih cinta mulai muncul kedatangan orang masa lalu yang tak lain adalah kakak dari Zahwa datang untuk menagih janji Ardan untuk menikahinya? apakah yang akan dilakukan Ardan mempertahankan pernikahannya atau justru meninggalkan Zahwa demi sang kakak istrinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulia Nofika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terimakasih Sudah Selalu Ada
Ardan terus memperhatikan wajah istrinya yang telah kembali bersemangat seperti biasanya, Ia senang karena keceriyaan yang sempat pudar kini telah kembali terbit dalam diri Zahwa.
"Mas jangan liatin aku mulu, fokus aja bawa mobilnya, kalau kita kenapa-napa gimana?"
"Mas ini udah ahli sayang, jadi tenang aja"
"Tetap aja mas, lagian jalanan itu didepan ngapain liatin aku?"
"Karena kamu itu lebih menarik dari jalanan itu sayang, masa mas harus nganggurin bidadari mas sih" ucap Ardan sembari mencium tangan istrinya itu.
Perlakuan Ardan memang sederhana, namun mampu meluluhlantakan perasaan Zahwa. Kadang Ia berfikir apakah perlakuan Ardan selama ini memang dasar cinta dan juga kesungguhan hatinya atau hanya sekedar tanggungjawabnya saja.
"Kok malah diam" tanya Ardan karena dari tadi tak ada tanggapan dari Zahwa.
"Gak papa mas, aku cuma mikir aja ternyata mas bisa gombal juga ya, aku fikir mas itu kaku dan gak bisa berbuat manis, secara mas kan kalau dikampus itu dingin banget, udah kayak beruang kutub aja tau gak mas" kekeh Zahwa.
"Enak aja kamu bilang mas kayak gitu, gini-gini ya mas itu banyak yang ngincar tau, karena memang pesona mas itu besar, apalagi kalau mas itu hamble dan juga hangat pasti makin banyak yang ngejar-ngejar mas tu" jawab Ardan menyombongkan diri.
"Iya deh iya yang pesonanya besar" Zahwa memang tak mengingkari bagaimana besar pesona suaminya itu. Meskipun mengetahui Ardan sudah beristri tapi masih banyak wanita diluar sana yang tetap berharap pada suaminya itu.
***
Sesampainya dikampus, Ardan langsung mengantarkan Zahwa ke kelasnya, setelah itu baru ia menuju ruangannya.
"Gimana wa apa kamu udah kasih tahu pak Ardan soal kemaren?" tanya Arin setelah Zahwa duduk dikursinya.
"Awalnya aku gak mau kasih tau mas Ardan, tapi dia malah tau sendiri"
"Trus gimana teaksinya"tambah Ratna.
"Awalnya mas Ardan emang marah karena aku sembunyiin ini darinya, tapi setelah aku jelasin, mas ardan bilang dia bakal bantuin aku kok buat cari siapa pelakunya"
"Baguslah kalau gitu, lagian Dimas bilang dia juga bakal bantuin kita"
" Dimas?? bukannya dia masih di Bandung?" tanya Zahwa
"Seharusnya memang hari ini Dimas pulang, tapi dia bilang seminarnya lebih cepat dari yang diprediksi makanya kemaren siang lansung pulang" jawab Ratna
" Trus Dimas tau dari mana tentang ancaman itu?"tanya Zahwa lagi
" Kemaren kita lagi ngomongin masalah ini Wa, eh malah kedengaran sama Dimas yang baru aja nyamperin kita" jawab Arin iiringi anggukan Ratna.
" Assalamualaikum, kalian lagi ngomongin apa serius kali kayaknya" tanya Dimas yang baru saja bergabung dengan ketiga teman perempuannya itu.
"Baru juga diomongin udah nongol aja orangnya" jawab Zahwa.
"Emang kalian lagi ngomongin Gue apa, ghibah ya"
"Enak aja kita masih masih takut dosa ya kali ghobahin lo, lagian apa juga yang mau dighibahin dari lo coba" bantah Arin kesal.
"Hahah...gue becanda kali, gak usah diambil hati. Emang kalian lagi ngomongin apaansih?" tanya Dimas
"Kita lagi ngomongin yang kemarin aja Dim" jawab Ratna.
"Udah tenang aja, kan gue udah bilang, gue bakalan bantuin Zahwa, gue juga yakin kita pasti bisa mencari tahu dalangnya, dan juga pak Ardan gak mungkin tinggal diam ajakan disaat Zahwa seperti ini" jawab Dimas menenangkan sahabatnya itu.
"Iya benar kita pasti bisa mencari tahu ini semua, dan kamu Wa, gak perlu khawatir lagi kamu gak sendiri ada kami untukmu, baik senang, sedih, kami akan selalu bersama kamu"
"Terimakasih kalian sudah mau membantuku, kalian memang sahabat terbaikku. Selama ini kalian selalu ada untuk aku dan selalu mendampingiku, aku gak tahu harus bagaimana cara membalas kebaikan kalian" kata Zahwa dengan mata berkaca-kaca.
"Awa ingat, kita ini sahabat dan sesama sahabat harus saling menjaga dan melindungi. Jadi jangan ngomong kayak gitu lagi" Jawab Arin kemudian memeluk Zahwa dan disusul Ratna, sedangkan Dimas dia hanya menganggukkan kepala ke Zahwa.
Melihat perlakuan sahabatnya,membuat Zahwa terharu. Ia bahagia memiliki mereka, sahabat yang menyayangi dan selalu ada untuknya tanpa mengharapkan balasan apapun.
.
.
.
.
.
.
.
langsung saja aku kasih vote
*hujan dibalik punggung
*suamiku ceo ganas